Jika Sudah Dilabeli, Anda Dijamin Tak Lagi Kenali Kerajinan Kulit Magetan

0
533
Presiden SBY didampingi Ibu Ani Yudhoyono saat berkunjung ke Magetan untuk melihat kerajinan sepatu kulit.

Nusantara.news, Magetan – Beberapa waktu lalu calon Gubernur Jawa Timur Dr Nurhayati Assegaf terperana melihat sepatu kulit di salah satu etalase di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Awalnya dia mengira sepatu berbahan kulit model Eropa itu berasal dari Italia. Namun saat dijelaskan, Nuhayati makin kaget. Ternyata sepatu-sepatu itu dibuat oleh pengrajin Magetan. Sejak saat itu Nurhayati mengaku makin cinta dengan produk-produk Indonesia.

“Terus terang saya sangat bangga dengan perkembangan industri kecil khususnya kulit ini di zaman kepemimpinan Pakde Karwo. Bangga luar biasa. Bayangkan, sepatu yang saya pakai ini buatan Magetan. Selama ini oleh orang-orang Eropa dipikir buatan Italia,” kata Anggota DPR RI Komisi I dari Fraksi Partai Demokrat ini saat berkunjung ke Magetan.

Nurhayati tidak bisa mengatakan sepatu buatan Magetan sebagai barang KW alias tiruan. Sebab, sepatu yang dikenakan tidak memiliki branded. Pembuatnya hanya menaruh inisial atau kode saja. Mungkin juga itu kode toko pengrajin. Yang jelas diakui Nurhayati, kualitas handmade berbahan kulit asal Magetan sangat bagus. Enak dan nyaman dipakai. Tidak kalah dengan buatan Eropa.

Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen (Inter-Parliamentary Union) ini mengaku kerap berpergian ke luar negeri. Namun bagi dia, tidak ada yang menarik dari Eropa terutama dalam pembuatan handmade seperti sepatu, tas, dompet dan lain-lain. Sebaliknya dia justru bangga setiap bepergian ke luar negeri, selalu mengenakan sepatu buatan lokal.

“Ini serius, saya tidak bohong. Waktu di Dusseldorf Jerman, ada orang tanya sepatu saya buatan mana. Saya jawab ini sepatu buatan Indonesia, Magetan. Tapi dikiranya buatan Italia. Kita patut bangga lah dengan produk bangsa sendiri,” kata Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat ini.

Kabupaten Magetan sudah lama dikenal sebagai penghasil kerajinan kulit. Kerajinan Kulit Magetan sudah terkenal memiliki kualitas dan keawetan yang sangat baik namun dengan harga yang relatif terjangkau dibandingkan produk kulit dari daerah lain.

Industri kerajinan kulit Magetan sebenarnya sudah melalui sejarah panjang. Industri penyamakan kulit di Kabupaten Magetan sudah ada sejak tahun 1830. Dipicu berakhirnya Perang Diponegoro, para pengikut setia Pangeran Diponegoro yang tersebar di daerah timur sampai ke Magetan memulai usaha penyamakan kulit.

Pada awalnya mereka membuat kerajinan kulit untuk perlengkapan berkuda dan berperang. Namun lama kelamaan usaha tersebut semakin berkembang, pernah sempat terhenti sementara pada masa pendudukan Jepang akan tetapi mulai bergeliat kembali setelah kemerdekaan Indonesia.

Setelah masa kemerdekaan, para perajin kulit di Magetan mulai berani berkreasi dengan aneka model kerajinan kulit seperti Sepatu Kulit dan Sandal Kulit. Tercatat periode tahun 1950-1960 an adalah masa-masa keemasan Industri Kerajinan Kulit Magetan. Namun sangat disayangkan, pada tahun 1970-an industri kulit Magetan mengalami penurunan signifikan karena dipicu oleh semakin luasnya penggunaan barang berbahan dasar plastik serta kebijakan pemerintah pada saat itu yang memberi kebebasan ekspor kulit mentah seluas-luasnya. Hal ini berdampak pada industri kerajinan kulit dalam negeri yang semakin tidak berkembang.

Ian Kurima (32), pengrajin kulit mengatakan, untuk membuat produk-produk kulit berkualitas, Magetan adalah jagonya. “Dijamin Anda tidak akan bisa mengenali produk Magetan jika sudah diberi label,” terang dia.

Sepatu kulit Oxford Magetan. Produknya sekaliber merek-merek luar negeri

Sebut saja sepatu buatan Louis Vuitton. Sepatu dengan logo LV ini adalah merek terkenal di dunia karena produk mewah dan mahal yang diciptakannya. Sepatu ini terbuat dari kulit buaya yang indah dan dengan desain luar biasa. Setiap inci dari alas kaki merupakan buatan tangan dan diciptakan dengan sempurna. Harga sepatu LV tersebut mencapai Rp132 juta.

“Bagi kita (pengrajin) itu mudah. Kami sering dapat pesanan membuat sepatu berbahan kulit buaya merek LV. Ya kami buat sesuai pesanan. Hasilnya KW super. Tidak ada beda dengan aslinya,” kata Ian.

Bagi wanita pecinta tas berbahan kulit, merek Hermes Matte Crocodile Birkin Bag tentu tidak asing. Nama “Birkin” sendiri diambil dari nama seorang istri aktris dan penyanyi, Jane Birkin. Dibuat dengan bahan kulit buaya asli dan dihiasi dengan 10 karat berlian putih pada semua jepitannya. Tas ini harganya mencapai Rp 1,56 miliar.

Namun lagi-lagi, bagi Magetan hal itu tidaklah terlalu sulit. “Tas Birkin bisa dikerjakan seperti aslinya, kecuali perhiasan berlian. Kalau minta dihiasi perhiasan, ya pemesan harus menyiapkan dulu,” tukas Ian.

Sebagai pengrajin kulit, Ian mengaku selama ini sering mendapat pesanan kulit dari pengrajin sepatu dan tas dari berbagai daerah seperti Sidoarjo, Malang, Jogjakarta hingga Bandung. Ia mengatakan kulit-kulit yang dihasilkan kualitasnya sama dengan kulit dari Eropa. “Yang namanya kulit semua sama, bahannya dari hewan. Kami biasa bikin kulit dari sapi, kambing, buaya, ulat dan sebagainya,” ujarnya.

Selalu Berpatokan Selebritis Dunia

Ian mengatakan, pengrajin kulit dan pengrajin sepatu/tas Magetan memiliki kemampuan di atas rata-rata dalam membuat produk bermutu. Semua hasil buatan pengrajin bisa sekaliber produk-produk luar negeri.

Apakah Magetan tidak bisa menciptakan produk sendiri? Sangat bisa. Bagi pengrajin kulit, menciptakan produk sendiri semudah membalikkan telapak tangan. Hanya saja produk-produk mereka, tutur Ian, belum mendapat paten. Sehingga meski handmade dibuat sangat bagus, tetapi jika tidak didukung dengan merek, maka sia-sia saja.

Selama ini para pengrajin dalam pembuatan handmade selalu mengupdate tren dunia yang memiliki andil besar dalam mempengaruhi perkembangan model sepatu maupun tas. Sepatu dan tas yang dipakai selebritis dunia misalnya, kerap dijadikan tolak ukur perkembangan model sepatu di tengah-tengah masyarakat.

Boots Tan (Derby Cap Toe) asli buatan Magetan.

Di sini, kerapkali kita tak mungkin bisa memiliki sepatu yang dipakai oleh sang idola, selain karena diproduksi terbatas, harganya pun dipastikan luar biasa mahal. Tak jarang sebagian masyarakat yang tergolong mampu sampai harus membelinya di luar negeri demi mengikuti perkembangan mode yang ada. Nah, peluang inilah yang kemudian ditangkap oleh Siswanto, salah seorang pengrajin sepatu dan sandal asal Jalan Sawo, Magetan.

Menurut Siswanto, seorang pebisnis sepatu hendaknya memiliki diferensiasi dalam mengemas produknya. Hal ini tentu saja penting untuk meningkatkan daya saing dan jual produk. Siswanto melalui pabrik sepatunya yang bermerk “Figha”, ingin menghadirkan sepatu-sepatu eksklusif, dimana sepatu tersebut tetap update dengan trend yang ada, dengan bahan-bahan berkualitas yang sangat baik pula meski tetap kalah merek dengan buatan luar negeri.

“Di Jalan Sawo ini, saya sendiri secara eksklusif memproduksi sepatu dan sandal, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Meskipun, saya dan karyawan bisa memproduksi tas, dompet, atau kerajinan kulit lainnya, namun saya memilih secara ekslusif memproduksi alas kaki dengan aneka model. Kami juga bisa mengerjakan sesuai pesanan customer. Asal ada gambar apalagi ada contohnya, kami bisa kerjakan,” ungkap Siswanto yang sudah 25 tahun menjalani kehidupan sebagai pengrajin sepatu kulit.

25 tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Siswanto mengaku, dahulu saat pertama kali merintis usaha pembuatan sepatu, dirinya meski rela berpindah-pindah rumah kontrakan. Di tahun pertama, Siswanto bahkan hanya memproduksi 10 pasang sepatu dengan model sederhana dalam satu hari. Setelah produksi sepatu selesai, sepatu itu pun dia bawa ke pasar untuk dijual ke konsumen atau dititipkan di toko.

“Pada tahun kedua, perlahan permintaan mulai meningkat, dan sepatu buatan saya mulai diterima oleh pasar. Pada tahun kedua inilah, saya dan istri berinisiatif menambah seorang pegawai untuk produksi. Pada tahun-tahun berikutnya, perlahan permintaan dari pasar terus meningkat sehingga membuat saya menambah karyawan lagi dan membangun sebuah pabrik sepatu sederhana di jalan Sawo ini,” kenang Siswanto yang memperoleh keahlian membuat sepatu saat dirinya menjadi pegawai di pabrik sepatu.

Membuat sepatu, menurut Siswanto, harus memiliki keahlian. Pengrajin juga meski memiliki jam terbang atau pengalaman dalam pembuatan sepatu. Semakin lama seorang bekerja di pabrik sepatu, dipastikan bakal bisa memiliki speed dan hasil akhir yang sempurna. Secara umum, proses pembuatan sepatu biasanya dibagi atas dua bagian. Bagian pertama adalah membuat bagian atas sepatu atau biasa disebut upper. Sedangkan bagian kedua adalah pembuatan bagian bawah, seperti pembuatan sol sepatu yang kerap disebut bottom.

“Biasanya jika yang membuat sepatu sudah memiliki pengalaman, maka tingkat kerapian dan fisnishing di upper maupun bottom nyaris sempurna. Jahitannya bisa lurus, dan simetris.” Ujar Siswanto yang juga menjadi desainer model sepatu di pabriknya ini.

Untuk model sepatu yang dibuat, Siswanto mengaku tidak ada kesulitan. Mau model apapun, Siswanto bisa membuat duplikasinya. Hal inilah yang menjadi point plus di pabrik sepatu Figha ini, para customer yang datang jika tidak puas dengan model yang ada di showroom, bisa memesan sepatu sesuai dengan keinginannya.

“Alangkah lebih baik lagi, jika saat berkunjung ke toko membawa gambar sepatu yang diinginkan. Jika sepatu yang diinginkan tidak ada, maka kami pun siap membuat sepatu sesuai dengan yang diinginkan,” ungkap Siswanto.

Terkendala Bahan Baku untuk Penyamakan Kulit

Pada era Soeharto, pemerintah mencanangkan program REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun). Maka mulailah dibentuk Departemen Perindustrian. Pemerintah mulai melakukan pembinaan untuk mengembangkan unit-unit usaha di daerah. Tidak terkecuali di Magetan, pemerintah mulai melakukan pembinaan dan pelatihan dasar untuk mengembangkan Industri Kerajinan Kulit Magetan. Pembinaan diberikan mulai dari ketrampilan dasar pembuatan kerajinan kulit dan pengembangan industri penyamakan kulit.

Pada awalnya kegiatan penyamakan kulit di Magetan masih tersebar di daerah-daerah dan belum terorganisir dengan baik. Jawa Timur sendiri merupakan provinsi yang memiliki desa dengan industri kerajinan kulit paling banyak di Indonesia. Jumlah industri kecil dan mikro kerajinan dari kulit di provinsi paling timur pulau Jawa tersebut mencapai 709 desa, mengalahkan Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Karena itu Gubernur Jawa Timur pada saat itu meresmikan Lingkungan Industri Kulit (LIK) di Magetan. Sebagai wadah berkumpul para pengusaha penyamakan kulit di Magetan.

Dengan dibangunnya LIK, secara berangsur-angsur para penyamak kulit yang tersebar di Magetan mulai memindahkan kegiatan usahanya ke dalam lingkungan LIK. Usaha pemerintah ini terbukti berhasil. Karena LIK mempermudah dalam melakukan kegiatan pembinaan terhadap para perajin.

Pemerintah mulai mendorong industri kulit Magetan dengan penerapan kegiatan industri berbasis teknologi. Sehingga industri kulit Magetan bisa menghasilkan produk kulit berkualitas tinggi dan mampu bersaing di pasar nasional.

Perkembangan produksi kerajinan kulit Magetan juga diimbangi dengan perkembangan pemasaran produk. Saat ini kegiatan pemasaran produk kulit Magetan tidak hanya memenuhi permintaan lokal di pulau Jawa melainkan juga sudah merambah ke pasar regional meliputi pulau Sumatera, Sulawesi, Samarinda, Kalimantan, kepulauan Nusa Tenggara, hingga ke Papua. Seiring dengan perkembangan teknologi, sepatu kulit Magetan mulai dipasarkan secara digital melalui internet. Hal ini semakin mendorong berkembangnya industri kerajinan kulit Magetan.

Sentra kerajinan kulit di Jalan Sawo.

Gubernur Jawa Timur Sukarwo mengatakan, “Industri Jawa Timur itu 54,39 persen juga berasal dari UMKM dan mampu menampung 98 persen tenaga kerja. Sehingga selain mensejahterakan pelaku UMKM, juga membantu pemerintah dalam pengentasan pengangguran”.

Berdasarkan data BPS 2013 jumlah UMKM yang ada di Jawa Timur sebanyak 6,825.931. Kontribusi sektor UMKM mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2012 peran UMKM terhadap PDRB Jawa Timur sebesar 54,39% dari total PDRB Jawa Timur sebesar 1.001,72 triliun. Berdasarkan data tersebut setengah dari total PDRB Jawa Timur yaitu Rp 545,76 triliun disumbang oleh UMKM dan koperasi.

Untuk industri kerajinan kulit Magetan yang berpusat di Kelurahan Selosari Magetan, para perajin kulit mendirikan toko di daerah Jalan Sawo Magetan. Sentra kerajinan kulit di Jalan Sawo mulai dirintis pada tahun 1960-an. Pemilihan Jalan Sawo Magetan berdasarkan lokasinya yang sangat strategis. Yaitu terletak di jalur yang dilalui kendaraan pariwisata yang hendak menuju ke objek wisata Telaga Sarangan. Telaga Sarangan adalah objek wisata unggulan Kabupaten Magetan.

Industri kulit di Jalan Sawo Magetan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Para perajin sudah memiliki toko untuk memajang hasil kerajinan kulitnya sendiri. Terhitung pada tahun 2013 industri kerajinan kulit Jalan Sawo Magetan memiliki 14 Unit Usaha Kecil Menengah (UKM) dengan jumlah tenaga kerja mencapai 223 orang. Untuk Kelurahan Selosari sendiri jumlahnya ada 36 unit. Sementara 11 unit usaha di antaranya diketahui sudah menggunakan merek sendiri yakni toko P.S Ireng, Sempurna, Soga, Figha, Avin, Menik, Kartika, Praktis, Shalud, Favorite dan Mustika. Sisanya masih home industri dengan jumlah karyawan dibawah 5 orang.

Yudhi dan Kasiman selaku pemilik unit usaha mengaku ada peningkatan penghasilan di setiap unit usaha. Pada hari biasa jumlah penghasilan dari penjualan sepatu dan sandal sekitar Rp 10.000.000 dan pada hari raya meningkat 2X lipat. Ini disebabkan karena pada saat hari raya jumlah pesanan sepatu dan sandal meningkat.

Dengan bertambahnya jumlah pesanan maka akan menambah pemasukan unit usaha. Di sisi lain keberhasilan dalam memenuhi permintaan konsumen pada saat hari raya tidak lepas dari kerja keras tenaga kerja. Untuk itu pada saat hari raya tiba para pemilik unit usaha memberikan tambahan penghasilan kepada para karyawan, tambahan penghasilan ini sebagai bonus yang besarannya tergantung masing-masing unit usaha. Selain itu ada juga yang memperbolehkan para tenaga kerjanya untuk membuat sepatu atau sandal yang diinginkan untuk lebaran.

Namun demikian, industri kulit Magetan bukannya tidak ada kendala. Belakangan kerajinan kulit terlihat jalan di tempat, tidak ada peningkatan yang signifikan. Jika dilihat penyebabnya ketersediaan bahan baku yang diproduksi oleh industri penyamakan. Hanya empat persen dari total diproduksi yang dapat dimanfaatkan oleh pengrajin kulit di Kabupaten Magetan, sisanya dipasok keluar daerah.

Salah satu industri penyamakan kulit di Kelurahan Ringinagung, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

Di Kelurahan Ringinagung, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, perajin penyamakan kulit kesulitan mendapatkan bahan baku. “Bahan baku kulit sapi saat ini sulit didapatkan. Kalaupun ada harganya juga naik dan tergolong mahal,” ujar Ian.

Menurut dia, sekitar 60 persen kebutuhan bahan baku kulit sapi industri penyamakan kulit di Magetan tergantung dari sapi impor. Sisanya, sebesar 40 persen disuplai dari sapi lokal. Adapun, sapi-sapi impor tersebut biasanya didatangkan dari sejumlah negara. Di antaranya adalah dari Taiwan, Thailand, dan juga Malaysia.

“Keadaan ini menjadi kendala bagi kami. Kalau sudah mentok, perajin bisa tidak berproduksi karena jika mengandalkan sapi lokal saja tidak cukup,” kata dia.

Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Magetan mencatat, terdapat sekitar 135 unit industri kecil penyamakan kulit baik secara kimia maupun nabati di kabupaten setempat.

Sebanyak 135 unit industri penyamakan kulit tersebut terbagi di tiga sentra, yakni 48 unit penyamakan kulit secara kimia terdapat di kawasan (LIK), Kelurahan Ringinagung, Kecamatan Magetan.

Lainnya, 43 unit penyamakan kulit secara nabati terdapat di Desa Mojopurno, Kecamatan Ngariboyo, dan 44 unit penyamakan nabati di Desa Banjarejo, Kecamatan Ngariboyo.

Faktor lain yang menjadi kendala kualitas sumber daya manusia (SDM) Pengrajin kulit di Magetan yang masih rendah juga sebagai faktor penghambat dalam pengembangan usaha. Sebagian besar usaha mikro kecil di Magetan tumbuh dan berkembang secara tradisional dan merupakan usaha keluarga yang turun-temurun.

Keterbatasan kualitas SDM yang siap pakai, diakui pengusaha kerajinan sulit dicari. Sebelum mempekerjakan, pengusaha harus melatihnya terlebih dahulu. Padahal pelatihan perlu waktu dua tahun untuk benar-benar bisa memahami persepatuan. Di Magetan bahan baku sangat melimpah, tapi hanya terserap 4 persen. Untuk itu diperlukan UMKM yang lebih banyak lagi dan bisa menampung tenaga kerja yang lebih banyak. Magetan sangat membutuhkan sebuah BLK.

Di sisi lain, segi pendidikan formal maupun pengetahuan dan keterampilan sangat berpengaruh terhadap manajemen pengelola usaha sehingga usaha tersebut sulit untuk berkembang secara optimal. Sementara keterbatasan kualitas SDM unit usaha rata-rata relatif sulit untuk mengadopsi perkembangan teknologi. Wajar jika daya saing produk yang dihasilkan berjalan lambat.

Kerajinan kulit Magetan memang layaknya menjadi produk unggulan kabupaten. Namun komoditi potensial ini harus dikembangkan dengan lebih cermat. Untuk itu dibutuhkan perhatian dari semua pihak. Sudah saatnya semua elemen bangsa ini bergerak memaksimalkan potensi industri nasional sebagai upaya peningkatan pertumbuhan dan ketahanan ekonomi nasional yang akan berdampak pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Caranya sederhana. Kita lakukan dapat melakukan dengan mencintai produk dalam negeri daripada memilih produk-produk buatan luar negeri.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here