Jangan Remehkan Pelemahan Rupiah

0
88
Nilai tukar rupiah dalam satu dua hari ini mulai melemah terhadap dolar AS mendekati level Rp13.600

Nusantara.news, Jakarta – Nilai tukar rupiah mulai awal pekan ini bergerak melemah terhadap dolar AS, bahkan kecenderungan pelemahan itu masih berlanjut sehingga rupiah mendekati level Rp13.600 per dolar AS. Akan kah pelemahan ini berlanjut?

Pelemahan kali ini memang penyebabnya kompleks, namun setidaknya tidak separah tahun 1998 (krisis moneter Asia) maupun 2008 (krisis Subprime Mortgage AS). Artinya, pelemahan rupiah kali ini masih dalam batas-batas wajar. Meskipun demikian gejalanya tidak boleh dianggap remeh, terutama jika variabel-variabel penyebab melemahnya rupiah terhadap dolar AS tidak terkendali.

Itu sebabnya otoritas moneter—Bank Indonesia (BI)—dan pemerintah tetap harus waspada dengan mengendalikan faktor penyebab tesebut.

Jika menengok ke pasar, rupiah yang selama ini stabil di kisaran Rp13.300 hingga Rp13.315, dalam dua hari terakhir sudah merangkak ke kisaran Rp13.550 hingga Rp13.582. Artinya hanya butuh 8 poin saja rupiah bisa tembus ke level Rp13.600 per dolar.

Dan yang paling mengkawatirkan adalah antrean di sejumlah pedagang valuta asing (valas). Seperti perburuan supply dan demand, para pemburu dolar berbondong-bondong ke sejumlah pedagang valas. Di money changer Ayu Masagung, Jakarta Pusat, tampak puluhan orang mengantre untuk mendapatkan dolar AS.

Walaupun kebutuhan dolar warga tidak besar, disamping juga tanpa alasan yang jelas, umumnya para pembeli mengaku hanya memanfaatkan penguatan dolar AS. “Saya cuma beli US$350, lumayan dari harga Rp13.300 sekarang sudah Rp13.582 per dolar AS,” kata Suci di money changer Ayu Masagung.

Boleh dibilang krisis rupiah kali ini hanyalah gejala krisis kecil. Kalau dibandingkan tahun tahun 2015, rupiah sempat melemah hingga ke level Rp14.500 per dolar AS. Sehingga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melakukan stress test (tes ketahanan krisis), jika rupiah tembus ke level Rp15.000 maka ada sekitar 22 bank yang bermasalah.

Nah, krisis rupiah kali ini hanyalah krisis kecil dan ini baru permulaan. Artinya kalau otoritas moneter dan pemerintah gagal mengelola variabel yang membuat melemahnya rupiah boleh jadi pelemahan akan berlanjut. Pendek kata, pelemahan rupiah diperkirakan masih akan berlanjut.

Trend pergerakan rupiah sejak 1 Januari hingga 3 Oktober 2017 yang cenderung melemah, walaupun sempat menguat di level Rp13.141 per dolar AS, namun belakangan tertekan hingga ke level Rp13.582

Yang lain juga melemah

Menko Perekonomian Darmin Nasution mengatakan sebenarnya dolar AS tidak hanya sedang menguat terhadap rupiah, tapi juga terhadap mata uang utama dunia lainnya.

“Memang mungkin ada kaitannya dengan Amerika Serikat yang mau kenaikan tingkat bunga. Itu bisa ada hubungannya dengan itu,” kata Darmin di sela Rakornas Kadin 2017 di Hotel Ritz Carlton, pagi ini.

Darmin juga menambahkan pelemahan nikai tukar dialami banyak negara. Berdasarkan data Bloomberg, dalam satu dua hari ini dolar AS memang menguat terhadap euro, yen, won, maupun rupiah. Sementara dolar AS justru melemah terhadap poundsterling, dolar Australian, serta dolar Hong Kong.

Sementara Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara mengatakan saat ini bukan hanya nilai tukar Rupiah yang melemah. Menurutnya, mata uang regional juga tengah melemah terhadap mata uang Amerika Serikat tersebut.

“Emang yang lain enggak melemah? Enggak bandingin sih. Makanya sebelum bilang begitu (rupiah melemah) bandingin dulu sama regional,” ujar Mirza saat ditemui dalam acara Rakornas Kadin, di Hotel Ritz Carlton pagi ini.

Mirza mengungkapkan, sejak 22 September rupiah melemah 2,2% terhadap Dolar AS. Kemudian, Yen Jepang melemah 1,7% terhadap Dolar AS, Dolar Singapura juga melemah 1,6%.

“Hari ini, India Rupee melemah 0,4%. Apa artinya? Artinya (ini pelemahan) global terhadap dolar AS,” ujarnya.

Apa penyebabnya?

Lantas, apakah yang menyebabkan rupiah melemah terhadap dolar AS dengan pelemahan yang signifikan?

Sedikitnya ada lima penyebab melemahnya rupiah terhadap dolar AS. Pertama, diungkapkan oleh Wapres Jusuf Kalla mengungkapkan bulan ini (Oktober 2017) hutang pemerintah yang jatuh tempo plus bunganya mencapai Rp 500 triliun.  Jadi pemerintah butuh dolar banyak untuk membayar utang, wajarlah kalau rupiah menjadi tertekan.

Kalau defisit APBNP 2017 mencapai Rp330 triliun, ditambah membayar pokok dan bunga utang Rp500 triliun, maka defisit anggaran kita di pada 2017 mencapai Rp830 triliun.

Sedangkan Mirza menambahkan tiga alasan lainnya, yakni, kedua, Presiden AS Donald Trump yang mengajukan proposal baru terkait penurunan pajak di AS.

“Walaupun ini belum komprehensif, tapi proposal ini jika diterima oleh kongres dan senat, maka ini jadi harapan baru bahwa ekonomi AS akan tumbuh lebih cepat lagi sehingga suku bunga naiknya jadi lebih cepat,” ujarnya.

Ketiga, Gubernur Federal Reserve Janet Yellen memberikan statement seminggu lalu bahwa suku bunga AS akan naik pada Desember 2017, sehingga merangsang penguatan dolar AS terhadap mata uang global.

Keempat, spekulasi mengenai adanya pergantian pergantian gubernur bank sentral AS, telah membangun spekulasi para pelaku pasar dengan memborong dolar AS.

“Hal-hal begini oleh pasar keuangan dijadikan topik untuk 10 hari terakhir. Tapi itu kembali ke fundamental kita. Kalau fundamental ekonomi kita baik-baik saja ya ekonomi kita baik-baik saja,” jelas Mirza.

Kelima, yang tak kalah pentingnya, kegaduhan soal impor ilegal 5.000 senjata Polri yang dicegah Tentara Nasional Indonesia (TNI) telah membuat pertanyaan besar bagi kalangan dunia usaha soal keamanan nasional. Para pengusaha banyak yang bertanya pada Menko Polhukam Wiranto. “Ini ada apa? Kok ada kegaduhan, apakah aman-aman saja,” demikian kata Wiranto kepada media.

Sedangkan penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia dari 4,50% menjadi 4,25% baru-baru ini tidak dianggap sebagai penyebab melemahnya rupiah. Kebijakan moneter ini justru merangsang bangkitnya kredit perbankan.

Lepas dari berbagai penyebab melemahnya rupiah di atas, satu sama lain variabel patut dikendalikan otoritas moneter dan pemerintah. Jika salah satu saja salah kelola, maka akan berdampak pada pelemahan rupiah lebih lanjut.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here