Jenderal Gatot dan Politik Sungsang Amerika

0
500

Nusantara.news, Jakarta –  Dua kali Amerika Serikat bikin heboh publik Indonesia dalam waktu dua pekan belakangan ini. Pertama, saat Amerika membuka arsip rahasia tentang peristiwa kelam tahun 1965. Kedua, terkait larangan Panglima TNI Jenderal (TNI) Gatot Nurmantyo menjejakkan kaki di bumi Amerika. Mengapa Amerika tidak menyebut alasan? Apa yang dapat dibaca di balik dua peristiwa tersebut?

Proxy War

Dua peristiwa tersebut membentuk dua opini yang berbeda. Pertama, opini yang terbentuk terkait pembukaan arsip rahasia adalah, bahwa pihak yang terlibat dalam sejarah kelam Indonesia tahun 1965 bukan Amerika melalui CIA (Central Intelligence Agency) sebagaimana diopinikan selama ini, melainkan Partai Komunis Cina (PKC).

Kedua, opini yang terbentuk terkait penolakan terhadap Jenderal Gatot menginjakkan kaki di bumi Amerika, adalah bahwa Amerika tidak tertarik dengan seorang Gatot Nurmantyo yang disebut-sebut akan maju dalam Pilpres 2019 mendatang

Dua peristiwa ini terkait dengan Amerika, Cina, Gatot Nurmantyo dan  Indonesia. Apa yang hidup di balik nama-nama ini?

Ada tiga premis yang terlebih dahulu harus dikemukakan dalam hal ini. Premis pertama adalah, bahwa antara Cina dan Amerika tengah terjadi “perang dingin” menjadi pemimpin dunia.

Premis kedua adalah, bahwa pemerintahan Jokowi diasosiasikan sebagai perpanjangan tangan Pemerintah Cina, atau perpanjangan tangan Chinese Overseas, atau proxy (kaki tangan) Cina di Indonesia.

Premis ketiga adalah, bahwa Amerika Serikat bermaksud menanamkan pengaruhnya di Indonesia menyaingi Cina.

Tidak ada bukti konkret terkait tiga premis ini. Yang ada adalah indikator. Terkait persaingan Cina dan Amerika sebagai pemimpin dunia, terlihat dalam sejumlah indikator.

Pertama, pernyataan Presiden Donald Trump tidak lama setelah terpilih menjadi Presiden Amerika. Salah satu pernyataan Trump ketika itu adalah pengakuan terhadap Taiwan, sebuah sikap baru dari Amerika terhadap satu Cina.

Indikator kedua adalah pernyataan pernyataan Presiden China Xi Jinping saat membuka Kongres Nasional Partai Komunis China ke-19 di Beijing, China, Rabu (18/10/2017). Dalam pidatonya Xi Jinping membeberkan visi baru Cina yang lebih sejahtera dan memimpin dunia pada 2050. Xi menegaskan, ingin menjadikan China sebagai negara sosialis berkekuatan penuh untuk memimpin pengaruh di panggung dunia pada 2050.

Pidato Xi Jinping hanya sehari setelah Pusat Deklasifikasi Nasional (NDC) Amerika Serikat (AS) membuka arsip rahasia yang dikeluarkan oleh Kedutaan Besar AS untuk Indonesia, Selasa (17/10/2017).

Dalam arsip itu banyak cerita tentang keterlibatan Cina dalan peristiwa kelam 1965, temasuk hasil pembicaraan Ketua PKI Aidit dan PKC Mao Zedong yang dianggap hoax.

Terkait premis kedua, indikatornya adalah keberadaan Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok sebagai wakil Gubernur DKI mendampingi Jokowi. Indikator lain adalah program Tol Laut Jokowi  yang merupakan bagian dari program OBOR (One Belt and One Road) Cina.

Keberadaan Jokowi sebagai presiden juga setelah diendors oleh 60 taipan kepada Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Jokowi juga pernah mengemukakan akan merujuk rupiah dengan mata uang China Yuan Renminbi. Belum lagi soal reklamasi dan lain sebagainya.

Terkait premis ketiga, yakni Amerika Serikat bermaksud menanamkan pengaruhnya di Indonesia menyaingi Cina, terindikasi dari kunjungan singkat Wakil Presiden Amerika Michael Richard Pence 20 April 2017, sehari setelah Pemilihan Gubernur DKI Jakarta di mana pasangan Ahok-Djarot yang dijagokan oleh Jokowi, dikalahkan oleh pasangan Anies-Sandi.

Dalam keterangan pers bersama dengan Presiden Jokowi, Pence menyampaikan komitmen Amerika Serikat untuk perluasan hubungan perdagangan dengan Pemerintah Indonesia.

“Di bawah pemerintahan Trump, Amerika berupaya mengembangkan perdagangan secara bebas dan adil demi pembukaan lapangan pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi bagi kedua belah pihak,” kata Pence.

Di bagian lain Pence berharap untuk ke depannya, berbagai hambatan perdagangan dari kedua negara segera diselesaikan, sehingga eksportir asal Amerika pun dapat masuk secara penuh ke pasar Indonesia, seperti halnya kemudahan eksportir Indonesia memasarkan produknya ke pasar Amerika.

Ketika itu juga muncul isu heboh terkait tulisan Alan Nairm yang mengatakan, rekan-rekan Donald Trump di Indonesia telah bergabung bersama para tentara dan preman jalanan yang terindikasi berhubungan dengan ISIS dalam sebuah kampanye yang tujuan akhirnya menjatuhkan Presiden Joko Widodo.

Berdasarkan tiga premis ini maka pembukaan arsip rahasia yang memojokkan PKC tersebut, sangat patut diduga sebagai upaya Amerika Serikat untuk menggerus keberadaan Jokowi yang didukung Cina di Indonesia.

Walau dinyatakan hoax, tetapi arsip tentang keterlibatan Meo Zedong dalam peristiwa G 30 S PKI 1965 banyak sedikitnya mengubah opini publik Indonesia tentang aktor di belakang pembunuhan enam jenderal yang menyulut pembunuhan terhadap orang-orang PKI di seluruh Indonesia.

Jenderal Gatot

Kemudian tentang Panglima TNI Jenderal (TNI) Gatot Nurmantyo. Pertanyaannya,  apa salah Panglima TNI Gatot Nurmantyo sehingga dilarang menginjakkan kaki di bumi Amerika. Apa benar Amerika tidak menyukai Jenderal Gatot Nurmantyo?

Gantot memang pernah “menyerang” Amerika. Serangan itu terkait keberadaan marinir Amerika di Darwin Australia. Serangan itu dikemukakan Gatot saat memberikan kuliah umum di Balai Sidang UI, Depok, Jawa Barat, Rabu (16/11/2016).

“Pulau Masela, Pulau Saumlaki, Pulau Selaru (daerah Maluku). Masela dan Darwin (Australia) jaraknya kurang lebih 90 kilometer. Di Darwin ada 1.500 personel militer Amerika dan mau ditingkatkan jadi 2.500. Pertanyaannya ngapain ke situ? Saya sebagai panglima TNI boleh melihat hal itu sebagai ancaman,” ucap Gatot ketika itu.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo juga tersinggung berat dengan tentara Australia yang memplesetkan Pancasila menjadi Pancagila.

“Terlalu menyakitkan sehingga tidak perlu dijelaskan. Tentang tentara yang dulu, Timor Leste, Papua juga harus merdeka dan tentang Pancasila yang diplesetkan jadi Pancagila,” tegas Gatot di Hotel Bidakara, Kamis (5/1/2017).

Pendidikan itu akhirnya diberhentikan. TNI juga menarik seluruh personel TNI yang tengah melakukan kerjasama militer di Australia.

Tetapi dalam konteks proxy war, Jenderal Gatot tidak hanya kritis terhadap Amerika dan sekutunya Australia, tetapi juga kritis terhadap Cina.

Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo angkat bicara soal isu serbuan tenaga kerja asing (TKA) asal Cina serta kabar kembali munculnya PKI di masyarakat. Hal ini ia sampaikan dalam diskusi akhir tahun yang diselenggarakan Forum Komunikasi Alumni IMM di PP Muhammadiyah, Rabu (28/12/2016).

Panglima TNI mengingatkan berbagai ancaman keamanan dari luar dan dalam negeri yang terus mengintai Indonesia. Terkait isu masuknya TKA asal Cina dan bangkitnya komunisme, Jendral Gatot menegaskan informasi itu dibuat untuk mengaburkan permasalahan utama bangsa Indonesia.

“Pemerintah telah mengonfirmasi terkait informasi ini. Dan kalau yang namanya komunis, TNI sudah paham dan tanpa perlu dikomando akan mengantisipasi hal itu,” kata Panglima TNI.

Adalah Jenderal Gatot yang memerintahkan prajurit TNI untuk nonton bareng film Penghianatan G 30 PKI 1965.

Jenderal Gatot juga dianggap sebagai orang memiliki sikap tersendiri terhadap aksi bela Islam dalam aksi 212 dan ikutannya yang menentang Ahok. Ketika itu bertiup isu akan ada kudeta yang akan dilakukan oleh umat Islam. Namun, dalam talkshow di sebuah televisi swasta, Kamis 4 Mei 2017 malam, Jenderal Gatot mengaku tersinggung jika aksi bela Islam dikaitkan dengan upaya kudeta terhadap Pemerintahan Jokowi.  Karena itu pula, sempat muncul isu, Presiden Jokowi akan memecat Jenderal Gatot.

Dari hal-hal di atas, tampak bahwa Gatot kritis terhadap hal-hal yang membayakan Indonesia (terkait keberadaan marinir AS di Darwin) dan terhadap hal-hal yang membahayakan Pancasila (terkait komunis dan penghinaan tentara Australia), bukan kepada suatu negara tertentu.

Pernyataan Gatot yang merasa tersinggung dengan tudingan aksi bela Islam akan melakukan kudeta terhadap pemerintahan Jokowi, seolah-olah Gatot berdiri di pihak gerakan bela Islam yang menentang Ahok, padahal pernyataan itu normatif.

Politik Sungsang Amerika

Dalam konteks proxy war maka kurang relevan memosisikan Gatot sebagai proxy China di Indonesia karena jelas-jelas menentang pelurusan sejarah komunis dan memerintahkan prajurit nonton bareng film penghianatan G 30 PKI.  Demikian juga Pemerintah China tidak relevan memosisikan Gatot sebagai proxy Amerika di Indonesia, karena faktanya Gatot  berani mengkritis marinir Amerika yang ditempatkan di Darwin.

Gatot memang diberitakan dekat dengan kalangan Islam Indonesia. Islam Indonesia, secara umum dikategorikan ada tiga bagian. Satu Islam tradisional direpresentasi oleh NU, Islam modernis direpresentasi Muhammadiyah, dan ada Islam yang saat ini disebut radikal yang direpresentasi oleh Hizbut Tahrir Indonesia atau HTI.

Yang tidak disukai oleh Amerika adalah Islam radikal. Tetapi Gatot dengan tegas mengatakan TNI tak pernah ada kaitan dengan HTI. Gatot memastikan seluruh kabar yang menyebutkan HTI didukung oleh TNI merupakan kebohongan.  “Bohong semuanya,” kata Gatot usai menghadiri pelantikan Gubernur di Istana Negara, Jakarta, 12 Mei 2017.

Mungkin karena itu, Amerika tidak bisa memberikan alasan mengapa melarang Gatot menginjakkan kaki di bumi Amerika.

Politik Indonesia tengah panas. Mahasiswa yang selama ini diam, kini mulai bergerak mengkritis kinerja tiga tahun Jokowi-JK. Dalam aksi itu beberapa mahasiswa ditahan. Hal ini memicu munculnya solidaritas. Tanggal 28 Oktober mendatang dikhabarkan akan ada aksi mahasiswa yang dilakukan secara besar-besaran.

Pada saat bersamaan, pemerintah mencabut status moratorium reklamasi tidak lama setelah pelantikan Anies – Sandi sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang menentang reklamasi.

Di sisi lain, Gatot Nurmantyo disebut-sebut akan maju pada Pilpres 2019 mendatang.

Dalam perspektif ini menjadi pertanyaan besar, mengapa Amerika tiba-tiba melarang Gatot masuk ke Amerika? Apakah itu merupakan sinyal Amerika tidak mendukung Gatot, atau sebaliknya, Amerika memainkan politik sungsang, seolah-olah tidak menyukai tetapi sesungguhnya mendukung Gatot? []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here