Jaringan Cina Diaspora Ancaman Bagi NKRI?

0
397

Nusantara.news – Kemudahan dan murahnya tranportasi sekarang ini memberikan manfaat yang luar biasa bagi manusia. Terlebih bagi jaringan diaspora. Hal ini antara lain terlihat dari jaringan diaspora seperti Huguenot, Skotlandia, orang-orang Yahudi, Cina dan  banyak lainnya. Ekonomi jaringan diaspora ini tumbuh semakin kuat dan lebih besar dari sebelumnya.

Diseluruh dunia tercatat ada 215 juta diaspora. Angka tersebut mengambil porsi sebesar hampi 3% dari penduduk dunia. Apabila mereka dianalogkan sebagai sebuah bangsa, maka jumlah Cina diaspora sama dengan 90% penduduk Indonesia.

Dari jumlah itu diaspora Cina jumlahnya terbesar, yakni lebin dari juta orang yang tersebar di lima benua. Jumlah dispora Cina lebih besar dibandingkan dengan penduduk negeri Belanda yang berjumlah sekita 17 juta orang. Tidak salah bila ada yang mengatakan, tidak ada wilayah di dunia ini yang tidak “memiliki” warga Cina. Bahkan di kawasan Afrika Barat komunitas Cina dapat ditemui di sana.

Ikatan kuat kekerabatan, budaya  dan bahasa membuat kalangan Cina diaspora lebih mudah untuk melakukan bisnis lintas negara dan lintas benua. Mereka mempercepat arus informasi. Pedagang Cina di Indonesia yang tahu kebutuhan payung murah akan menghubungi sepupunya di Shenzhen yang tahu ada orang yang menjalankan usaha pabrik payung. Ikatan kekerabatan menumbuhkan kepercayaan, sehingga mereka dapat membuat kesepakatan dan mengirimkan payung sebelum musim hujan berakhir. Ilustrasi ini menggambarkan betapa efektifnya relasi antar warga Cina di dunia.

Lemahnya aturan di negara berkembang terutama Indonesia, ditambah perilaku korup pejabatnya, membuat jaringan dDiaspora mendapat tempatnya yang pas untuk berkembang biak.  Mereka dengan mudahnya mengalirkan modal ke negara leluhurnya. Komunikasi modern membuat jaringan ini lebih kuat dan intens sebagai sarana bisnis.

Diaspora juga membantu menyebarkan ide dan pemikiran. Banyak pikiran cerdas dunia dari mereka yang mengenyam pendidikan di universitas-universitas Barat. Peningkatan jumlah arus pulang ke negerinya akan membawa pengetahuan dan kontak person. Ilmuwan komputer India di Bangalore bangkit berkat ide-ide yang terus-menerus dipasok dari teman-teman sebangsa  di Silicon Valley. Industri teknologi Cina didominasi oleh kalangan “kura-kura laut,” Cina yang telah tinggal di luar negeri dan kembali ke Tanah Leluhurnya.

Tidak hanya itu. Diaspora juga menyebar uang. Migran ke negara-negara kaya tidak hanya membuat mereka sukses dan mengirim uang kepada keluarga mereka di kampung halaman; mereka juga membantu perusahaan induk di negara tuan rumah yang berhubungan dengan anak perusahaan di negara asal mereka. Sebuah studi Harvard Business School menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan Amerika yang mempekerjakan banyak orang Tionghoa merasa jauh lebih mudah untuk mengembangkan cabang usas di RRC tanpa harus berpatungan dengan perusahaan lokal.

Dengan populasi Cina diaspora yang saat ini telah berkembang menjadi lebih dari 40 juta orang, Indonesia menjadi negara terbesar ke 4 yang menjadi Tanah Air ke 2 dari kaum Cina diaspora setelah Thailand, Malaysia dan AS. Data ini mengindikasikan jumlah Cina diaspora di Indonesia lebih besar dari  Cina diaspora di Singapura. Dari 40 juta lebih Cina diaspora terdapat 33 juta yang bermukim berada di Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri terdapat sekitar 2,8 juta Cina diaspora. Untuk menopang para diaspora tersebut pemerintah RRC membedakannya menjadi dua, yakni warga RRC  yang tinggal di luar negeri yang disebut Hua Qiao serta etnis Cina yang telah berasimilasi di negara-negara tuan rumah yang dikategorikan sebagai Huayi.

Penyebaran Cina Disapora (Overseas) Di Dunia

(2013)

Antara Hua Qiao dan Huayi diharapkan dapat bekerjasama dalam segala hal, terutama dalam bidang perdagangan, budaya, pengembangan sumber daya manusia, penguatan modal dsb.  Karena itu Indonesia dengan kekayaan alamnya dan posisi strategisnya merupakan sasaran empuk bagi mereka.

Agenda Cina diaspora disusun di tahun 1989 terjadi bersamaan dengan dibukanya kembali hubungan diplomatic RI-RRC di tahun itu setalah kedua negara memutuskan hubungan diplomatik sejak 1967.  Pembukaan hubungan diplomatik jelas mempermudah usaha mereka untuk memanfaatkan peluang Qini. Sejak saat itu mulailah Hua qiao menjalin hubungan dengan Huayi.

Namun, berhubung saat itu pemerintah Indonesia masih sangat kuat menjadikan komunis sebagai musuh, maka hanya Huayi yang bisa diajak kerja sama adalah Cina keturunan eks Baperki. Terlebih di negeri RRC sendiri juga banyak eks Baperki yang bermukim di sana menyusul tragedi berdarah 1965 di Indonesia. Dengan kemudahan-kemudahan semacam ini, jaringan lama yang mati dihidupkan kembali.

Celakanya para Hua Qiao yang ada di Indonesia pada masa-masa awal pasca normalisasi umumnya mengambil peran sebagai  perpanjangan kepentingan RRC. Maka, dengan kombinasi Hua Qiao dan Huayi, agenda kepentingan RRC di Indonesia semakin terkonsolidasi.

Setiap saat  eks Baperki aktif mendatangi kantor diplomatik Cina seperti kedubes dan konsulat. Di situlah eks Baperki dan mitranya kerap mendiskusikan dan merencanakan program kerjanya di Indonesia. Kantor diplomatik Cina memang diberi mandat untuk membantu dan memfasilitasi para eks Baperki.

Seiring berjalannya waktu, bukan hanya eks Baperki yang direkrut. Mereka yang memiliki potensi juga diajak bergabung. Tidak heran jika banyak konglomerat kaya di jaman Orde Baru yang diajak bekerjasama. Karena itu terkumpullah dana yang melimpah. Dengan dana tersebut mulailah mereka menjalin relasi pemerintah Indonesia secara intensif. Terlebih, setelah peristiwa ‘98, para Huayi yang mengklaim menjadi korban kerusuhan Mei 1998, terangkat ke permukaan dalam bentuk belas kasihan dan perlakuan istimewa. Akibatnya, segala belenggu di jaman Orde Baru dihapuskan. Puncaknya adalah pengakuan negara terhadap Konghuchu sebagai agama resmi di Indonesia.

Perdagangan Selalu Defisit

Dalam dunia perdagangan kombinasi gerakan para Hua Qiao dan Huayi yang telah disusun sejak lama pada akhirnya membuat indonesia dibanjiri produk-produk dari Cina, baik yang resmi maupun illegal. Bangsa indonesia praktis menjadi konsumen.

Nasib buruk akibat gerakan ini juga terlihat pada  petani tembakau. Sejak 1998 tembakau dari Cina membanjiri pasar Indonesia. Akibatnya, harga tembakau jatuh. Di sisi lain, telah sejak para Huayi memegang kendali industri rokok di Tanah Air.

Jatuhnya harga tembakau mengakibatkan banyak petani tembakau yang beralih profesi menjadi buruh lepas di kota, terutama ketika musim kemarau tiba. Kondisi petani tentu akan semakin tak menentu bila rencana sebuah perusahaan dari para Hua Qiao dan Huayi yang akan membuka lahan satu juta hektare terlaksana.

Yang lebih tragis terjadi pada program rel jalur ganda. Kita yang kaya besi dan punya pabrik besi yang cukup bagus yakni Krakatau Steel kurang dilirik. sebaliknya, kebutuhan rel kita diimpor dari Cina. Lebih miris lagi adalah bahwa rel kereta impor tersebut ternyata barang bekas.

Sejak tahun 2000 pemerintah Cina mengembangkan jaringan tranportasi kereta cepat, sehingga rel lama sudah tidak dibutuhkan menumpuk menjadi besi tua. Barang-barang rongsokan ini dilempar ke Indonesia. Terlebih perusahaan dari Cina—yang kontraknya dalam pembangunan KA cepat telah disetujui oleh pemerintah RI—rencananya juga merambah ke kereta komersial (kelas elit), dengan alasan kenyamanan. Bukan tidak mungkin jika rumah-rumah penduduk di sekitar rel akan dihajar, sementara PKL dilarang berjualan di stasiun apalagi di kereta.

Sejak normalisasi hubungan Indonesia dan RRC secara perlahan dan pasti produk-produk Cina membanjiri pasar-pasar kita tanpa terkendali. Tidak mengherankan neraca perdagangan Indonesia dengan Cina selalu defisit.  Tentunya angka defisit akan semakin besar jika barang illegal (penyelundupan) ikut dihitung.

Seperti seorang marketing yang dikejar setoran gerakan Hua Qiao dan Huayi, terlihat begitu masif dan ambisius menguasai segala bidang. Contohnya adalah bidang infratruktur. Sepuluh tahun lalu kita masih bisa menjumpai kontraktor besar yang berasal dari pribumi, tapi perlahan tapi pasti mereka kini tampak makin surut.

Dikhawatirkan di masa depan hanya pekerjaan kasar dan rendahan saja yang bisa dimasuki oleh pribumi. Namun kejadian terakhir pun kita jadi miris. Bahkan, tenaga kasar saja sudah diimpor dari RRC. Lantas, kita putra ibu pertiwi dapat apa?

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here