Jangan Bilang PKI Tidak Bersalah, Semua Pesantren itu Musuhnya

1
862
Massa PKI ditangkap di Madiun 1948.

Nusantara.news, Magetan – Banyak pihak ingin melakukan upaya rekonsiliasi dan rehabilitasi para pelaku pemberontakan/eks Partai Komunis Indonesia (PKI). Sejumlah elemen masyarakat kemudian menggelar seminar. Mengekor aksi bela Islam, mereka pun punya slogan aksi bela PKI. Menurut mereka sejarah tentang pengkhianatan PKI adalah kebohongan. PKI disebut menjadi korban. Mereka mengklaim peristiwa PKI yang terjadi di Indonesia dari tahun 1926, 1948, 1960 hingga 1965, tidak membantai umat Islam. Karena itu, menuntut negara meminta maaf kepada PKI dan korban-korban dari pihak PKI.

Selama ini gambaran paham Marxisme-Leninisme atau gampangnya komunisme, telah menjadi hubungan diametral dengan Islam. Dalam sejarah yang belum sampai satu abad, paham komunisme telah terlibat dalam pertentangan bengis tak kunjung selesai dengan Indonesia.

Dalam peristiwa Madiun, 1948, umpamanya, kaum muslimin Indonesia berdiri berhadapan dengan PKI. Saat itu di bawah kendali Muso, PKI berusaha menggulingkan pemerintahan Republik Indonesia yang didirikan oleh bangsa yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Dan kalaulah klaim bahwa tidak ada korban dari pihak Islam, maka dalam peristiwa di Madiun itu diungkapkan fakta bahwa pemuka agama Islam dan ulama banyak terbunuh, seperti kalangan pengasuh Pesantren Takeran, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, yang hanya terletak beberapa kilometer di luar kota Madiun sendiri.

Setidaknya Pesantren Takeran ini menjadi saksi bisu banyaknya orang yang dijagal dan dimasukkan ke dalam sumur tua di tengah-tengah perkebunan tebu sewaktu pemberontakan PKI Madiun pada September 1948. Anehnya, ini malah dianggap tak penting.

Di Desa Rejosari, dekat pabrik gula Rejosari, Kecamatan Kawedanan, Magetan, setiap bulan September dan Oktober banyak orang berdoa dan tabur bunga di monumen burung garuda terbang. Sebab di bawah tugu itulah dulu lubang pembantaian PKI 1948. Siapa yang “ditanam” di dalam lubang sumur itu? Ada bupati, wedana, jaksa, kiai, haji, pegawai, dan lainnya.

Di tembok monumen memang terdapat 26 nama. Ada bupati Magetan, anggota kepolisian, patih Magetan, wedana, kepala pengadilan Magetan, kepala penerangan Magetan, lima orang kiai, dan para warga biasa lainnya. Bila dijumlah seluruh korban pembantaian tercatat ada 114 orang. Sebelum dieksekusi, mereka diangkut dengan gerbong lori yang biasa untuk mengangkut tebu.

Beberapa nama ulama yang ada di monumen tertulis KH Imam Shofwan. Dia pengasuh Pesantren Thoriqussu’ada Rejosari, Madiun. KH Shofwan dikubur hidup-hidup di dalam sumur tersebut setelah disiksa berkali-kali. Bahkan, ketika dimasukkan ke dalam sumur, KH Imam Shofwan sempat mengumandangkan azan. Dua putra KH Imam Shofwan, yakni Kiai Zubeir dan Kiai Bawani, juga menjadi korban dan dikubur hidup-hidup secara bersama-sama.

Selain itu, beberapa nama yang menjadi korban adalah keluarga Pesantren Sabilil Mutaqin (PSM) Takeran. Mereka adalah guru Hadi Addaba’ dan Imam Faham dari Pesantren Sabilil Muttaqin, Takeran. Imam Faham adalah adik dari Muhammad Suhud, paman dari mantan mendiang ketua DPR M Kharis Suhud. Selain perwira militer, pejabat daerah, wartawan, politisi pun ikut menjadi korbannya.

Hanya saja, untuk Kiai Mursyid dan sesama kiai pesantren Takeran hingga saat ini belum diketahui di mana kuburannya. Pengasuh Pondok Pesantren Sabilil Mutaqin KH Zakaria (83) menceritakan, usai shalat Jumat pada 17 September 1948 pesantrennya didatangi beberapa orang tokoh PKI. Kepala rombongan yang dipimpin aktivis PKI Suhud. Mereka datang didampingi para pengawal bersenjata yang dikenali sebagai kepala keamanan di Takeran.

”Ketika menjemput Kiai Mursyid, Suhud menukil ayat Alquran, innalloha laa yughoyirru bi qoumin hatta yughoyiyiru maa bi anfusihim (Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib satu kaum kecuali kaum itu mengubah nasibnya sendiri). Setelah berkata seperti itu, Kiai Mursyid dibawa pergi dan sampai sekarang tak diketahui rimbanya,” kata Zakaria mengenangkan peristiwa tersebut.

Pengasuh Pondok Pesantren Takeran, KH Zakaria menjadi saksi mata penculikan oleh gerombolan komunis pada 18 September 1948.

Saat itu memang banyak pesantren menjadi musuh besar PKI, lantaran di dalam pesantren terdapat kekuatan yang sangat tak bisa diduga, apalagi Pesantren Takeran melakukan penggemblengan fisik terhadap santrinya. Di sini PKI lantas menargetkan para tokoh kiai. Caranya dengan melakukan penangkapan dan penculikan. Banyak dari mereka tak pernah kembali, dan kebanyakan ditemukan sudah tak bernyawa dan menjadi mayat di lubang-lubang pembantaian.

Zakaria mengungkapkan, banyak pesantren lain yang ada di sekitar Madiun dan Magetan yang juga didatangi gerombolan massa PKI pimpinan Muso. Salah satu di antara yang diserbu itu adalah Pesantren Tegalrejo, sebuah pesantren tua yang ada tak jauh dari wilayah Takeran.

”Ketika massa PKI sampai di pesantren Tegalrejo itu, pengasuh pondok, KH Imam Mulyo ditangkap dan dilempari beberapa granat sembari diancam agar mau tunduk kepada ideologi dan partai mereka. Syukurnya granat itu tak meledak,” ujar Zakaria.

Kiai Amal Fatullah Zarkasyi, salah satu putra dari KH. Imam Zarkasyi, pendiri Pondok Modern Gontor, menceritakan ulang bagaimana kisah ayahnya yang tertangkap PKI saat mencoba mengungsi dengan kiai dan santri-santri Gontor. Ia mendapatkan kisah ini langsung dari Kiai Imam Zarkasyi. “Saya belum lahir, tapi ceritanya jelas bagi saya,” ujarnya.

Saat situasi semakin genting, datanglah pasukan Hizbullah yang dipimpin Kiai Yusuf Hasim yang berasal dari Tebu Ireng dan tentara Siliwangi mengelilingi pasukan PKI. Pada saat itu, jumlah tentara tidak begitu banyak, hanya saja mereka menggunakan taktik untuk menggertak pasukan PKI. “Di mana-mana tembakan dibunyikan, padahal orangnya nggak terlalu banyak. Akhirnya PKI itu lari dari sekeliling masjid,” katanya. Setelah kejadian tersebut, para kiai dan santri Gontor dapat terbebas dari sanderaan PKI yang mengancam membunuh dari luar masjid.

Di sebuah kampung Kauman yang dihuni oleh umat Islam, masih kawasan Magetan, ada seorang pedagang keliling yang juga guru ngaji bernama Kiai Rokib. Dia mengaku pernah didatangi oleh 12 orang anggota PKI pada 19 September 1948, sekitar pukul 03.00 dini hari. Dalam keadaan langit masih gelap, Rokib digiring ke Desa Wringin Agung.

Hampir sepekan Rokib diikat dengan erat dan disatukan dengan sekitar 300-an orang tawanan yang lain. Kemudian dia digiring ke timur menuju Gorang Gareng. Beruntung Rokib diselamatkan TNI sebelum giliran eksekusinya.

Sumur-sumur Pembantaian

Proses penculikan yang dilakukan PKI terhadap para kiai, menunjukkan betapa kejamnya peristiwa bulan September 1948.  Itu bukan aksi biasa tanpa tujuan. Tapi sudah sudah dipersiapkan dengan matang. Terbukti, dalam waktu singkat pemberontak PKI sudah menguasai wilayah yang cukup luas, yakni meliputi Madiun, Magetan, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Ngawi, Purwantoro, Blora, Pati, Cepu, dan Kudus.

Pembersihan PKI dilakukan di mana-mana sebenarnya untuk mendongkel yang bukan merah dan diganti dengan merah. Sejarah mencatat praktik-praktik mengerikan yang dilakukan PKI adalah bagian dari teror untuk meruntuhkan moral lawan-lawannya. Sekalipun peristiwa itu dikenal dengan sebutan Pemberontakan Madiun, di antara sekian daerah yang menjadi korban keganasan kaum merah, justru masyarakat di kawasan Kabupaten Magetanlah yang paling parah menerima akibatnya.

Korban keganasan kaum merah tersebut tak dapat diketahui secara pasti. Tetapi adanya sumur-sumur tua dan lubang-lubang pembantaian yang dipakai PKI untuk menghabisi lawan-lawan mereka yang tersebar di berbagai tempat di Kabupaten Magetan, menjadi saksi sejarah dari sebuah kebiadaban yang sulit dipercaya kala itu.

Sumur pembantaian itu berada di Soco, sebuah desa kecil yang terletak hanya beberapa ratus meter di sebelah selatan lapangan udara Iswahyudi. Desa Soco termasuk dalam wilayah Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan. Letak Soco yang strategis dan dekat dengan lapangan udara memang dipenuhi tegalan dan banyak sumurnya. Ini menjadikan kawasan itu layak dijadikan tempat pembantaian. Apalagi desa ini juga dilewati rel kereta lori pengangkut tebu ke Pabrik Gula Glodok, Pabrik Gula Kanigoro dan juga Pabrik Gula Gorang-gareng. Gerbong kereta lori dari Pabrik Gula Gorang-gareng itulah yang dijadikan kendaraan mengangkut para tawanan untuk dibantai di sumur tua di tengah tegalan Desa Soco.

Di sumur tua desa Soco ditemukan tak kurang dari 108 jenazah korban kebiadaban PKI. Sebanyak 78 orang di antaranya dapat dikenali, sementara sisanya tidak dikenal. Sumur-sumur tua yang tak terpakai di desa Soco memang dirancang oleh PKI sebagai tempat pembantaian massal sebelum melakukan pemberontakan.

Nama-nama korban pembantaian PKI pada monumen Soco.

Beberapa nama korban yang menjadi korban pembantaian di Desa Soco adalah Bupati Magetan Sudibjo, Jaksa R Moerti, Muhammad Suhud (ayah mantan Ketua DPR/MPR, Kharis Suhud), Kapten Sumarno dan beberapa pejabat pemerintah serta tokoh masyarakat setempat termasuk KH Soelaiman Zuhdi Affandi, pimpinan Pondok Pesantren ath-Thohirin Mojopurno, Magetan.

Terungkapnya sumur Soco sebagai tempat pembantaian PKI bermula dari igauan salah seorang anggota PKI yang turut membantai korban. Selang seratus hari setelah pembantaian di sumur tua itu, anggota PKI ini mengigau dan mengaku ikut membantai para tawanan.

Setelah diselidiki dan diinterogasi, akhirnya dia menunjukkan letak sumur tersebut. Sekalipun letak sumur telah ditemukan, namun penggalian jenazah tidak dilakukan pada saat itu juga, tapi beberapa tahun kemudian. Hal ini disebabkan oleh kesibukan pemerintah RI dalam melawan agresi Belanda yang kedua.

Salah seorang penggali sumur bernama Pangat menuturkan, mayat-mayat yang digali sudah dalam keadaan hancur lebur seperti tape ketela. Daging dan kulit jenazah hanya menempel sedikit di antara tulang-belulang. Di kedalaman sumur yang sekitar duabelas meter, regu pertama menemukan 78 mayat, sementara regu kedua menemukan 30 mayat. Semua jenazah dihitung hanya berdasarkan tengkorak kepala, karena tubuh para korban telah bercampur-aduk sedemikian rupa.

Sumur tua lain berada di Desa Bangsri merupakan tempat yang paling awal. Sumur tua ini terletak di tengah tegalan ladang ketela di Dukuh Dadapan. Sekitar 10 orang korban PKI dibantai di sini. Kebanyakan adalah warga biasa yang dianggap menentang atau melawan PKI. Para korban pembantaian di Bangsri berasal dari Desa Selo Tinatah, dan berlangsung sebelum pemberontakan 18 September 1948 dimulai. Mereka yang tertangkap PKI kemudian ditahan di Dusun Dadapan. Beberapa hari menjelang hari H pemberontakan, para tawanan disembelih di lubang pembantaian di tengah tegalan.

Sumur tua di Desa Cigrok ini hampir sama dengan sumur tua di Desa Soco, sama-sama tidak terpakai lagi. Sebagaimana kepercayaan masyarakat setempat yang pantang menimbun sumur setelah tidak digunakan lagi, sumur tua Desa Cigrok demikian pula. Tidak ditimbun, kecuali tertimbun sendiri oleh tanah.

Sumur tua Desa Cigrok terletak di rumah seorang warga desa bernama To Teruno. To Teruno sebenarnya bukanlah anggota PKI, justru dialah yang melaporkan kekejaman PKI di sumur miliknya itu kepada kepala desanya. Sebanyak 22 orang yang menjadi korban pembantaian di sumur tua Desa Cigrok.

Selain beberapa sumur di Magetan, ditemukan pula lubang di Dusun Kresek, Desa Dungus. Di lubang pembantaian di tepi bukit ini ditemukan 17 jenazah. Mereka diantaranya adalah perwira militer, anggota DPRD, wartawan dan masyarakat biasa.

Pembantaian di Dusun Kresek dilakukan PKI karena posisinya telah terjepit oleh pasukan Siliwangi. Sementara itu, mereka tersesat di Kresek dalam perjalanan menuju Kediri. Karena tidak sabar membawa tawanan sedemikian banyaknya, mereka pun melakukan pembantaian di tepi bukit lalu menimbunnya di sebuah sumur tua. Terungkapnya sumur ini sebagai tempat pembantaian bermula dari laporan seorang janda warga Desa Kresek yang mengaku melihat terjadinya peristiwa keji itu.

Sumur bekas pembantaian yang menjadi monumen dan tugu peringatan atas kekejaman PKI tahun 1948.

Kini, di Kresek telah dibangun monumen dan tugu peringatan atas kekejaman PKI pada tahun 1948 dulu. Sebagaimana monumen di Desa Soco, monumen keganasan PKI di Kresek juga dibangun untuk mengingat keganasan PKI dalam membantai lawan-lawan politiknya, dengan harapan paham itu tidak lagi bangkit kembali di bumi pertiwi.

Fakta Sejarah Diputar Aidit

 Sejarah PKI perlu dipahami secara utuh dan berkesinambungan. Pemahaman sejarah yang dibaca sepotong-sepotong fragmen, sementara sebagian fragmen telah dipenggal dan ditutup-tutupi, akan melahirkan pemahaman menyimpang. Sejarah pemberontakan PKI, jangan bilang PKI tidak bersalah. Peristiwa Madiun 1948 itu ulah biadab PKI. Dan betapa pahitnya omongan Aidit yang bilang ulama itu tanpa kerjaan, kitabnya yang banyak, yang bisa buat bendung kali Ciliwung tidak berguna, Indonesia tak butuh ulama.

Dalam pandangan sejarah kontemporer yang tidak benar, PKI hanya dianggap membuat manuver hanya tahun 1965. Itu pun juga tidak sepenuhnya diakui, sebab peristiwa berdarah itu dianggap hanya manuver TNI Angkatan Darat. Kemudian dibuat kesimpulan bahwa PKI tidak pernah melakukan petualangan politik. Mereka dianggap sebagai korban konspirasi dari TNI AD dan ormas Islam anti PKI seperti NU dan lain-lain.

Pemberontakan PKI pertama kali dilakukan tahun 1926, kemudian dilanjutkan dengan Pemberontakan Madiun 1948 dan dilanjutkan kembali pada tahun 1965 adalah suatu kesatuan sejarah yang saling terkait. Para pelakunya saling berhubungan. Tujuan utamanya adalah bagaimana mengkomuniskan Indonesia dengan mengorbankan para ulama dan aparat negara.

Pemberontakan Madiun 1948  yang dilakukan PKI beserta Pesindo dan organ kiri lainnya menelan ribuan korban baik dari kalangan santri, para ulama, pemimpin tarekat, yang dibantai secara keji. Selain itu berbagai aset mereka seperti masjid, pesantren dan madrasah dibakar. Demikian juga kalangan aparat negara baik para birokrat, aparat keamanan, polisi dan TNI banyak yang mereka bantai saat mereka menguasai Madiun dan sekitarnya yang meliputi kawasan strategis Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Anehnya, PKI menuduh pembantaian yang mereka lakukan itu hanya sebagai manuver Hatta. Padahal jelas-jelas Bung Karno Sendiri yang berkuasa saat itu bersama Hatta mengatakan pada rakyat bahwa Pemberontakan PKI di Madiun yang dipimpin Muso dan Amir Syarifuddin itu sebuah kudeta untuk menikam republik dari Belakang, karena itu harus dihancurkan.

Korban yang begitu besar itu ditutupi oleh PKI, karena itu tidak lama kemudian Aidit menerbitkan “buku putih” yang memutarbalikkan fakta pembantaian Madiun. Para penulis sejarah termakan manipulasi Aidit. Tetapi rakyat, para ulama dan santri sebagai korban tetap mencatat dalam sejarahnya sendiri.

Para ulama yang menjadi korban penculikan dan pembunuhan PKI.

Para kiai dianggap sebagai salah satu dari setan desa yang harus dibabat. Kehidupan kiai dan kaum santri sangat terteror, sehingga mereka selalu berjaga dari serangan PKI. Fitnah, penghinaan serta pembunuhan dilakukan PKI di berbagai tempat, sehingga terjadi konflik sosial yang bersifat horisontal antara pengikut PKI dan kelompok Islam terutama NU. Serang menyerang terjadi di berbagai tempat ibadah, pengerusakan pesantren dan masjid dilakukan termasuk perampasan tanah para kiai. Saat itu NU melakukan siaga penuh yang kemudian dibantu oleh GP Ansor dan Banser. Lagi-lagi kekejaman yang dilakukan PKI terhadap santri dan kiai dan kalangan TNI dianggap hanya manuver TNI AD.

Ya, sejarah dibalik. Yang selama ini PKI bertindak sebagai pelaku kekejaman, diubah menjadi pihak yang menjadi korban kekejaman para ulama dan TNI. Lalu mereka membuat berbagai manuver melalui amnesti internasional dan mahkamah internasional, termasuk Komnas HAM. Karena mereka pada umumnya tidak tahu sejarah, maka dengan mudah mempercayai pemalsuan sejarah seperti itu. Akhirnya kalangan TNI, pemerintah dan NU yang membela diri dan membela agama serta membela ideologi negara itu dipaksa minta maaf, karena dianggap melakukan kekejaman pada PKI.

PKI telah menciptakan suasana sedemikian tegang sampai pada situasi to kill or to be killed (membunuh atau dibunuh) dalam sebuah perang saudara. Oleh karena itu kalau diperlukan perdamaian maka keduanya bisa saling memberi maaf, bukan permintaan maaf sepihak sebagaimana mereka tuntut, karena justru kesalahan ada pada mereka dengan melakukan agitasi serta teror bahkan pembantaian.

Pemahaman sejarah yang menyimpang ini harus diluruskan karena telah menyebar luas. Bahkan tidak sedikit kader NU yang berpandangan demikian, karena itu harus diluruskan. Demi membangun Indonesia ke depan yang utuh dan tanpa diskriminasi kalangan ulama bersedia memaafkan PKI sejauh mereka minta maaf. NU boleh memaafkan PKI tetapi tidak untuk negara, apalagi sampai melupakan semua petualangan PKI. Ini agar tidak terjerumus dalam lubang sejarah untuk ketiga kali. Dengan demikian bisa bersikap proporsional, bersahabat, bekerjasama dengan semua pihak, namun tetap menjaga keberadaan agama, keutuhan wilayah, komitmen ideologi serta keamanan negara.[]

1 KOMENTAR

  1. satuju sx dgn artikel/tulisan ini…

    smga saja generasi skrg tdk kebelinger…

    & mngetahui sejarah kelam.bangsa ini…

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here