Jatim Tingkatkan Kerjasama dengan Swiss, Termasuk Bidang Riset

0
87
Gubernur Jawa Timur Soekarwo menerima Kunjungan Duta Besar Swiss untuk Indonesia Yvonne Baumann di Gedung Negara Grahadi di Surabaya, Rabu (29/3/2017)

Nusantara.news, Surabaya – Hubungan kerjasama Provinsi Jawa Timur dengan Swiss terus meningkat. Kali ini, kerjasama antar keduanya dikembangkan ke bidang riset perguruan tinggi dan riset bidang penanganan penyakit menular, dan penyakit non menular, seperti diabetes. hal itu dikatakan Gubernur Jawa Timur Soekarwo saat menerima Kunjungan Duta Besar Swiss untuk Indonesia Yvonne Baumann di Gedung Negara Grahadi di Surabaya, Rabu (29/3/2017).

“Swiss merupakan negara maju karena kualitas teknologinya. Oleh karena itu, kemajuan Swiss di bidang vokasional diharapkan juga bisa diperluas, diantaranya melalui kerjasama dengan Pemprov Jatim dalam pengembangan Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) dan Balai Latihan Kerja (BLK),” ujar Soekarwo.

Untuk membahas  kerjasama tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melanjutkan dengan melakukan audiensi dengan membentuk tim guna memperjelas pelaksanaan dan detail program kerja sama yang akan dikembangkan.

“Nantinya akan dibahas apakah peserta didik dapat langsung magang di perusahaan di Swiss atau mendatangkan pelatih dari Swiss ke Jawa Timur,” tambah Soekarwo yang disetujui oleh Dubes Yvonne Baumann.

Kunjungan Dubes Yvonne Baumann ke Jawa Timur itu sekaligus juga untuk melihat secara langsung potensi yang bisa dikembangkan di wilayah ini. Jawa Timur tidak hanya penting untuk wilayah Indonesia Timur, tetapi sekaligus juga sebagai wilayah yang menguasai 8 persen peluang pasar di ASEAN. Potensi wilayah Jawa Timur diharapkan bisa menarik investor Swiss untuk pengembangan usahanya.

Sementara, Dubes Swiss Yvonne Baumann menjelaskan, kerjasama dengan Pemprov Jawa Timur, termasuk riset, telah disepakati antara Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dengan sebuah perusahaan di Swiss untuk penanganan influenza. Ke depan, juga tengah dirumuskan bentuk kerjasama dengan Instutit Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya.

Menyinggung investasi Swiss di Indonesia, Dubes Swiss Yvonne Baumann menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir, nilai kerjasama investasi meningkat tajam dan mencapai US$4,5 juta dengan serapan tenaga kerja tidak kurang dari 10 ribu orang.

“Investasi Swiss di Jawa Timur akan ditingkatkan, karena berbagai pertimbangan positif tentang Indonesia, termasuk dengan Jawa Timur yang fundamental ekonominya bagus,” kata Yvonne Baumann. Ia menambahkan, potensi Jawa Timur sangat menunjang untuk terus ditingkatkannya kerjasama.  

Disebutkan, neraca perdagangan antara Jawa Timur dan Swiss dalam kurun waktu tahun 2012 hingga 2017 menunjukkan tren positif. Pada tiga tahun pertama, yakni antara 2012 hingga 2014, Jawa Timur mengalami defisit, namun sejak tahun 2015 neraca perdagangan Jatim dengan Swiss menjadi surplus.

Misalnya, di tahun 2012 ekspor Jawa Timur tercatat mencapai US$6,44  juta dan impor US$13,45 juta atau defisit sebesar US$ 7,01 juta. Di tahun 2013 ekspor Jawa Timur mencapai US$7,51 juta dan impor US$118,13 juta atau defisit sebesar US$110,62 juta. Demikian pula, tahun 2014 ekspor Jatim US$15,49 juta dan impor US$74,81 juta atau defisit sebesar US$59,32 juta.

Selanjutnya, mulai tahun 2015 neraca perdagangan Jawa Timur mengalami surplus. Di tahun itu, ekspor Jawa Timur sebesar US$944,04 juta dan impor sebesar US$ 78,43 juta. Dengan demikian, terjadi surplus sebesar US$ 865,61 juta. Tahun 2016, ekspor tercatat sebesar US$1.968,19 juta sedangkan impor hanya US$234,11 juta atau surplus sebesar US$1.734,08 juta. Hingga Februari 2017, ekspor Jawa Timur tercatat US$ 219,94 juta dengan nilai impor hanya sebesar US$ 51,26 juta.  

Untuk komoditi utama non migas Jawa Timur yang diekspor ke swiss diantaranya perhiasan permata, perkakas, perabot, penerangan rumah, alas kaki, perangkat musik dan mainan.

Sebagai salah satu negara tujuan ekspor, Swiss di tahun 2012 berada di urutan ke 92, dan jumlahnya terus naik. Pada 2014, Swiss berada di urutan ke 66, tahun 2015 di urutan ke-6, dan tahun 2016 di urutan ke-3. Pada periode Januari hingga Februari 2017 berada di urutan ke-3.

Sedangkan komoditi utama non migas Jawa Timur yang diimpor dari Swiss adalah perhiasan, mesin-mesin pesawat mekanik, bahan kimia organik, plastik, serta lemak dan minyak hewan dan nabati, produk industri farmasi, minyak asiri, kosmetik, wangi-wangian, mesin, peralatan listrik, olahan dari tepung dan perangkat optik.

Nilai impor dari Swiss di tahun 2012 menduduki peringkat ke-64. Tahun 2013 di urutan ke 30, tahun 2014 di urutan ke-34, tahun 2015 di urutan ke-31, dan tahun 2016 urutan ke 18. Pada periode Januari – Februari 2017 berada di urutan  ke-11. Nilai investasi Swiss per 2015 sebesar US$627,8 juta mancakup 18 proyek yang menyerap 6.398 tenaga kerja. Investasi terbanyak bergerak di bidang makanan dengan jumlah 8 proyek.

Di Indonesia, perusahaan asal Swiss tercatat ada sebanyak 135 perusahaan. Beberapa diantaranya PT. Nestle Indonesia, PT Lamipak Primula Indonesia, PT Akasha Wira Internasional Tbk, PT Villiger Tobacco Indonesia, dan PT Ades Waters Indonesia Tbk. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here