HUT RI Ke-73

Jejak Kurir Kemerdekaan Indonesia yang Terlupakan

0
172
Para pemuda pawai menyambut Proklamasi Kemerdekaan RI.

Nusantara.news, Jakarta – Hari ini, 73 tahun yang lalu, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Upacara Proklamasi Kemerdekaan yang diadakan secara sederhana pada 17 Agustus 1945 di halaman belakang rumah Soekarno itu sekaligus menandai dimulainya zaman baru: Indonesia merdeka, lepas dari kolonialisme bangsa asing. Namun pasca pembacaan proklamasi, kebingungan luar biasa segera menyergap sang proklamator: bagaimana menyebarkan berita kemerdekaan ke seluruh pelosok negeri sementara alat komunikasi dan transportasi kala itu amat terbatas?

Penyebaran berita kemerdekaan Indonesia memang dilakukan oleh kantor berita Domei (cikal bakal Radio Republik Indonesia) dan surat kabar pergerakan tetapi jangkauannya masih terbatas. Terlebih penduduk Indonesia ketika itu hanya sedikit yang punya radio, juga tak semua dengan mudah mendapatkan surat kabar. Bagaimana dengan televisi? Televisi di tahun 1945 belum ada. Sebab, hadirnya televisi di Indonesia dimulai pada 24 Agustus 1962 dengan stasiun yang dikelola negara, dan pertama kali mengudara pada ulang tahun ke-17 Kemerdekaan Indonesia.

Jangan membayangkan menyebarkan berita semudah zaman sekarang. Tinggal menekan send melalui ponsel maka semua pesan bisa dibaca sampai pelosok Papua. Atau menggunakan tanda tagar maka bisa dibaca jutaan pengguna media sosial. Tidak 73 tahun lalu ketika kemerdekaan Indonesia baru saja diraih. Kemerdekaan yang dibacakan Bung Karno dari Jakarta hanya bisa menjangkau sebagian kecil wilayah Indonesia, yakni wilayah-wilayah yang kebetulan memiliki radio dan bisa menangkap siaran berita dari RRI.

Tak heran, proklamasi yang dikumandangkan di Jakarta itu terlambat diketahui oleh penduduk di daerah. Bahkan setelah berbulan-bulan, masih banyak wilayah yang belum mendengar bahwa Indonesia sudah merdeka. Oleh karena itu, pemerintah lalu menggunakan cara-cara khusus untuk menyebarluaskan berita Proklamasi Kemerdekaan ini. Salah satunya adalah dengan cara mengutus orang-orang tertentu, pelajar, pemuda atau para pejuang untuk menyebarkan ke pulau-pulau di luar Jawa. Mereka inilah bisa dibilang sebagai “kurir” kemerdekaan Indonesia.

Suka-Duka Para Kurir Kemerdekaan

Dalam buku lawas berjudul Kurir-Kurir Kemerdekaan yang ditulis oleh Gatot Iskandar dkk, disebutkan bahwa dua bulan setelah Proklamasi, berita kemerdekaan Indonesia belum tersebar luas. Akhirnya, Komisaris Jenderal Pol. Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo yang saat itu menjabat Kepala Kepolisian Negara di bawah Kementerian Dalam Negeri diberi tugas mencari pemuda-pemuda yang mau dikirim ke pelosok Indonesia untuk menyebarluaskan berita kemerdekaan alias sebagai kurir Proklamasi kemerdekaan.

Pemerintah beralasan orang-orang yang tinggal di pelosok dusun, di pinggir hutan, di kaki gunung, dan di seberang lautan banyak belum mengetahui Indonesia sudah merdeka.Tidak banyak pemuda-pemuda yang direkrut menjadi kurir kemerdekaan. Ada Gatot Iskandar, anak Kediri yang ikut Perindo atau Pemuda Republik Indonesia. Dari Kediri, Gatot waktu itu baru berumur 15 tahun dan duduk di kelas tiga SMP. Ia ditemani temannya yaitu Umar yang juga asal Kediri.

Selain kedua anak itu, pemerintah juga merekrut Suroso dari Angkatan Muda Kereta Api. Bonggar wakil pemuda dari Yogyakarta. Cik Somad asal Palembang, Syamsudin yang berasal dari Bengkulu, Anwar dan kakak-beradik Azwar dan Rivai asal Minangkabau, juga Hamid yang asli dari Tapanuli.

Sebelum berangkat pemuda-pemuda itu dibagi kelompok yang disebar ke Sumatera. Daerah Lampung jatah Umar dan Cik Somad. Bengkulu diserahkan kepada Syamsudin serta Supardi. Kakak beradik Azwar dan Rivai disertai Anwar mendapatkan tugas ke wilayah Sumatra Barat. Tapanuli ditugaskan kepada Gatot dan Hamid. Sedangkan Suroso dan Bonggar mendapat tugas mendatangi wilayah Sumatera Utara.

Ada pula rombongan-rombongan pembawa berita Proklamasi lainnya, seperti: Rombongan “Moh. Nur 1001” yang berangkat dari pekalongan menuju Sampit, Kalimantan. Rombongan utusan dari Jakarta yang dipimpin oleh Rahadi usman ini bertolak pada tanggal 23 November 1945. Kemudian rombongan “BPRI Pelopor 9” yang dipimpin oleh Achmad Hasan, bertolak dari Panarukan, Jawa Tengah, pada tanggal 18 November 1945, dan yang lainnya lagi, menuju Sumatera, Aceh, dan Maluku.

Rombongan kurir kemerdekaan itu awalnya diberangkatkan menggunakan kapal dari Pasar Ikan. Namun kapal keburu rusak di dekat Tangerang. Akhirnya dengan menumpang kapal nelayan, para pemuda belasan tahun itu dipindahkan ke markas militer di daerah Serang. Kemudian diseberangkan menggunakan kapal Badan Keamanan Rakyat dari Anyer.

Buku Lawas berjudul “Kurir-Kurir Kemerdekaan: Kisah Nyata Para Pemuda Pembawa Berita Proklamasi 1945”, karya Gatot Iskandar dkk.

Gatot Iskandar dalam bukunya juga mengisahkan arahan dari Jakarta bahwa di tempat mereka berhenti pun mereka wajib menyebarkan kemerdekaan. Seperti ketika bus yang ia tumpangi mogok di daerah Bukittinggi. Ia mendapati sambutan hangat dari warga yang mengetahui tugas berat yang harus dilakukan remaja seusianya.

Pada masa itu peralatan angkutan untuk bepergian memang masih sulit. Kendaraan umum seperti bus, kereta api, kapal laut, bisa dianggap langka. Kalau pun ada umumnya tanpa jadwal yang pasti. Apalagi di daerah luar Jawa. Belum lagi kondisi atau keadaan jalan yang rusak. Kendaraan seperti bus atau truk adalah barang yang sudah tua, sehingga kekuatannya sangat menyangsikan.

Karena itu, dapat kita bayangkan betapa sulitnya perjalanan yang ditempuh para utusan pembawa berita Proklamasi ini menuju luar Jawa. Menyeberang laut, menerobos hutan, menyusur sungai, atau kalau naik kendaraan, tentu hanya bis atau truk yang sudah rongsokan.

Kisah pilu juga harus dialami para kurir kemerdekaan. Mulai dari kehabisan ongkos, kelaparan sehingga terpaksa “nimbrung” makan di rumah penduduk, sampai harus menempuh perjalanan yang amat melelahkan. Tak jarang, jika kemalaman di jalan yang jauh dari rumah penduduk, mereka harus tidur seadanya di alam terbuka.

Namun, para kurir kemerdekaan yang umumnya adalah para pelajar yang baru duduk di tingkat SMP atau SMA itu, tak mau menyerah. Menjalankan misi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka. Bahkan mereka merasa malu apabila tak ikut ambil bagian dalam perjuangan di tanah air.

“Benar, Nak? Negara kita sudah merdeka?!” sambung Pak Tua itu seperti tak percaya. Tapi wajahnya mendadak berubah memancar gembira. Ketika Gatot dan temannya Hamid menjawab dengan anggukan kepala, Pak Tua segera mengabarkan kepada para penumpang yang ada di warung-warung.

“Hai, Bung! Bapak-Bapak, Ibu-lbu. Dengar, dengar!” katanya bersemangat. “Ada berita gembira. Negara kita sudah merdeka. Ya, merdeka! Kedua anak muda itu yang bertugas membawa berita itu dan menyebarluaskannya kemari!”

Sayangnya, kisah kepahlawanan mereka tak terungkap dalam panggung sejarah “mainstream”. Para kurir kemerdekaan ini bisa dikatakan pejuang di jalan sunyi, jauh dari pemberitaan dan tanda jasa. Terlupakan dalam hilir mudik peringatan kemerdekaan. Padahal tanpa jejak dan sumbangsih mereka, 17 Agustus boleh jadi tak “semegah” sekarang.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here