Jatim Punya Kopi, Asing Dapat Untung

0
233

Nusantara.news, Surabaya –¬†Warung-warung kopi gampang ditemui di sekitar pemukiman warga. Dari jenis produksi sachetan skala industri besar hingga kopi bubuk made in rumah tangga, semuanya punya penggemar fanatik masing-masing. Bahkan turnamen sepakbola terbesar di Indonesia yang baru berahir lalu, disponsori produsen kopi.

Sayangnya, di kota-kota besar banyak yang menganggap brand impor lebih baik dibanding  ngopi di warung-warung emperan. Secara tidak langsung, sikap ini jadi penghambat produksi kopi nasional menjadi tuan di rumah sendiri. Lihat saja bagaimana fanatisnya pengunjung kedai kopi asal Amerika Serikat yang menjamur di pusat perbelanjaan kota Surabaya. Mereka rela menghabiskan waktu dan uang untuk menikmati segelas kopi yang aroma dan kualitasnya sebenarnya tidak jauh beda dengan produksi kebun rakyat kelas menengah.

Ini tak lepas dari kebijakan pengelola pusat perbelanjaan yang cenderung lebih memihak brand asing dibanding kopi lokal, kendati predikat kopi jenis premium asal Indonesia masuk lima besar dunia. Ada semacam kebangaan tersendiri di kalangan generasi muda Surabaya dan Jawa Timur umumnya jika nongkrong di kedai kopi asing. Butuh keberpihakan pemangku kebijakan untuk menghambat perilaku semacam itu.

Berbagai upaya yang dilakukan sejumlah kepala daerah di Jawa Timur layak dicontoh. Upaya yang dilakukan di antaranya adalah festival kopi di Banyuwangi, atau festival ngopi malam minggu di Lumajang.

Langkah konkrit Kabupaten Temanggung mendirikan “real market” di Jerman, Malaysia, dan Jakarta pada 2017 untuk memasarkan produk kopi arabika dan robusta yang telah dipatenkan, bisa patut diacungi jempol. Wakil Bupati Temanggung, Irawan Prasetyadi mengatakan, usaha ini memang bertujuan untuk mengangkat nama kopi Temanggung lebih mendunia. “Melalui real market ini, kami ingin produk kopi Temanggung lebih mendunia. Apalagi kopi arabika dan kopi robusta Temanggung telah dipatenkan,” katanya.

Di Jawa Timur sendiri, keberpihakan dari sektor perbankan bahkan sudah positif dengan instruksi Kepala Divisi Advisory Ekonomi dan Keuangan Bank Indonesia (BI) Perwakilan Jawa Timur, Taufik Saleh. Ia berupaya mendorong penyaluran kredit ke sektor pertanian, termasuk petani kopi rakyat, menyusul masih minimnya penyaluran kredit perbankan ke sektor usaha perkebunan.

“Minimnya penyaluran kredit ke sektor pertanian dan perkebunan yang terjadi saat ini tidak lepas dari risiko kredit macet yang tinggi. Sebab, petani hanya mengandalkan panen musiman. Jika panen gagal maka kredit jelas akan tersendat,” ucap Taufik dalam sebuah forum diskusi di penghujung tahun lalu di Surabaya (28/12/2016).

Ia mengatakan, BI saat ini terus mendorong perbankan agar memperbesar penyaluran kredit ke sektor pertanian, karena sektor tersebut berkontribusi hingga 13 persen dari total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Jawa Timur yang mencapai Rp1.382 triliun hingga triwulan III 2016. Berdasarkan data penyaluran kredit, sektor pertanian masih sangat rendah dalam penyerapan, yakni hanya 2,5 persen saja dari total penyaluran kredit perbankan yang mencapai Rp383,7 triliun pada November 2016.

Namun kekhawatiran itu seharusnya bisa ditepis dengan fakta bahwa harga komiditi kopi relatif stabil. Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Jatim Moch Samsul Arifien mengatakan, pihaknya bahkan berencana memperluas 2.000 hektare (Ha) lahan produksi kopi pada 2017 di ketinggian 800 meter di atas permukaan laut untuk menghasilkan produksi yang bagus. “Perluasan lahan lebih banyak untuk kopi jenis arabika. Lahannya tersebar di beberapa daerah di Jatim, di antaranya Probolinggo, Jember, Pasuruan, Bondowoso, dan Situbondo,” ujarnya.

Selain memperluas lahan, rehab areal lahan tanam kopi robusta juga dilakukan terhadap lahan seluas 200 ha. Dengan pengembangan lahan kopi yang sudah berjalan ini, diharapkan tahun-tahun berikutnya jumlah areal lahan tanam kopi terus bertambah. Sehingga jumlah produksi juga akan bertambah dan dapat memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan luar negeri.

Saat ini, kata dia, ada sekitar 61 merek milik masyarakat Jatim yang mampu mengolah kopi dan mengemas sendiri untuk dijual ke pasar. Di antaranya adalah Kopi Kapiten asal Pasuruan, Kopi Kayumas asal Situbondo, dan Kopi Ijen Raung asal Bondowoso.

Harga kopi di pasar domestik saat ini cukup bagus. Harga kopi mentah di kisaran Rp22.000 hingga Rp25.000 per kg. Untuk kopi robusta dan arabika, harganya mencapai Rp50.000 hingga Rp100.000 per kg. Sementara harga kopi yang sudah diolah menjadi kopi roasting mencapai Rp90.000 per kg untuk kopi jenis robusta, dan Rp150.000 hingga Rp200.000 per kg untuk kopi jenis arabika. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here