Pangeran Sambernyawa: Jiwa dan Rasa Kebangsaan Tanpa Batas (1)

0
2858

Nusantara.news – Sebagaimana ditulis para sejarawan, Pura Mangkunegaran dibangun setelah Raden Mas Said atau dikenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa, bertempur selama 16 tahun melawan kekuasaan VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie).

Kala itu, dimulai sejak Amangkurat I, Amangkurat II, Amangkurat III dan berlanjut ke Pakubuwono I (Pangeran Puger, adik Amangkurat II) dan Amangkurat IV, VOC menerapkan politik “devide et impera” (pecah belah) yang membuat Mataram kehilangan sejumlah wilayah di pantai utara Pulau Jawa yang meliput Priangan, Tegal, Pekalongan, Semarang, Ungaran, Tuban, Gresik, Surabaya, dan Pulau Madura.

Candradimuka Kartasura

Raden Mas Said yang lahir di Keraton Kartasura, 7 April 1725, sejak usia balita telah merasakan ketidak-adilan. Ayahnya, Pangeran Arya Mangkunegara (Kartasura) adalah putra sulung dari Pakubuwono I dari istri selir Mas Ayu Karoh, asal desa Keblokan, Wonogiri. Akibat intrik istana yang didalangi Patih Danureja, Pangeran Aryo Mangkunegara dianggap melawan Belanda dan dibuang ke Kaapstad, Afrika Selatan. Kala itu usia Raden Mas Said baru 2 tahun. Setahun berikutnya, ibunda Raden Mas Said, R.Ay. Wulan yang juga anak Pangeran Blitar, wafat. Sejak itu Raden Mas Said ditempa oleh keadaan yang dilukiskan oleh budaya Jawa sebagai Kawah Candradimuka.

Istilah Kawah Candradimuka itu sendiri diabadikan lewat tokoh pewayangan Gatot Kaca dan Wisanggeni. Di kawah itu Gatot Kaca yang adalah putra Bima dengan Dewi Arimbi dan Wisanggeni yang disebut-sebut sebagai putra Arjuna ditempa oleh magma yang begitu panas sehingga keduanya menjadi ksataria yang sakti mandraguna.

Kehidupan yang keras itu pula dilakoni RM Said sejak lahir hingga remaja di Keraton Kartasura. Bagaimana tidak? Sejak bayi, RM Said yang sesungguhnya kerabat dekat (sentono dalem) Raja Pakubuwono II yang masih pamannya hidup di lingkungan abdi dalem Keraton Kartasura. Dikisahkan pula, ada kalanya RM Said kecil tidur di kandang kuda seperti Pekatik (pemilihara kuda). Statusnya sebagai sentono dalem baru diketahui khalayak saat terjadinya pisowanan (pertemuan) agung.

Justru dalam kehidupan yang keras itu, RM Said yang memiliki dua orang adik lain ibu yaitu RM Ambiya dan RM Sabar, membangun pengaruh diantara abdi dalem dan kerabat keraton yang kelak menjadi pasukan inti selama 16 tahun berperang melawan pasukan VOC yang dibantu Pakubuwono II, Pakubuwono III dan Hamengkubuwono I. Di lingkungan kerabat, RM Said dibimbing sendiri oleh pamannya Wiradiwangsa. Sejak kecil dia juga bersahabat dengan Raden Sutawijaya yang juga orang kepercayaannya. Secara keseluruhan tercatat 24 orang pasukan intinya yang berasal dari Keraton Kartasura.

Di usianya yang belum genap 14 tahun, Pakubuwono II, Raja Kartasura yang terhitung masih pamannya mengangkatnya menjadi Manteri Gandek dengan gelar Raden Mas Ngabehi Suryakusuma. Karena jabatannya itu, RM Said berhak atas tanah lungguh seluas 50 karya. Toh begitu, RM Said dan adik-adiknya tetap merasa diperlakukan tidak adil. Hak-haknya sebagai keluarga keraton (sentana dalem) tidak begitu dianggap. Maka dia pun menghadap Patih Danureja. Ternyata Patih Danureja memberinya sekantong uang emas. RM Said tersinggung, karena dia datang bukan untuk mengemis, melainkan agar mendapatkan perlakuan yang wajar sebagai sentana dalem.

Perlakuan Patih Danureja itu segera dibahas RM Said bersama pamannya Wiradiwangsa dan sahabatnya Sutawijaya. Ki Wiradiwangsa mengusulkan RM Said meninggalkan istana dan pergi ke Nglaroh, Wonogiri, yang juga kampung halaman eyang putrinya. Kebetulan pula para abdi dalem yang tinggal di Kartasura tidak sedikit yang berasal dari Desa Nglaroh. Neneknya, wanita pertama yang dipersunting Amangkurat IV juga dari Nglaroh. Maka, selain Kartasura, Nglaroh juga tempat penting bagi RM Said dalam menggembleng dirinya menjadi seorang Ksatria yang disegani, baik oleh kawan maupun lawan.

Kebetulan kala itu, pemberontak China yang digalang RM Garendi alias Sunan Kuning sudah mengepung keraton Kartasura. Demi keamanan dua adiknya, sebagaimana dia tulis dalam Babad Lelampahan, pada hari Rabu Kliwon tanggal 3 Rabiulawal (Mulud) tahun Jimakir, Windu Sengara, dengan candra sengkala Rasa Ratu Ngayong Jagad (1666 Jawa) atau 19 Mei 1941 Masehi, RM Said dan dua adik-adiknya beserta 18 pengikutnya pergi ke desa Mantenan, Nglaroh, Wonogiri. Setelah itu RM Said bergabung pasukan pemberontak China dan menjebol benteng keraton Kartasura, tempat dia lahir dan dibesarkan.

Daerah Nglaroh menjadi tujuan karena itu daerah kekuasaan ayahnya, Pangeran Aria Mangkunegara. Pengikut yang bersama RM Said sebagian besar berasal dari daerah itu. Setelah RM Said dan kedua adiknya beserta 18 abdi tiba di Ngelaroh, tak lama kemudian menyusul 6 abdi dalem lagi, dengan begitu jumlah pasukan yang dibawa dari Kartasura berjumlah 24 orang.

Ada suatu cerita menarik, saat menggelar pertunjukan wayang kulit yang bukan hanya disaksikan warga sekitar Nglaroh, RM Said terpesona saat melihat kemolekan seorang gadis 14 tahun. Saat gadis itu tertidur diam-diam RM Said “menggunting” kain yang dikenakan sang gadis. Sobekan kain itu diberikan ke abdi dalem yang selanjutnya diberi tugas mencari tahu, siapa dan dari mana asal gadis yang membuatnya terpesona itu.

Setelah ditelisik nama gadis itu adalah Rubiyah, asal desa Matah. Dia adalah putri seorang ulama setempat yang bernama Kyai Kasan Nuriman. Singkat cerita, RM Said langsung melamar anak gadis Kasan Nuriman itu untuk dipersunting menjadi istrinya. Gayung bersambut. Kasan Nuriman menerima lamaran itu. Sejak itu Rubiyah diberi gelar Raden Ayu Matah Ati. Kelak, RA Matahati menjadi Panglima Prajurit Wanita yang tidak kalah tangkas dengan prajurit pria lainnya.

RM Said memang satu-satunya trah Mataram yang melibatkan wanita di medan pertempuran. Kelak, saat RM Said memimpin Pura Mangkunegaran, tercatat ada 144 prajurit wanita yang terdiri dari satu peleton prajurit bersenjata karabijn, satu pleton bersenjata penuh, dan satu pleton pasukan berkuda (kavaleri). Prajurit-prajurit wanita yang di bawah komanda RA Matah Ati itu sudah direkrut saat RM Said bergerilya melawan Kumpeni. Beberapa diantaranya sudah dilibatkan dalam perang-perang besar. Selain merekrut prajurit wanita, RM Said juga merekrut carik estri (sekretaris wanita) yang bertugas mencatat setiap kejadian.

Memang, di sela-sela peperangan, RM Said dengan bantuan carik estri menggubah tembang yang berkisah tentang perjuangannya, lengkap dengan ringkasan kejadian, tempat kejadian, tanggal, tahun dan hari pasar. Tembang-tembang yang dia gubah itu kelak diliterasi (dikumpulkan) oleh Pigeaud pada Desember 1929 dan  diberi judul Dagboek van KGPAA Mangkoenegoro (Catatan Harian KGPAA Mangkunegara I).

Kumpulan tembang yang sesungguhnya sumber sejarah primer yang sangat penting itu oleh Zaenudin Fananie disebut sebagai Babad Lelampahan (BL) yang berisi kisah-kisah perjuangan RM Said, dan Babad Tutur (BT) yang berisi kisah-kisah Mangkunegara I memimpin  pemerintahan.

Di usia sangat muda, masih 16 tahun, setelah berlatih perang dan olah kanuragan dirasakan cukup, RM Said dan pasukannya bergabung pasukan pemberontak di bawah pimpinan RM Gerundi (Sunan Kuning) yang bermarkas di Randulawang. Anak muda yang bau kencur itu dipercaya menjadi Panglima Perang. Setelah berbulan-bulan bertempur akhirnya pada 30 Juni 1942 pasukan pemberontak berhasil menjebol benteng Keraton Kartasura setinggi 4 meter. Raja Pakubowono II menyerahkan tahtanya ke Belanda sebelum melarikan diri ke Ponorogo. Peristiwa itu dalam Babad Tanah Jawa dikenal Geger Pecinan. Ada pula yang menyebut Bedah Kartasura.

Peristiwa Geger Pecinan di Kartasura itu satu rangkaian dengan Geger Pecinan di Batavia, 9-12 Oktober 1740. Kisah bermula demonstrasi buruh pabrik gula yang kesemuanya warga keturunan China. Tiba-tiba warga China yang mengepung Batavia mengamuk dan membunuh 50 tentara VOC di Maaster Cornelis (Jatinegara) dan Tanahabang pada 7 Oktober 1740. Selang dua hari berikutnya, pasukan VOC yang didukung oleh pribumi yang dipicu oleh kecemburuan sosial gantian membantai warga keturunan China. Dalam catatan sejarahwan yang bersumber catatan orang Belanda, tidak kurang 10 ribu warga keturunan China terbantai di era Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier. Warga China yang selamat melarikan diri ke sejumlah kota di Jawa.

Para pemberontak China itu dikoordinir RM Garendi yang memang memiliki pengalaman yang buruk dengan Kumpeni. Awalnya pemberontak China minta perlindungan sekaligus mengajak Pakubuwono II mengusir VOC dari Tanah Jawa. Awalnya Pakubuwono II menyanggupi permintaan itu. Namun di tengah jalan saat mengetahui kekuatan VOC, Pakubuwono II berbalik membantu VOC dan memerangi pemberontak China yang didukung RM Garendi dan RM Said.

Sejak itu muncul tekad mengepung Keraton Kartasura yang didirikan oleh Amangkurat II pada tanggal 28 November 1681. Setelah sukses menduduki Kartasura, RM Garendi yang juga cucu Amangkurat III diangkat menjadi Raja oleh para pemberontak dengan gelar Susuhunan Kuning.

Padahal, bila ditelusuri garis silsilah, meskipun masih keluarga dekat, RM Said dan RM Garendi mestinya berseteru. Pasalnya, RM Garendi alias Sunan Kuning adalah putera Pangeran Teposono yang adalah putera Amangkurat III. Sedang RM Said adalah keturunan Pangeran Puger (Pakubuwono I) yang memiliki anak Amangkurat IV alias Amangkurat Jawi yang juga masih eyang dari RM Said.

Nah, PB II, pamannya yang juga anak dari Amangkurat IV ini yang membunuh Pangeran Teposono, sedangkan eyang buyutnya Pakubuwono I adalah yang membunuh Amangkurat III, eyang dari Sunan Kuning. Namun keinginan yang kuat mengusir Kumpeni dari Bumi Mataram telah mempersatukan keduanya.

Tanggal 24 Desember 1742, Belanda yang diserahi tahta oleh Pakubowono II dengan dibantu oleh Pangeran Mangkubumi mengerahkan ribuan pasukannya dan berhasil mengusir pemberontak. Berdasarkan kepercayaan Jawa, keraton yang pernah diduduki musuh telah kehilangan wibawa dan kesuciannya. Maka Pakubuwono II memilih membangun keratonnya yang baru di Sala. Toh begitu, pasukan Kumpeni dan Pakubuwono II belum sepenuhnya memadamkan pergolakan. Di tengah pergolakan itu medadak Pakubuwono II sakit. Sebelum wafat kumpeni datang padanya untuk menandatangani perjanjian yang isinya Mataram kembali kehilangan wilayah di Semarang, Ungaran, Kedu dan Blora.

Kenyataan itu yang membangkitkan amarah Raden Mas Said. Dharma seorang Ksatria yang diajarkan turun temurun sejak Ratu Shima (Kalinga), Mataram Hindu di bawah Wangsa Sanjaya, Sriwijaya, Majapahit, Demak, hingga ke Panembahan Senopati, Sultan Agung tidak dijalankan secara semestinya oleh penguasa. Sejak itu RM Said melanjutkan pertempurannya, dengan markas yang berpindah-pindah, melawan Kumpeni yang dibantu oleh kedua pamannya, Hamengkubuwono II dan Pangeran Mangkubumi.

Kisah Raden Mas Said mengingatkan kita pada telaah Benedict Anderson tentang Pemuda dalam bukunya “Revolusi Pemuda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946.” Usia Mas Said saat memulai pemberontakan masih sangat muda, 16 tahun. Pemberontakan yang dilakukan pemuda dan menjadi penentu kemerdekaan, tulis Anderson, adalah khas Indonesia. Bukan para cendikiawan atau kalangan tertindas yang memulai pemberontakan, melainkan anak muda dengan basis ideologi yang tidak jelas, selain prinsip yang kuat untuk suatu perubahan total dan memulai pembaruan.

Sebagaimana anak muda Indonesia Abad ke-20 yang ditulis Anderson, Mas Said yang dibesarkan di Abad ke-18 juga mengalami “pengkhianatan” dari rekan seperjuangan yang lebih tua. Setelah bertahun-tahun berjuang bersama Pangeran Mangkubumi yang juga masih terhitung paman sekaligus mertuanya, Mas Said merasa dikhianati saat Mangkubumi menerima Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 yang membelah Mataram menjadi 2 bagian, Kasunanan Solo dan Kasultanan Yogya. Mas Said yang menginginkan pamannya menjadi raja tunggal Mataram tentu saja kecewa, dia pun meneruskan pemberontakan dalam perang yang tidak terkalahkan.

Pramoedya Ananta-Toer menggambarkan pemuda sebagai prajnya paramita, ibu dari segala kebajikan. Pram percaya setiap manusia mengalami lompatan nilai, terutama nilai yang membentuk dan menjiwai istilah pemuda sebagai spiendor varitatis, penerang bagi jutaan orang yang mendambakan gemerlap cahaya hari baru. Begitu pun dengan Mas Said yang di usianya masih sangat muda memiliki idealisme yang kuat mengusir VOC.

Namun yang jelas, di Kartasura, tempat RM Said lahir dan dibesarkan dengan perlakuan tidak adil adalah semacam Kawah Candradimuka, bukan saja menempa keuletan untuk menegakkan dharma seorang Ksatria Mataram, melainkan juga belajar empati sekaligus membangun solidaritas perlawanan yang diabadikannya dengan semboyan Tiji Tibeh, mati siji mati kabeh mukti siji mukti kabeh yang begitu terkenal itu. [ ]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here