Jawa Timur Ditimpa Kekeringan, Ratusan Desa Darurat Air Bersih

0
196

Nusantara.news, Surabaya – Puncak musim kemarau masih berlangsung lama. Siklus tahunan ini diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) baru akan berakhir Oktober mendatang. Namun, jutaan warga Jawa Timur terutama di desa-desa sudah mengalami krisis air. Tak sedikit aktivitas perekonomian yang terhenti. Kendati Gubernur Soekarwo sudah instruksikan pengiriman air bersih ke daerah terdampak, namun itu hanya untuk kebutuhan pribadi sehari-hari.

“Saya sudah instruksikan mengirim air bersih ke kabupaten/kota yang terdampak kekeringan agar aktivitas masyarakat tidak terganggu. Terutama air bersih karena sangat penting untuk warga. Selain itu, saya juga berharap setiap kepala daerah yang wilayahnya mengalami kekeringan segera mengirim surat ke pemprov,” terang gubernur kepada media, Rabu (6/9/2017).

Yang patut dicermati dari instruksi Soekarwo, krisis air di setiap musim kemarau sebenarnya sudah bukan barang baru. Artinya, setiap daerah seharusnya sudah punya standar operasi terpadu untuk mengantisipasinya. Terutama di 27 kabupaten yang kerap dilanda krisis air di musim kemarau.

Sebab, dampak kekeringan biasanya berjalan lambat hingga sampai musim penghujan. Salah satu contoh nyata adalah krisis cabai di Indonesia beberapa waktu lalu yang memaksa pemerintah membuka kran impor untuk menutupi kebutuhan nasional. Sangat disayangkan jika penanganan bencana kekeringan yang dilakukan hanya bersifat instan.

Jika tersinergi dengan benar, selain bisa mengurangi ongkos dalam jangka panjang juga dapat memperkuat ketahanan ekonomi Jawa Timur secara tidak langsung. Setidaknya, seperti yang dikatakan Pakde Karwo, pemerintah bisa fokus menanggulangi krisis air di daerah yang tidak memungkinkan dibuat sumur bor, pemasangan pipa atau kawasan terpencil.

Paparan gubernur, hingga awal September 2017 ada 442 desa di 27 kabupaten yang terdampak kekeringan. Namun Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur menilai hanya 201 desa yang perlu disuplai air bersih. Jumlah ini diperkirakan bakal bertambah hingga Oktober nanti. Apalagi berdasarkan Surat BMKG Nomor KT.304/946/MJUD/IX/2017 tertanggal 4 September 2017, tercatat bulan ini merupakan puncak musim kemarau dengan akumulasi curah hujan berkisar antara 0-100 mm. Sedangkan hujan diprediksi baru turun di sebagian kecil kawasan selatan bulan depan.

Jalan Instan Masih Jadi Rujukan

Beberapa daerah memang sudah ada yang berpikir panjang untuk siasati ‘anugerah’ kekeringan yang terjadi. Sayangnya, mayoritas masih bersifat reaktif dan dilakukan ketika bencana sudah di depan mata. Seperti yang dikritisi Ketua DPRD Kabupaten Situbondo, Bashori Sanhaji. “Selama ini setiap musim kemarau, penanganan kekurangan air bersih di Situbondo belum ada langkah strategis dan kami menilai untuk menangani kekurangan air bersih ini masih instan,” katanya beberapa waktu lalu.

Sejauh ini, lanjut dia, pemerintah daerah lewat BPBD, Dinas Sosial dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) hanya mengirim atau mendistribusikan air bersih ke desa-desa yang terkena dampak kekeringan pada musim kemarau. Padahal, katanya, masalah kekurangan air bersih yang terjadi setiap tahun harus menjadi perhatian bersama karena menyangkut pelayanan paling dasar masyarakat.

Data BPBD Jawa Timur, musim kemarau tahun ini daerah terdampak kekeringan yang mengakibatkan krisis lebih luas di banding periode tahun lalu.

“Untuk penanganan kekurangan air bersih tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten saja, tetapi pemerintah desa melalui bantuan dana desa dan alokasi dana desa (ADD/DD) seharusnya masalah kekurangan air menjadi skala prioritas program di desa terdampak kekeringan,” katanya.

Langkah konkrit untuk jangka panjang sebenarnya juga sudah dilakukan. Seperti yang dilakukan Kabupaten Probolinggo dengan membangun dam parit. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) setempat mengatakan, proyek khusus ini untuk mengatasi kekeringan dan kekurangan air di sektor pertanian selama musim kemarau. Tujuannya, meningkatkan indeks pertanaman (IP).

Kepala DKPP Kabupaten Probolinggo Ahmad Hasyim Ashari mengatakan, dam parit (saluran waduk) merupakan sebuah teknologi sederhana untuk mengumpulkan aliran air ke dalam parit (drainase) untuk mengakomodasi volume aliran. “Selain dapat digunakan untuk mengairi tanah pertanian di sekitarnya, juga dapat memperlambat aliran, erosi dan sedimentasi,” katanya.

Proyek yang dibiayai melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2017, akan dilakukan di lima lokasi. Masing-masing dianggarkan sebesar Rp125 juta.  Rp125 juta. Sehingga total pembangunan dam parit yang tersebar di lima lokasi anggarannya mencapai Rp625 juta,” tuturnya.

Dam parit selain diklaim biayanya relatif lebih murah dibanding infrastruktur pengairan lainnya, juga memiliki beberapa keunggulan. Di antaranya dapat menampung air dalam volume besar, tidak menggunakan areal produktif, dapat mengairi lahan cukup luas, dapat menurunkan kecepatan aliran permukaan, berfungsi menyimpan air ke dalam tubuh tanah sehingga mengurangi resiko kekeringan pada musim kemarau.

Apalagi prinsip dam parit sebenarnya sederhana. Yakni menampung limpahan air yang tidak dimanfaatkan secara optimal di musim hujan. Setidaknya, Hasyim menjelaskan jika proyek yang baru dikerjakan di Kabupaten Probolinggo ini bisa menjaga siklus musim tanam padi.

Karena itu, Pemprov Jawa Timur punya pekerjaan rumah untuk mengubah paradigma penanganan bencana. Dari penanganan bersifat reaktif/responsif yang cenderung instan menjadi preventif. Yakni dengan membuka ruang yang lebih luas terhadap kegiatan pengurangan risiko bencana yang berbasis masyarakat.

Langkah ini penting mengingat sesuai dokumen RPJMN Tahun 2015-2019, ada 18 kabupaten/kota di Jawa Timur yang ditetapkan sebagai kawasan aglomerasi ekonomi namun beresiko tinggi terhadap bencana. Artinya, dampak kekeringan yang terjadi seperti ini jelas akan mengganggu stabilisasi ekonomi nasional.

Namun, tidak selamanya bencana kekeringan di Jawa Timur direaksi negatif. Paling tidak, ribuan petani tembakau di sepanjang pantai utara Probolinggo hingga Situbondo ditambah petani garam bisa bersuka cita untuk memetik hasil panen maksimal. Dua komoditi ini memang butuh panas matahari tinggi agar kualitas produksinya bermutu tinggi.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here