Jelang Pertemuan, Trump-Netanyahu Kompak Sikapi Iran

0
56
PM Israel Benjamin Netanyahu (foto:AP)

Nusantara.news, Jarussalem/Washington – Presiden Amerika Serikat Donald Trump tampak kompak dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam menyikapi Teheran, menjelang pembicaraan antar keduanya beberapa hari ke depan. Kedua pemimpin tersebut bakal menerapkan kebijakan yang ‘lebih keras’ pasca-negara para Mullah itu melakukan uji coba rudal balistik.

Trump dan Netanyahu dijadwalkan bertemu pada 15 Februari 2017 di Gedung Putih, Wasdington DC, AS. Salah satu pembahasan keduanya adalah mengenai respon terhadap uji coba rudal balistik oleh Iran pekan lalu.

Diperkirakan, strategi AS akan lebih fokus pada peninjauan ulang kesepakatan nuklir Iran dan 6 negara kekuatan dunia pada Juli 2015, kesepakan itu telah dikritisi Trump pada masa kampanyenya sebagai Presiden AS. Trump menganggap kesepakan nuklir tersebut sebagai ‘kesalahan sejarah’ yang harus dirobek.

AS, didukung Israel, juga diperkirakan bakal menekan badan pengawas nuklir PBB (IAEA) soal pengawasan nuklir Iran yang lebih luas lagi, termasuk untuk mengakses situs militer Iran.

Gedung Putih menyatakan, peluncuran rudal bukan pelanggaran langsung dari kesepakatan nuklir tetapi ‘melanggar semangat’ kesepakatan tersebut.

Trump menanggapi dengan menjatuhkan sanksi baru terhadap sejumlah individu dan entitas terkait asal Iran yang terkait dengan uji coba rudal tersebut.

Iran berkelit, menyatakan uji coba rudal balistik tidak terkait nuklir. Pasalnya, resolusi Dewan Keamanan PBB yang mendukung kesepakatan nuklir, hanya melarang Iran dari pengujian rudal yang dirancang dapat membawa hulu ledak nuklir.

Iran sendiri menyangkal jika uji coba rudal tersebut diarahkan kepada pemerintahan baru Trump, pasca-keluarnya pelarangan masuk AS terhadap warga negara Iran.

Namun, tweet Trump beberapa hari lalu memanas, dia menyebut, “Iran bermain api”.

Uji coba rudal Iran pada akhirnya menjadi momentum bagi presiden baru AS (Partai Republik yang konservatif) dan pemimpin Israel (konservatif)—yang dulu berbeda pandangan soal isu Iran dengan presiden AS sebelumnya, Barack Obama. Kedua pemimpin itu seolah menemukan ruang yang sama untuk menahan ambisi militer Iran.

Netanyahu menulis di lama Facebook pekan lalu: “Pada pertemuan yang akan datang saya dengan Presiden Trump di Washington, berniat mengangkat soal perpanjangan sanksi terhadap Iran dalam konteks ini dan dalam konteks lain, agresi Iran.”

Di London, sebelum bertemu PM Inggris Theresa May, Senin (6/2) Netanyahu juga menyerukan kepada Inggris agar mendukung sanksi AS terhadap Iran.

Netanyahu juga menekankan, Washington (AS) harus memimpin sebuah upaya, dengan Israel dan Inggris, mengenai “pengaturan batas yang jelas” bagi Teheran.

Meski begitu, Israel tidak mau membatalkan kesepakatan nuklir, sebagaimana ide Donald Trump. Para pejabat Israel secara pribadi mengakui, tidak akan mendukung upaya ‘merobek’ kesepakatan tersebut. Ketidaksetujuan juga ditegaskan negara-negara lain yang terlibat dalam kesepakatan (Inggris, Perancis, Jerman, Rusia dan Cina), sejak Trump menang Pemilu.

Menurut surat kabar Haaretz Israel, penilaian intelijen Israel yang baru-baru ini disampaikan kepada Netanyahu mengatakan, mencabut kesepakatan nuklir Iran akan menjadi sebuah kesalahan, menyebabkan jurang antara Washington dan negara-negara penandatangan lainnya seperti Rusia dan Cina.

Rusia, yang belakangan mulai dekat dengan AS sejak dipimpin Trump juga menolak pembatalan kesepakatan tersebut. Seorang diplomat Rusia mengatakan, langkah membatalkan kesepakatan nuklir akan mengobarkan ketegangan di Timur Tengah. “Jangan mencoba untuk memperbaiki apa yang tidak rusak,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov.

Tim pemerintahan Donald Trump saat ini tengah membangun strategi baru menyikapi Iran, namun masih pada tahap awal. Sumber menyatakan kepada Reuters, pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan berbagai langkah, termasuk mencari konsep “zero toleransi” untuk setiap pelanggaran Iran. Kebijakan yang tentu saja berbeda dengan pemerintahan Obama yang terkesan ‘lunak’ terhadap Iran.

Menyikapi Presiden AS Donald Trump, dalam pertemuan dengan komandan militer di Teheran, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan, “Tidak ada musuh yang dapat melumpuhkan bangsa Iran.”

“[Trump] mengatakan ‘Anda harus takut padaku’. Tidak ada! Orang-orang Iran akan menanggapi kata-katanya pada 10 Februari, (ulang tahun revolusi Iran) dan akan menunjukkan sikap mereka terhadap ancaman (AS) tersebut,” kata Khamenei sebagaimana dilansir Reuters (7/2). [ ]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here