Jangan Nodai Pesta Demokrasi Rakyat

0
65

Nusantara.news, Jakarta – Besok, 17 April 2019 menjadi hari paling bersejarah bagi Indonesia. Inilah untuk pertama kali pemilihan umum (pemilu) memilih wakil rakyat dan presiden-wakil presiden dilaksanakan serentak. Pemilu kali ini juga dinilai paling rumit di dunia, disebut juga ‘Pemilu Lima Kotak’.

Surat suara warna hijau ialah daftar calon anggota legislatif (caleg) kabupaten/kota, biru untuk caleg provinsi, kuning untuk caleg DPR RI, merah untuk caleg DPD RI, dan abu-abu untuk calon presiden-wakil presiden. Sekitar 195 juta warga akan memilih sekitar 245 ribu caleg dari seluruh tingkatan dan dua pasangan calon presiden wakil presiden. Yang terpilih hanya 20.528 orang caleg dan sepasang calon presiden-wakil presiden. Tujuh bulan masa kampanye (23 September 2018-13 April 2019) bangsa ini merasakan bagaimana ketatnya persaingan di lapangan.

Para caleg, calon presiden-wakil presiden, tim sukses, dan pendukung, penting meneguhkan jiwa kesatria: siap kalah dan siap menang. Sikap legawa seperti ini penting agar tak menggunakan segala cara: menabrak aturan, norma, dan etika. Ada yang menang ada yang tumbang. Itulah postulat pertandingan. Jika ada kecurangan, laporkan dan usut tuntas.

Bagi masyarakat yang telah menentukan pilihan, timbang ulang untuk meneguhkan pilihan terbaik. Bagi yang sudah menentukan pilihan tapi masih galau (swing voters) dan belum menentukan pilihan (undecided voters), hari tenang bisa untuk mencari referensi paling kuat memilih yang terbaik. Nikmati pesta demokrasi rakyat tetapi perlu tetap sama-sama mengawasi TPS mulai dari pencoblosan hingga perhitungan suara supaya tak ada ‘bandit-bandit’ politik yang mencoba merusak suasana demokrasi.

Para lembaga swadaya masyarakat dan pemantau (termasuk media massa), tajamkan mata, telinga, dan pena untuk mengawasi jalannya pemilihan. Suarakan kecurangan jika memang terjadi, tetapi juga tak pelit memberi apresiasi jika proses demokrasi berjalan mulus. Berlakulah objektif.

Bagi penyelenggara pemilu, KPU dan Bawaslu, ini waktu terbaik untuk memenuhi segala kekurangan. Surat suara, TPS, seluruh petugas, hingga tingkat terbawah, harus dipastikan siap di hari H. Jangan ada satu pun hak pemilih terhalangi karena urusan-urusan teknis yang tak kelar. Terlebih pemilih saat ini partisipasinya dipredikasi meningkat di banding pemilu 2014 lalu. Lonjakan pemilih pada pemilu kali ini terutama bisa dilihat dari antusisme pemilih di luar negeri. Mereka bahkan rela mengantre hingga satu kilo demi menunaikan hak suaranya. Sesuatu yang tak ditemui di pemilu sebelumnya. Karena itu, KPU-Bawaslu harus siaga dan antisipatif.

Peneyelanggara Pemilu juga harus menghargai kedaulatan pemilih sebagaimana slogan Pemilu 2019 ‘pemilih berdaulat, negara kuat’. Bekerjalah dengan penuh totalitas sebagaimana para pelaksana pemilu di daerah-daerah terpencil yang telah bertaruh nyawa menyukseskan pemilu. Mereka yang menyeberangkan logistik pemilu melewati ngarai, sungai, laut, gunung, tembus hutan, dan medan sulit lainnya ke TPS tujuan, patut’dibalas’ oleh KPU dan Bawaslu dengan menghadirkan pesta demokrasi yang sehat dan berkualitas. Segalan potensi kekisruhan dan kecurangan harus disikapi dengan tegas dan tuntas. Jangan menunda-nunda, ngambang, apalagi mengeluarkan pernyataan yang seolah menyepelekan persoalan.

Terakhir, untuk para ASN atau PNS dan pegawai BUMN, memilihlah dengan kemerdekaan penuh tanpa takut pada tekanan atasan. Para pejabat negara berhentilah memobilisasi dukungan dan mengintimidasi pilihan bawahan. Sebab perilaku demikian selain tidak patut karena menodai netralitas, juga melanggar undang-undang. Begitupun dengan aparat TNI dan Polri, fokuslah menjalankan tugas pengamanan. Junjung tinggi netralitas dan profesionalitas, tak elok jika harus tergoda kekuasaan apalagi menjadi bagian dari tim sukses salah satu kandidat. Buatlah rakyat nyaman, ciptakan suasana sejuk.

Kita berharap keputusan politik yang dieksekusi di TPS itu tak hanya menghasilkan beberapa partai yang kuat, yang membawa orang-orang berintegritas di DPR, tapi juga menghasilkan presiden yang mampu membuat Indonesia yang sekarang baik menjadi hebat. Sebab itu, berikan rakyat keleluasaan dan kejernihan.

Terkhusus Pilpres, usai pencoblosan, semua pertanyaan publik akan terjawab sudah. Siapa yang menjadi pemenangnya akan diketahui hasilnya. Sesuai hasil survei beberapa pollster dengan keunggulan petahana, ataukah seperti pilkada DKI Jakarta yang menumbangkan pejabat lama. Atau, mungkin seperti pilkada Jabar dan Jateng yang menunjukan keberimbangan, disparitas pemenang, dan kompetitor tak sebesar hasil polling.

Hasil pilpres nanti bisa saja menjadi sebuah akhir (endgame) bagi petahana, dan awal yang baru bagi sebuah regime yang belum pernah tampil sebelumnya. Awal dari sebuah era yang baru. Atau boleh jadi sebaliknya. Petahana ternyata tetap menjadi pemenang pilpres sekaligus menjungkirkan anggapan bahwa mereka sedang menjalani awal dari sebuah akhir.

Siapapun yang memenangkan pilpres, hendaknya publik legowo. Pasca-pilpres 2019 seharusnya usai sudah polarisasi dua kubu, hingga tak ada lagi labelling "kecebong" versus "kampret". Hendaknya semua perseteruan kedua kelompok sirna sudah pasca pilpres: semua bersaudara dan bangsa ini kembali sehat.

Selamat mencoblos![]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here