Jangan Sepelekan PDI-P, Dia Bisa Buat Kejutan di Kota Malang

0
75
Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDIP) (Sumber: Suara Nusantara)

Nusantara.news, Kota Malang – Di tengah dinamika politik yang berkembang di Kota Malang, menjelang Pilkada Serentak 2018 mendatang, posisi PDI-P masih menjadi teka-teki, apakah mereka akan menjadi partai pengikut ataukah memajukan calonnya sendiri.

Kalau sekedar menjadi partai pengikut, artinya bergabung ke kubu Petahana atau bergabung ke kubu penantang Petahana ini jelas ironis. Mengingat PDI-P adalah satu-satunya partai di Kota Malang yang dapat mengusung calonnya sendiri.

Sejauh ini, perkembangan dinamika partai politik di Kota Malang terbagi dua poros kekuatan. Yakni, Poros Koalisi Petahana yang berisi PKB, PKS dan Nasdem dengan Bakal Calon, Sang Petahana M Anton sebagai Bacalon N1 dan Samsul Machmud sebagai Bacalon N2.

Sedangkan penantangnya adalah Poros Koalisi Harapan Pembangunan yang terdiri dari Hanura, PAN dan PPP. Poros koalisi ini mengajukan Ya’qud Ananda Gudban, anggota DPRD Kota Malang Komisi B, maju sebagai Bacalon N1, namun untuk wakilnya belum diketahui publik.

Kabarnya, poros koalisi ini mengepakkan sayap jaringannya dan optimis akan menggaet Golkar, Demokrat dan Gerindra. Lobi-lobi politik sudah dilakukan, bahkan sudah tercatat 6 kali pertemuan meskipun hasilnya belum seperti yang diharapkan.

Apabila ketiga partai itu bergabung dalam Poros Koalisi Harapan Pembangunan maka akan menjadi koalisi besar dengan total kekuatan 24 kursi legislatif daerah (DPRD Kota Malang), atau lebih dari setengahnya kursi DPRD Kota Malang yang berjumlah 45.

Partai Golkar tampaknya akan bergabung ke Koalisi Harapan Pembangunan. Sedangkan Gerindra dan Demokrat belum jelas sikapnya. Begitu juga dengan PDI-P yang memiliki 11 kursi di DPRD Kota Malang hingga kini belum menentukan sikapnya.

Selama ini yang muncul dalam pemberitaan media sepertinya hanya akan ada dua poros koalisi. Tapi jangan lupa, PDI-P bisa memajukan pasangannya sendiri tanpa berkoalisi. Kalau itu yang terjadi konstelasi politik bisa berubah total.

Bagaimana misalnya tiba-tiba DPP PDI-P merekomendasikan sosok kejutan yang tidak terbaca oleh kekuatan politik di Malang, seperti misal saat PDI-P memajukan Emil Dardak sebagai calon bupati Trenggalek pada 2015 lalu dan terpilih bahkan sekarang menjadi Cawagub mendampingi Khofifah, maka peta politik bisa berubah drastis.

Sebagai partai besar PDI-P tidak bisa disepelekan. Bisa jadi dia sengaja menyimpan kartu truf hingga menjelang masa akhir pendaftaran. Sebab keputusan pencalonan bukan di Cabang atau Pengurus Provinsi (DPD), melainkan di DPP. Maka DPC PDI-P Kota Malang pun tidak bisa berkomentar banyak tentang sikap partainya.

“Terkait koalisi pun kami masih menunggu dari DPP. Kami tidak bisa hanya berbicara dengan tingkat cabang tetapi ternyata tidak disetujui oleh pusat. Kami menunggu instruksi dari pusat dulu, informasi terakhir akan diputuskan akhir desember nanti,” jelas I Made Rian DK, Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPC PDIP Kota Malang.

Terlepas dari itu, dinamika politik yang berkembang masih berproses. Akankah PDI-P memunculkan tokoh kejutan, atau hanya sekedar menjadi follower dari Poros Koalisi yang dibentuk oleh partai-partai kelas menengah bawah? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here