Jepang Tak Mau Ditinggal dalam Perundingan Trump-Kim

0
42
Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe memang sudah menjalin hubungan personal dengan Trump sebelum dia dilantik menjadi Presiden AS/ Foto BBC

Nusantara.news, Jakarta – Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe merasa sebagai pemimpin Asia Timur pertama yang merapat ke Presiden Amerika Serikat (AS) Donald J Trump. Padahal ketika itu para pemimpn dunia lainnya – termasuk sekutu utama AS di Uni Eropa, Inggris, Kanada dan Australia dibuat skeptis dengan gaya kepemimpinan Trump yang jauh berbeda dengan presiden AS sebelumnya.

Intensitas pertemuan Abe dan Trump mungkin lebih banyak ketimbang Trump – Netanyahu, atau Trump – Raja Salman. Tapi belakangan ini Jepang merasa knock-down setelah Trump bersedia menjadwalkan ulang apa yang disebut “konferensi tingkat tinggi” dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Jepang sangat khawatir kepentingannya di Pasifik dan semenanjung Korea diabaikan oleh Trump.

Kekhawatiran Abe

Untuk itu menjelang pertemuan Trump dan Kim yang dijadwalkan ulang pada 12 Juni 2018, di sebuah hotel mewah, Pulau Sentosa, Singapura, Shinzo Abe akan bertemu Trump. Kunjungan Abe ke Washington itu adalah bagian dari gelombang diplomasi menjelang KTT AS-Korut yang belum pernah terjadi sebelumnya. Beberapa rincian agenda pertemuan Trump-Kim yang berpeluang mendapatkan hadiah nobel perdamaian tahun ini, sebelumnya sudah diberitakan oleh pemerintah AS.

Saat bertemu Trump di hari Kamis (7/6) kemarin, terlihat jelas kekhawatiran Jepang atas kondisi keamanan negaranya pasca pertemuan kedua negara yang berseteru sejak 1950-an itu. Isu penculikan warga negara Jepang oleh Korea Utara untuk dijadikan mata-mata akan menjadi hal yang dilupakan. Padahal penyelesaian kasus itu menjadi kepentingan utama Jepang – di samping kepentingan-kepentingan lainnya yang menyangkut hubungan dagang Jepang-AS yang terlihat surut setelah China memasuki gelanggang perdagangan dunia.

Lokasi pertemuan Trump-Kim yang sudah direncanakan

Tanda-tanda pertemuan itu fix dilaksanakan pada tanggal 12 Juni juga terlihat saat Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan – selaku tuan rumah pertemuan – berkunjung ke Pyongyang untuk bertemu dengan mitranya Ri Yong-ho. Artinya, pertemuan memang tidak bisa ditunda lagi. Maka Jepang pun tidak mau “ketinggalan kereta” dan langsung “pesan tiket: ke Washington.

Memang. Sebelum Donald J Trump dinobatkan menjadi Presiden AS, Abe sudah menjalin persahabatan dengannya. Sebut saja, sembilan hari setelah diumumkan sebagai presiden terpilih, Trump menemani Abe naik lift dari Penthouse ke pintu marmer di kantor pemenangannya. Sikap hormat Trump itu sangat berkesan dalam diri Abe – sangat bertolak belakang dengan pemberitaan tentang Trump yang angkuh dan suka membully lawan.

Tujuan awal Abe menempel Trump tak lain persoalan kemitraan lintas pacific (TPP/ Trans Pacific Partnership) yang sejak awal digunakan Jepang dan AS mengucilkan kekuatan perdagangan China di kawasan Pasifik. Ternyata Donald Trump yang kemenangannya banyak didukung oleh pengusaha proteksionis AS tidak begitu tertarik dengan kerja sama multi-lateral, melainkan lebih tertarik dengan perjanjian dagang bilateral.

Misi Abe mengajak Trump untuk sama-sama mengendalikan TPP – sekaligus mengucilkan China – telah gagal dia lakukan. Sejak itu Abe tidak lagi membicarakan TPP. Terlebih saat kampanye pemilu presiden Trump berjanji akan keluar dari TPP – termasuk di dalamnya North America Free Trade Agreement (NAFTA) – yang dianggapnya banyak merugikan kepentingan AS. Sebagai gantinya Trump lebih tertarik menjalin perjanjian bilateral yang dalam pandangan protectionist lebih banyak merugikan negaranya.

Rupanya Abe memandang perjanjian bilateral akan menguntungkan negaranya karena yang diperlukan hanya perlu pendekatan personal yang istimewa dengan presiden negara adi kuasa itu. Dasar pertimbangannya tidak lain saran dari para psikolog setelah mencermati pidato-pidato Trump. Secara psikologis Trump memang akan dikucilkan pemimpin dunia, tapi siapa pun yang merapat kepadanya akan menjadi sekutu utamanya. Dan Abe memilih menempuh jalan ini untuk kepentingan negaranya.

Baca: Ini Kiat Abe Jinakkan Trump yang Ingin Ditiru Merkel

Tapi apa yang didapat Jepang? TPP yang dibidik untuk tetap dalam kendalinya bersama mitra terbesar AS untuk membonsai pengaruh dagang China di pasifik telah lepas. Kini Trump justru terpesona dengan usulan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in untuk menggelar pertemuan dengan seteru bebuyutannya, pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.

Ciptakan Sejarah

Trump yang memiliki naluri bisnis tajam, tampaknya melihat pertemuannya dengan Kim Jong-un akan tercatat dalam buku sejarah AS. Padahal sebelumnya, Trump dan Jong-un saling serang secara pribadi yang membuat khawatir sejumlah negara tentang kemungkinan pecahnya perang di semenanjung korea. Dengan kata lain, kedua pemimpin yang memiliki karakter “trouble-maker” itu bisa menjadi “peace maker” dan layak mendapat penghargaan Nobel.

Baca: Kedua “Trouble Maker” ini Bisa Menjadi “Peace Maker”

Meskipun rencana pertemuan kedua negara sempat dibatalkan sendiri oleh Trump namun terakhir kali pertemuan itu akan berlanjut. Korea Utara sendiri tampaknya lelah melakukan gertak nuklir, sedangkan AS secara geo politik sejak lama berkepentingan menjadikan semenanjung Korea menjadi kawasan bebas nuklir. Apabila Trump berhasil mewujudkannya, maka dia akan tercatat sebagai presiden pertama AS yang berhasil menjinakkan Korea Utara.

Namun mainan baru Donald Trump ini membuat Abe kurang berkenan. Kepentingan yang hendak dia jalin dengan AS – terutama mencakup ekonomi, keamanan dan perdagangan – kemungkinan berada dalam ancaman apabila proyek “denuklirisasi” itu dibarter dengan pengembangan kawasan ekonomi baru di Korea Utara. Untuk itu Abe berkepentingan negaranya tidak boleh dilupakan dalam hal membangun kepentingan bersama di semenanjung korea agar tidak menjadi sekedar urusan kedua Korea, China dan AS.

Memang, kunjungan Abe ke Washington pada hari Kamis lalu itu dibayang-bayangi kekhawatiran Trump akan mengesampingkan kepentingan Jepang. Sebelum berangkat ke Washington, Abe memberikan keterangan kepada pers “akan bertemu Presiden Trump untuk berkoordinasi dalam rangka memajukan perundingannya tentang nuklir dan lebih penting lagi menyangkut masalah korban penculikan.

Kisah penculikan itu terjadi pada dekade 1970-an dan 1980-an ketika pemerintah Korea Utara menculik sejumlah warga negara Jepang untuk membantu mata-matanya dalam bahasa dan adat istiadat Jepang. Pemerintah Korea Utara sendiri mengakui telah menculik 13 orang, namun angka sebenarnya diperkirakan lebih dari itu.

Karena tidak ingin kepentingannya dikacaukan oleh suasana yang erratic – berubah-ubah secara cepat – Abe tampaknya ingin main dulu-duluan dalam merebut perhatian Trump. Tapi Trump tampaknya enggan melepaskan mainan barunya yang lebih memungkinkan lebih dikenang dalam catatan sejarah presiden – atau bahkan dapat melakukan reborn politik setelah mendapatkan cobaan yang luar biasa di tahun pertama kekuasaannya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here