Revolusi Dunia yang Inspiratif (1)

Jepang Matahari dari Asia

0
150

Nusantara.news – Jepang bangkit dari keterpurukan setelah Nagasaki dan Hiroshima dibom atom oleh Amerika Serikat (AS), menutup Perang Dunia II. Sportivitas bangsa Jepang dengan mengaku salah dan menyerah menjadi titik balik dan mengawali keperkasaan bangsa Jepang.

Jauh sebelum kejayaan Cina di Asia maupun di dunia, Jepang telah terlebih dulu sebagai raksasa ekonomi dunia, yaitu sejak awal tahun 1970-an. Dengan menjadikan AS sebagai partner strategi, fokus pada pembangunan ekonomi dan bisnis. Dalam dua dasawarsa, Jepang memperlihatkan “kuku”-nya dalam bidang ekonomi, khususnya di bidang otomotif, elektronik, dan produk-produk consumer goods.

Simbiosis mutualistis menjadikan AS sebagai pasar terbesar produk-produk Jepang. Revolusi Samurai menjadi inspirasi dunia, sehingga berbagai bangsa di dunia mengakui Jepang sebagai bangsa yang besar dengan budaya yang kuat, serta etos kerja yang lebih dari bangsa lain.

Bangsa Indonesia, khususnya mahasiswa sempat khawatir mengenai agresivitas Jepang dalam ekspansi khususnya di bidang otomotif, sehingga terjadi protes mahasiswa yang dikenal dengan peristiwa Malari (Lima Belas Januari) tahun 1974. Ini menjadi protes pertama terhadap rezim Soeharto terkait dengan pembangunan dan modal asing.

Pada tahun 1980-an Jepang menjadi negara terkuat nomor dua secara ekonomi (seperti Cina pada saat ini), menggeser Inggris kala itu. Literatur tentang budaya dan etos kerja Jepang menjadi bacaan utama di dunia pada era 1980-1990-an.

Bangsa yang besar pasti memiliki sejarah besar di masa lalu, serta mempunyai tradisi dan budaya yang kuat, sehingga menjadi dasar kemajuan bagi bangsa Jepang. Keberhasilan Jepang di bidang otomotif mengungguli (secara kuantitatif) penguasaan pasar dunia.

Ambisi Jepang menjadi antiklimaks

Jepang mengalami revolusi setelah keterpurukan akibat bom atom di Nagasaki dan Hiroshima. Hal ini menjadi antiklimaks dari ambisi kebesaran bangsa Jepang yang merasa saudara tua di Asia karena menaklukkan Cina, Korea, dan lain-lain bersekutu dengan Jerman dan Italia. Momentum “ambisi”-nya tidak patah oleh bom atom. Penyerahan Kaisar terhadap Sekutu (Barat) sekaligus kebangkitan AS sebagai motor Yahudi yang bangkit dan sudah direncanakan sejak abad ke-17, momentumnya dengan bom atom yang mematahkan ambisi Jepang secara militeristik. AS menjadi negara terkuat pasca-Perang Dunia II, dan Jepang menjadi salah satu partner strategis di bidang ekonomi.

Roadmap dari kehancuran fisik dan moral, kebangkitan (ekonomi) dan perlambatan ekonomi dunia tahun 2008 dengan bangkrutnya berapa perusahaan raksasa di bidang elektronik (Sony, Panasonic dan Toshiba) serta runtuhnya saham-saham perusahaan Jepang sehingga pertumbuhannya menjadi minus. Perusahaan Jepang terimbas karena depresi ekonomi AS tahun 2008 akibat Subprime Mortgage atau dikenal dengan American Bubble. Ketergantungan ekonomi Jepang terhadap pasar AS sehingga Jepang terseret ke arus resesi dunia.

Semuanya akibat dari proxy war AS, penetrasi budaya hedonistik yang dimulai dari era 1980-an dengan Harajuku syndrome yang membuat generasi muda Jepang hedonis karena sangat kaya dan sejahtera. Budaya Barat diimpor untuk kenikmatan dunia, sehingga anak muda Jepang tercerabut dari nilai-nilai budaya leluhurnya. Hal ini wajar terjadi karena hasil usaha keras orang tua, bangsa Jepang berhasil menjadi negara kaya dan sejahtera. Kemapanan ini berekses terhadap terjadinya perubahan budaya dan etos kerja keras. Kesejahteraan yang lebih membuat generasi mudanya menjadi konsumtif dan hedonis.

Jepang adalah bangsa yang kuat sehingga cepat bisa berubah ketika mengalamami guncangan. Bencana bom atom Nagasaki dan Hiroshima telah mengajarkan mereka betapa pahitnya saat itu, tapi momentum itu menjadi awal kebangkitan Jepang.

Budaya hedonis mengganggu keperkasaan Jepang, budaya kerja keras tidak lagi menjadi dasar bagi generasi muda saat ini. Di sisi lain, untuk produk elektronik produk Korea dan Cina mulai mengganggu penjualan produk-produk Jepang. Korea Selatan muncul sebagai negara yang seolah-olah melakukan “copy-paste (turunan) atas keberhasilan Jepang.

Di pasar elektronik AS, produk Jepang yang semula menjadi produk masif karena dianggap lebih murah, disaingi oleh produk Korea Selatan dan Cina yang jauh lebih murah. Habit (kebiasaan) masyarakat AS yang semula terbiasa dengan produk elektronik AS dan Eropa yang berkualitas, berubah ketika produk elektronik Jepang membanjiri AS pada awal tahun 1970-an.

Namun gaya hidup dalam hal penggunaan produk konsumen elektronik semakin berubah, khususnya dalam hal masa pakai produk yang semula tahan lama (buatan AS dan Eropa), berubah menjadi masa pakai lebih pendek dengan model dan teknologi yang berkembang cepat, yang kemudian dijawab oleh produk-produk Cina yang sangat murah.

Tapi Jepang tidak tergiur berkompetisi di segmen harga, walaupun pangsa pasar berkurang tapi tidak sempat mematikan pasaran produk-produk Jepang. Alkulturasi merupakan hal yang lumrah terjadi di saat globalisasi akibat kemajuan teknologi menjadikan dunia semakin sempit. Jarak geografis tidak menjadi penghalang bagi umat manusia saat ini.

Setelah tahun 2008-an walau masih mengalami perlambatan ekonomi, secara perlahan tapi pasti ekonomi Jepang mengalami pemulihan. Jepang semasa Perang Dunia II ingin menjadi “Saudara Tua” bangsa Asia, bersamaan di Eropa ada diktator Hitler (Jerman) yang juga merasa sebagai ras terdepan  memusuhi bangsa Yahudi yang menguasai dunia. Saat ini Jerman juga memuncak sebagai raksasa ekonomi dan paling sehat di belahan Eropa. Hal ini memicu Inggris untuk keluar dari Uni Eropa (Brexit).

Pada abad ini, Jepang dalam proses penyehatan ekonomi, apapun sudah menjadi bagian dari negara maju (G-20), tinggal bagaimana menempatkan posisi politik bangsanya di percaturan politik dunia. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here