Menuju Divestasi Saham Freeport

Jangan Bangga Dulu, Lepas dari Cengkraman Elang, Masuk ke Mulut Naga

0
585

Nusantara.news, Kota Malang – Polemik antara pemerintah Indonesia dan PT Freeport Indonesia (PTFI) masih terus berlangsung. Sumber polemik adalah berbagai opsi terkait dengan model payung hukum kerjasama yang harus disepakati oleh kedua belah pihak.

Dalam pemberitaan sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menyebut, jika Freeport kalah dalam persidangan internasional atau arbitrase maka perusahaan tambang tersebut diminta untuk menghentikan kegiatan operasionalnya pada saat Kontrak Karya (KK) habis di tahun 2021.

Di sisi lain, aksi heroik Menteri Energi Sumber Daya Minyak (ESDM) Ignasius Jonan yang dipercaya penuh oleh Jokowi untuk proses negosiasi sempat melontarkan pernyataan kritis terhadap PTFI yang disebutnya “rewel”.

Dalam posisi saling tarik antara PTFI dan pemerintah Indonesia melalu negosiasi yang dilakukan Jonan direspon dengan cara mengancam secara halus melalui isu PHK.

Sejauh ini Tindak kengototan jonan yang ingin menyudahi kerjasama bisnis pengelolaan minyak dengan Freeport sontak masyarakat menganggap bahwa tindakan tersebut demi menyelamatkan kepentingan nasional dalam urusan pengelolaan perminyakan.

Namun, pandangan yang berbeda muncul pakar politik Universitas Brawijaya, Malang. Menanggapi langkah-langkah  pemerintah terhadap Freeport Barqah Prantama, dosen FISIP Universitas Brawijaya mengatakan, aksi pemerintah yang terkesan heroik itu bukannya  tidak mungkin terdapat agenda terselubung di baliknya.

“Dalam memahami persengketaan tersebut, kita lihat siapa yang merespon paling cepat. Sebagaimana yang muncul di pemberitaan  terlihat bahwa salah satu Bank swasta terbesar di Indonesia yang akan siap membiayai pengelolaan tambang di Papua tersebut.” ungkapnya kepada Nusantara.news, Jum’at (3/3/2017)

Ia mengkhawatirkan upaya pemerintah untuk memperjuangkan divestasi saham PTFI akan berakhir dengan cara sekadar ganti operator tanpa kejelasan manfaatnya bagi masyarakat Indonesia. Barqah Prantama menyatakan, “Kalau itu yang terjadi ya berarti  layaknya seperti ganti operator atau ganti juragan.”

“Sama saja pada akhirnya juga terjajah kembali, mungkin tinggal tunggu waktu saja, lepas dari cengkeraman Elang dan masuk dalam mulut naga,” tandas Barqah. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here