Jared Kushner: Sang Menantu yang Perkuat Pengaruh di Gedung Putih

0
90
Jared Kushner di Gedung Putih

Nusantara.news, Washington – Meski Amerika Serikat terkenal sebagai negara demokratis, tapi ternyata bukan berarti “katebelece” tak berlaku di negara itu. Kedekatan dengan penguasa bisa membuat karir politik seseorang cepat melejit, apalagi kedekatan itu antara mertua dan menantu.

Adalah Jared Kushner, suami Ivanka Trump yang tak lain menantu dari Presiden Amerika Serikat, Senin  3 April pria berusia 36 tahun ini akan diangkat sebagai Kepala Kantor Inovasi di West Wing Gedung Putih. Sebuah jabatan baru, juga sekaligus organisasi baru di lingkungan istana kepresidenan AS itu yang dibuat oleh Trump.

Selain jabatan barunya, Jared juga saat ini masih menjabat penasihat senior Presiden Trump, tugasnya juga tidak ringan untuk sekelas orang yang tak pernah berpengalaman di pemerintahan, dia bertugas mengarahkan kebijakan luar dan dalam negeri serta keputasan personil Presiden. Ia juga seorang diplomat bayangan, penasihat Trump yang memimpin negosiasi hubungan dengan Cina, Meksiko, Kanada dan Timur Tengah.

Belakangan, Jared juga diketahui merupakan kepanjangan tangan Trump untuk kerja sama dengan Rusia sebelum masuknya Rex Tillerson, kawan dekat Vladimir Putin, dalam kabinet Trump.

Tak pelak, banyak yang meragukan pria ini bakal mampu mengemban tugas yang seabrek itu, lantaran pengalamannya di pemerintahan yang boleh dibilang nol. Meski begitu, agaknya Presiden AS Donald Trump menaruh kepercayaan besar terhadap menantu yang juga menjadi salah satu kunci kemenangannya pada Pilpres AS.

Mulai Senin di awal April ini, Jared bakal memimpin sebuat tim SWAT yang diharapkan dapat mengefektifkan jalannya pemerintahan dengan menggunakan model bisnis. Tim ini akan memiliki wewenang untuk merombak birokrasi federal dan memenuhi janji-janji pokok dari kampanye Trump, seperti reformasi perawatan bagi veteran dan memerangi kecanduan narkoba dengan ide-ide bisnis. Tim yang akan melaporkan langsung kerjanya kepada Presiden ini berpotensi melakukan privatisasi sejumlah fungsi pemerintahan.

Kantor Inovasi yang dipimpin Kusner ini akan berfungsi layaknya konsultan strategis bagi Presiden. Kantor akan dikelola oleh para mantan eksekutif bisnis dari perusahaan raksasa AS di antaranya seperti CEO Apple Tim Cook, pendiri Microsoft Bill Gates, kepala eksekutif Salesforce pendiri Marc Benioff dan Tesla dan kepala eksekutif Elon Musk.

“Semua rakyat Amerika, terlepas dari pandangan politik mereka, dapat melihat bahwa stagnasi pemerintah telah menghambat kemampuan kita untuk berfungsi secara benar, sering terjadinya kemacetan menyebabkan pembengkakan biaya dan penundaan,” kata Trump dalam sebuah pernyataan kepada The Washington Post.

“Saya berjanji kepada rakyat Amerika, saya akan menghasilkan sesuatu, dan menetapkan pencapaian lebih cepat dari jadwal, dengan anggaran yang ditekan,” jelas Trump terkait pembentukan tim Kantor Inovasi yang dipimpin sang menantu.

Gedung Putih beberapa kali diterpa isu soal terjadinya friksi di kalangan tim Presiden. Kantor Inovasi yang diluncurkan Trump menegaskan bahwa salah satu friksi di bawah lokomotif Jared memperluas pengaruhnya.

Inisiatif Kantor Inovasi diumumkan Trump setelah sang Presiden “terpukul” karena legislatif pada Jumat lalu menolak perombakan sistem perawatan kesehatan (Obamacare) yang diajukan Trump. Padahal itu sudah di koar-koarkan Trump sejak kampanye calon presiden.

“Kita harus memiliki keunggulan dalam pemerintahan,” kata Jared dalam sebuah wawancara di kantornya, West Wing Gedung Putih, Mingu (2/4).

“Pemerintah harus dijalankan seperti perusahaan besar di Amerika. Harapan kami adalah bahwa kami dapat mencapai keberhasilan dan efisiensi bagi costumer kami, yang merupakan warga negara AS.”

Pernyataan Kusner ini sontak mendapat reaksi, salah satunya dari Gautam Mukunda, seorang profesor di Harvard Business School pada saat diwawancara Vox, minggu (2/4).

“Seseorang harus memberitahu Jared Kushner bahwa warga negara itu bosnya, bukan costumer-nya,” tegas Mukunda meluruskan pandangan Jared yang menganggap negara sama dengan perusahaan.

Jared membangun timnya dari kalangan bisnis, yang hanya memiliki sedikit pengalaman, bahkan mungkin tidak punya pengalaman sama sekali, di bidang politik.

Tercatat, Gary Cohn, direktur Dewan Ekonomi Nasional; Chris Liddell, asisten presiden untuk inisiatif strategis; Reed Cordish, asisten presiden untuk inisiatif antar pemerintah dan teknologi; Dina Powell, konselor senior presiden untuk inisiatif ekonomi dan wakil penasehat keamanan nasional; dan Andrew Bremberg, direktur Dewan Kebijakan Domestik.

Ivanka Trump, yang kini melakukan advokasi dari kantor West Wing dikabarkan juga bakal berkolaborasi dengan Kantor Inovasi terkait isu-isu seperti pengembangan tenaga kerja, tetapi Ivanka tidak memiliki peran resmi.

Dina Powell, mantan eksekutif Goldman Sachs menghabiskan satu dekade dalam pengelolaan perusahaan program penciptaan lapangan kerja publik-swasta, pernah bekerja di pemerintahan George W. Bush di Departemen Gedung Putih dan Negara. Andrew Bremberg juga pernah bekerja di pemerintahan Bush. Sementara yang lainnya, sama sekali dari dunia bisnis.

Chris Liddell menjabat sebagai kepala keuangan di General Motors, Microsoft dan International Paper, serta di Hollywood untuk William Morris Endeavor.

“Kami adalah bagian dari tim Gedung Putih, terhubung dengan semua orang di sini, tapi kami tidak tunduk pada isu-isu sehari-hari, sehingga kami dapat mengambil pendekatan yang lebih strategis untuk sejumlah proyek,” kata Liddell.

Seperti Jared, Cordish adalah keturunan keluarga real estate, konglomerat yang berbasis di Baltimore yang dikenal mengembangkan kasino dan pusat perbelanjaan. Cohn, seorang Demokrat yang baru-baru ini telah mengumpulkan kekuatan signifikan di Gedung Putih, adalah mantan pemimpin dari Goldman Sachs.

Kantor Inovasi Trump ibarat kemenangan bagi tokoh Wall Street seperti Cohn yang telah berusaha bersikap moderat dengan agenda-agenda Trump dengan proyek masa depan yang ramah untuk bisnis, yang kadang-kadang bertentangan dengan dengan garis keras konservatisme yang diperjuangkan tim Trump yang lain Steve Bannon dan Kepala Staf Reince Priebus. Kelompok Inovasi telah bertemu dua kali seminggu di kantor Jared.

Siapa Jared Kusner?

Suami Ivanka Trump memiliki pengaruh yang kuat di ring dalam tim Presiden Donald Trump. Selama kampanye Trump sebagai kandidat Presiden AS, meski Jared tidak memiliki peran resmi, tapi dia dipandang sebagai manajer ‘de facto’ kampanye. Jared kemudian menjabat sebagai anggota tim transisi Trump.

The New York Times melaporkan pada November 2016 bahwa Jared setelah mertuanya terpilih sebagai Presiden AS telah melakukan berbagai tahap untuk bergabung dengan administrasi Trump tanpa melanggar hukum federal tentang anti-nepotisme. Kusner ditetapkan clear oleh Departemen Kehakiman untuk masuk ke pemerintahan pada Januari 2017. Jared lalu mengundurkan diri dari perannya sebagai CEO di perusahaan miliknya dan melakukan divestasi  “aset substansial”, termasuk sahamnya di Observer, dimana dia menjabat sebagai penerbit. Jared kemudian dinilai sebagai salah seorang yang paling berpengaruh di lingkaran Trump.

Berikut beberapa hal yang perlu diketahui tentang Jared Kushner:

Jared Kushner mengalami kesulitan saat transisi ke Gedung Putih

Pada hari-hari awal pemerintahan Trump, Jared sempat mengalami kesulitan terkait posisinya di Gedung Putih. Sejumlah orang melihat Jared sebagai ‘ancaman’ karena perannya sebagai kepala penasihat Trump. Mereka khawatir pria yang tidak sama sekali punya pengalaman politik ini menyingkirkan siapa pun. Apalagi kecenderungan politik Jared sulit diidentifikasi, dia mendukung penuh Partai Republik mertuanya dan menerbitkan surat kabar yang menjadi lebih konservatif sejak ia mengakuisisinya. Tapi dia menyatakan mengagumi Franklin D. Roosevelt, seorang Demokrat dan memiliki foto berbingkai John F. Kennedy, tokoh Demokrat lain di mejanya.

Lahir dalam keluarga kaya raya

Ayah Jared, Charles ‘Charlie’ Jared adalah pengusaha sukses di bidang real estate sejak tahun 1985.

Meski kurang baik secara akademis, Jared diterima di Harvard University, konon setelah ayahnya memberikan USD 2,5 juta untuk universitas. Di Harvard, Jared mengendarai Range Rover, meskipun dalam pengakuannya dia mengatakan tidak memiliki mobil waktu kuliah.

Seorang Yahudi Ortodoks

Istri Jared, Ivanka Trump, masuk agama Yahudi dari Presbyterianism sebelum pasangan ini menikah pada 2009. Keluarga Jared pernah keberatan soal agama, khususnya fakta bahwa Ivanka bukan Yahudi. Mereka sekarag mengamalkan Sabat, mematikan ponsel dan berjalan, tidak mengemudi, antara matahari terbenam di hari Jumat dan matahari terbenam di hari Sabtu.

Harus memikul bisnis keluarganya dari usia muda

Jared sedang kuliah untuk mendapat dual gelar, MBA dan hukum di New York University (almamater Charles dan penerima sumbangan USD 3 juta dari) ketika sang ayah dikirim ke penjara karena penipuan pajak dan sumbangan kampanye ilegal. Jared mengambil alih perusahaan lebih cepat sebagai CEO pada tahun 2008 ketika dia berusia 27 tahun, meninggalkan kuliah hukumnya. “Penangkapan ayah saya membuat saya menyadari, saya tidak ingin menjadi jaksa lagi,” kata Jared. Charles kini telah membawa Jared dan adiknya Joshua (sekarang menjadi pengusaha teknologi) sebagai pengusaha sukses.

Berperan besar dalam kampanye Trump

Jared berperan dalam operasi media sosial dalam kampanye Trump. Bersama Ivanka, Eric, dan Donald Jr, ia membujuk Trump untuk memecat mantan manajer kampanye Trump, Corey Lewandowski dan memilih Reince Preibus sebagai kepala staf. Dia juga berperan dalam memperlancar hubungan Trump dengan Fox News, dan pembentukan Komite Urusan Publik Amerika-Israel.

Pribadi yang tertutup

Jared jarang memberikan wawancara kepada media dan dia tidak memiliki akun media sosial selain akun Twitter yang nol tweet. Dia pernah muncul di media sosial melalui Instagram Ivanka, saat itu dia memegang salah satu dari tiga anak-anak mereka, Arabella, Yusuf, dan Theodore.

Keluarga Jared menegosiasikan kesepakatan real estat USD 400 juta dengan perusahaan Cina

Perusahaan real estate keluarga Jared di New York sedang dalam negosiasi untuk menjual saham di perusahaan Fifth Avenue dengan andalan gedung pencakar langit kepada sebuah perusahaan asuransi Cina, menurut New York Times.

Perusahaan asuransi, Anbang Insurance Group, memiliki hubungan dengan keluarga Partai Komunis. Hasil kesepakatan bisa berpotensi konflik kepentingan. Di satu sisi, Jared sebagai penasihat senior Trump akan mengawasi kebijakan luar negeri AS, tapi di sisi lain keluarganya bakal menerima keuntungan finansial dari perusahaan Cina.

Terlibat dalam skandal pembicaraan ilegal AS-Rusia

Pada Maret 2017, Komite Intelijen Senat AS memberitahu Gedung Putih bahwa, sebagai bagian dari penyelidikan atas kemungkinan kaitan antara tim Trump dan pejabat Rusia atau orang lain yang terhubung ke Presiden Rusia Vladmir Putin, pihaknya ingin Jared menjawab pertanyaan tentang pertemuan yang melibatkan dubes Rusia untuk AS Sergey Kislyak.

Menurut laporan, Jared bertemu Kislyak pada Desember 2016 di Trump Tower dan kemudian bertemu dengan Sergey N. Gorkov, kepala bank pembangunan negara Rusia Vnesheconombank. Jared bersedia berbicara dengan penyidik ​​karena dia merasa tidak mencoba untuk menyembunyikan apa pun, dan ingin semuanya menjadi transparan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here