Jenderal Moestopo, Pahlawan Nyentrik yang Tak Banyak Diketahui

1
952

Nusantara.news, Jakarta – Bagi kalangan gerilyawan dan pejuang era 1945an, Moestopo adalah legenda. Mayor jenderal yang dikenal nyentrik dan punya ide-ide liar ini, adalah ahli strategi perang. Namanya mulai berkibar saat ia nyaris menghabisi Brigade 49 Tentara Inggris di Surabaya pada 1945 melalui strategi himizhu zensosen (perang rahasia) dan taktik sengaisen (perang kota).

Ada banyak cerita kocak dan “nyeleneh” tentang Moestopo yang penuh kegilaan. Moestopo adalah gambaran tentang sisi lain Revolusi Indonesia. Dialah yang memiliki gagasan untuk mengolesi ujung bambu runcing dengan kotoran kuda agar dapat menimbulkan tetanus pada musuh yang tertusuk. Ia pula yang menganjurkan anak buahnya untuk memakan daging kucing agar mampu melihat dalam gelap.

Pasukan rakyat dengan senjata bambu runcing. Atas ide gila dari Moestopo, ujung bambu runcing itu diolesi dengan kotoran kuda agar dapat menimbulkan tetanus pada musuh

Secara sepihak, Moestopo juga pernah mengangkat dirinya sebagai “Menteri Pertahanan Republik Indonesia” saat berhadapan dengan para petinggi tentara Inggris di Surabaya. Tak hanya itu, dengan dalih taktik perjuangan, Moetopo membentuk pasukan yang anggotanya terdiri para maling dan pelacur. Atas segala ulahnya itu, “jagat pertempuran” ketika itu dibuat geger. Bung Hatta bahkan sempat menyebutnya sebagai “ekstremis”.

Namun di balik kegilaannya, ide-ide dan keberanian Moetopo terbukti membuahkan kemenangan. Namanya tak saja dikenang sebagai pahlawan, tetapi juga menjadi nama sebuah perguruan tinggi swasta yang didirikannya: Universitas Moestopo (Beragama). Mengapa ada embel-embel beragama?

“Sebab ini adalah pelaksanaan Pancasila. Saya melihat, ada universitas yang jelas-jelas mencantumkan nama agama misalnya: Universitas Katolik, Universitas Kristen, Universitas Islam. Tapi, perguruan tinggi swasta untuk semua agama belum ada,” jelas Moestopo.

Pasukan Maling dan Pelacur yang “Memakan Tuannnya”

Barisan Terate yang dipimpin Moestopo suatu waktu diperintahkan Panglima Sudirman untuk menghambat gerakan Jenderal Spoor ke Jogjakarta. Upaya secret war yang mereka lakukan antara lain menyerang Kebumen, Karanganyar dan meledakkan jembatan di antara Kebumen dan Gombong sehigga tank-tank kavaleri Belanda tidak dapat jalan. Barisan Terate yang diantaranya terdiri dari eks-pelacur dan maling ini dibentuk Moestopo untuk menjadi mata-mata, memasang pamflet-pamflet propaganda di pohon-pohon, serta mengungsikan rakyat yang lemah ke Jogjakarta.

Ketika tiba di Kebumen, Moestopo beserta barisan Terate-nya menemukan kota itu sudah dibumihanguskan. Akhirnya di sana mereka hanya bertempur dengan mata-mata pasukan Belanda. Karena makanan habis, maka Moestopo memperbolehkan anak buahnya untuk memakan tikus, anjing, dan kucing. Selanjutnya mereka berkamuflase menjadi rakyat sipil dan melaksanakan upacara sekatenan. Setiap hari selama sebulan, Moestopo menyamar sebagai dukun dengan dikelilingi pisau gobed dan asap kemenyan.

Anak buah Moestopo yang merupakan eks-pelacur ditugaskan untuk menyebarkan gosip jika dukun itu merupakan titisan Diponegoro yang hidup lagi dan membalas dendam terhadap musuhnya (Belanda). Pemimpin-pemimpin rakyat dan ulama-ulama yang mendatangi sang dukun (Moestopo) kemudian diberinya pisau gobed yang disertai mantra untuk digunakan melawan Belanda. “Dengan ini terbentuklah pasukan rakyat yang kompak untuk menyerang Belanda dengan caranya masing-masing,” kenang Moestopo.

Lain waktu, anak buah Moestopo melakukan penyerangan malam hari dengan cara yang cukup unik. Badan mereka dicat hitam serta rambut dibiarkan terurai sehingga para eks-pelacur bagaikan “wewe gombel” dan “kuntilanak”, sedangkan anak-anak eks-maling bagaikan “tuyul”. Pada satu waktu, setelah Moestopo memberi komando dengan suara pistol, mitraliur dibunyikan secara berpindah-pindah, seolah-olah TNI mengepung tangsi Belanda di Karanganyar. Eks-pelacur yang berdandan layaknya kolong wewe dan eks-maling yang bagaikan tuyul berlari kesana kemari sehingga rakyat Karanganyar panik dan Belanda lari ke arah Gombong. Hasilnya, Moestopo berhasil menduduki Karanganyar.

Moestopo (paling kanan) bersama Panglima Besar Soedirman (koleksi Hoesein Rushdy)

Ketika menjadi Komandan Front Bandung Utara, lagi-lagi Moestopo mengandalkan jasa eks-pelacur yang jumlahnya kurang lebih 2000 orang untuk menjadi mata-mata dan mencuri senjata Belanda. Menurutnya, ketika Moestopo bertemu Soekarno dan menceritakan kisah keberadaan 2000 eks-pelacur anak buahnya itu, Soekarno tertawa terbahak-bahak serta langsung mengajak Moestopo makan bersama.

Namun alih-alih mengacaukan keamanan wilayah pendudukan musuh dan melemahkan moril tentara Belanda, kehadiran barisan pelacur ini justru berimbas negatif ke basis gerilyawan. “ Banyak prajurit kita justru yang terjangkit penyakit kotor,”ungkap Moehkardi dalam Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Pisik 1945-1949.

Sama halnya dengan barisan eks-pelacur, barisan eks-maling juga membuat masalah. Memang perlu diakui beberapa operasi dari barisan maling berhasil gemilang di wilayah pendudukan. Dari hasil operasi mereka di markas tentara Belanda, bahkan mendapatkan tambahan perlengkapan, amunisi bahkan senjata. Tapi dasar maling, tidak cukup beroperasi di wilayah pendudukan, wilayah rakyat dan basis gerilyawan sendiri tak lepas dari aksi mereka. Celakanya, koper Moestopo yang berisi baju dan uang juga raib pula.

Moestopo pun melapor kepada komandannya, Letnan Kolonel Soekanda Bratamanggala. Alih-alih terkejut, Soekanda tertawa. Moestopo heran bercampur kesal.

“Lho, kok Overste (Letnan Kolonel) malah ketawa?”

Tawa Soekanda kian kencang. Usai tawanya reda barulah dia bilang kepada Moestopo: “Ya, siapa lagi yang mencuri koper jenderal, kalau bukan anak buah jenderal sendiri. Ini kan namanya senjata makan tuan.”

Beberapa hari kemudian Moestopo menarik BM dari front lalu membubarkannya. Rupanya dia kapok senjata makan tuan.

Terlibat “Keributan” dengan Bung Hatta

Sejarah mencatat bagaimana Moestopo terus berupaya memadukan sikap nyentrik dengan kecerdasan yang ia miliki dalam berbagai tindakannya sebagai seorang tentara. Salah satu “kegilaan” itu ia munculkan kala secara sepihak mengangkat dirinya sebagai “Menteri Pertahanan Republik Indonesia” saat berhadapan dengan para petinggi tentara Inggris di Surabaya. Tentu saja, peristiwa itu menimbulkan sedikit kehebohan.

Wakil Presiden Muhammad Hatta merupakan salah satu manusia yang jengkel dengan ulah Moestopo di Surabaya tersebut. Ia pernah memaki lelaki kelahiran Kediri pada 1913 itu dengan sebutan “ekstremis” karena menolak berunding dengan tentara Inggris. Soal ini dikisahkan oleh Roeslan Abdoelgani dalam Peristiwa 10 November dalam Lukisan.

Ceritanya, dengan mengenakan pakaian serba hitam dan ikat kepala, suatu hari Moestopo menemui Presiden Soekarno di Kegubernuran Jawa Timur . Kepada sang presiden, saat itu Moestopo melaporkan kelicikan-kelicikan Inggris lengkap dengan memperlihatkan bukti-bukti menurut versinya. Di tengah sesi curhat tersebut, tiba-tiba Bung Hatta diiringi para perwira republik dari Jakarta dan beberapa tamu asing masuk ke ruangan. Moestopo lantas menepi ke suatu sudut di ruangan tersebut dan duduk di lantai dalam posisi orang yang tengah bersemedi.

Demi melihat “manusia aneh” di ruangan tersebut, Bung Hatta bertanya kepada Bung Karno. “Siapa orang itu?” bisiknya seraya menunjuk Moestopo.

Begitu dijawab oleh Bung Karno bahwa orang itu adalah Jenderal Major. drg. Moestopo, Hatta tak kuasa lagi menahan rasa kesalnya yang sudah menumpuk kepada orang yang dianggapnya kepala batu dan tak mau mengerti dengan strategi politik pemerintah RI

“Lha, ini dia pemberontaknya, ekstremisnya!” kata Hatta dengan nada sinis.

“Memang, saya ekstremis, saya pemberontak. Bukankah lebih baik menjadi pemberontak, mati dalam perjuangan, daripada dijajah bangsa asing lagi?!” jawab Moestopo seraya menunjuk-nunjuk para perwira dan tamu-tamu asing di sekelilingnya.

Selanjutnya, terjadilah perdebatan seru antara Hatta dengan Moestopo. Bung Karno lantas melerainya dan dengan nada lembut berkata kepada Moestopo: “Sekarang saudara Moestopo saya pensiunkan dan saya angkat menjadi Penasihat Agung Presiden Republik Indonesia di Jakarta.”

“Lalu siapa yang menggantikan saya sebagai Menteri Pertahanan ad interim, penanggung jawab Revolusi Jawa Timur? Siapa?” tanya Moestopo.

“Saya sendiri…” ujar Bung Karno pendek. Moestopo memberi hormat secara militer lantas berbalik dan pulang menuju rumahnya di Gresik. Sejak itu, ia tak pernah terlihat lagi di front Surabaya.

Menjadi Pendidik di Ujung Hayatnya

Moestopo lahir di Ngadiluwih, Kediri, Jawa Timur pada tanggal 13 Juli 1913. Menempuh pendidikan di Sekolah Kedokteran Gigi (STOVIT) di Surabaya. Selanjutnya pada tahun 1937 beliau menjadi asisten dokter gigi dan dari tahun 1941-1942 menjabat menjadi asisten Direktur STOVIT.

Setelah Jepang menjajah Indonesia pada tahun 1942, beliau menjabat sebagai dokter gigi militer bagi Jepang namun kemudian ditangkap oleh Kempeitai sebagai tersangka Indo (orang campuran Eropa dan Indonesia). Setelah lulus beliau diberi komando oleh Pasukan Komando PETA di Sidoarjo dan dipromosikan menjadi Komandan pasukan pribumi melindungi Gresik dan Surabaya.

Berpangkat Jenderal penuh dengan tugas sebagai Kepala BKR (Badan Keamanan Rakyat) Karesidenan Surabaya, penanggung jawab Revolusi Jawa Timur, dan menjabat juga sebagai Menteri Pertahanan adinterim Republik Indonesia (18 Agustus-18 November 1945).

Setelah perang, beliau di pindah ke Jakarta pada tahun 1952 dan menjabat sebagai Kepala Bagian Bedah Rahang di Rumah Sakit Angkatan Darat (sekarang bernama RS Gatot Subroto), kemudian beliau mulai melatih dokter gigi memberi pelatihan dasar dalam kebersihan gizi dan anatomi pada waktu libur di rumahnya.

Prof. Dr. Moestopo, semasa tuanya mendirikan lembaga pendidikan yang kini dikenal dengan Universitas Moestopo

Beliau pun meresmikan kursus kedokteran gigi di rumahnya pada tahun 1957, kemudian berangkat ke Amerika Serikat untuk mengikuti pelatihan. Pada tahun 1958 beliau mendirikan “Pendidikan Dr. Moestopo”, yang terus berkembang menjadi universitas pada 15 Februari 1961 dan di tahun yang sama beliau mendapat gelar Doktor dari Universitas Indonesia. Beliau tutup usia pada tanggal 29 September 1986 dalam usia 73 tahun dan dimakamkan di Pemakaman Cikutra, Bandung. Ia kemudian ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 9 November 2007.[]

1 KOMENTAR

  1. Prof.Dr.Moestopo sebelum mendirikan yang kemudian berupa Universitas Dr.Moestopo, menjadi dekan Fippa Universitas Pajajaran. Dia pribadi yang emosional, yang disuatu waktu ketika menghadapi mahasiswanya yang berunjuk rasa mengancam mereka: “Kalau mbantah terus tak pistol kamu.” Namun dia juga pribadi yang mudah diambil hatinya oleh mahasiswanya.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here