Jared Kushner: “Sang Pangeran” di Gedung Putih

0
137
Foto: The New York Times

Nusantara.news –  Amerika Serikat bukan negara dinasti tapi menganut demokrasi, bahkan menjadi kiblat demokrasi dunia, namun kehadiran Jared Kushner, menantu Presiden AS yang memiliki kiprah luas dan berpengaruh di Gedung Putih, telah mengubah wajah pemerintahan demokratis AS seperti layaknya dinasti.

Jared ibarat “sang pangeran” di Istana mertuanya, Presiden Donald Trump, sehingga duta besar Cina untuk Amerika Serikat Cui Tiankai lebih suka menjalin komunikasi dengan Jared ketimbang lewat jalur formal Kementerian Luar Negeri AS melalui Rex Tillerson. Misalnya, dalam merencanakan pertemuan kedua pemimpin negara, Donald Trump dan Xi Jinping.

Sebagai negara yang akrab dengan tradisi “dinasti” Cina merasa lebih nyaman berhubungan lewat link “dinasti”, dan Jared di mata Cina merupakan bagian dari dinasti Trump.

“Sejak era Kissinger (Henry Kissinger, mantan Menlu era Richard Nixon dan Gerald Ford), Cina telah tergila-gila untuk mendapatkan dan mempertahankan akses ke Gedung Putih,” kata Evan S. Medeiros, direktur senior untuk Asia era pemerintahan Obama. “Memiliki akses ke keluarga presiden dan seseorang yang mereka lihat sebagai ‘pangeran’ adalah lebih baik.”

Jared memiliki peran dan pengaruh sangat penting bagi Presiden AS Donald Trump. Pria muda (36 tahun), tampan dan dikenal sopan ini, saat ini penasihat senior sang presiden. Sebelumnya, Jared, meski tidak secara formal, memiliki peran sentral dalam tim pemenangan Donald Trump dalam Pilpres AS.

Sekarang, pengaruh Jared di pemerintahan semakin meluas, dia ditunjuk memimpin Kantor Inovasi di Gedung Putih yang bertugas melakukan penyesuaian sistem pemerintahan sesuai dengan prinsip bisnis. Sebelum masuk ke lingkaran pemerintahan, Jared adalah murni pebinis.

Baca: Jared Kushner: Sang Menantu yang Perkuat Pengaruh di Gedung Putih

Jared merupakan suami dari Ivanka Trump, putri tertua Donald Trump, dia berasal dari keluarga Yahudi ortodoks yang masih mempraktekkan Hari Sabat, keluarga ini tidak berkendara dan tidak mengangkat telepon di hari Sabtu.

‘Sabat’ artinya istirahat atau berhenti bekerja dalam bahasa Ibrani atau ‘Shabbos’ dalam ucapan Ashkenazi, adalah hari istirahat setiap Sabtu dalam Yudaisme (penganut Yahudi). Hari Sabat dirayakan dari mulai sebelum matahari terbenam pada hari Jumat hingga tibanya malam pada hari Sabtu.

Ayah Jared, Charles ‘Charlie’ Jared adalah pengusaha sukses di bidang real estate sejak tahun 1985, namun pada saat Jared sedang menempuh kuliah di New York University sang ayah terjerat masalah hukum, dia masuk penjara karena tuduhan penipuan pajak dan sumbangan kampanye ilegal.

Jared lalu mengambil alih perusahaan lebih cepat sebagai CEO pada tahun 2008 ketika usianya masih 27 tahun dan meninggalkan kuliah hukumnya. “Penangkapan ayah saya membuat saya menyadari, saya tidak ingin menjadi jaksa lagi,” kata Jared.

Gubernur New Jersey, Chris Christie, teman dekat dan juga penasihat Donald Trump sesama Partai Republik adalah jaksa penuntut dalam kasus penggelapan pajak dan dana kampanye ilegal pada pertengahan 2000-an yang melibatkan ayah Jared. Charles Kushner menghabiskan dua tahun di penjara federal akibat kasus tersebut.

Karena “dendam pribadi” dan kuatnya pengaruh Jared terhadap Trump, konon Jared-lah yang mencegah agar Christie tidak menjadi Wakil Presiden atau Jaksa Agung.

Keberadaan “sang pangeran” secara politik di Gedung Putih bagi sejumlah orang di lingkaran Trump terbilang unik bahkan ada yang mengatakan “misterius”. Sulit menebak kecenderungan politik Jared. Jared mem-back-up kinerja sang mertua yang didukung Partai Republik. Sementara, di sisi lain dia pengagum Franklin D. Roosevelt, seorang Demokrat dan memajang foto berbingkai John F. Kennedy, tokoh Demokrat lainnya di mejanya.

Jared sendiri sebetulnya berasal dari keluarga Demokrat, ayahnya seorang pendukung Demokrat  walaupun karena Trump, sang besan, mencalonkan diri sebagai calon presiden akhirnya ayah Jared mengalihkan dukungan ke Partai Republik.

Sebelum tahun 2016, ayah Jared merupakan pendonor bagi Partai Demokrat. Tercatat, Hillary Clinton, Bill Clinton dan Rudy Giuliany pernah mendapat sumbangan dari Charles.

Namun pada Agustus 2015, Charles menyumbangkan USD 100.000 untuk Donald Trump dan mendukung kampanye Trump pada Pilpres AS 2016. Charles juga pengusaha yang selama ini rutin menjadi donatur bagi lembaga-lembaga komunitas Yahudi.

Meski memiliki pengalaman minim di pemerintahan, tapi tampaknya Presiden Trump sangat percaya dengan menantunya ini. Terbukti Jared saat ini telah banyak diberi peran di pemerintahan. Menurut yang mengenal cara kerja Jared, dia sosok yang ulet dan bertanggung jawab.

“Pokoknya, jika dia diminta melakukan suatu tugas, khususnya oleh mertuanya, dia melakukannya. Titik,” kata seorang sumber.

Minggu pertama Presiden Trump menjalankan pemerintahan, Jared sudah bertugas memoderasi pertemuan Trump dengan Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto, meskipun berakhir dengan ketegangan antar kedua kepala negara itu.

Sejak itu, Jared telah bertemu dengan sejumlah pemimpin dunia, termasuk PM Israel Benjamin Netanyahu dan PM Kanada Justin Trudeau. Dia juga sering bertindak sebagai “semacam konsultan” untuk Menlu AS Rex Tillerson dan Menteri Pertahanan Jim Mattis sebelum mereka menemui Presiden Trump untuk menyampaikan sebuah ide.

Kunjungan Jared ke Irak cukup mengejutkan dan boleh dibilang ajaib, dianggap melanggar protokol keamanan Pentagon, karena biasanya kunjungan semacam ini dilakukan oleh Menteri Luar Negeri.

Dan belakangan, Jared diberi tugas memimpin agenda pertemuan maha-penting antar kedua pemimpin negara adidaya, AS dan Cina, di resor Mar-a-Lago Florida, Kamis dan Jumat besok. Di pundak sang “pangeran”, kesuksesan pertemuan kedua pemimpin besar, Donal Trump dan Xi Jinping ditentukan. Baca: Bagai Bertemunya Minyak dan Air

Dalam segala hal, Donald Trump adalah fenomena bagi Amerika, dia seolah muncul sebagai antitesa negara yang selama ini dikenal demokratis. Dari mulai kebijakan-kebijakannya yang banyak menuai kontroversi baik di dalam negeri maupun di dunia global, menebar ancaman bagi banyak negara hingga membangun “dinasti” kekuasaan. Nepotisme memang bukan hal baru di Gedung Putih, tapi Presiden Trump telah memberi contoh sangat mencolok tentang nepotisme setelah penerapan Undang-undang anti nepotisme di AS diterapkan tahun 1967. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here