Jelang Akhir Pendaftaran Capres, Jokowi-Prabowo Masih Tersandera

0
114
Prabowo (kiri) dan Jokowi (kanan)

Nusantara.news, Jakarta – Ada perbedaan makna injury time dalam sepak bola dan politik. Akan tetapi, keduanya selalu menghadirkan drama dan kejutan. Injury time dalam sepak bola dimaknai sebagai perpanjangan waktu. Perpanjangan waktu dilakukan sebagai pengganti waktu yang hilang akibat tertundanya permainan berupa pelanggaran-pelanggaran atau peristiwa lain yang mengganggu pertandingan.

Injury time dalam politik bukanlah bermakna waktu tambahan. Politik injury time ialah keputusan yang diambil menjelang akhir batas waktu yang telah ditetapkan. Politik last minute, itulah istilah yang tepat dalam pemilihan kepala daerah maupun presiden.

Pada pilkada serentak 2018, misalnya, meski masa pendaftaran pasangan calon tinggal hitungan hari, yakni mulai 8 hingga 10 Januari, masih banyak partai politik yang belum memutuskan siapa pasangan calon yang hendak diusung. Hanya calon independen yang sudah diketahui jauh hari sebelumnya.

Fenomena politik “mepet” atau last minute pun kembali terjadi dalam pendaftaran pemilihan legislatif 2019. Bahkan hingga batas akhir tanggal 17 Juli, siang, baru 4 dari 16 parpol nasional yang mendaftarkan calegnya ke KPU. Padahal masa pendaftaran sudah dibuka sejak 4 Juli.

Bagaimana dengan Pilpres 2019? Pendaftaran pasangan calon presiden dan wakil presiden dilaksanakan pada 4 – 10 Agustus. Akan tetapi, dalam kurun waktu tinggal dua hari ini, belum satu pun pasangan calon yang mendaftar. Dua kandidat capres yang digadang-gadang, Prabowo dan Jokowi, tampaknya masih saling intip dan saling tunggu. Hitung-hitungan partai politik masih belum tuntas, termasuk menentukan siapa cawapres paling pas. Hal itu pula yang membuat mereka berlomba “paling belakang” mendaftar ke KPU.

Jika kesepakatan di koalisi belum ada titik temu dan cawapres “ideal” tak kunjung muncul di batas akhir pendaftaran, lantas bagaimana? Tampaknya, pemunduran batas waktu pendaftaran capres dan cawapres Pemilu 2019 bakal terjadi. Sebab, jika hanya satu pasangan calon yang memenuhi syarat atau bahkan tak ada yang mendaftar, maka pendaftaran akan diperpanjang hingga empat belas hari.

Apa pentingnya mendaftar di masa injury time?

Pemunduran masa pendaftaran atau setidaknya mendaftar di ujung waktu (last minute) menandakan masing-masing kubu tersandera dan amat bergantung pada siapa pasangan lawan yang dimunculkan. Itu artinya, sejak awal mereka memang tak mengenali kekuatan sendiri, apalagi kekuatan lawan. Di samping kepercayaan diri kedua tim kandidat yang memang payah.

Padahal, jika sudah merasa mantap pada kekuatan calon dan infrastruktur politik, tak ada urgensi menunda pendaftaran. Sejauh ini, kedua tim mengaku akan mendaftar di detik-detik akhir karena bagian dari strategi namun tak jelas strategi untuk apa.

Koalisi petahana Presiden Jokowi yang sesumbar mengklaim mendapatkan dukungan dari sembilan partai, tetapi belum yakin mendeklarasikan pasangan calon usungan. Serupa, koalisi Prabowo yang punya tambahan modal suara besar setelah bergabungnya Partai Demokrat di luar PKS dan mungkin PAN, juga dibayang-bayangi kegalauan tingkat dewa soal cawapres definitif.

Alhasil, rakyat hanya disuguhi tontonan drama kasak-kusuk, deal-deal koalisi, manuver-manuver haus kuasa di panggung monolog para elite politik, ketimbang pesta demokrasi. Akrobat politik semacam itu, hanya menegaskan pendulum demokrasi kita tengah bergerak ke arah perhelatan politik yang elitis-oligarkis-transaksional. Kepentingan dan aspirasi rakyat dinomorduakan. Kriteria pemimpin yang pas untuk Indonesia ke depan dan apakah kandidat mampu memakmurkan rakyat, tak menjadi bahan pertimbangan.

Proses kandidasi capres-cawapres lebih berpatokan pada angka imajiner yang sangat politis seperti presidential threshold. Sumbangan threshold yang didapatkan oleh pasangan calon presiden bukanlah angka riil yang merupakan representasi dari kekuatan partai untuk lima tahun ke depan, juga bukan gambaran sebenarnya suara rakyat. Dan sejatinya, letak kemenangan mereka bukan seberapa banyak partai pendukung, tetapi lebih pada bekerjanya mesin politik serta kepercayaan diri merebut hati rakyat. Jika begitu, apa lagi urgensi mendaftar di masa injury time?

Kontestasi Pilpres 2019 kemungkinan besar mempertemukan kembali Jokowi dan Prabowo sebagaimana Pilpres 2014

Tentu saja, tradisi mendaftar di masa last minute tak baik dalam upaya mewujudkan demokrasi yang mapan. Ia tak bisa banyak berkontribusi untuk menjadikan demokrasi tidak sekadar menjadi pesta politik rakyat, tetapi lebih dari itu, yakni sebagai media menuju meritokrasi. Pemilu hanya bisa melahirkan pemimpin yang baik, yang berkualitas, salah satunya jika pemilih rasional punya gambaran lebih gamblang mengenai sepak terjang para kandidat. Hal serupa berlaku pada pileg, juga Pilpres 2019 mendatang.

Gambaran seperti itu pun hanya bisa didulang jika partai-partai politik sejak jauh-jauh hari mengumumkan calon mereka sehingga rakyat punya lebih banyak waktu untuk menimbang. Tradisi mendaftar dan mengumumkan calon di detik-detik akhir, menandakan partai gagal melakukan fungsi kaderisasi sekaligus hanya memperbanyak ruang-ruang transaksional.

Mengumumkan kandidat sejak awal memang tak terlalu berpengaruh pada pemilih irasional yang biasa memilih bukan atas pertimbangan rekam jejak, kinerja, visi-misi, dan program kandidat. Namun, ia akan sangat berarti untuk pemilih rasional, pemilih yang kritis terhadap calon, pemilih yang amat kita butuhkan agar demokrasi di negeri ini kian berkualitas dari hari ke hari.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here