Jalan Terjal Menggapai Mimpi Kedaulatan Pangan

1
181
Sejumlah petani memotong padi saat panen raya padi Mas di area persawahan pegunungan Lut Tawar, Aceh Tengah, Aceh, Senin (14/8). ANTARA FOTO/Rahmad/ama/17.

Nusantara.news, Jakarta – Merdeka tapi tidak berdaulat, bersatu tapi tidak adil dan makmur. Begitulah gambaran besar sepanjang 72 tahun Indonesia Merdeka. Karunia Tuhan berupa tanah subur, luas, kaya sumber daya alam dan cuaca yang ramah belum memberikan kemakmuran bagi sebagian besar bangsa dan tumpah darah Indonesia.

Di sektor pangan kita memang pernah berswasembada. Khususnya beras. Namun sifatnya masih insidental atau sewaktu-waktu. Revolusi hijau yang semula dicita-citakan sebagai jalan keluar terhadap krisis pangan yang mengancam penduduk dunia kini justru melahirkan ancaman yang tidak kalah bahayanya dengan era sebelumnya.

Krisis ekologi akibat sistem pertanian modern yang mono kultur, penggunaan zat-zat kimia berbahaya terbukti telah memberangus kekayaan hayati. Belum lagi penguasaan sumber daya pertanian ke segelintir pemodal asing yang membuat kita semakin tidak berdaulat atas luasan lahan, benih, pupuk, permodalan dan obat-obatan. Belum lagi berlakunya tradisi “hak waris” atas lahan-lahan pertanian yang dari waktu ke waktu menambah jumlah petani gurem yang mengelola lahan kurang dari ½ hektar.

Tidak mengherankan apabila Indonesia yang mestinya menjadi negara penghasil utama produk-produk pangan dunia posisinya masih di bawah Brazil yang meskipun memiliki iklim relative yang sama dengan Indonesia namun luas lahan pertaniannya kurang dari sepertiga Indonesia. Mengutip data Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), Indonesia berada dalam urutan 5 besar dunia baik sebagai Produsen maupun Konsumen Pangan Dunia.

Mengutip keterangan Khudori, anggota Kelompok Kerja Ahli Dewan Ketahanan Pangan saat acara Focus Group Discussion pada September 2013, produksi gabah Indonesia mencapai 69,27 juta ton atau setara 39,48 juta ton beras. Padahal dengan tingkat konsumsi 113,5 Kg/kapita diantara 250 juta penduduk hanya membutuhkan 28,25 juta ton beras. Mestinya Indonesia surplus beras, namun kenyataannya setiap tahun kita terus impor beras.

Produksi jagung pipilan kering justru cenderung turun 2,83% dengan jumlah produksi 18,84 juta ton. Kedelai hanya menghasilkan rata-rata 847 ribu ton dalam 5 tahun terakhir, sedangkan tingkat kebutuhan mencapai 2,5 juta ton. Sebagaian besar kekurangan pasokan kedelai didatangkan dari Amerika Serikat. Begitu pula dengan gula yang mampu memproduksi rata-rata 2,3 juta ton dalam 5 tahun terakhir sedangkan tingkat kebutuhan mencapai 4,5 juta ton, terdiri dari 2,5 juta ton gula konsumsi dan 2 juta ton gula rafinasi.

Adapun kebutuhan daging sapi dalam 5 tahun terakhir rata-rata mencapai 550 ribu ton, sedang tingkat ketersediaan di dalam negeri hanya 474 ribu ton. Masih kurang 76 ribu ton. Kekurangan pasokan itu antara lain dipenuhi oleh impor 32 ribu ton sapi bakalan yang menghasilkan daging setara 48 ribu ton yang didatangkan dari Australia.

Hanya produksi Crude Palm Oil (CPO) yang mungkin bisa menjadi andalan ekspor. Sebab di tahun 2012 saja dengan tingkat produksi 24 juta ton. Indonesia mampu mengekspor 18 juta ton, bahkan pemerintah pernah mengutip pajak ekspor sebesar 10 persen. Tapi ketimpangan kepemilikan lahan antara segelintir perusahaan perkebunan besar dan petani gurem  tidak memberikan berkah kemakmuran yang berarti bagi sebagian besar rakyat Indonesia.

Surplus juga terjadi dengan komoditas kopi yang mampu memproduksi 700 ribu ton dan mengekspor 500 ribu ton pada 2012 lalu. Namun fluktuasi harga kopi yang bahkan dalam satu dekade terakhir harganya terus memburuk membuat kopi menjadi tanaman favorit yang mampu mensejahterakan petani.

Begitu pun dengan coklat yang mampu berproduksi 840 ribu ton dengan besaran ekspor 450 ribu ton. Sedangkan teh yang banyak diminum orang Indonesia menghasilkan 140 ribu ton yang sebagian besar diekspor. Sejak 2013 (belum ketemu datanya) produksi teh diperkirakan turn karena adanya pembabatan terhadap 3000 hektar lahan teh.

Terus bagaimana tingkat ketergantungan pangan Indonesia terhadap negara lain? Produk gandum yang banyak dikonsumsi warga Indonesia dalam bentu mie instan dan roti-rotian menduduki peringkat pertama ketergantungan karena memang gandum sulit ditanam di Indonesia, disusul oleh impor tepung terigu dan daging sapi, lihat tabel berikut ini :

Maka tidak mengherankan apabila secara keseluruhan, Index Ketahanan Pangan Dunia untuk Indonesia antara tahun 2012 – 2015, peringkat Indonesia cenderung menurun sedangkan pencapaian skor (antara 0-100 dengan penilaian terbaik di angka 100) cenderung stagnan di angka 46. (Lihat Tabel III)

Kebijakan swasembada pangan yang didengungkan oleh pemerintahan Joko Wdodo – Jusuf Kalla dalam 3 tahun terakhir memang secara signifikan mampu memperkecil neraca defisit perdagangan pangan yang melambung sejak periode kedua pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sebagaimana tergambar dalam gambar berikut ini :

Namun apakah terpangkasnya nilai defisit impor produk pangan era pemerintahan Presiden Joko Widodo berpengaruh terhadap kesejahteraan petani? Berdasarkan penelusuran nusantara.news ke sumber badan pusat statistic (BPS), indeks nilai tukar petani Indonesia justru cenderung menurun sebagaimana tergambar dalam data berikut ini :

Artinya, kendati harga pangan dunia dan produksi pangan dari Indonesia cenderung meningkat, namun populasi petani sepanjang 2003 hingga 2013 dalam catatan BPS cenderung menurun. Tahun 2003 jumlah rumah tangga petani di Indonesia mencapai 31,17 juta dan tahun 2013 menyusut sebanyak 5,07 juta tinggal 26,13 juta. Artinya setiap tahunnya jumlah rumah tangga petani menyusut rata-rata 1,7%.

Padahal, tingkat produktvitas pertanian, terutama untuk beras dan jagung, kendati jumlah lahan menyusut namun produktivitasnya terus meningkat. Tahun 2003 produksi padi hanya 52,14 juta ton namun pada 2013 meningkat menjadi 69,27 juta ton atau meningkat rata-rata 3,29% per tahun. Begitu juga dengan jagung yang meningkat dari 10,89 juta ton (2003) menjadi 18,84 juta ton (2013) atau naik rata-rata 7,16 persen per tahun.

Kenaikan produksi pertanian memang menyumbang kenaikan untuk produk domestic bruto (PDB) sekitar 15 persen per tahun, namun di saat yang sama NTP petani juga stagnan, atau bahkan dalam saat tertentu menurun. Karena memang sektor pangan masih dikuasai oleh segelintir pelaku ekonomi dengan tingkat ketimpangan penguasaan lahan yang cenderung melebar sehingga banyak jalan terjal yang mesti ditempuh untuk menggapai mimpi kedaulatan pangan itu.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here