Jejak Umar bin Khattab di Jerusalem

1
435

Nusantara.news, Jakarta – Jerusalem adalah sebuah narasi besar. Sebuah cerita besar. Bahkan, Jerusalem tak ada habis-habisnya untuk diceritakan. Ia serupa sumur tanpa dasar yang airnya melimpah. Dan, tak akan habis-habisnya meski saban hari ditimba. Di kota para nabi inilah, tempat orang berlomba melambungkan doa kepada Sang Cinta, namun sekaligus kota yang kerap dijadikan ajang penaklukan dan sumber konflik.

Pun begitu, Jerusalem tetaplah “kota suci”. Kota dengan jejak sejarah tiga agama samawi yang tak pernah sepi para umat untuk beribadah atau ziarah. Dinding Ratapan (Yahudi), Gereja Suci Sepulchre (Kristen), dan Masjid Al-Aqsa (Islam) ialah saksi betapa Jerusalem lokus penting yang mestinya bisa menyatukan ketiga umat dari tiga agama keluarga besar Ibrahim itu. Agar tak bersengketa, dibuatlah Resolusi Majelis Umum PBB No 181/1947, yang menyatakan Jerusalem di bawah kewenangan internasional dengan posisi status quo.

Resolusi itu juga memberikan mandat berdirinya negara merdeka Palestina dan Israel. Kini baru Israel yang merdeka, sementara Palestina terus dalam pendudukan Israel. Dan sekarang, ketegangan di wilayah yang oleh Karen Armstrong disebut “satu kota, tiga iman” itu, masih saja meletup-letup. Bahkan ketegangan makin memanas setelah Presiden Donald Trump secara sepihak menyatakan pengakuan Jerusalem sebagai ibukota Isreal, 6 Desember lalu.

Situs-situs Suci di Jerusalem

Tiga Bangsa Penakluk Jerusalem

Sampai abad ketujuh, setidaknya ada tiga peristiwa besar yang berlangsung di Jerusalem. Pertama, serbuan tentara Persia (Sasanid) pada 614 yang berakibat pembantaian atas 60 ribu orang Kristen di Jerusalem. Lebih dari 30 ribu orang Kristen lainnya dibawa ke Persia untuk menjadi budak. Bangunan peribadatan Kristen di Jerusalem pun ikut diluluhlantakkan.

Kedua, Kaisar Romawi Timur Heraclius kembali menguasai Jerusalem pada 629. Kali ini orang-orang Yahudi menjadi sasaran untuk dibunuh. Sementara itu, Heraclius juga memulihkan kembali hegemoni Dunia Kristen atas Jerusalem sepeninggalan kekuatan Persia di sana. Saat dua peristiwa besar itu berlangsung, Islam mulai mengukuhkan pengaruhnya di Semenanjung Arab, khususnya setelah Penaklukan Makkah terjadi pada 630.

Ketiga, pembebasan Jerusalem oleh umat Islam di bawah kepemimpinan Umar bin Khattab. Pada masa khalifah kedua itu, baik kekaisaran Persia maupun Romawi Timur sedang mengalami degradasi. Akhirnya, pada 20 Agustus 636, tentara Muslim menang melawan pasukan Romawi Timur di Perang Yarmuk. Pada Juli 637, kaum Muslim berhasil mengepung Jerusalem.

Umar bin Khattab, Sang Penakluk Jerusalem

Sebelum penaklukan oleh Umar, pada waktu itu yang bertanggung jawab atas Jerusalem adalah Patriarch Sophronius, perwakilan dari pemerintah Bizantium, serta pemimpin dalam Gereja Kristen. Meskipun banyak tentara Muslim di bawah komando Khalid bin Walid dan Amr bin ‘As mulai mengelilingi kota, Sophronius menolak untuk menyerahkan kota kecuali Khalifah Umar datang untuk menerima penyerahan dirinya.

Mendengar hal itu, datanglah khalifah ke sana. Begitu melihat kedatangan Umar, Sophronius dan kaum Kristen setempat terheran-heran. Pasalnya, sang khalifah tampil dengan busana yang biasa dikenakannya di Madinah: baju dengan bahan kain kasar, selayaknya rakyat miskin. Sontak, pemuka Kristen Jerusalem merasa tersentuh dan terkagum-kagum, betapa pemimpin Muslim itu lebih menghayati ajaran Yesus tentang empati kepada kaum papa ketimbang mereka.

Negosiasi antara Umar dan Sophronius pun dilangsungkan dan terkenal dengan sebutan Umariyya Covenant. Hingga kini, kesepakatan itu masih disimpan di Gereja Suci Sepulchre di Jerusalem.

Dalam kesepakatan, umat Kristen meminta Yahudi dilarang masuk Jerusalem dan Umar menyanggupinya. Umar pun menjamin keamanan dan keselamatan seluruh umat di Jerusalem, apa pun kepercayaan mereka. Semua tempat suci umat Kristen dijaga dan tidak boleh dihancurkan. Setelah kesepakatan, kunci kota Jerusalem resmi diserahkan pada 637 SM. Gerbang Jerusalem pun terbuka dan Khalifah Umar dijamu di Gereja Suci Sepulchre.

Ketika di dalam gereja, Sophronius menawarkan jika Umar ingin berdoa. Umar menolak dengan alasan tidak ingin gereja itu diubah oleh tentara Muslim menjadi masjid hanya karena dirinya pernah berdoa di sana – sehingga mengambil alih salah satu situs yang paling suci milik umat Nasrani. Umar pun memilih berdoa di luar gereja, dan di tempat tersebut akhirnya dibangun sebuah masjid (belakangan disebut Masjid Umar).

Masjid Umar bin Khatab (kiri) di Jerusalem, sebagai simbol penaklukan Jerusalem

Sikap welas asih Umar juga ditunjukkan terhadap kaum Yahudi. Saat dominasi Romawi Timur di Jerusalem, kaum Kristen setempat menjadikan sisa bangunan Kuil Kedua yang dihancurkan Persia sebagai tempat sampah. Ini tentunya menyakiti perasaan kaum Yahudi. Umar kemudian mengambil beberapa batu yang menimbun bekas Kuil Kedua itu. Tindakan Umar ini segera diikuti seluruh pasukan Muslim.

Seperti lazimnya kisah penaklukan kota, Madinah kala itu mengeluarkan maklumat yang menjabarkan hak istimewa mengenai kawasan yang ditaklukkan. Perjanjian ini ditandatangani oleh Khalifah Umar dan Patriark Sophronius, bersama dengan beberapa jenderal dari tentara Muslim.

Dilansir Lost Islamic History, begini petikan perjanjian tersebut:

Bismillahirahmanirahim, Atas nama Tuhan, Yang Maha Penyayang, Yang Maha Pengasih. Inilah jaminan keselamatan yang diberikan kepada orang-orang Yerusalem oleh seorang hamba Allah, Panglima Setia, Umar.

Dia telah memberi jaminan keselamatan bagi mereka, harta benda mereka, gereja mereka, salib mereka, orang sakit dan sehat di kota dan untuk semua ritual yang menjadi milik agama mereka.

Gereja mereka tidak akan dihuni oleh umat Islam dan tidak akan dihancurkan. Baik mereka, maupun tanah tempat mereka berdiri, maupun salib mereka, atau harta benda mereka tidak akan dirusak.

Mereka tidak akan diminta pindah keyakinan secara paksa…”

Saat itu, perjanjian ini adalah salah satu perjanjian yang paling progresif dalam sejarah. Lewat perjanjian tersebut, Umar memberikan kebebasan dalam menjalankan agama bagi orang-orang non-muslim. Di bawah kekuasaan Khalifah Umar Bin Khattab itulah, penduduk kota suci Jerusalem hidup dalam perdamaian.

Lepas penaklukan Yerusalem, Khalifah Umar segera mengatur tentang rencana pembuatan kota penting Islam. Dia membersihkan area Temple Mount, di mana Nabi Muhammad Saw naik ke langit ketujuh. Lalu dia memerintahkan renovasi Masjid al-Aqsha (sekarang).

Sepanjang sisa masa kepemimpinan Khalifah Umar dan berikut pergantian ke pemerintahan Bani Umayyah, Yerusalem menjadi pusat utama ziarah keagamaan dan perdagangan. The Dome of the Rock ditambahkan untuk melengkapi Masjid al-Aqsa di 691. Banyak Masjid dan lembaga publik berdiri di seantero kota.

Penaklukan Yerusalem di bawah pimpinan Khalifah Umar di 637 M jelas menjadi momen penting dalam sejarah kota. Hingga pada tahun 462 dan seterusnya, Yerusalem dikuasai oleh umat Islam, dengan kebebasan beragama bagi kelompok minoritas yang dilindungi sesuai dengan Perjanjian Umar

Sejarah kemudian mencatat, Umarlah sang penakluk Jerusalem yang paling tanpa pertumpahan darah sepanjang sejarah kota itu yang sebelumnya penuh kesedihan dan tragedi.

Jerusalam Selepas Umar bin Khattab

Selepas Umar, dari tahun 1070 Masehi dan seterusnya, penguasa Seljuk Muslim semakin mengancam dunia Kristen. Paus Urbanus II akhirnya menyerukan Perang Salib. Sebanyak 5 Perang Salib terjadi untuk menaklukkan Jerusalem dalam waktu 200 tahun. Pada 1244, bagaimanapun, tentara salib akhirnya kehilangan kendali atas kota dan sekali lagi jatuh di bawah pemerintahan Muslim.

Setelah penaklukan Mesir dan Arab oleh orang Utsmani, Jerusalem menjadi pusat pemerintahan Ottoman pada tahun 1535. Pada dekade pertama pemerintahan Ottoman, kota ini melihat sebuah kebangkitan yang jelas. Dengan kemenangan Inggris atas pasukan Ottoman pada tahun 1917, Palestina jatuh di bawah pemerintahan Inggris. Dan, Jerusalem berpindah ke Inggris tanpa perlawanan.

Setelah Perang Dunia II, Inggris menyerahkan Mandat Palestina yang dipegang mereka. PBB memilih sebuah divisi di negara tersebut untuk membentuk sebuah rumah bagi orang-orang yang selamat dari Holocaust. Beberapa negara Arab kemudian berperang melawan Israel dan menaklukkan Jerusalem. Sampai tahun 1967, kota ini terbagi menjadi Israel barat dan Jordania timur.

Pada tahun 1967, Israel melancarkan Perang Enam Hari melawan Mesir, Jordania, dan Suriah. Israel menguasai Sinai, Jalur Gaza, Tepi Barat, Dataran Tinggi Golan dan Jerusalem Timur. Pasukan payung Israel mendapatkan akses ke Kota Tua dan berdiri di Tembok Ratapan untuk pertama kalinya sejak 1949. Jerusalem Timur tidak secara resmi dianeksasi, namun terintegrasi ke dalam pemerintahan.

Jerusalem sampai sekarang menjadi penghalang bagi perdamaian antara Israel dan Palestina. Pada tahun 1980, Israel mengumumkan seluruh kota itu “ibukota abadi dan tak terpisahkan”. Setelah Jordania menyerahkan klaimnya kepada Tepi Barat dan Jerusalem Timur pada tahun 1988, negara bagian Palestina diproklamirkan. Palestina juga menyatakan Jerusalem sebagai ibukotanya.

Mayoritas Anggota PBB Tolak Keputusan Trump Akui Jerusalem Ibukota Israel

Kini, pasca Trump mengakui Jerusalem sebagai ibukota Israel, OKI menggekar KTT Luar Biasa di Turki yang salah satu hasil kesepakatan perkumpulan negara-negara Islam tersebut mengakui Jerusalem sebagai ibukota Palestina. PBB pun merespons,  dalam sidangnya mayoritas Anggota menolak keputusan sepihak Trump.

Dan, tampaknya sengketa atas tanah Jerusalem, lebih-lebih manuver Israel yang semakin merugikan rakyat Palestina, menambah selaput gelap bagi perdamaian di wilayah tersebut. Sebab itu, dunia harus melawan persekongkolan jahat Israel dan Amerika Serikat.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here