Jatuhnya Rupiah dan IHSG Gerus Kredibilitas Jokowi

1
204
Pergerakan rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS yang belakangan sudah menembus level Rp14.000 bisa menggerogoti wibawa pemerintah. Publik menilai pemerintah kurang kompeten mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah.

Nusantara.news, Jakarta – Pasca libur lebaran nilai tukar rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG) bergelimpangan. Inilah periode paling sulit buat Presiden Jokowi karena kredibilitasnya dalam mengurus ekonomi semakin tergerus.

Seperti diketahui, Federal Reserve memutuskan untuk menaikkan bunga acuan Fed Fund Rate dari 2,25% menjadi 2,5%. Kenaikan ini direncanakan empat kali dalam setahun, dan tentu saja kebijakan ini mengatrol dolar AS terhadap mata uang utama dunia, tanpa kecuali terhadap rupiah.

Kecenderungan rupiah yang terus melemah, ditambah kesan yang kuat persoalan ekonomi Indonesia semakin berat terutama ruang fiskal yang semakin sempit, membuat IHSG ikut tertekan.

Begitu libur lebaran selesai dan pasar mulai dibuka, rupiah langsung terkoreksi signifikan diikuti pelemahan IHSG. Rupiah yang sudah steady dan relatif stabil di level Rp13.900, kembali ke level Rp14.100 per dolar AS.

Sementara IHSG diperdagangkan melemah hingga 151 poin atau 2,52% ke level 5842,15 pada perdagangan Rabu (20/6).

IHSG dibuka pada level 5869,98, indikator acuan pasar modal itu sempat diperdagangkan pada rentang 5834 hingga 5974. Sedangkan rupiah pada perdagangan hari yang sama bertengger di kisaran Rp13.932 per dolar AS.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara berpendapat nilai tukar rupiah terhadap dollar AS masih berpotensi melemah sampai akhir Juni karena adanya potensi kenaikan suku bunga acuan The Fed.

“Kondisi tersebut diperparah dengan ekosistem perdagangan dunia yang masih bergejolak,” demikian Bhima.

Kondisi ini diperparah dengan efek eskalasi perang dagang antara Amerika dan China sehingga Indonesia sebagai pemasok bahan baku terkena dampak yang cukup signifikan apabila kedua negara mitra dagang tersebut mengurangi produksinya.

Bhima berpendapat respon Bank Indonesia (BI) untuk segera naikan bunga acuan memang cukup positif tenangkan pasar. Namun, bila kenaikan hanya 25 basis poin (bps) diperkirakan tidak akan mampu memulihkan rupiah dibawah Rp13.800 per dollar AS.

“Diperlukan langkah lain yang lebih terukur misalnya stimulus fiskal untuk dorong kinerja ekspor, atau dari sisi moneter setelah pelonggaran LTV properti juga bisa ditambahkan ke pelonggaran LTV kendaraan bermotor,” ungkap Bhima.

Bhima menyatakan semakin besar stimulus yang dilakukan BI dan Pemerintah efek ke ketahanan rupiah makin besar. Bahkan, dirinya memperkirakan rupiah sampai akhir Juni dapat menyentuh Rp14.200 per dollar Amerika jika langkah preemptives hanya sekedar naikkan bunga acuan.

Sementara Muhammad Hafan Aji, Analis Binaartha Sekuritas berpendapat pergerakan IHSG yang terus merosot menjadi bukti bahwa tekanan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China kian besar.

Hal ini lantaran perang dagang tak hanya membuat kedua negara saling berbalas tarif impor bea masuk, namun juga turut menekan harga komoditas dunia.

Selain efek perang dagang yang terjadi belakangan ini, dampak dari kenaikan bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve pada pekan lalu, juga masih mempengaruhi laju bursa saham nasional. Hal ini karena belum ada pula respons dari Bank Indonesia (BI) terhadap langkah The Fed tersebut.

Di sisi lain, keputusan bank sentral Eropa (The European Central Bank/ECB) yang akan mengurangi pembelian obligasi pada akhir tahun ini, atau dikenal dengan pelonggaran kualitatif (quantitative easing–QE) rupanya tak berhasil menekan dolar AS.

“Kebijakan ECB hanya memberikan efek positif yang sementara bagi euro. Sayangnya untuk saat ini apresiasi dolar AS masih kuat dibandingkan dengan instrumen-instrumen mata uang lainnya termasuk rupiah,” katanya.

Menurut Menko Perekonomian Darmin Nasution penguatan dolar AS hingga 2,5% terhadap rupiah itu terjadi lantaran hari libur panjang Lebaran 2018.

“Bahwa dia (dolar AS) naik, itu ya memang agak lebih ditambah karena kita liburnya banyak. Orang enggak tahu ini bagaimana dan orang hantam saja di hari pertama kerja,” demikian Darmin berkilah.

Meski demikian, Darmin meyakini penguatan dollar AS terhadap rupiah tersebut tidak akan berlangsung lama. Dia optimistis rupiah akan kembali menguat terhadap dollar AS dalam beberapa hari ke depan. “Oleh karenanya, jangan itu dianggap sudah akhir cerita. Lusa juga berubah lagi,” imbuh Darmin.

Lepas dari argumentasi Menko Darmin, faktanya rupiah dan ISGH sudah melemah sangat signifikan. Rupiah saat Jokowi memenangkan Pilpres terhadap Prabowo Subianto menguat hingga ke level Rp12.135, sedangkan IHSG diperdagangkan di posisi 5028.

Berbeda dengan IHSG yang hari ini di kisaran 5834, faktanya memang menguat dibandingkan pada masa awal Jokowi memimpin. Namun jika menengok perjalanan IHSG yang sempat melambung ke level 6700 ditahun ketiga Jokowi memimpin, maka posisi 5834 merupakan pelemahan yang signifikan di tahun keempat.

Biar bagaimana rupiah dan IHSG adalah cermin dari denyut nadi ekonomi Indonesia, sehingga menguat dan melemahnya kedua indikator tersebut adalah cerminan manajemen perekonomian kita. Itu sebabnya kalau rupiah dan IHSG sempat mengalami bulan madu di masa kepemimpinan Jokowi, maka hari ini kedua indikator itu mempertontonkan bahwa manajemen ekonomi Jokowi mulai goyah.

Karena itu diperlukan terobosan baru untuk menyelamatkan ekonomi kita yang masih terkena krisis. Terutama mengurangi ketergantungan pada utang dan menciptakan sumber perekonomian dan pertumbuhan baru.

Untuk itu para menteri ekonomi dituntut bekerja keras dan bekerja cerdas, tentu dengan inovasi yang kuat sehingga memunculkan tambahan penerimaan baru buat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here