Jawa Timur Siaga Banjir dan Longsor

0
174
Sejumlah warga korban banjir Bengawan Solo di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mengungsikan harta bendanya. Bojonegoro menjadi status siaga bencana banjir dan longsor. Wilayah kabupaten Bojonegoro yang rawan terkena banjir bandang sedikitnya ada 7 kecamatan di 14 desa.

Nusantara.news, Jawa Timur – Sejumlah kabupaten di Jawa Timur diterpa bencana longsor dan banjir. Hal ini menyusul tingginya intensitas hujan di wilayah tersebut. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur Sudarmawan mengungkapkan, ada sekitar 20 daerah yang rawan terjadi bencana banjir. Daerah-daerah yang rawan terjadi bencana banjir tersebut adalah daerah-daerah yang dilalui sungai.

“Kalau kita melihat mapping, maka ada 20 kabupaten/kota itu yang levelnya tinggi kalau berbicara banjir. Yang ancaman bencana banjir itu tinggi itu wilayah yang dilewati sungai,” kata Sudarmawan.

Dibeberkan Sudarmawan, daerah-daerah rawan banjir salah satunya yang dilewati aliran Sungai Bengawan Solo. Sungai itu mengalir dari Bojonegoro, Tuban, Ngawi, Lamongan, hingga ke Gresik.

Sementara untuk Kali Brantas yang mengaliri Malang, Jombang, Blitar, dan Tulungagung, juga menyebabkan terjadinya banjir. “Ada lima sungai yang menjadi kewenangan provinsi seperti Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Bondowoso, dan Situbondo. Itu daerah yang potensi ancaman bencana banjirnya tinggi karena dikelilingi oleh laut,” ujar Sudarmawan.

Selain bencana Banjir, lanjutnya, Jatim juga beresiko terhadap 11 jenis bencana lainnya seperti tanah longsor dan angin puting beliung (hidrometerologis) hingga gunung meletus dan gempa bumi (geologis).

Sudarmawan menjelaskan, dampak dari bencana-bencana itu tak hanya menggangu pertumbuhan ekonomi semata. Melainkan juga mengakibatkan terganggunya sistem pendidikan, kesehatan, bahkan berakibat menurunnya daya beli masyarakat.

Meski begitu, saat ini daerah yang ditetapkan status siaga bencana baru Bojonegoro. Sementara daerah-daerah lain masih dilakukan pengecekan kesiapan SDM-nya, pengecekan kesiapan sumber daya peralatan logistiknya, dan dilakukan sosialisasi. Dari sini nantinya dapat disimpulkan daerah mana saja yang layak dikeluarkan legal formal status siaganya.

“Kalau sekarang baru Bojonegoro, itu pun baru siaga bencana belum sampai ke tanggap darurat,” lanjutnya.

Saat ini BPBD Bojonegoro, Jawa Timur telah memberlakukan status siaga bencana banjir, tanah longsor dan angin kencang memasuki awal musim hujan pada 15 November-30 November. Surat penetapan siaga bencana tersebut segera dikirim ke semua kecamatan yang daerahnya rawan bencana banjir, tanah longsor dan angin kencang.

Seperti diketahui, hujan deras di wilayah selatan Bojonegoro empat hari lalu telah mengakibatkan banjir bandang di beberapa desa di kecamatan Sekar dan Dander. Banjir juga merendam jalur transportasi Dander-Bojonegoro.

Banjir bandang itu sendiri berasal dari hutan yang gundul. Air yang tak diserap lagi oleh tanaman hutan langsung mengalir ke sungai yang segera meluap dan menumpahkan isinya ke desa-desa di sekitarnya.

Untuk Kecamatan Dander, desa yang mengalami dampak banjir bandang di antaranya Growok, Sumberarum, dan Kunci. Rata rata rumah warga tergenang air setinggi 25 cm-1 meter. Warga berusaha menyelamatkan diri dan banyak warga yang tidak bisa menyelamatkan harta bendanya yang masih berada di dalam rumah seperti televisi, kulkas, bahkan motor.

“Hujan itu mulai siang dan deras. Mendadak suara gemuruh air dari selatan sangat cepat. Kami langsung keluar rumah,” ujar warga Desa Kunci, Ahmad.

Sedangkan di Kecamatan Sekar, hujan deras yang mengguyur mengakibatkan tanah longsor di Dusun Kalipapak, Desa Sekar,. Longsor itu menimpa sebuah rumah warga bernama Panijan (66). Beruntung tidak ada korban jiwa, pemilik rumah dan keluarga diungsikan sementara ke lokasi yang aman.

Di Desa Bobol, Kecamatan Sekar, banjir merendam setidaknya 12 rumah warga. Ketinggian air mencapai 10 cm. Sementara itu, jalan raya jurusan Dander-Bojonegoro juga mengalami kemacetan akibat derasnya banjir bandang yang terjadi di Desa Growok. Kendaraan roda empat terpaksa melambatkan lajunya karena khawatir tersapu arus dan mogok. Laporan BPBD Bojonegoro, banjir bandang ini terjadi karena curah hujan yang deras.

Meski status kebencanaan di Kabupaten Bojonegoro telah dinaikkan menjadi siaga banjir dan longsor, namun BPBD Bojonegoro menilai bahwa banjir luapan Sungai Bengawan Solo belum begitu mengkhawatirkan.

Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan, BPBD Bojonegoro, Eko Susanto mengatakan, tinggi muka air Sungai Bengawan Solo masih di bawah siaga. Saat ini tinggi muka air di papan duga taman sungai bengawan solo menunjukkan angka 7.20 peilschaal.

“TMA masih rendah dititik 7.20 peilschaal. Untuk siaga satu itu dititik 13.00 peilschaal,” ujarnya.

Menurut Eko Susanto yang perlu diwaspadai saat terjadi hujan adalah banjir bandang dan tanah longsor. Wilayah kabupaten Bojonegoro yang rawan terkena banjir bandang sedikitnya ada 7 kecamatan di 14 desa. Satu desa di Kecamatan Temayang, Gondang dan Kecamatan Sumberrejo.

Dua desa rawan banjir bandang berada di Kecamatan Kepohbaru dan Kasiman, sedangkan di Kecamatan Sekar tiga desa serta empat desa di Kecamatan Malo rawan banjir bandang saat hujan deras. “Kami sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar daerah rawan untuk lebih waspada,” ungkapnya.

Sementara, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bojonegoro, Andik Sudjarwo mengungkapkan, pihaknya kini telah mengajukan peringatan siaga banjir dan tanah longsor ke Bupati, Suyoto. “Sudah kami naikkan surat peringatan siaga banjir dan longsor ke bupati,” ujarnya.

Peringatan siaga banjir dan longsor ini diharapkan juga menjadi atensi bagi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) lain untuk turut serta dalam penanggulangan maupun pelaksanaan penanganan bencana. Peringatan siaga bencana alam tersebut mengantisipasi adanya prediksi dari BMKG yang menyebutkan bahwa bulan ini (November) akan terjadi intensitas hujan yang tinggi.

Saat terjadi hujan deras biasanya bencana yang sering terjadi yakni banjir bandang, tanah longsor maupun angin puting beliung. 

Masyarakat Dihimbau Waspada

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau kepada masyarakat di berbagai daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem seiring peningkatan intensitas hujan. BMKG memproyeksikan curah hujan mulai dirasakan sejak Agustus lalu akan semakin meningkat menjelang pengujung tahun.

BMKG merilis peta prakiraan curah hujan dan daerah potensi banjir. Prakiraan untuk Jawa Timur ini memprediksi banjir pada bulan November dan Desember 2017.

Bagi masyarakat yang beraktivitas di luar rumah, baik pejalan kaki maupun pengguna kendaraan bermotor, harus lebih berhati-hati. Apalagi bila ada hujan disertai angin kencang, masyarakat harus mewaspadai terpaan angin terhadap pohon atau bangunan semi permanen seperti baliho, papan reklame, dan crane.

BMKG saat ini memperkirakan beberapa wilayah di Indonesia diprediksi akan mengalami hujan lebat, angin kencang, hingga hujan badai atau thunderstorm. Indonesia sendiri sudah mulai memasuki awal musim hujan dengan persentase sekitar 76 persen.

Disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, pihaknya telah melakukan pemetaan untuk daerah-daerah yang berpotensi mengalami bencana banjir dan longsor. Menurutnya, BNPB memiliki peta rawan bencana banjir dan longsor. Peta tersebut juga telah dibagikan kepada pemerintah daerah. Masyarakat yang ingin mengetahui bisa mengakses informasi ini di laman BNPB.

“Dengan mengakses dan mendapatkan informasi lebih awal, masyarakat bisa mempersiapkan diri dan tahu apakah di daerah mereka kemungkinan terjadi bencana atau tidak,” ujar Sutopo, Senin (20/11/2017).

Sutopo memastikan, BNPB telah memiliki tata cara penanganan saat banjir dan longsor terjadi. Fokus utama tentu adalah pencarian dan penyelamatan korban. Setelah itu, BNPB juga akan melakukan upaya rehabilitasi, rekonstruksi, dan relokasi setelah melakukan perhitungan kerugian dan kerusakan pascabencana.

Terkait dengan bencana musiman tersebut, saat ini wilayah Jawa Timur telah diterjang banjir dan longsor, bahkan ada yang mengakibatkan korban. Pantauan Nusantara.News, hujan deras telah mengguyur Kota Malang, Minggu (19/11/2017) dan mengakibatkan longsor di sejumlah kawasan.

Beberapa titik longsor itu antara lain di Perumahan Joyogrand Inside A13 yang menewaskan satu nyawa mahasiswi Universitas Brawijaya, saluran air ambrol di Jl Terusan Putra Yudha V RT 03 RW 13 pada Jumat (17/11/2017), dinding penahan dapur rumah di Jl Permadi Kelurahan Polehan yang ambruk Jumat (17/11/2017).

Setelah itu, longsor melanda kawasan Bunulrejo dan menyebabkan pohon bambu ambruk (18/11/2017). Disusul longsornya pelengsengan di kawasan Mergosono, Jalan Kolonel Sugiono 3B (19/11/2017) dan longsornya pelengsengan beserta tembok SMKN 2 Kota Malang (19/11/2017). Tembok sekolah yang mempunyai ketinggian sekitar 3 meter tersebut tiba-tiba longsor sepanjang 15 meter dengan material tanah dan bangunan tembok yang hancur menutup separo jalan yang ada di belakang sekolah.

Banjir juga menerjang Kampung Warna-warni, Jumat (17/11/2017). Sejumlah warga dan wisatawan dibuat khawatir. Akibat banjir yang menerjang kampung mereka, lapangan yang ada di lingkungan setempat tenggelam dan nyaris merembet ke rumah-rumah warga.

Kepala BPBD Kota Malang Hartono mengungkapkan, memang beberapa hari terakhir curah hujan cukup tinggi dan sempat mengakibatkan longsor di banyak tempat maupun banjir. “Karena itu, kami tetap meminta masyarakat untuk tetap waspada mengingat curah hujan masih tinggi. Terlebih lagi di kawasan sungai maupun kawasan yang dekat dengan tebing,” ucapnya.

Di Kota Baru, hujan deras selama lima jam mengakibatkan beberapa bencana di beberapa desa, Sabtu (18/11/2017). Yakni di Kelurahan Temas, Kecamatan Batu dan Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo.

Tanah longsor juga terjadi di Jalan Wukir Gang 10 Kelurahan Temas, Kecamatan Batu. Hujan deras menyebabkan tebing setinggi lima meter longsor menimpa rumah Waini. Kemudian lumpur mengalir ke jalan raya setinggi 10 cm dan membahayakan pengguna jalan raya khususnya kendaraan roda dua.

Diduga akibat hujan deras gorong-gorong tidak mampu memuat luapan air. Sehingga luapan air meluber ke perumahan dan pertanian warga. Akibatnya satu musala dan tiga rumah warga tergenang air. Kemudian area pertanian tanaman salad, jagung, bawang merah milik warga dengan luas kurang lebih 800 meter persegi rusak terendam air.

Di tempat lain terjadi bencana banjir, tepatnya pukul 15.00-19.30 WIB lokasinya di Jalan Wilis Gg.V RT 06 RW 08, Kelurahan Sisir Kecamatan Batu. Kronologinya, hujan deras yang terjadi membuat luapan air hingga 50 centimeter. Yang berimbas empat rumah tergenang air.

Ismu Buana Supervisor Pusdalops PB BPBD Batu mengatakan dalam kurun waktu lima jam ada tiga kejadian bencana. BPBD Kota Batu mengimbau kepada warga Kota Batu, jika terdapat bencana bisa langsung informasikan melalui RT/RW atau pihak desa. “Kalau ada musibah bisa diinformasikan kepada RT/RW atau desa setempat atau langsung menghubungi BPBD Kota Batu, nanti kita pasti akan datang ke lokasi,” ungkap Ismu.

Sementara di Magetan, Jawa Timur, banjir bandang dan tanah longsor mengakibatkan dua orang hilang. Banjir bandang terjadi di Desa Ringinagung, Kecamatan Kota Magetan, Kamis (16/11/2017) sore.

Dari informasi yang dihimpun, 2 orang yang hilang terseret banjir yakni Bustam (17) warga RT 1 RW 4 pelajar kelas 2 SMAN 3 Magetan dan Rega (11) siswa kelas SDN Ringinagung warga RT 4 RW 4. Keduanya terseret arus saat bermain banjir yang mengalir di jalan depan Kantor Dinas Pendidikan Jalan Karyadarma.

Bustam dan Rega, dua korban hilang saat banjir menerjang desanya.

Bustam sebelum terseret banjir korban sempat membantu mengatur arus lalu lintas di jalan waktu hujan-hujan. Menurut penjelasan warga, kalau hujan biasanya anak-anak main hujan. Kebetulan hujan deras, air banjir dari atas pertama Rega yang terbawa arus. Bustam ingin menolong malah ikut terbawa arus.

Jenazah Rega ditemukan di gorong-gorong berjarak sekitar satu kilometer dari lokasi hilangnya korban beberapa jam setelah kejadian. Sedangkan jasad Bustam baru ditemukan empat hari kemudian.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here