Jatim Harus Optimalkan Tiga Sumber Baru Pertumbuhan Ekonomi

0
70
Warga mengolah teripang secara tradisional di Kampung Nelayan Kenjeran, Surabaya, Rabu (28/2). Warga di kampung tersebut masih mengolah teripang secara tradisional untuk selanjutnya mereka jual seharga Rp170 ribu per kilogram untuk teripang kering. ANTARA FOTO

Nusantara.news, Surabaya – Indonesia kembali merajut kemesraan dengan IMF setelah sempat memburuk di era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Patut ditunggu kebijakan ekonomi apa yang akan muncul di tahun ini pasca Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak blusukan Managing Director Internasional Monetary Fund (IMF) Christine Lagarde ke beberapa lokasi di Jakarta beberapa waktu lalu.

Pastinya, kendati belum ada pembicaraan serius paket kebijakan yang akan dikeluarkan setelah kedatangan bos IMF tersebut, sudah ada angin surga yang dikeluarkan otoritas keuangan di negeri ini. Setidaknya itu yang dipaparkan Bank Indonesia kantor wilayah Jawa Timur dengan menarget pertumbuhan ekonomi antara 5,4 persen hingga 5,8 persen year on year (YoY) di 2018.

Prospek positif dari beberapa indikasi selama triwulan pertama 2018, jadi pertimbangan menetapkan target sebesar itu. Penetapan ini diklaim sebagai hasil riset di lapangan kendati tahun ini ada agenda politik serentak di Jawa Timur yang bisa membuat perekonomian gonjang-ganjing.

Herawanto, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur pada saat pertemuan dengan media, Rabu (28/2/2018) mengatakan, riset yang dimaksud adalah Riset Growth Strategy tahun 2017.  “Ada tiga sektor potensial yang bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Timur yaitu Industri Pengolahan Ikan dan Biota Laut, Industri Galangan Kapal dan Industri Pariwisata,” katanya di kantor BI di Jalan Pahlawan Surabaya.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari penetapan target tersebut. Angka 5,4 persen merupakan target minimal yang harus dicapai. Untuk memenuhi target itu, beberapa sektor yang selama ini jadi andalan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur memang harus tetap mendapat perhatian khusus. Seperti pertanian, perdagangan dan industri manufaktur.

Hanya saja jika mengacu pada tahun 2017, pertanian sempat menjadi sorotan. Terjadi penyusutan yang membuat target pertumbuhan ekonomi terganggu. Ini yang harus jadi perhatian stakeholder di Jawa Timur. Sebab, dengan demografi mayoritas petani sudah sewajarnya sektor ini jadi perhatian utama. Jika sampai terganggu, otomatis akan berdampak pada tingkat pertumbuhan ekonomi.

Tetap di sisi lain, BI mengacu pada hasil riset itu membuka peluang sektor lain untuk dimaksimal. Terutama dari sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru yang secara alami sebenarnya sudah tersedia dan sangat potensial dikembangkan. Hanya saja karena belum digarap maksimal, hasilnya belum terasa manfaatnya. Semisal, industri pengolahan ikan, galangan kapal dan pariwisata.

Kawasan Selatan Jangan Lagi Dilupakan

Sebagai provinsi dengan kawasan pesisir yang terluas di banding provinsi lain di Pulau Jawa, seharusnya kelebihan itu menjadi nilai tambah peningkatan ekonomi warganya. Kawasan laut dan pesisir Jawa Timur mempunyai luas hampir dua kali luas daratannya (± 47.220Km persegi) atau mencapai lebih dari 75.700 Km persegi apabila dihitung dengan 12 mil batas wilayah provinsi.

Garis pantai juga terbilang cukup panjang (± 2.128 Km) yang aktif dan potensial dan hampir seluruhnya kaya akan sumber daya alam untuk mendukung pembangunan secara menyeluruh. Setelah beberapa dekade pesisir utara selalu diutamakan karena secara fisik, termasuk sebagian pesisir wilayah timur, dihiasi pantai yang landai namun sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kawasan selatan mulai ikut digarap serius proyek infrastrukturnya.

Tetapi fokus proyek infrastruktur mulai bergeser ketika Tol Trans Jawa dicanangkan Presiden Jokowi. Jalan bebas hambatan yang akan menghubungkan ujung barat dengan ujung timur Pulau Jawa ini, bahkan ditarget bisa berfungsi penuh pada 2019. Tujuan utama seperti dikatakan Presiden jokowi beberapa waktu lalu adalah untuk mendukung Banyuwangi sebagai destinasi wisata andalan Indonesia.

Jika mengacu riset BI, kawasan selatan juga tidak kalah bahkan bisa jadi lebih potensial kalau tiga sumber baru itu dikembangkan. Misalnya, untuk sektor pengolahan ikan, Jawa Timur dikenal sebagai salah satu daerah penghasil ikan. Hanya saja karena infrastruktur yang belum memadai, hasil ikan tangkap kerap dari kawasan selatan kerap dijual langsung. Padahal jika diolah punya nilai ekonomis lebih tinggi.

Belum lagi prospek bisnis galangan kapal. Kendati secara kontur geografis didominasi tebing, namun ada beberapa kawasan yang bisa diplot sebagai lokasi pengembangan galangan kapal kelas menengah. Hal ini didukung oleh garis pantai yang langsung berhubungan dengan zona ekonomi eklusif (ZEE). “Itu (galangan kapal, RED) sangat potensial. Belum lagi bisnis-bisnis sampingan di sekitar pelabuhan,” ungkap Herawanto.

Sedangkan untuk potensi pariwisata, hampir di seluruh kawasan Jawa Timur menyimpan potensi besar. Hanya saja, kecuali Banyuwangi yang sudah masuk dalam program destinasi wisata nasional Jokowi serta Gunung Bromo yang jauh hari jadi ikon, pemanfaatannya masih belum maksimal dilakukan.

Untuk itu, butuh sinergi agar ada pemasukan yang signifikan. Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM PTSP) Jawa Timur Lili Soleh Wartadipraja, mengakui selama ini kurangnya koordinasi antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota kerap jadi kendala untuk pengembangan sektor pariwisata.

“Sebagai contoh kawasan Bromo Tengger Semeru (BTS), ada banyak kabupaten/kota yang berada di bawah kawasan itu. Saat ini masih berjalan sendiri-sendiri. Tapi ke depan harus saling terintegrasi jika ingin pengembangan wisatanya maju,” jelasnya.

Kesadaran untuk meningkatkan kunjungan wisatawan juga harus disalurkan ke masyarakat. Hasil survei sebuah lembaga nirlaba menyebutkan, menyebutkan ada 35 jenis usaha yang bisa dikembangkan masyarakat di sekitar obyek wisata. Ke-35 jenis usaha itu tidak harus dilakukan oleh pemerintah daerah melainkan bisa dikerjakan warga sekitar. “Kalau itu dijalankan, seperti pengembangan desa wisata misalnya, roda perekonomian kawasan setempat pasti terangkat,” tuturnya.

Jika dikaitkan dengan kembalinya kemesraan Indonesia dengan IMF, Jawa Timur setidaknya harus bisa mempertahankan arah pembangunan ekonomi yang sesuai dengan prospek dan modal awal. Yakni sumber daya alam dan sumber daya manusianya. Jangan lagi terperosok pada arah pembangunan ekonomi yang didikte untuk kepentingan asing.

Sebab, persaingan pasar global saat ini tidak hanya terjadi antar negara, namun juga sudah menembus hingga tingkat daerah. Produk-produk luar negeri kini sudah mampu menjangkau wilayah-wilayah timur Indonesia, yang mungkin belum mampu ditembus oleh Industri di Jawa Timur. Untuk itu, perlu membidik pasar lokal di dalam negeri yang masih belum terjamah. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here