Janji Calon Kepala Daerah, Catat dan Tagih Jika Ingkar

0
36
"Rakyat bisa menanyakan atau menagih apa-apa saja yang pernah diucapkan dan kenapa tidak terwujud. Sekaligus juga sebagai senjata untuk ‘mengadili’ nya, pengumbar janji hanya untuk meraih jabatan atau kekuasaan"

Nusantara.news, Surabaya – Serius dan punya semangat membangun, memajukan daerah dan meningkatkan perekonomian rakyat di wilayahnya yang dilontarkan oleh bakal calon kepala daerah yang maju di Pilkada serentak 2018, adalh lumrah dan sah-sah saja, dan itu memang harus dilakukan untuk memikat rakyat utamanya pemilik hak suara. Sebaliknya, rakyat (pemilih) juga harus membuktikan apa saja yang pernah diucapkan oleh bakal calon.

Dan, untuk membuktikan itu sebetulnya tidak terlalu sulit. Misalnya, kita bisa menyimak kemudian mengarsipkan atau menyimpan hasil rekamannya. Itu (semangat membangun dan janji-janjinya) yang pernah dilontarkan akan bisa diputar kembali untuk membuktikan capaian apa saja yang telah dikerjakan. Sebaliknya (gombalan) apa saja yang hanya diucapkan dengan enteng dan tidak terealisasi. Selanjutnya, rakyat bisa menanyakan atau menagih apa-apa saja yang pernah diucapkan dan kenapa tidak terwujud. Sekaligus juga sebagai senjata untuk ‘mengadili’ nya, pengumbar janji hanya untuk meraih jabatan atau kekuasaan sebagai kepala daerah.

Ini, salah satu semangat membangun menuju peningkatan potensi wilayah dan mensejahterakan rakyat yang dilontarkan oleh Emil Elistianto Dardak, bakal calon Wakil Gubernur Jawa Timur yang mendampingi Khofifah Indar Parawansa di Pilgub Jatim 2018.

Baca juga: Khofifah: Berkat Doa Kiai, SDA Jatim Terus Melimpah

Saat berbicara di depan ribuan relawan pendukung pasangan Khofifah-Emil, suami Arumi Bachin yang juga Bupati Trenggalek, Emil Elistianto ini menegaskan Indonesia adalah negara kepulauan yang cukup besar dan akan bisa besar dan jaya. Salah satunya karena memiliki wilayah laut yang sangat luas, 2/3 dari seluruh luas wilayahnya adalah lautan yang memiliki banyak potensi dan kandungan kekayaan.

Emil Elistianto “Akan sangat menguntungkan kalau keberadaan laut khususnya di wilayah pesisir Selatan Jawa Timur dimanfaatkan dengan maksimal, menuju kejayaan Indonesia”

“Itu akan sangat menguntungkan kalau keberadaan laut khususnya di wilayah pesisir Selatan Jawa Timur dimanfaatkan dengan maksimal, menuju kejayaan Indonesia dengan perwajahan dari Pantai Selatan,” urai Emil, berpidato di Pelantikan Relawan Pemenangan Khofifah-Emil Banyuwangi, di Alam Indah Lestari (AIL) Banyuwangi, Sabtu (26/1/2018), lalu.

Emil menguraikan, perbaikan taraf hidup masyarakat setempat dengan menggali dan memanfaatkan kekayaan alam (khususnya wilayah Pantai Selatan Jawa Timur) yang selama ini belum maksimal, bisa ditingkatkan. Dia, kepada pemerintah pusat mengusulkan untuk dilakukan pembangunan sejumlah pelabuhan di Selatan Jawa Timur. Keberadaannya, pelabuhan satu dengan lainnya terangkai.

“Selain akan membuka isolasi sejumlah wilayah di Jatim karena letak geografis, juga untuk mewujudkan Tol Laut, mendukung pemerintah pusat. Ini akan membuka perwajahan baru Jawa Timur, utamanya di pesisir Selatan,” terang Emil, disambut tepuk tangan antusias mereka yang hadir di acara itu.

Dirinya sangat antusia memberikan usulkan kepada pemerintah pusat untuk mewujudkan jalur Tol Laut Selatan. Dalam kesempatan mengenalkan sejumlah program yang akan dijalankan saat dirinya kelak terpilih mendampingi Khofifah sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur, dia mengatakan akan fokus melakukan pembangunan di daerah yang dipimpinnya, salah satunya mengandalkan laut Selatan.

“Pemanfaatan kekayaan alam, khususnya Pantai Selatan Jatim yang selama ini belum maksimal, bisa ditingkatkan. Di antaranya dengan dilakukan pembangunan sejumlah pelabuhan, keberadaan pelabuhan satu dengan lainnya terangkai, itu akan mendongkrak ketertinggalan”

Menurut Emil, program Tol Laut pemerintah belum mengakomodasi daerah-daerah tertinggal, termasuk di Selatan Jawa.

“Kekuatan ekonomi selama ini ada di Utara, sementara Trenggalek dan sejumlah daerah kabupaten lainnya di wilayah Selatan belum dimaksimalkan. Lokasi Selatan tidak pernah dikembangkan, kontribusi daerah selatan di bawah 3 persen. Dan, itu akan bisa kita tingkatkan,” urai Emil.

Emil menyebut, kemiskinan terbesar di Jawa berada di bagian selatan. Daerah yang tidak berkembang di selatan Jawa, menurutnya dikarenakan kondisi geografis ditambah kepercayaan masyarakat setempat.

“Kesulitan pelabuhan di Selatan Jawa adalah karena ombaknya besar, berbeda dengan di Cilacap, karena ada pulau Nusa Kambangan, jadi ombaknya tidak sebesar di pesisir selatan lainnya,” urai dia.

Jika terpilih menjadi Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil membuat usulan kepada pemerintah pusat untuk membuka jalur Tol Laut Selatan. Itu untuk membuka dan membangun, meningkatkan potensi antar daerah di Selatan Jawa Timur.

“Jadi, pembangunan akan kita siapkan sesuai potensi dan kekayaan daerah, apalagi wilayah Selatan adalah paru-paru di Pulau Jawa, wilayah Trenggalek pun setengahnya adalah hutan,” urainya.

Emil “Pembangunan akan kita siapkan sesuai potensi dan kekayaan daerah, dan letak geografis, apalagi wilayah Selatan adalah paru-paru di Pulau Jawa, akan tampak wajah Jawa Timur dari sisi Selatan” (Foto: Tudji)

Emil menyebut potensi perekonomian di Trenggalek dan wilayah jalur selatan lainnya sangat tergantung pada sektor sumber daya alam dan pengembangan usaha mikro kecil menengah (UMKM). Emil memaparkan keberadaan dan terwujudnya Tol Laut Selatan juga akan memperkuat Bandar Udara di Kediri sebagai sarana transportasi untuk wilayah-wilayah Selatan.

“Kalau ada Tol Laut Selatan, ada jalur Yogyakarta-Malang, lewat pesisir, ini untuk kirim barang antar selatan dan akan meningkatkan perekonomian di Jawa bagian selatan,” terangnya.

Emil memastikan Tol Laut Selatan akan membuka pelabuhan di Trenggalek, kemudian terhubung ke Pelabuhan Kulonprogo dan sampai Banyuwangi. Dan untuk mewujudkan rencana itu pemerintah juga diharapkan bisa menambah bandara dan jalur transportasi laut, khususnya di lintas Selatan. Selain itu pemerintah bisa menstimulus masuknya industri jasa, dan menyosialisasikan perdagangan di setiap daerah.

Disebutkan, Bandara Kediri yang saat ini terus dikaji dan sudah mencapai 90 persen itu dibutuhkan tidak hanya untuk Trenggalek dan sekitanya, tetapi untuk pemerataan pengembangan dan memajukan wilayah pinggiran selatan dan juga seluruh wilayah NKRI.

“Indonesia ini memiliki wilayah laut yang luas dan garis pantai yang panjang, ini sudah saatnya untuk dimanfaatkan dengan maksimal, termasuk di wilayah selatan Jawa Timur,” terangnya.

Untuk diketahui, di Pilgub Jawa Timur yang akan digelar 27 Juni 2018, dimungkinkan ada dua pasangan calon kepala yang berkompetisi, pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistianto Dardak, dan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno.

Apa saja janji-janji mereka, catat atau rekam dan putar kembali saat mereka memimpin Provinsi Jawa Timur, tetapi abai dengan apa yang pernah diucapkan. Langkah berikutnya, mereka yang telah duduk di kursi jabatan bisa kita ‘adili’ untuk menagih janji.

Gandeng BUMN, Pelindo III Bangun Flyover Teluk Lamong-JLLB

CEO Pelindo III Ari Askhara “Pembangunan aksesibilitas darat berupa flyover dan tapper di Terminal Teluk Lamong, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian di Surabaya dan Jawa Timur, karena terintegrasi dengan Jalan Tol Surabaya-Gresik”

Sementara, guna memaksimalkan fungsi pelabuhan di Jawa Timur, sejumlah pembangunan terus di genjot. Di antaranya, Pelindo III (Persero) mulai merealisasikan salah satu Program Strategis Nasional (PSN) yang diamanahkan pemerintah, yaitu flyover Teluk Lamong dengan Jalur Lingkar Luar Barat (JLLB). Perusahaan pelat merah bidang pelabuhan itu menandatangani kontrak kerja sama dengan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, Senin (5/2/2018).

CEO Pelindo III Ari Askhara mengatakan, pembangunan aksesibilitas darat berupa flyover dan tapper (radius untuk belokan jalan) di Terminal Teluk Lamong, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya akan semakin meningkatkan pertumbuhan perekonomian di Surabaya dan Jawa Timur, karena terintegrasi dengan Jalan Tol Surabaya-Gresik.

“Flyover ini akan memberi alternatif baru bagi para pengguna jalan raya, utamanya untuk truk pengangkut peti kemas yang kerap menjadi salah satu penyebab kepadatan lalu-lintas di sepanjang Jalan Kalianak menuju Tambak Osowilangun,” terang Ari.

Baca juga: Emil Ingin Wujudkan Jatim untuk Semua

Proyek senilai Rp1,3 triliun ini akan merealisasikan flyover sepanjang 2,4 kilometer dengan kontur jalan layang (elevated) sepanjang 1,8 kilometer dan jalan darat (landed) di sisi Benowo sepanjang 363 meter dan sisi Teluk Lamong sepanjang 350 meter. Sedang untuk lebar ruas jalan flyover, 40 meter.

Husein Latief, Engineering, Information and Communication Technology Director Pelindo III menambahkan, pembangunan flyover itu merupakan solusi yang diberikan oleh Pelindo III kepada Pemerintah Kota Surabaya dan nasional, untuk menopang pertumbuhan ekonomi, pasca beroperasinya Terminal Teluk Lamong.

“Kapasitas Teluk Lamong pada fase awal pengembangan sudah mencapai 1,5 juta TEUs. Pada fase final, jumlah petikemas akan mencapai 6,5 juta TEUs,” terang Husein.

Selanjutnya untuk komoditas curah kering di Terminal Teluk Lamong juga menunjukkan prospek yang sangat cerah. Itu setelah dibangun storage area atau penimbunan.

“Kami telah membangun tempat penimbunan (storage area) komoditas curah kering berkapasitas 200 ribu ton,” terangnya.

Nantinya, pekerjaan proyek flyover akan mencakup aktivitas perencanaan Detail Engeneering Desain (DED) atau desain teknis secara detail hingga teknis pelaksanaan pembangunan. Untuk konstruksi, Wika akan menggunakan sistem jembatan “unibridge”, yakni jembatan balok beton (girder) komposit yang menggunakan pin pada setiap sambungan antar girder dengan konsep modular. Sistem itu tidak memerlukan pengencangan berkala, seperti halnya penggunaan baut pada model konvensional. Material jembatan juga memiliki desain yang kompak dan ringan, serta lebih efisien dan lebih cepat dalam proses pembangunannya.

Jaminan Asuransi Aset dan Pengguna Pelabuhan

PT Pelindo III juga menjalin kesepakatan bersama PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero) atau Askrindo, itu untuk penjaminan risiko atas aset yang dimiliki oleh Pelindo III. Dengan total premi sebesar Rp11,274 miliar, Pelindo III akan memperoleh jaminan risiko pada tujuh sasaran yang meliputi bangunan gedung, fasilitas tambat, pengoperasian alat bongkar muat, pengoperasian peralatan pemetaan laut.

Polis asuransi juga mencakup aspek manajerial serta keselamatan, baik untuk para pegawai maupun para pengguna jasa pelabuhan. Hadir di penandatanganan perjanjian tersebut, ada SVP Management System and Risk Management Pelindo III, Abdul Rofid Fanany, serta Purwo Nugroho, Kepala Cabang PT Tugu Pratama Indonesia (Askrindo).[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here