Jangan Sepelekan Setiap Ancaman Trump

0
200

Nusantara.news – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadi sosok yang begitu mengancam bagi sebagian negara di dunia, tidak hanya di bidang ekonomi maupun perdagangan, dengan kehendaknya menentang perdagangan bebas, tapi juga di bidang militer.

Trump sejauh ini tak pernah terlihat “gertak sambal”, buktinya Suriah langsung dihujani rudal pada Jumat (7/4) dini hari, setelah dia menuding rezim pemerintah Suriah Bassar Al-Assad menggunakan senjata kimia gas sarin untuk menyerang warga sipil di Provinsi Idlib. Hal yang dianggap Trump telah melampaui garis merah kesepakatan internasional. Meskipun sampai saat ini pemerintah Assad membantah telah melakukannya.

Bukan tidak mungkin, Trump juga akan berbuat sama terhadap Korea Utara, negara Kim Jong-Un, yang belum lama ini meluncurkan kembali rudal balistik pada Rabu (5/4) pagi, yang mengarah ke Laut Jepang, wilayah negara sekutu abadi Amerika.

AS telah menyebar sistem anti-rudal THAAD (Terminal High Altiude Area Defense) di Seoul Korea Selatan yang membuat waswas Cina, sekutu utama Korut, terutama untuk bidang perdagangan. AS juga tengah melakukan latihan perang skala besar dengan Korea Selatan di Semenanjung Korea.

Jika Korut tetap “membandel” dan Cina tidak mau mengendalikan ambisi nuklir Korut, hampir pasti, perang bakal meletus kembali di Semenanjung Korea.

Belum diketahui, apa hasil pembicaraan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Xi Jinping pada Kamis-Jumat (6-7, April) terkait tindakan kedua negara terhadap Korut, yang hingga sehari sebelum pertemuan penting mereka, Korut masih mengganggu dengan peluncuran rudal balistik ke Laut Jepang.

Yang jelas, di sela-sela pertemuan Trump dan Xi Jinping, Presiden AS itu memberikan pernyataan kepada wartawan bahwa dia telah memerintahkan untuk melakukan serangan rudal kepada Suriah karena telah melakukan pelanggaran berat penggunaan gas sarin yang membunuh warga sipil.

Bukankah pernyataan ini juga sekaligus memberi ancaman bagi Korea Utara? Dalam pernyataan-pernyataan Trump sebelumnya, Korut juga dianggap telah melanggar deklarasi PBB terkait pengembangan program senjata nuklir? Kedua negara, Suriah dan Korut, dalam pandangan Trump sudah melewati batas ‘garis merah’. Korut mungkin tinggal tunggu waktu.

Xi Jinping mungkin tersentil dengan pernyataan Trump meskipun konteksnya untuk Suriah. Sehingga Presiden Cina itu pun enggan mengeluarkan pernyataan terkait invasi AS ke Suriah yang terjadi bersamaan pada saat dia memulai pembicaraan dengan Presiden AS itu.

Sejumlah hal membuktikan bahwa Trump kerap “tidak main-main” dengan ancaman-ancamannya. Misal, tentang keinginannya menarik diri perdagangan bebas. Dia buktikan dengan keluar dari Trans Pasific Partnership (TPP), meminta renegosiasi perjanjian trilateral dengan Meksiko dan Kanada (NAFTA), lalu tidak mau menyepakati free trade dan mendorong proteksionisme pasar pada pertemuan menteri keuangan negara-negara G-20 di Jerman beberapa waktu lalu.

Puncaknya, pekan lalu Trump meminta Menteri Perdagangan Wilbur Ross meneliti daftar negara yang dianggap melakukan kecurangan dalam perdagangan dengan AS. Indonesia termasuk dalam salah satu yang dianggap curang. Goal-nya, Trump ingin renegosiasi kesepakatan perdagangan dengan sejumlah negara, agar menguntungkan menurut versi Trump.

Trump juga tampaknya tidak begitu peduli kebijakannya membawa risiko kegaduhan di dalam negeri atau bahkan melanggar sejumlah aturan. Terbukti, salah satu Perintah Eksekutif-nya tentang larangan imigrasi bagi 7 negara mayoritas Muslim dibatalkan pengadilan federal karena melanggar Konstitusi AS. Dia lalu merevisi menjadi larangan terhadap 6 negara, namun dibatalkan lagi oleh pengadilan.

Perintah Eksekutif yang lain, yaitu mengganti ObamaCare juga diprotes banyak warga AS dan akhirnya rencana itu dibatalkan oleh Kongres.

Dalam serangan rudal ke Suriah, Trump diingatkan oleh Kongres AS karena tidak melakukan konsultasi sebelumnya, meski pada umumnya anggota Kongres setuju dengan tindakan yang dilakukan Trump.

John McCain dan Lindsey Graham senator yang sering bersikap kritis terhadap Trump, memuji keputusannya pada Kamis malam.

“Bertindak atas perintah pimpinan, mereka telah mengirim sebuah pesan penting Amerika Serikat tidak akan lagi berpangku tangan terhadap Assad yang dibantu dan didukung oleh Putin Rusia, membunuh orang  tidak bersalah di Suriah dengan bom dan senjata kimia,” kata McCain dan Graham dalam pernyataan sikap bersama.

Tapi senator lain, Rand Paul meminta Trump untuk berkonsultasi terlebih dulu pada Kongres. “Sementara kita semua mengutuk kekejaman di Suriah, Amerika Serikat tidak menyerang,” kata Paul. “Presiden membutuhkan otorisasi Kongres untuk aksi militer seperti yang disyaratkan oleh Konstitusi, dan saya meminta dia (Trump) datang ke Kongres untuk mendiskusikan tindakan yang tepat,” katanya.

AS mulai meluncurkan serangan udara di Suriah pada September 2014 di bawah Presiden Barack Obama sebagai bagian dari kampanye koalisi terhadap ISIS, tapi hanya menargetkan kelompok teroris dan bukan pasukan pemerintah Suriah.

“Penyerangan yang berlangsung pada pukul 08.40 waktu AS itu meragetkan Pangkalan Udara Suriah. tempat parkir pesawat, BBM dan penyimpanan logistik, bunker pasokan amunisi, dan sistem pertahanan udara, serta pendukung operasional lainnya, kata juru bicara Pentagon Jeff Davis kepada wartawan, sebagaimana dikutip CNN, Jumat (7/4).

“Rudal-rudal itu diluncurkan dari kapal perang di Laut Mediterania Timur,” katanya lagi.

Dengan dibombardirnya Suriah atas perintah Trump, bisa diartikan bahwa ancaman-ancaman Trump tidak bisa lagi diaggap sepele, apalagi “gertak sambal” oleh negara-negara yang selama ini bersitegang dengan AS termasuk Cina, Korea Utara, atau bahkan Indonesia dalam kasus Freeport di Papua. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here