Jangan Remehkan Revolusi Habib Rizieq

1
195

Nusantara.news, Surabaya – Banjir bandang di musim hujan selalu dimulai dengan satu tetes air. Revolusi Habib Rizieq diera pemerintahan Presiden Joko Widodo seperti gejala rintik hujan, yang datangnya diawali dengan gerimis, membesar dan deras lalu menjadi badai atau membawa banjir besar yang dapat menyapu bersih bangunan kokoh dihadapannya.

Jadi, jika ingin selamat, Jokowi harus berpikir kembali dan menanggapi dengan serius ancaman Rizieq. Pasalnya, saat ini pamor pria berdarah Arab itu tengah naik daun. Suara yang digaungkan Rizieq beresonansi tidak hanya pada massa Front Pembela Islam saja, tetapi massa Islam secara umum dan ormas-ormas yang selama ini sudah menganggap kegagalan Jokowi memimin bangsa Indonesia.

Demontrasi kolosal dengan massa jutaan umat Islam seperti demo 411 atau 212 bisa menjadi tonggak awalnya revolusi Rizieq terhadap pemerintahan sekarang. Geger dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok masih bakal terus berlanjut menyusul ancaman terbaru dari Imam Besar FPI Muhammad Rizieq Shihab yang bakal menginisiasi revolusi jika gubernur Jakarta itu tidak masuk penjara.

Bisa dibayangkan jika demontrasi besar-besaran menyasar Gedung DPR/MPR dengan menuntut pemakzulan terhadap rezim, bahkan sangat mungkin Jokowi terguling, atau minimal berdampak besar secara politik dan ekonomi.

Demonstrasi secara terus-menerus pasti menggerus legitimasi pemerintahan. Habib Rizieq, yang sekarang mendadak menjadi idola kaum muda Islam di seluruh penjuru Indonesia, tentu tidak akan menyia-nyiakan momentum besar ini. Belum pernah massa Islam sekompak ini di rezim-rezim sebelumnya.

Kelompok agamawan sendiri, pernah memiliki pengalaman menginisiasi gerakan delegitimasi terhadap pemerintahan di era Susilo Bambang Yudhoyono. SBY mendapat ancaman penggulingan pada 2011, melalui cap Rezim Pembohong.

Namun, inisiasi untuk menggoyang kedudukan SBY kandas. Saat itu, sejumlah rentetan demo hanya diikuti beberapa ribu orang, termasuk yang fenomenal dengan membawa kerbau yang di badannya dicat tulisan “SiBuYa” dan dibokongnya ditempel gambar SBY dengan tulisan “Turun!!!!”. Gerakan ini melempem, mengecil dan berakhir hanya di pangung-panggung seni dengan teatrikal satir.

Jika melihat fakta di lapangan saat ini pada aksi damai 411 dan 212, unsur-unsur organisasi Islam mulai menunjukkan kebulatan suara: FUI, FPI, DDII, GNPF, Persis, dan PUI. Muhammadiyah pun tampak menunjukkan dukungan secara kelembagaan, meskipun masih samar-samar. Sementara itu, NU secara organisasi belum bersuara, tetapi sejumlah tokoh dan massa di level bawah sudah ikut dalam barisan pimpinan Rizieq.

Jadi, gelegar mereka hanya menunggu satu langkah lagi. Gongnya ada di NU, jika mereka secara formal menyatakan mendelegitimasi pemerintah, karir Jokowi sebagai presiden bisa tamat kapan pun. Seiring dengan dukungan untuk gerakan Rizieq di luar ormas Islam yang semakin genjar, bahkan Parpol seperti PKS pasti siap sedia menjadi beking gerakan massa seperti yang digelorakan Habib Rizieq. Rizieq cs tampak sudah menemukan musuh bersama untuk dilawan.

Kawanan apa pun bisa bertarung satu sama lain. Namun, jika ada musuh dari luar, mereka bisa merapatkan barisan dan melawan secara bersama-sama. Direncanakan atau tidak, Ahok—dan bisa melebar ke Jokowi—sudah berhasil dijadikan musuh bersama, dalam konteks ini.

Rizieq cs pasti belajar dari kegagalan di masa lalu, jika benar-benar berniat melakukan revolusi. Mereka pasti memiliki strategi dan rencana lain yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Gerakan Rizieq pastinya lebih berbahaya bagi rezim, ketimbang gerakan sebelumnya oleh sejumlah tokoh agama dan politik di era SBY.

Alasan yang paling utama adalah Rizieq, dan ulama-ulama lain, tidak hendak melakukan revolusi dengan niat menjadi presiden. Di sini justru letak kekuatan gerakan ini. Bagi mereka, yang penting pemerintah mendengar suara umat Islam yang sudah tak bisa dipecah belah seenaknya dan dikotak-kotak lagi.

Bahkan, lawan-lawan politik Jokowi yang selama ini hanya manis di muka bisa berbalik menjadi motor perlawanan. Politik adalah seni melihat peluang, laiknya bisnis; jika peluang itu ada pada gerakan Rizieq, apa susahnya mereka berpaling.

Di luar itu, TNI, yang sebelum demo 212 satu per satu disambangi Jokowi, pun bisa memberikan lampu hijau. Terlebih jika gerakan pimpinan Rizieq ini menyerahkan kursi presiden ke unsur militer. Hal ini bukan tidak masuk akal, karena jika mengamati pendukung gerakan ini, posting-posting di akun medsos mendukung figur militer seperti Gatot Nurmantyo atau Prabowo Subiyanto untuk menduduki presiden sangat massif.

Mestinya Jokowi segera meminta Polri untuk tangkap Ahok karena dianggap sudah memecah belah ummat dan masyarakat, membenturkan Islam dan negara. Pernyataan Presiden dan Kapolri di aksi damai 212 itu di mata ummat jelas bernada sangat kolonial kepada  rakyatnya sendiri yang berdemo menolak penistaan agama.

Dalam pandangan umat Islam bahwa statement Ahok tentang surat al-Maidah: 51 tersebut sangat merendahkan Al-Qur’an, Agama Islam, dan kaum Muslimin. Pertama, Ahok merendahkan al-Qur’an karena al-Qur’an yang merupakan kitab suci dan pedoman hidup ummat Islam itu dianggap sebagai kebohongan dan alat untuk membohongi.

Surat al-Maidah ayat 51 yang merupakan tuntunan al-Qur’an dalam memilih pemimpin dianggap sebagai kebohongan dan dipakai untuk membohongi. Sebab, membohongi itu selalu menggunakan kebohongan. Tidak mungkin membohongi dengan kebenaran. Maka ketika Ahok mengatakan “dibohongin pake surat al-Maidah 51” itu berarti bahwa bagi dia surat al-Maidah ayat 51 itu tersebut adalah kebohongan dan menggunakannya untuk menganjurkan orang untuk tidak memilih pemimpin non muslim adalah pembohongan.

Kedua, Ahok merendahkan agama Islam karena tradisi saling menasihati dan menganjurkan untuk kembali kepada al-Qur’an dalam mengambil sebuah keputusan (dalam hal ini memilih pemimpin) dianggap sebagai proses pembohongan. Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah dalam segala urusan adalah inti ajaran Islam. Menganjurkan memilih pemimpin berdasarkan kriteria al-Qur’an adalah implementasi ajaran Islam. Tapi Ahok melihat ini sebagai proses pembohongan yang hanya bertujuan untuk menghalangi ummat Islam memilih pemimpin non-Muslim seperti dirinya.

Ketiga, Ahok merendahkan ummat Islam karena ia menganggap mereka menjadi subyek dan obyek dari proses pembohongan tersebut. Tidak ada yang mengajak memilih pemimpin atas kriteria al-Qur’an kecuali ia seorang muslim yang ingin mengamalkan ajaran Islam. Dan yang ia ajak pasti saudaranya sesama muslim, karena hal ini adalah kewajiban sesama muslim untuk saling menasihati kepada kebenaran. Tapi Ahok melihat mereka bukan sebagai saudara sesama muslim yang sedang saling menasihati kepada ajaran al-Qur’an. Ia justru menganggap mereka sebagai orang yang sedang menggunakan al-Qur’an untuk membohongi satu sama lain.

1 KOMENTAR

  1. RIZIEQ TANTANG REVOLUSI ?
    RIZIEQ DI SAUDI ARABIA BERANI BENAR MENGANCAM PEMERINTAH RI: “REKONSILIASI ATAU REVOLUSI” SUDAH BARANG TENTU, TAK ADA REKONSILIASI DENGAN OKNUM YANG MELECEHKAN, MENGHINA PANCASILA DAN PRESIDEN RI. ARTINYA RIZIEQ MENGANCAM REVOLUSI ATAU MAKAR. SETIBA DI TANAH AIR, IA LANGSUNG HARUS DIBUI ATAS PERNYATAANNYA.
    TNI/POLRI PERLU LARANG DEMO DUKUNG PEMBERONTAK RIZIEK PADA SAAT KEDATANGANNYA. TETAPI JUGA SAAT KASUS RIZIEQ DAN FIRZA DIADILI. JANGAN SAMPAI AKSI DEMO PENGARUHI PERADILAN SEPERTI TELAH DIALAMI BTP (AHOK).

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here