Jatim Kekurangan Dokter Spesialis

0
78

Nusantara.news, Surabaya – Banyaknya jumlah rumah sakit di Jawa Timur dalam memenuhi pelayanan kepada masyarakat yang tidak diimbangi dengan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni, membuat Jawa Timur kekurangan tenaga dokter spesialis.

Anggota Komisi E DPRD Jatim dr Benyamin Kristianto mengakui, saat ini di Jawa Timur sedang mengalami krisis dokter spesialis. Menurutnya, kondisi ini harus segera dicarikan solusi yang terbaik, dan peran serta pemerintah provinsi Jatim harus segera memenuhinya. “Beberapa rumah sakit di Jatim kekurangan dokter spesialis, Pemprov Jatim harus segera memenuhinya,” jelasnya kepada wartawan di Surabaya, Rabu (3/5/2017).

Tidak hanya itu, lanjut Benyamin yang mencontohkan kondisi salah satu rumah sakit di RSUD Kota Malang, ternyata krisis dokter spesialis. Rumah Sakit tersebut jumlah dokter ada 12 dokter di antaranya dokter penyakit dalam (1 orang), dokter kebidanan dan kandungan (2 orang), dokter anak (2 orang), dokter spesialis anestesi (1 orang), dokter kulit (1 orang), dokter radiologi (1 orang) dan dokter gigi (2 orang).

“Jumlah tersebut tentunya tidak sebanding dalam memberikan pelayanan kepada ratusan pasien yang berobat di rumah sakit di jalan Rajasa Bumiayu Malang,” katanya.

Politisi asal Partai Gerindra ini mengatakan, untuk pengadaan dokter spesialis tersebut, Pemerintah harus melibatkan IDI (Ikatan Dokter Indonesia) untuk pemenuhan dokter spesialis. ”IDI Jatim bisa digandeng untuk rekrutmen dokter spesialis yang benar-benar khusus penyakit yang sering dialami oleh masyarakat,” jelasnya.

Ketika dikonfirmasi besaran ideal untuk dokter spesialis setiap rumah sakit, dr Benyamin Kristianto mengaku pihaknya tidak bisa mengetahui besaran angka untuk kebutuhan rumah Sakit terhadap dokter spesialis. ”Kalau itu tergantung masing-masing rumah sakit,” tandasnya.

Seperti diketahui, pemerintah telah mencanangkan program Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS) sebagai salah satu untuk mengatasi permasalahan kekurangan dokter spesialis dengan menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) No 4 Tahun 2017 tentang WKDS.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, Kohar Hari Santoso mengakui pemerataan dokter spesialis di Jatim belum menyebar dengan maksimal. “Dokter spesialis di Jatim belum merata di berbagai daerah karena ada daerah belum terjangkau. Memang distribusi dokter spesialis sekarang ini berfokus pada daerah yang potensial perputaran ekonomi besar,” ujar Kohar beberapa waktu lalu.

Lanjut Kohar, bahwa masalah kesejahteraan masih perlu menjadi perhatian serius. Oleh karena itu Dinkes (Dinas Kesehatan) mengusulkan adanya tambahan kriteria penempatan dokter spesialis. “Perlu ditambah kriterianya. Sebab ada daerah yang tidak diminati, daerah kekurangan dokter spesialis. Aspek keamanan juga penting, selain itu juga perlu diatur masa kerjanya,” ujarnya.

Kohar menambahkan,  sebagai salah satu universitas pencetak tenaga dokter, Unair dinilai Kohar siap berkontribusi dalam menyiapkan dokter kompeten. “Namun demikian, peran pemerintah dibutuhkan, termasuk di dalamnya bagaimana biaya kuliah dapat dijangkau,” tutupnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here