Jejak Para Panglima TNI Menuju RI-1

0
157

Nusantara.news, Jakarta – Melacak rekam jejak para Panglima TNI di ranah politik menarik untuk dibincangkan setelah era reformasi bergulir. Ketika Gus Dur menjadi presiden, ia secara mengejutkan menunjuk Laksamana TNI Widodo AS dari matra Angkatan Laut (AL) sebagai Panglima TNI.

Gus Dur seolah mendobrak ‘tradisi’ yang dijalankan Presiden Soeharto. Sebab, selama 32 tahun berkuasa, Soeharto dalam delapan kali pergantian panglima TNI, posisi tersebut selalu diperuntukkan bagi matra Angkatan Darat (AD). Panglima TNI terakhir di masa Orde Baru sekaligus di awal masa reformasi pada pemerintahan Habibie adalah Jenderal TNI Wiranto, juga dari lingkungan AD.

Pun begitu, Gus Dur sepertinya menyadari keputusannya itu berisiko. Tidak ingin mengecewakan TNI AD yang masih memiliki hegemoni dalam dunia perpolitikan nasional, Presiden RI ke-4 itu akhirnya memberikan posisi Wakil Panglima TNI kepada Jenderal Fahrul Razi. Meski akhirnya posisi itu di kemudian hari dihapus. Gus Dur seolah ‘berkompromi’ dengan memberi posisi strategis kepada matra AD.

Ketika Megawati Soekarnoputri berkuasa periode 2001-2004, panglima TNI dijabat Jenderal Endriartono Sutarto. Menjelang akhir masa baktinya, Megawati sempat mengusulkan Jenderal Ryamizard Ryacudu sebagai calon panglima TNI. Sayangnya, keinginan Megawati itu tidak terkabul, lantaran kalah Pilpres 2004.

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang terpilih menjadi presiden RI ke-6, memilih untuk memperpanjang masa pensiun Endriartono hingga dua tahun. Surat Megawati ke DPR perihal penunjukan Ryamizard sebagai panglima TNI yang baru, kemudian ditarik (dibatalkan). Pada 13 Februari 2006, secara resmi Marsekal TNI Djoko Suyanto menjabat sebagai panglima TNI. Kebijakan SBY menunjuk Djoko Suyanto juga merupakan keputusan bersejarah. Pasalnya, untuk pertama kalinya, matra Angkatan Udara (AU) yang memiliki semboyan ‘Swa Bhuwana Paksa’ memegang tongkat komando di TNI.

Selepas Djoko Suyanto pensiun, SBY memilih KSAD Jenderal Djoko Santoso sebagai panglima TNI. Selanjutnya, SBY memilih Laksamana Agus Suhartono untuk menggantikan Djoko Santoso. Pemilihan Laksamana Agus Suhartono menandakan untuk kali kedua, kader TNI AL bisa memegang pucuk pimpinan tertinggi Mabes TNI. Ketika Laksamana Agus Suhartono pensiun, SBY kembali menunjuk kader terbaik TNI AD, yaitu Jenderal Moeldoko sebagai panglima TNI. Kini di era Jokowi, kepemimpinan TNI kembali disematkan ke matra AD, yakni dengan pengangkatan Jenderal Gatot Nurmantyo sebagai Panglima TNI.

Dari daftar para panglima TNI tersebut, jika dilacak karier politik mereka, umumnya mentok sebagai menteri koordinator politik, hukum, dan keamanan. Panglima yang pernah mengisi jabatan ini di antaranya Wiranto, Widodo AS, dan Djoko Suyanto. Memang, Wiranto pernah menjadi calon presiden 2004 dan cawapres 2009, namun kalah. Djoko Suyanto juga hampir ditarik ke puncak pertarungan politik setelah didekatii dua partai besar yakni Demokrat dan PKS untuk maju sebagai capres di Pilpres tahun 2014. Sayangnya, dia menolak dan mengaku tak tertarik bergabung dengan partai politik.

Selebihnya: Agus Suhartono, Endiartono Sutarto, Djoko Santoso, Moeldoko tak bersinar di kancah politik nasional. Endriartono misalnya, meski telah merintis karier politiknya sejak 2012 dengan bergabung di Partai Nasional Demokrat (Nasdem), namanya hingga kini masih redup. Pun Djoko Santoso, dia sebanarnya telah menyatakan kesediaan untuk maju sebagai Capres pada Pilpres 2014. Namun ia belum memiliki parpol yang hendak mengusungnya sebagai kendaraan.

Adapun Moeldoko, pernah mencoba berkontestasi di luar arena politik sebagai calon ketua umum Persatuan Sepokbola Seluruh Indonesia (PSSI) 2016 – 2020. Akan tetapi, dia dikalahkan calon lain yang juga berlatar belakang tentara, yakni Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi. Sedangkan mantan panglima Agus Suhartano, Widodo AS, dan Djoko Santoso, tampaknya kini memilih hengkang dari dunia politik.

Yang menarik, posisi-posisi strategis di politik dari unsur militer justru ditempati oleh prajurit tak pernah menduduki posisi panglima. Sebut saja SBY (presiden ke-6) dengan jabatan terakhir sebagai Kepala Staf Teritorial (Kaster) TNI. Juga Prabowo (Pangkostrad TNI) meski kalah di Pilpres 2009 dan 2014, namun menjadi tokoh politik yang digadang-gadang akan mencalonkan kembali di Pilpres 2019. Selain itu, ada Luhut Pandjaitan, Hendropriyono, Sutiyoso, Sudi Silalahi, Agum Gumelar, TB Hasanuddin, yang di militer tak menyadang jabatan puncak, tetapi di ranah politik kekuasaan menempati kedudukan tinggi dan berpengaruh.

Bagaimana dengan Gatot Nurmantyo? Prospeknya masih terbuka, namun melihat jejak rekam politik para Panglima TNI terdahulu sejak era reformasi, belum ada satupun yang berhasil menduduki RI-1 ataupun RI-2. Tentu saja ini tantangan sekaligus pemicu untuk membalikkan sejarah: eks-Panglima TNI mampu meraih kursi presiden atau wakil presiden pada 2019.

Namun apakah mungkin Jenderal Gatot mampu? Sangat mungkin jika melihat trend dukungan (dari beberapa parpol dan publik) serta peluang politik Gatot setahun terakhir ini. Dia hanya butuh konsistensi merawat ketokohan dan integritasnya. Selebihnya, ia perlu belajar dari kegagalan para pendahulunya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here