Kondisi Kinerja Maskapai Lokal Rerata Sedang Sakit

Jika Maskapai Asing Masuk, Maskapai Lokal Bisa Collapse

0
245
China Airlines China yang berminat menggarap rute domestik di Indonesia. Kalau sampai maskapai asing masuk menggarap rute domestik, dikhawatirkan Grup Garuda dan Grup Lion menjadi collapse.

Nusantara.news, Jakarat – Niatan Presiden Jokowi untuk menghadirkan maskapai asiing menyusul tingginya tarif tiket pesawat berbuntut panjang. Sebab kalau Presiden Jokowi merealisasikan rencananya itu, maka taruhannya adalah kelanjutan bisnis Grup Garuda dan Grup Lion akan terancam. Benarkah?

Kalau kita tarik ke belakang, sebenarnya kenaikan tarif tiket pesawat yang luar biasa mahal, tidak melanggar undang-undang (UU) maupun peraturan Kementerian Perhubungan. Harga tiket yang sekarang dianggap malah masih dalam range batas atas yang ditetapkan Kementerian Perhubungan. Hanya memang harga itu nyaris nempel ke batas atas yang diperkenankan.

Masalahnya, di masa lalu masing-masing maskapai domestik menerapkan low cost carrier (LCC), berlomba-lomba menerapkan harga tiket yang murah. Dan ini pun tidak melanggar UU dan perataruan Kementerian Perhubungan, harga murah itu masih dalam range batas bawah, hanya saja nyaris nempel ke harga termurah.

Nah, kenaikan harga yang ekstrim dari nyaris nempel ke batas bawah hingga ke nyaris nempel ke batas atas inilah menyebabkan tarif tiket seperti naik ekstrim. Bayangkan dulu untuk tujuan Jakarta-Malang, Jakarta-Surabaya atau Jakarta-Medan bisa terbang dengan tarif Rp300 ribuan. Sekarang ini minimal Rp1,5 juta atau naik hampir lima kali lipat.

Banyak alasan mengapa maskapai domestik terperangkap dalam pendulum tarif tiket murah semurah-murahnya menjadi tarif tiket mahal semahal-mahalnya. Mulai dari kenaikan harga minyak dunia mencapai US$80 per barel sehingga avtur pun ikut meroket. Sampai pada pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus level Rp15.000.

Lalu apa yang menyebabkan maskapai domestik melakukan itu? Apakah ingin mengejar marjin laba sebesar-besarnya? Atau ingin mengejar revenue sebesar-besarnya guna membayar utang pembelian pesawat dimasa lalu? Atau justru maskapai domestik tengah menutup lubang menganga dimasa LCC dengan menaikkan tarif tiket setinggi-tingginya.

Belum lagi dijawab semua pertanyaan-pertanyaan di atas, Presiden Jokowi mewacanakan untuk mengundang maskapai asing untuk membuat tarif tiket domestik menjadi lebih murah. Tentu saja Presiden punya alasan, karena Kementerian Perhubungan sudah mencoba membujuk industri jasa penerbangan untuk menurunkan tarif tiket. Sampai-sampai Menko Perekonomian ikut turun gunung untuk mengatur agar tarif tiket lebih murah, tapi seperti tidak di gubris oleh industri jasa penerbangan.

Itu sebabnya Presiden Jokowi, seperti agak kesal, mengancam akan mengundang maskapai asing untuk menggarap rute domestik. Sampai di sinilah persoalan itu dimulai. Apalagi ada 28 maskapai penerbangan asal China sudah menyampaikan minat untuk berinvestasi di industri jasa penerbangan. Dengan sendirinya maka tarif tiket yang mahal itu akan turun menurut mekanisme pasar.

Di sinilah kita perlu menengok apakah Grup Garuda dan Grup Lion Air sudah siap bersaing? Jangan-jangan ketika maskapai penerbangan asing masuk, Grup Garuda dan Grup Lion langsung gulung tikar, alias collapse? Situasi ini juga tentu tak diinginkan Jokowi, apalagi para penumpang pesawat terbang sama sekali tak menghendaki.

Apalagi Dirjen Perhubungan Udara Kemenhuub Polana B. Pramesti mengungkapkan banyak maskapai penerbangan yang beroperasi di Indonesia yang mengalami kerugian. Nyaris tak ada maskapai di Indonesia yang membukukan laba bersih selama 2018, ini menunjukkan industri jasa penerbangan sedang tidak sehat. Bagaimana mungkin industri yang sedang sakit diintervensi oleh maskapai asing, bisa dipastikan akan collapse.

Masyarakat tentu saja akan mengejar maskapai yang mampu menawarkan tarif yang lebih murah, meskipun itu maskapai asing. Bagi masyarakat harga tiket yang terjangkau menjadi penyemangat untuk bepergian ke luar kota. Dampak lanjutannya tentu bisnis yang terkait dengan inudstri jasa penerbangan juga akan bergairah kembali, seperti industri pariwisata, industri logistik, industri rumahan yang memproduksi handycrraft dan lainnya tentu akan ikut bergairah.

Saat ini industir-industri tersebut di atas mengalami penurunan omzet hingga 50% gegara tarif tiket naik sangat mahal. Hal ini dipicu oleh menurunnya jumlah penumpang pesawat antara 20% hingga 30%, semua gegara tingginya tarif pesawat terbang.

Itu sebabnya benang kusut tingginya tiket pesawat ini harus diurai. Jangan gegara tiket mahal akhirnya kita mendatangkan maskapai asing yang tentu saja akan menguntungkan maskapai asing tersebut. Apalagi kita juga perlu menegok aturan internasional soal boleh tidaknya maskapai asing menerbangi rute domestik negara lain.

Pengamat penerbangan Alvin Lie menyatakan, undang-undang melarang maskapai asing melayani rute penerbangan domestik. Di negara manapun tidak ada maskapai asing yang melayani penerbangan domestik.

Menurut dia wacana ini bukan solusi untuk menyelesaikan persoalan penerbangan domestik, terutama terkait mahalnya harga tiket pesawat enam bulan terakhir ini. Kalau pemerintah tidak puas atau kecewa terhadap kondisi transportasi udara saat ini, seharusnya langkah yang diambil adalah introspeksi dan berbenah, bukan mengundang pihak luar untuk masuk. 

Sebenarnya kunci persoalan tarif tiket mahal ini ada pada Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Kalau saja Budi mau mem-benchmarking harga tiket maskapai domestik dengan harga tiket domestik di regional kemudian menarik rerata harga tiket per mil, maka setidaknya ia dapat membuat patokan batas bawah dan batas atas yang lebih rasional.

Dengan demikian maka selisih antara tarif maskapai domestik dengan maskapai regional tidak terlalu jomplang. Tapi karena sang Menhub tak mampu menyelesaikan persoalan tarif–tentu bukan karena kapasitasnya, tapi lebih karena tarik menarik kedekatan orang-orang di indstri jasa penerbangan dengan Presiden—maka wajar jika persoalannya menjadi rumit.

Semoga ada exit policy yang bijak dari sengkarut perang tarif yang tinggi dari maskapai domestik ini.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here