Jalan Terjal Kunjungan Pertama Menlu AS ke Asia

0
52
Foto: Reuters

Nusantara.news – Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson berencana melakukan perjalanan ke Asia pekan depan. Ini adalah kunjungan pertama mantan bos ExonMobil ini ke Asia sebagai menteri kabinet Donald Trump. Tillerson tampaknya akan bakal menghadapi jalan terjal pada kunjungan kali ini, terutama dalam upaya meyakinkan negara-negara sekutu di Asia yang mengkhawatirkan ancaman nuklir dan rudal Korea Utara, sekaligus menekan Cina untuk lebih terlibat dalam penanganan stabilitas keamanan Kawasan.

Sebagaimana dilansir Reuters, Rabu (15/3), Tillerson dijadwalkan akan mengunjungi Jepang dan Korea Selatan, lalu ke Beijing, Cina. Di Cina dia diharapkan dapat memantapkan rencana pertemuan antara kedua pemimpin negara raksasa ekonomi dunia itu, yaitu Presiden AS Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping yang direncanakan bulan depan.

Di Cina, sang Menlu juga kemungkinan akan membahas masalah program senjata nuklir Korea Utara, meskipun kecil kemungkinan Tillerson membujuk Cina agar Korea Utara menghentikan program senjata nuklir. Pasalnya, pekan lalu Cina marah karena AS merespon peluncuran rudal Korut dengan menyebarkan sistem anti-nuklir THAAD di Seoul, Korea Selatan.

Baca: AS Sebar Anti-rudal THAAD di Korsel, Cina Ingatkan Potensi Perang Nuklir

Di Korea Selatan, tugas Tillerson juga cukup rumit, mengingat Korsel saat ini tengah menghadapi krisis politik pasca dimakzulkannya mantan Presiden Korsel Park Geun-hye oleh Mahkamah Konstitusi negara itu karena terlibat skandal korupsi.

Baca: Cina “Senang” Presiden Korsel Dimakzulkan     

Lebih-lebih, prospek kemenangan oposisi liberal Korsel (yang didukung Cina) dalam pemilu Korsel yang akan diselenggarakan dua bulan mendatang, memunculkan pertanyaan tentang masa depan AS di Korsel, termasuk soal kelanjutan penyebaran sistem pertahanan rudal THAAD di Seoul yang direncanakan rampung dalam dua bulan ke depan, namun oleh Cina sistem itu dianggap sebagai radar yang dapat menembus wilayah Cina. Sejauh ini, Beijing  telah berusaha terus menerus menekan Seoul untuk membatalkan THAAD.

Jumat pekan depan, Tillerson akan bertemu dengan pengganti sementara presiden Korsel, yang tak lain adalah Perdana Menteri Hwang Kyo-ahn, juga bertemu Menteri Luar Negeri Yun Byung-se.

Cina sendiri telah menyatakan bahwa pemerintahannya memiliki keterbatasan untuk mengendalikan tetangga sekaligus sekutunya, Korea Utara terkait program senjata nuklir. Tapi Beijing pernah mengusulkan agar AS dan Korsel menghentikan latihan militer gabungan di semenanjung Korea dengan imbalan Korut menangguhkan kegiatan nuklir dan rudalnya. Tapi ide Cina tersebut telah ditolak oleh AS dan Korsel.

Adakah ruang kompromi dengan Cina?

“THAAD tidak bisa dinegosiasikan,” kata seorang pejabat Gedung Putih sebagaimana dilansir Reuters (15/3). Dia mengatakan mau tidak mau, Beijing harus beradaptasi dengan kebijakan AS  dan Korea Selatan.

Tapi menurut pejabat itu, THAAD adalah “harga jual AS” dalam bernegosiasi dengan Cina. AS hanya akan mendengarkan apa yang dibutuhkan Cina dan apa “imbalan” yang ingin diberikan kepada AS jika berkompromi soal THAAD.

Menurut pejabat itu, Tillerson juga kemungkinan akan memberikan ancaman “sanksi” terhadap perusahaan-perusahaan Cina yang melakukan bisnis dengan Korut.

“Tidak ada yang akan melakukan negosiasi terkait kepentingan inti Amerika,” kata pejabat itu, dimaksudkan soal ancaman senjata nuklir Korut.

“Tapi untuk negosiasi yang lain, mungkin bisa saja,” tambahnya, ini dimaksudkan terkait pembahasan hubungan kerja sama AS dan Cina.

Tillerson akan berada di Cina pada Sabtu dan Minggu mendatang untuk bertemu Presiden Xi Jinpin, Penasihat Negara Yang Jiechi dan Menteri Luar Negeri Wang Yi. Ini tentu saja tugas berat pertama Tillerson di kawasan Asia, di tengah meningkatnya ketegangan AS dan Cina, tidak saja di semenanjung Korea, tapi juga di kawasan perairan lainnya seperti di kawasan Laut Cina Selatan.

Menurut sebuah laporan media AS, Senin lalu Presiden Trump mengatakan bahwa rencananya pertemuan antara dirinya dengan Presiden Cina Xi Jinpin akan digelar di Washington pada 6 -7 April 2017. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here