Jeff Sessions, Sosok Kontroversial Itu Jadi Jaksa Agung AS

0
68
Foto: Reuters

Nusantara.news, Washington – Kursi Jaksa Agung yang sebelumnya kosong, setelah pejabat Plt. Sally Yates dipecat Presiden A merika Serikat Donald Trump gara-gara menolak perintah eksekutif pelarangan imigran, kini bakal terisi kembali. Penggantinya adalah sosok kontroversial, Jeff Sessions yang dulu pernah tersandung masalah rasisme.

Jefferson Beauregard Sessions terpilih sebagai Jaksa Agung AS seusai pemungutan suara di Kongres, Rabu (8/2) malam waktu setempat. Penghitungan akhir 100 persen senator dari Partai Republik mendukungan Sessions, sebagaimana dilansir The Guardian (9/2).

Saat diumumkan keterpilihan Sessions, senator Demokrat, termasuk Joe Donnelly dari Indiana dan Bill Nelson dari Florida pun ikut bertepuk tangan.

Namun, keterpilihan Sessions menimbulkan kontroversi. Dia hadir pada saat kebijakan larangan imigran ke AS oleh Presiden Donald Trump sedang dalam proses hukum.

Nama Sessions sendiri pernah mencuat dalam pencalonan hakim distrik federal pada tahun 1986 oleh presiden Ronald Reagan, tapi tuduhan rasisme membuat pencalonannya waktu itu ditolak oleh Komite.

Saat pencalonannya di Senat kala itu, seorang anak buahnya bersaksi bahwa Sessions kerap melontarkan kalimat bernada rasis. Ia pun gagal menjadi hakim setelah penolakan terhadapnya meluas.

Tapi kemudian Sessions memenangkan kursi senat AS pada 1996. Dia lalu membantu upaya pengagalan reformasi bidang imigrasi pada tahun 2013.

Setelah terpilih, Kamis, 9 Februari 2017 waktu AS, Gedung Putih akan melantiknya menggantikan Sally Yates. Yates adalah pejabat Jaksa Agung yang dipecat karena tidak mentaati perintah Trump soal larangan masuknya warga dari tujuh negara mayoritas muslim ke AS yang dikenal dengan istilah ‘muslim ban’.

1.100 Profesor Hukum AS Tolak Sessions

Penunjukkan Session memunculkan reaksi negatif di dalam negeri. Pada saat Trump menunjuk dirinya sebagai Jaksa Agung Januari lalu, publik sebetulnya sudah bereaksi untuk menolaknya. Lebih dari 1.100 profesor hukum di seluruh penjuru AS saat itu  mengirimkan surat penolakan atas penunjukkan Sessions.

Surat yang ditujukan kepada Kongres AS tersebut diteken oleh profesor dari 170 fakultas hukum di 48 negara bagian.

“Kami menilai Jeff Sessions tidak akan mempromosikan keadilan dan persamaan hak di Amerika Serikat,” demikian isi surat tersebut.

Sejumlah nama beken turut meneken surat antara lain, Laurence H. Tribe dari Harvard Law School, Geoffrey R. Stone dari University of Chicago Law School, Pamela S. Karlan dari Stanford Law School dan Erwin Chemerinsky dari University of California at Irvine School of Law.

Robin Walker Sterling dari University of Denver Sturm College of Law, salah satu penggagas penolakan menyebut ribuan profesor meneken surat hanya dalam kurun waktu 72 jam.

“Mereka sangat khawatir atas penunjukan Sessions dan bersedia menyatakan penolakan secara terbuka,” kata Sterling kala itu.

Sejumlah keberatan atas penunjukkan Sessions diantaranya dipicu penuntutan terhadap tiga aktivis sipil atas kasus kecurangan pemilu pada 1985 saat ia menjabat sebagai jaksa Alabama. Session juga mendukung pembangunan tembok di perbatasan AS-Meksiko yang menuai kritik aktivis pro imigran.

Tapi dukungan terhadap Session juga tak kalah besar. Lebih dari 100 bekas jaksa yang pernah mengabdi untuk presiden baik dari Republik maupun Demokrat, menyatakan dukungan secara tertulis kepada Sessions.

Posisi Sessions sebagai Jaksa Agung tentu akan mem-back-up penuh kebijakan-kebijakan Trump, termasuk terkait pelarangan imigran dari tujuh negara yang hampir “memicu krisis konstitusi” di AS.

Seperti diketahui, Sessions adalah salah satu pendukung Trump dalam menapaki karir politk ke Gedung Putih. Sebagai loyalis kunci, dia adalah penasihat senior taipan New York ini di bidang politik, keamanan nasional dan kebijakan. Sessions juga menjadi wakil ketua tim transisi Presiden Trump.

Sessions mendukung peraturan untuk membatasi imigrasi dengan alasan melindungi lapangan pekerjaan warga Amerika. Dia juga otak di belekang rencana Trump membangun dinding di sepanjang perbatasan AS-Meksiko.

Di Washington Post pada 2005 Session berpendapat, “Peraturan imigrasi adalah sumber utama rendahnya upah di AS.”

Pemerintah, menurutnya harus difokuskan untuk memperlambat laju pendatang baru sehingga upah dapat naik, kesejahteraan meningkat. [] (berbagai sumber)

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here