Jejak Pangeran Timur dan Masjid Kuno Kuncen Madiun

1
350
Pintu gerbang masuk ke Masjid Kuno Kuncen, Madiun, Jawa Timur

Nusantara.news, Surabaya – “Masjid Kuno Kuncen” atau yang kini disebut sebagai Masjid Nur Hidayatulloh adalah masjid tertua yang menjadi saksi bisu kota Madiun yang terletak di kelurahan Kuncen, kota Madiun, Provinsi Jawa Timur. Tempat ibadah ini mengandung nilai sejarah yang tinggi, selain bangunan serta ornamen yang melekat di Masjid membuktikan betapa banyak cerita yang harus dipahami seiring dengan sejarah panjang peninggalan kerajaan terdahulu dan terbentuknya Madiun.

Investigasi redaksi nusantara.news Jawa Timur selama beberapa hari mencoba menelusuri keberadaan masjid tua ini, yang konon menjadi salah satu bukti nyata penyebaran agama Islam di Madiun. Bukti sejarah lainnya adalah konon munculnya nama Madiun tak lepas dari sejarah panjang keberadaan masjid yang dulu menjadi saksi biru kekuatan Purabaya sebagai daerah yang strategis yang akhirnya jatuh ke tangan Mataram.

Salah satunya adanya Sendang (tempat pemandian) dan pohon besar yang merupakan asal usul Kabupaten/Kotamdya Madiun, serta beberapa makam para bupati dan keberadaan makan Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno atau biasa disebut Ki Ageng Ronggo yang juga memiliki julukan terkenal yaitu Pangeran Timur. Siapa sosok sebenarnya Pangeran Timur yang berhasil memerintah wilayah tersebut pada tahun 1568 – 1586?

Bukti Sejarah Prasasti Makam Pangeran Timur

Pangeran Timur Pemimpin Yang Adil dan Bijaksana
Dari penuturan salah satu juru kunci makam Pangeran Timur yang berada di samping Masjid Kuno Kuncen Bino Widianto saat dikonfirmasi nusantara.news, Senin (31/7/2017) menuturkan, sejarah mencatat tahun 1568 Kesultanan Demak mengalami perpecahan dengan adanya perang saudara yang dimenangkan oleh Mas Karebet atau Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, dengan restu para wali menggantikan kedudukan mertuanya Sultan Trenggono sebagai Sultan.

Namun, Sultan Hadiwijaya tidak mau bertempat tinggal di Demak. Sultan Hadiwijaya kemudian memindahkan pusat pemerintahannya ke Pajang. Putra Sultan Trenggono lainnya atau adik ipar Sultan Hadiwijaya yang bernama Ki Panembahan Ronggo Jumeno oleh Sunan Bonang yang mewakili para wali diangkat menjadi Bupati Madiun pada tanggal 18 Juli 1568.

Pada tahun 1546, Sultan Trenggono yang merupakan Sultan Demak ketiga sekaligus terakhir akhirnya tewas di medan perang dalam usahanya untuk menaklukan daerah Pasuruan, Jawa Timur, dan akhirnya memicu perang saudara antar keturunan daerah Demak memperebutkan kekuasaan tahta kerajaan.

Dan akhirnya Sultan Prawata, putra sulung Sultan Trenggono gugur dalam perebutan tahta. Maka, pewaris utama diperebutkan oleh Pangeran Hadiri dan Pangeran Hadiwijaya, yang keduanya merupakan anak mantu dari Sultan Trgenggono. Namun, atas restu Sunan Kudus akhirya Pangeran Hadiwijaya ditetapkan sebagai Sultan dan memindahkan pusat kerajaan di Pajang.

Bersamaan dengan penobatan Sultan Hadiwijaya, dilantik pula adik ipar sultan, yaitu putra bungsu Sultan Trenggono yang bernama Pangeran Timur sebagai Bupati di Purabaya yang sekarang disebut Kabupaten Madiun. Dalam masa kepemimpinannya, Pangeran Timur menjadi seorang bupati yang bijaksana, adil dan sangat dihormati oleh warganya.

Bahkan, kepemimpinan dari Pangeran Timur sangat disegani oleh para bupati di Jawa Timur. Dalam memerintah, Pangeran Timur biasa disebut dengan Pangeran Ronggo Jumeno atau Panembahan Mediyun. Kata Panembahan sendiri berasal dari kata sembah yang sudah sangat jelas sekali bahwa kedudukan Pangeran Timur lebih tinggi derajatnya dari bupati lain karena masih keturunan Raja Demak Bintoro.

Namun, setelah Pangeran Hadiwijaya mangkat dikarenakan usia, pusat pemerintahan akhirnya berpindah ke kerajaan Mataram yang didirikan oleh putra sulungnya, Panembahan Senopati atau disebut Danang Sutowijoyo. Pria berwajah tampan, kemauan keras dan ahli strategi dalam berperang, dan karena ambisinya yang besar karena dianggap sebagai raja yang mumpuni, Panembahan Senopati bercita-cita untuk menaklukan para bupati di seluruh Jawa di bawah panji-panji Mataram, termasuk Purabaya juga.

Namun, Purabaya di bawah naungan Pangeran Timur dan bersekutu dengan daaerah lain tak mau tunduk dengan Mataram dan memilih untuk bertahan seperti Surabaya, Ponorogo, Pasuruan, Kediri, Kedu, Brebek, Pakis, Ngrowo (Tulungagung), Kertosono, Blitar, Trenggalek, Tulung (Caruban) dan Jogorogo. Perang pun tak terelakan lagi antara Mataran dan sekutu Panembahan Senopati.

Mataram sendiri di bawah kekuasaan Panembahan Senopati sejatinya sudah dua kali menyerang Purabaya, sayang semua usaha gagal dan berakhir kekalahan. Dalam usahanya yang ketiga, Panembahan Senopati yang dikenal dengan juru taktik dan stretegi perang akhirnya membekali seluruh prajuritnya dengan senjata tajam (keris, pedang, tombak, panah) serta memanfaatkan seluruh selirnya.

Panembahan Senopati yang tak ingin kalah untuk ketiga kalinya membagi dua kelompak pasukannya, dan dibantu oleh penasehat ahli perang yaitu Ki Juru Mertani dan Ki Panjawi. Sementara selir atau istri yang dikasihinya diutus untuk berpura-pura tunduk pada pemerintahan Purabaya dan sebagai upeti kepada Pangeran Timur karena Mataram kalah perang dengan Purabaya.

Nah, inilah yang menjadi titik lemah Pangeran Timur dan dimanfaatkan dengan baik oleh Mataram. Di saat semua sekutu Purabaya balik kandang karena merasa lawan sudah kalah dan menyatakan kondisi Purabaya aman, Mataram akhirnya memanfaatkan celah longgarnya pertahanan lawan. Hanya dengan sekali serangan, Purabaya akhirnya bisa dikuasai dengan tanpa pelawanan berarti.

“Meski tak berimbang, Purabaya tetap melakukan perlawanan sekuat tenaga, mereka bertempur dengan gagah berani melawan pasukan inti Mataram. Pertempuran yang sangat sengit itu terjadi di sekitar sendang di dalam kompleks istana. Kabupaten Purabaya akhirnya runtuh pada tahun 1590,” ungkapnya.

Nah, Untuk mengenang peristiwa itu, Panembahan Senopati mengubah nama Purabaya menjadi Mbedi Ayun (Mbedi = mbeji = beji dalam bahasa Jawa berarti sendang. Ayun berarti depan atau dapat juga berarti perang. Mbedi Ayun berarti perang di sekitar sendang). Kata Mbedi Ayun akhirnya mengalami perubahan ucapan menjadi Mbediyun, kemudian berubah lagi menjadi Mediyun dan yang terahir adalah Madiun. Konon perang besar itu berakhir pada hari Jumat Legi tanggal 16 November 1590 Masehi, sekaligus ditandai sebagai penggantian nama Purabaya menjadi Madiun.

Jejak Islam di Masjid Kuno Kuncen Madiun
Bagus Rizki, pemerhati budaya dikonfirmasi saat menemani redaksi nusantara.news jelajah situs bersejarah dan asal usul Madiun mengungkapkan, bahwa Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno atau biasa disebut Ki Ageng Ronggo yang juga memiliki julukan terkenal yaitu Pangeran Timur, adalah seorang adipati yang mendapat utusan dari Sunan Bonang dalam menyebarkan agama Islam.

Lantas, apa hubungannya antara Pangeran Timur dengan Masjid Kuno Kuncen. Seperti apa ceritanya?

Pria yang merupakan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Madiun ini dengan gamblang menceritakan, saat pembangunan agama identik atau tidak lepas dengan pembangunan tempat ibadah yaitu masjid. Dengan adanya bukti sejarah ini semakin menguatkan cerita bahwa keberadaan masjid Kuno Kuncen atau disebut Masjid Nur Hidayatullah bukti Islam sudah masuk ke Madiun. Dan dibangun oleh Pangeran Timur saat memerintah Kabupaten Madiun yang berpusat di sekitar Kelurahan Kuncen, dan berdasarkan bukti sejarah, masjid tersebut berdiri setelah tahun 1575 atau pada akhir abad XVI

Menurutnya, masjid Kuno Kuncen memang sangat sakral bagi warga setempat, tak hanya kegunaannya sebagai tempat beribadah para pemeluk Islam, namun dalam masjid yang sudah berdiri ratusan tahun silam ini konon banyak menorehkan sejarah emas Kerajaan Purabaya. Tak hanya terdapat Sendang yang keramat, namun bangunan masjid tersebut menyimpan kenangan manis sejarah Madiun.

Bagus Rizki saat berziarah ke makam Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno atau biasa disebut Ki Ageng Ronggo yang juga memiliki julukan terkenal yaitu Pangeran Timur

“Masjid Kuno Kuncen yang berada di Kelurahan Kuncen, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Jawa Timur, termasuk masjid tua yang yang ada di sana. Kebanyakan warga Kota dan Kabupaten Madiun dan sekitarnya sangat mengenal masjid tersebut. Meski berusia tua, namun sampai saat ini masih nampak kokoh, artefaknya masih terawat dengan baik, termasuk empat pilar peyangganya dari kayu jati masih kelihatan kokoh tak rusak dimakan usia,” jelasnya.

Ditambahkan, nama Masjid Kunoo Kuncen masih tetap populer, meski pada tahun 1970-an para pengurus masjid menyematkan nama dengan menyebut Masjid Nur Hidayatullah. Pangeran Timur pada 18 Juli 1568 diangkat sebagai bupati Madiun oleh Sunan Bonang yang mewakili para wali. Pangeran Timur kemudian lebih dikenal sebagai Panembahan Ronggo Jumeno memerintah Kabupaten Madiun selama 18 tahun, sejak 1568 hingga 1586. Di tengah masa pemerintahannya, beliau memindahkan pusat pemerintahan dari Kelurahan Sogaten ke wilayah Kuncen, yang dahulu bernama Wonorejo.

Dari situ dapat disimpulkan selama menjalankan pemerintahan, Pangeran Timur membawa misi untuk menyebarkan agama Islam. Hal itu dapat dilihat dari pembangunan pusat pemerintahan yang berada di sekitar masjid. Makam Pangeran Timur sendiri berada di sekitar Masjid Kuno Kuncen. Kini, Masjid Kuno Kuncen menjadi tujuan wisata religi.

Madiun Sebuah Wilayah Peninggalan Mataram
Jika kita telusuri berdasarkan sejarah terbentuknya Madiun, memang tidak bisa dilepaskan dari peninggalan-peninggalan Hindia Belanda dan merupakan salah satu wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram. Madiun memang dikenal sebagai daerah yang sangat strategis sekali, wilayahnya terletak di tengah-tengah perbatasan dengan Kerajaan Kadiri (Daha).

Beberapa peninggalan kadipaten Madiun dapat dilihat di kelurahan Kuncen, di mana terdapat Makam dan masjid kuno Kuncen, yang merupakan masjid tertua di Madiun yang kini disebut Masjid Nur Hidayatullah, dan sisa-sisanya nampak jelas dengan adanya artefak-artefak di sekeliling masjid, serta Sendang (tempat pemandian) keramat, juga terdapat makam Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno, Patih Wonosari dan makam para Bupati Madiun.

Berlanjut ke masa Hindia-Belanda, Madiun adalah suatu Gemeente, sebuah istilah dalam bahasa Belanda dan merupakan sebuah nama pembagian administratif. Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan “kotamadya” atau kota dengan pemerintahan sendiri (Swapraja) karena komunitas Belanda tidak ingin diperintah oleh Bupati (yang adalah orang Jawa). Dan sebagai suatu kota Swapraja, Madiun didirikan 20 Juni 1918, dengan dipimpin pertama kali oleh asisten residen Madiun. Baru sejak 1927 dipimpin oleh seorang walikota.

Sebelumnya, Madiun adalah pusat karisedanan Madiun yang meliputi Magetan, Ngawi dan Ponorogo. Meski secara geografis letaknya masuk dalam lingkup provinsi Jawa Timur, namun, secara budaya, Madiun lebih kental dengan budaya Jawa Tengahan (Mataraman atau Solo – Yogya) mengapa? Karena Madiun adalah sebuah wilayah kekuasaan kerajaan Mataram yang cukup lama.[]

 

1 KOMENTAR

  1. Terima kasih banyak tulisannya. Sebagai orang Madiun saya kurang tahu tentang sejarah Madiun. Jadi dari tulisan ini bisa ikut belajar ^_^.
    Tanpa rasa hormat dan terima kasih, ada sedikit yang agak membingungkan. Di foto prasasti Pangeran Timur tertera angka tahun 1568-1586 dan dikuatkan di alinea 21 bahwa Pangeran Timur memerintah hingga 1586.
    Namun mengapa pada alinea 13-16 dikatakan kalau taktik Pangeran Senopati untuk mengalahkan Pangeran Timur berhasil yang menyebabkan keruntuhan Purabaya tahun 1590. Pada tahun 1590 Pangeran Timur sudah tidak memerintah Kabupaten Purabaya lagi karena prasastinya menyebutkan 1568-1586.
    Demikian, mohon maaf apabila saya salah menangkap tulisannya.
    Terima kasih

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here