Janji Sekjen Baru Reformasi PBB

0
51

Nusantara.news, New York – Kegagalan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengatasi krisis kemanusiaan di sejumlah negara meningkatkan ketidakpercayaan sebagian penduduk dunia. Sebagian menganggap PBB sudah tidak efektif lagi sebagai lembaga pengawal perdamaian dunia.

Di tengah apatisme publik dunia yang tinggi, Antonio Guterres, Sekretaris Jenderal PBB yang baru berjanji akan melakukan reformasi di tubuh PBB.

“PBB harus siap untuk berubah. Kelemahan kita yang paling serius, dan di sini saya merujuk kepada seluruh komunitas internasional, adalah ketidakmampuan untuk mencegah krisis. PBB lahir dari perang dan hari ini kita harus berada di sini untuk perdamaian,” katanya dikutip BBC.

Guterres, resmi dilantik sebagai Sekjen PBB yang kesembilan. Seperti dilaporkan BBC, Selasa 13/12, Guterres yang merupakan mantan PM Portugal dan juga mantan Direktur UNHCR itu akan mengambil alih kepemimpinan dari Ban Ki-moon pada 1 Januari 2017 untuk masa jabatan lima tahun ke depan.

Di Sidang Umum PBB, Guterres mengatakan PBB harus melakukan reformasi agar bisa lebih efektif, dengan lebih banyak mendengar dan melakukan lebih banyak hal lagi untuk membangun konsensus.

Mantan Kepala PBB untuk urusan pengungsi ini terpilih sebagai Sekjen PBB pada bulan Oktober  2016, menggantikan Ban Ki-moon yang sudah menjabat dua kali. Gutteres dipastikan sebagai Sekjen PBB setelah meraih mayoritas suara dalam voting yang digelar di antara 15 anggota Dewan Keamanan PBB, 13 suara menyatakan mendukung pria asal Portugal tersebut, dan 2 suara abstain.

Tidak ada penolakan dari para anggota tetap DK PBB, termasuk Rusia yang juga mendukung Guterres. Padahal sebelumnya Rusia dikhawatirkan menggunakan hak veto untuk menjegal mantan PM Portugal itu. DK PBB tampaknya tak ingin berlama-lama untuk menentukan siapa pengganti Ban Ki-moon sehingga mereka kompak memilih Guterres untuk menjadi pemimpin baru di lembaga multinasional beranggotakan lebih dari 200 negara itu.

Guterres bukan orang baru di PBB. Dia sudah memiliki banyak pengalaman, khususnya terkait pengungsi yang sekarang tengah menjadi masalah besar di dunia, termasuk Eropa. Banyak kalangan berharap banyak terhadap Guterres dengan pengalamannya.

Komunitas internasional berharap PBB usai kepemimpinan Ban Ki-moon, dapat bertransformasi menjadi institusi yang lebih bermanfaat. Lebih-lebih, tugas dan tantangan PBB saat ini sangat beragam dan cukup berat, mulai dari kasus ISIS, konflik Suriah, hingga masalah pengungsi.

Belum lagi, kasus lama seperti konflik Israel-Palestina juga akan menjadi PR besar yang harus dituntaskan sekjen baru. Keinginan Guterres mereformasi PBB merupakan bukti dia mendengar suara-suara di kalangan anggota PBB, tapi apakah dia mampu? Kita tunggu saja. (imt/ant)

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here