Jalur Pendakian Rusak, Semeru Tutup pada Januari 2018

0
117
Pintu masuk kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (Sumber: Humas TNBTS)

Nusantara.news, Kabupaten Malang – Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sementara akan menutup jalur pendakian ke Gunung Semeru per 1 Januari 2018 mendatang. Diketahui pihak TNBTS akan melakukan recovery ekosistem secara ilmiah.

Beracuan pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, dilakukan pemulihan ekosistem guna menjaga dan merawat salah satu kawasan cagar alam yang berharga.

Agenda penutupan jalur pendakian sementara tersebut berdasar pada surat pengumuman nomor PG.04/T.8/BIDTEK/BIDTEK.1/KSA/12/2017. Penutupan tersebut dilakukan karena rusaknya ekosistem, banyaknya pohon tumbang di sepanjang jalur pendakian dan kondisi cuaca yang ekstrim.

Kepala Balai Besar TNBTS, John Kenedie, menjelaskan selain dilakukan recovery ekosistem Gunung Semeru, tujuan penutupan itu karena pengaruh cuaca yang ekstrem. “Curah hujan yang ekstrim dan cukup tinggi menyebabkan pohon tumbang dan lain sebagainya, Oleh karenannya kam khawatir terhadap pendaki,” jelas dia, Jum’at (22/12/2017)

Hujan yang deras menjadi alasan mengapa jalur pendakian ke Gunung Semeru ditutup selama awal tahun 2016 ini. Seperti yang diketahui, selama bulan Januari hingga Maret tahun 2016 musim hujan akan semakin deras dengan curah hujan dan intensitas hujan yang tinggi di sekitar wilayah Pulau Jawa dan sekitarnya. Musim hujan yang deras dikhawatirkan akan berbahaya bagi keselamatan pendaki.

Selain itu, pihaknya juga memperbaiki sarana prasarana jalur pendakian, serta tanda rambu yang rusak.

Gunung Semeru yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa, dengan ketinggian mencapai 3.676 meter di atas permukaan laut tersebut ekosistemnya dalam kondisi kritis.

Berdasar informasi yang didapat dimusim kemarau tahun 2015 silam, lahan Gunung Semeru mengalami kebakaran dan menghanguskan ratusan hektar lahan. Kondisi lahan yang terbakar kini masih terbengkalai kering dan hangus. Oleh karena itu, TNBTS melakukan upaya recovery/pemulihan ekosistem Gunung Semeru.

Sepanjang tahun 2017, pihak Balai Besar TNBTS mencatat kunjungan ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sebanyak 573.948 orang. Jumlah itu terdiri dari wisatawan mancanegara sebanyak 22.602 dan wisatawan lokal 551.346.

Jumlah tersebut, telah melebihi target Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebanyak Rp 16 miliar. “Jadi sampai November ini sudah 121,51 persen, yakni Rp 19 miliar lebih. Tentu ini hasil yang sangat baik untuk negara,” pungkas Keneddie.

Namun pihaknya juga mengatakan dengan kunjungan tersebut pihak TNBTS juga harus memperbaiki kualitas, keamanan, keselamatan dan kenyamanan para pengunjung. “Mulai dari harus rajin merawat, memperbaiki yang rusak serta peningkatan kualitas fasilitas para pengunjung,” tutur Pria Tengger tersebut.

Mirisnya masih banyak ditemui para pendaki yang masih belum membudayakan untuk membawa turun sampah-sampah mereka. Akibatnya sepanjang jalur pendakian Gunung Semeru dipenuhi oleh sampah sisa pendaki.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here