Jawa Timur di Antara Ragam “Tlatah”

0
245

Nusantara.news, Jawa Timur – Siapa yang tidak kenal reog Ponorogo, karapan sapi Madura, ludruk dan tari remo Surabaya, ketoprak khas Mataraman, atau tari gandrung Banyuwangi? Keberagaman produk estetika kesenian dan kebudayaan itu adalah ikon budaya Jawa Timur (Jatim).

Jangan mengira, di daerah bekas tumbuhnya kerajaan-kerajaan besar seperti Medang (937-1017), Daha-Janggala (1080-1222), Singasari (1222-1292) dan Majapahit (1293-1527) ini, nama “Jawa” yang melekat pada “Jawa Timur” mengesankan sifat budaya masyarakatnya yang monokultur. Sebaliknya, Jatim sangatlah plural.

Dalam perspektif seni budaya,  Jatim sangat heterogen. Beraneka ragam tipikal dan kultur menjadi keunikan sekaligus kekuatan Jatim. Keberagaman tipikal dan kultur yang salah satunya ditandai dengan produk seni budaya yang berbeda antara satu daerah dan daerah yang lain adalah identitas sesungguhnya dari pluralisme Jatim.

Kekayaan produk estetika kesenian, tlatah (wilayah kebudayaan), tradisi, peringatan-peringatan hari besar di wilayah yang memiliki luas 47.922 km² ini adalah bukti masyarakat Jatim sangatlah menjunjung tinggi budaya dan nilai-nilai tradisi.

Dari segi kewilayahan, Jawa Timur terbagi ke dalam sepuluh tlatah atau kawasan kebudayaan.

Tlatah kebudayaan besar ada empat, yakni Jawa Mataraman, Arek, Madura Pulau, dan Pandalungan. Sedangkan tlatah yang kecil terdiri atas Jawa Panoragan, Osing, Tengger, Madura Bawean, Madura Kangean, dan Samin (Sedulur Sikep).

Dari segi politik, identifikasi politik di Jatim hampir tidak pernah lepas dari identitas budaya yang melekat dalam masyarakat. Keragaman kultural di wilayah ini menjadi bingkai tak terpisahkan dari urusan perebutan kekuasaan.

Di wilayah ini terdapat peta dua kutub besar, yakni kutub ”merah” dalam artian basis kekuatan politik nasionalis yang sebagian besar berada di wilayah selatan dan barat yang dikenal dengan wilayah Mataraman. Sementara kutub ”hijau” merupakan representasi dari kekuatan politik Islam yang sebagian besar berada di wilayah utara dan timur dari provinsi ini, misalnya Madura dan Pandalungan (tapal kuda).

Peta Politik Pada Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2013

Sementara di wilayah Arek yang salah satunya meliputi Surabaya dan Malang, cenderung pada kombinasi keduanya. Namun begitu, adakalanya “hijau” kuat, terkadang pula “merah” yang dominan. Dengan karakter masyarakat Arek yang lebih terbuka, fleksibel, dan rasional, pilihan politik mereka akan sangat bergantung pada penilaian jejak rekam tokoh dan program real yang ditawarkan.

Tlatah Mataraman

Tlatah Mataraman berada di sebelah barat. Wilayahnya paling luas, membentang dari perbatasan Provinsi Jawa Tengah hingga Kabupaten Kediri. Dinamai Mataraman karena masih mendapat pengaruh sangat kuat dari budaya Kerajaan Mataram, baik pada masa Hindu-Buddha maupun era Kesultanan Mataram Islam yang berpusat di Yogyakarta dan Surakarta. Karena itu, adat istiadatnya pun mirip.

Mereka,  merujuk pada penelitian yang pernah dilakukan Clifford Geertz pada 1960, banyak dipengaruhi model sosiokultural Jawa Tengah. Pola-pola aristokrasi, keselarasan, keseimbangan, dan penuh simbol juga menjadi ciri kehidupan mereka. Pola bahasa Jawa yang mereka gunakan pun mendekati kehalusan bahasa masyarakat Jawa di masa keemasan Kerajaan Mataram.

Pada umumnya,  masyarakat yang tinggal di wilayah Mataraman antara lain Kabupaten Ngawi, Kabupaten dan Kota Madiun, Kabupaten Pacitan, Kabupaten Magetan, Kabupaten dan Kota Kediri, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten dan Kota Blitar, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Tuban, Kabupaten Lamongan, dan Kabupaten Bojonegoro.

Dalam masyarakat Jawa Mataraman ini banyak jenis kesenian seperti ketoprak, wayang purwa, campur sari, tayub, wayang orang, dan berbagai tari yang berkait dengan keraton seperti tari Bedoyo Keraton.

Tlatah Arek

Sebelah timur Mataraman adalah tlatah Arek. Batas alamnya adalah sisi timur Kali Brantas. Sungai ini menjadi penting sejak abad keempat, baik segi perdagangan maupun interaksi antara wilayah pesisir dan daerah pedalaman. Tlatah ini membentang dari utara ke selatan, dari Surabaya hingga Malang. Wilayah kebudayaan Arek meliputi Surabaya, Malang, Mojokerjo, Gresik, Sidoarjo.

Setelah industrialisasi masuk, wilayah ini menjadi menarik bagi pendatang. Menjadikannya salah satu melting pot atau kuali peleburan kebudayaan di Jatim. Pendatang dari berbagai kelompok etnis ada di sini untuk mencari ”gula” ekonomi yang tumbuh pesat. Meski luas wilayahnya hanya 17 persen dari keseluruhan luas Jatim, separuh (49 persen) aktivitas ekonomi Jatim ada di kawasan ini.

Budayanya merupakan sentuhan dari aneka kultur baik lokal maupun asing, membentuk komunitas Arek. Mereka mempunyai semangat juang tingi, solidaritas kuat, terbuka terhadap perubahan, mau mendengarkan saran orang lain, dan mempunyai tekad menyelesaikan segala persoalan melalui cara yok opo enake, sama-sama senang.

Istilah “Arek” sendiri berasal dari panggilan akrab untuk anak-anak hingga orang dewasa di wilayah ini. Padanan kata “arek” untuk dialek Mataraman adalah “bocah”. Misalnya, untuk kalimat “Itu orang mana?” di wilayah ini digunakan kalimat “Iku arek endhi?” sedangkan dialek Mataraman menggunakan “Kuwi (bo)cah ngendi?” Kata ini juga dipakai untuk menggambarkan ciri masyarakat Surabaya dan sekitarnya yang lugas dan berani, misalnya dalam konteks peringatan Hari Pahlawan (Arek-arek Suroboyo).

Di perantauan, istilah Arek dipakai untuk menunjukkan asal yang sama (misalnya, Arek Malang yang disingkat Arema atau Arek Lamongan yang disingkat Arela). Sesama orang Malang yang bertemu di perantauan, misalnya, akan mengatakan “Padha Malange rek!” (“Sesama orang Malang nih!”). Jika orang Malang bertemu dengan orang Lamongan, mereka bisa mengatakan “Padha areke rek!” (“Sesama arek nih!”).\

Kesenian tradisional (rakyat) yang banyak berkembang di wilayah Arek adalah Ludruk, Srimulat, wayang purwa Jawa Timuran (Wayang Jek Dong), wayang Potehi (pengaruh kesenian China), Tayub, tari jaranan, dan berbagai kesenian bercoral Islam seperti dibaan, terbangan, dan sebagainya.

Tlatah Madura Pulau

Wilayah kebudayaan terbesar ketiga adalah Madura Pulau.  Komunitas  ini dikenal dengan keuletan dan ketangguhannya. Jiwa penjelajahnya begitu terkenal hampir serupa dengan masyarakat Bugis dan Minangkabau. Kondisi tanah yang kurang subur menyebabkan mereka harus melakukan tindakan lain selain bertani. Garam menjadi komoditi utama masyarakat Madura dalam bidang perekonomian.

Agama Islam menjadi hal yang paling mendasari mereka dalam bertindak dan bersikap. Seperti halnya Ponorogo, kiai menjadi tokoh yang sangat berpengaruh dalam masyarakat. Sistem pendidikan pesantren semakin membuat tokoh agama seperti kiai ini sangat berperan dalam segala bidang kehidupan masyarakat Madura. Kesenian yang berkembang di wilayah ini banyak diwarnai nilai Islam. Mulai dari tari Zafin, Sandur, Dibaan, Topeng Dalang (di Sumenep), dan sebagainya.

Menurut Kuntowijoyo, keunikan Madura adalah bentukan ekologis tegal yang khas, yang berbeda dari ekologis sawah di Jawa. Pola permukiman terpencar, tidak memiliki solidaritas desa, sehingga membentuk ciri hubungan sosial yang berpusat pada individual, dengan keluarga inti sebagai unit dasarnya (Kuntowijoyo, Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura 1850-1940, 2002).

Karakteristik lingkungan dan budaya inilah yang membuat banyak orang Madura bermigrasi ke daerah lain, terutama di Jawa Timur bagian timur untuk ”mengejar rezeki”. Wilayah ini merupakan tanah tumpah darah – kedua orang Madura Pulau. Banyak imigran Madura bermukim bersandingan dengan orang berbudaya Jawa. Kawasan ini sering disebut sebagai Pandalungan.

Tlatah Pandalungan

Tlatar terbesar terakhir adalah Pandalungan. Menurut Prawiroatmodjo (1985), kata Pandalungan berasal dari bentuk dasar bahasa Jawa dhalung yang berarti ’periuk besar’. Wadah bertemunya budaya sawah dengan budaya tegal. Budaya Jawa dengan budaya Madura, membentuk budaya baru, Pandalungan. Hasilnya, masyarakat berciri agraris-egaliter, bekerja keras, agresif, ekspansif, dan memiliki solidaritas yang tinggi, tetapi masih menempatkan pemimpin agama Islam sebagai tokoh sentral. Daerahnya meliputi Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Lumajang dan Jember.

Tlatah Pandalungan merupakan hasil sintesis antara budaya Jawa dan Madura. Komunitas Pandalungan itu banyak tinggal di pesisir Pantai Utara Jawa Timur dan sebagian Pesisir Selatan Jawa Timur bagian timur. Kesenian yang berkembang di wilayah ini bercorak Mataraman dan sekaligus Pandalungan. Hanya saja dasar nilai Islamnya sangat kuat sekali dalam berbagai corak kesenian rakyatnya.

Ada hal yang unik dari kebahasaan masyarakat Pandalungan. Bila kita berbincang dengan seseorang dari Pandalungan kita mungkin akan mengira ia adalah orang Madura, mendengar dari bahasa tuturnya. Namun, sebenarnya mereka bukan orang Madura dan bahasa mereka lebih condong ke bahasa Jawa. Namun akulturasi budaya Madura dan Jawa yang begitu kental membuat dialek masyarakat Pandalungan menjadi terdengar seperti dialek Madura.

Tlatah-Tlatah Lain

Selain empat tlatah terbesar, ada beberapa tlatah lainnya yang lebih kecil yaitu tlatah Samin, Osing, Tengger, dan Panaragan. Selain itu, di Pulau Madura sendiri terdapat dua subkultur yang berbeda, yaitu Madura Kangcan dan Madura Bawean.

Tlatah Samin merupakan wilayah dengan populasi yang semakin sedikit keberadaannya. Masyarakat Samin sangat unik, mereka paling anti dengan yang namanya penjajahan dan bersikap jujur merupakan harga mati bagi mereka. Masyarakat komunitas Samin menganggap manusia yang baik adalah manusia yang kata dan perbuatannya sama. Wilayah kebudayaan Samin berpusat di Blora Jawa Tengah, namun persebarannya hinggi mencakup Jawa Timur, yaitu Bojonegoro.

Sementara itu komunitas Osing banyak tinggal di Kabupaten Banyuwangi, utamanya di kecamatan yang dekat dengan Pulau Bali. Budaya Osing yang merupakan warisan kebudayaan Kerajaan Blambangan (abad ke-12) merupakan sentuhan dari budaya Jawa Kuno dan Bali. Orang Osing dikenal sebagai petani yang rajin dan seniman yang andal. Sebagian besar corak kesenian masyarakat Osing dipengaruhi oleh budaya Jawa dan Bali. Di wilayah masyarakat Osing ini ada kesenian Gandrung Banyuwangi, Kentrung, dan Burdah.

Tlatah lainnya yaitu Tengger yang mencakup wilayah Tengger Bromo, Probolinggo. Masyarakat ini sangat terkenal dengan tradisinya yang masih sangat terjaga. Nilai-nilai kerajaan Majapahit masih sangat melekat dalam tiap tindakan masyarakat Tengger. Animisme dan Hindu juga tetap hidup dalam wilayah ini. Ucapara Kasada merupakan ritual adat yang paling terkenal di masyarakat Tengger. Bertani dan menikmati hasil hutan merupakan objek bergantungnya kehidupan masyarakat Tengger. Wilayah ini juga merupakan objek wisata yang sangat dirindukan oleh banyak wisatawan lokal dan asing.

Sedangkan komunitas Jawa Panaragan tinggal di Kabupaten Ponorogo. Secara kultural, masyarakat Jawa Panaragan dikenal sangat menghormati tokoh-tokoh formal yang berposisi sebagai pangreh praja, tetapi tokoh informal seperti warok dan ulama juga memiliki status sosial cukup penting di daerah ini. Jenis kesenian di wilayah ini sangat terkenal yaitu Reog Ponorogo. Banyak kesenian yang dikenal di daerah ini, seperti lukisan kaca, tari tayub (tandakan), dan yang sangat terkenal adalah reog Ponorogo.

Itulah Jatim. ”Kue lapis budaya” yang telah menjadikannya beragam. Keragaman simpul-simpul identitas kultural lokal itu memang memperindah kehidupan multikulural di Jatim, namun sekaligus rawan terhadap gesekan satu sama lain jika tak pandai merawatnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here