KTT G-20 Hamburg

Jerman-China Geser AS Pimpin Dunia

0
194
Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden China Xi Jinping.

Nusantara.news, Hamburg – Jerman dan China diharapkan mengambil alih peran kepemimpinan dunia yang telah lama dipegang Amerika Serikat pada pertemuan Kelompok 20 (G-20) 8-9 Juli mendatang di Hamburg, Jerman. Kebijakan luar negeri Donald Trump yang cenderung “proteksionis” dianggap cukup bagi sebagian negara anggota G20 untuk menyimpulkan bahwa Amerika kini tidak lagi bersedia memimpin dunia.

Sebagaimana dilaporkan Bloomberg, Senin (3/7) lalu, para diplomat dan pejabat dari negara-negara G-20 mengatakan, mereka ingin negara-negara Eropa dan Asia memimpin isu-isu global pada pertemuan puncak tahunan itu.

Mereka mengharapkan agar China sebagai representasi Asia dan Jerman dari Eropa, membuat “aliansi informal” untuk mengambil peran kepemimpinan di tengah runtuhnya kepercayaan sejumlah negara terhadap AS di bawah kepemimpinan Trump, untuk peran kepemimpinan dunia.

Sejak Presiden Donald Trump memerintah Amerika Serikat akhir 2016 lalu, dia telah mengampanyekan “America First” sebuah frasa yang diartikan oleh negara-negara mitra sebagai “proteksionis” atau bahkan “isolasionis”. Lebih-lebih, Trump berjanji untuk menghentikan hubungan kerja sama politik dan ekonomi yang menurutnya tidak adil.

Trump sudah menyatakan mundur dari Tran-Pasific Partnership (TPP), sebuah kerja sama multilateral negara-negara pasifik, mengancam meninggalkan Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA). Trump juga “menurunkan” komitmen AS terhadap pakta pertahanan NATO. Terakhir, dia memutuskan mundur dari kesepakatan iklim Paris yang ditandatangani pada 1995, padahal awalnya AS sebagai pemimpin upaya pencegahan pemanasan global itu.

Kecemasan Trump terhadap institusi dan kesepakatan internasional ditunjukkan pada bulan Mei lalu, yaitu pada saat dia melakukan lawatan luar negeri pertamanya sebagai presiden ke Timur Tengah dan Eropa. Dalam kunjungannya ke Brussel, Trump secara terbuka menyalahkan anggota NATO yang belum juga menaikkan anggaran pertahanannya hingga mencapai 2% dari GDP masing-masing negara, sesuai komitmen beberapa tahun sebelumnya. Dalam pidato di Brussel, Trump sama sekali tidak menunjukkan komitmen yang kuat untuk NATO, khususnya mengenai Pasal 5, yang menyatakan bahwa “Serangan terhadap salah satu anggota NATO berarti serangan terhadap semua anggota.”

Tidak adanya komitmen eksplisit dari presiden AS itu terhadap Pasal 5 membuat sejumlah negara anggota NATO, terutama Jerman, kecewa. Sebab itu, Kanselir Jerman Angela Merkel sempat menghimbau negara-negara Eropa agar tidak lagi tergantung dengan AS. “Inilah saatnya Eropa berdiri di atas kaki sendiri,” begitu kira-kira kata Merkel.

Hasil survei

Menurut hasil survei Pew Research Center terbaru, untuk mengatasi memimpin dunia secara benar, penduduk dari sebagian besar anggota negara-negara G-20 ternyata lebih mempercayai Merkel ketimbang Trump.

Pew Research Center adalah lembaga independen berbasis di Amerika Serikat yang aktif menginformasikan kepada masyarakat dunia tentang isu, sikap dan tren terkait dengan Amerika Serikat dan dunia.

Menurut survei lembaga itu, di seluruh negara-negara G-20, orang lebih memilih Merkel daripada Trump untuk memimpin masalah global. Menurut survei tersebut, yang menanyakan sikap di 37 negara, termasuk 17 dari 19 anggota G-20. Hanya di dua negara G-20 yang disurvei, yaitu India dan Rusia, penduduknya secara substansial lebih mempercayai Trump ketimbang Merkel terkait penyelesaian masalah-masalah dunia.

Di tujuh negara G-20: Jerman, Prancis, Korea Selatan, Inggris, Kanada, Jepang dan Australia, dua per tiga lebih masyarakatnya mengatakan mereka lebih percaya pada Merkel ketimbang Trump.

Sementara, sekitar 4 hingga 10 persen lebih besar kepercayaan masyarakat kepada Merkel ketimbang Trump di Italia, Brasil dan Meksiko. Survei ini yang dilakukan pada antara bulan Februari hingga Maret, dan tidak dilakukan di dua negara G20, yaitu China dan Arab Saudi.

Menariknya lagi, di Amerika Serikat sendiri, lebih banyak orang justru percaya dengan Merkel ketimbang pemimpin mereka sendiri (56% sampai 46%). Namun demikian, ada perpecahan partisan yang tajam di AS mengenai pertanyaan ini. Demokrat mempercayai Merkel 64%, sementara kepada Trump hanya 16%. Sementara Partai Republik kebalikannya, kepercayaan kepada Trump 89%, dan kepada kanselir Jerman itu 50%.

Hanya ada beberapa negara G-20 dimana Merkel tidak memiliki keunggulan tentang kepercayaan untuk memimpin masalah dunia. Warga Turki relatif sedikit mempercayai kedua pemimpin tersebut. Di India, meski orang lebih percaya Trump daripada Merkel tapi 63% tidak memiliki pendapat tentang pemimpin Jerman itu. Sementara di Rusia, 53% percaya dengan Trump dibanding Merkel (31%).

Tapi ketika ditanyakan mengenai dua isu utama yang akan dibahas pada KTT G-20: tentang perdagangan dan perubahan iklim, kebanyakan orang di negara-negara anggota G-20 mengambil sikap yang bertentangan dengan kebijakan Trump.

Misalnya, atas keinginan Trump menarik diri dari perjanjian perdagangan internasional seperti TPP, ada ketidaksetujuan yang luas di 17 negara G-20 yang termasuk dalam survei tersebut. Di AS, hanya 38% menyetujui kebijakan tersebut, meskipun Partai Republik lebih cenderung menyetujui (66%) daripada Demokrat (17%).

Di Prancis, Jerman, Korea Selatan dan Meksiko, delapan dari sepuluh atau lebih warganya tidak setuju AS keluar dari perjanjian perdagangan ini. Sekitar setengah dari warga Rusia (49%) tidak setuju, dan  28% yang lainnya menyetujui.

Perubahan iklim, khususnya kesepakatan iklim Paris, juga akan menjadi agenda dalam KTT G-20. Meski survei dilakukan sebelum Trump mengumumkan bahwa AS akan meninggalkan kesepakatan itu, kebanyakan orang di negara-negara anggota G-20 mengatakan, mereka tidak setuju rencana Trump itu.

Ketidaksetujuan terkuat ada di Jerman, dimana 93% tidak menyetujui rencana AS meninggalkan kesepakatan iklim. Ketidaksetujuan juga menguat di Eropa Barat, Asia Timur dan Amerika Latin. Di AS sendiri, 67% menolak rencana Trump meninggalkan kesepakatan perubahan iklim, meskipun lagi-lagi, Demokrat menyatakan lebih banyak ketidaksetujuannya terhadap kebijakan ini (88%) daripada Partai Republik (34%).

Di India, negara dengan emisi karbon dioksida terbesar keempat setelah China, Amerika Serikat dan Uni Eropa, 32% warganya menyetujui Trump menarik kesepakatan iklim, namun 25% tidak menyetujui dan sebagian besar (43%) tidak berpendapat.

Presiden Trump sendiri telah dijadwalkan untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) negara-negara G20 di Hamburg Jerman tanggal 8-9 Juli 2017.

Trump sebagaimana dilansir CNN, telah berbicara lewat sambungan telepon dengan Kanselir Jerman Angela Merkel dan Perdana Menteri Italia Paolo Gentiloni terkait kedatangannya di KTT tersebut. Rencananya, Trump akan bertemu Kanselir Merkel pada Kamis malam. Selain Merkel, orang penting yang akan ditemui secara khusus oleh Trump di Jerman adalah Vladimir Putin, presiden Rusia. Ini adalah pertemuan langsung pertama kedua pemimpin itu sejak Trump menjabat presiden.

G-20 atau Kelompok 20 adalah kelompok 19 negara dengan perekonomian besar di dunia ditambah Uni Eropa. Nama resmi kelompok ini adalah “The Group of Twenty (G-20) Finance Ministers and Central Bank Governors” atau Kelompok Duapuluh Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral. Kelompok ini dibentuk tahun 1999 sebagai forum yang secara sistematis menghimpun kekuatan-kekuatan ekonomi maju dan berkembang untuk membahas isu-isu penting perekonomian dunia. Pertemuan perdana G-20 berlangsung di Berlin tanggal 15-16 Desember 1999 dengan tuan rumah menteri keuangan Jerman dan Kanada. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here