Jokowi dan Nasionalisme Kostum

0
402

Nusantara.news, Jakarta – Di hari pertama kerja 2018, saat meresmikan kereta api Bandar Udara Soekarno-Hatta (2 Januari), Presiden Jokowi menyita perhatian publik. Tidak biasanya pada acara resmi, presiden mengenakan kaus oblong lengan panjang berwarna merah, celana jeans biru tua, dan sepatu kets merah marun bermerek Nike. Ketika ditanya mengapa ia berkaos oblong di acara resmi, Jokowi menjawab enteng. “Masak mau naik kereta api ke stasiun pakai jas,” ujarnya.

Penampilan Jokowi itu tampak kontras dengan para menteri dan pejabat lain yang hadir. Para pejabat yang mendampingi Jokowi kebanyakan mengenakan batik lengan panjang atau kemeja putih. Karuan saja, penampilan “gaul” Presiden Jokowi sontak menjadi keriuhan warganet, memenuhi pemberitaan di jagat media.

Sepatunya langsung ditelusuri dan ternyata harganya Rp999.000, satu jutalah. Sepatu dengan merek serupa namun dengan harga yang lebih mahal yaitu hampir 3 jutaan, juga pernah dipakai Jokowi saat kunjungannya ke Tasikmalaya, Juni 2017, dalam rangka bagi-bagi sembako untuk rakyat miskin. Tak hanya sepatu, kaus dan celananya pun dikulik-kulik, sama seperti waktu Jokowi mengenakan jaket bomber saat jumpa pers menanggapi aksi demo 4 November 2016.

Baik jaket bomber merek Zara buatan Spanyol ataupun sepatu Nike buatan Amerika Serikat yang dipakai Jokowi itu, dalam sekejap ludes terjual di semua retail Jakarta. Kedua perusahaan asing tersebut tentu sangat diuntungkan karena produknya mendapat promosi gratis dari sang presiden di negara yang penduduknya terkenal konsumerisme.

Tak sekali ini saja Jokowi membuat ‘heboh’ warganet karena perkara kostum dan apa yang ia bawa. Mulai sarung, payung, sandal, hingga mobil “esemka” yang digadang-gadang buatan anak negeri. Dan, memang begitulah tabiat warganet zaman ‘now’: sering gagal fokus dan lebih suka pada hal remeh temeh ketimbang yang substansial.

Pun begitu, narasi yang dibangun Jokowi dan tim marketingnya (termasuk para buzzernya) terkesan saling bertolak belakang: tempo hari mengangkat Jokowi dengan segala atributnya yang dicitrakan ‘wong ndeso, sederhana’, tempo lain mengangkat gaya dengan simbol-simbol ‘kemewahan, branded asing”.

Mungkin bagi sebagian orang perkara pakaian adalah hal sepele, namun jika yang memakai dan mengendorse-nya seorang tokoh publik apalagi seoran presiden, maka hal itu menjadi penting. Salah-salah bisa menjadi masalah besar. Sebab, kepala negara adalah simbol kehormatan negara dan menjadi pusat teladan. Segala ucapan, pakaian, dan tindak tanduknya sejatinya memperhatikan aspek kepantasan dan wibawa. Jika pakem bernegara diterobos, protokoler ditekuk-tekuk, pakaian sesuka hati para pembisiknya, maka apalah bedanya jabatan presiden dengan orang biasa. Bukankah banyaknya aturan yang dibuat itu justru karena demi memuliakan keistimewaan seorang presiden?

Menelisik Penampilan Jokowi

Kembali pada kostum yang dikenakan Jokowi saat meresmikan kereta api bandara, ada tiga yang menarik ditelisik.

Pertama, penampilan santai presiden di acara resmi memang tak ada yang salah, namun dari segi kepantasan tentu problematik. Sebab apa yang dipakai presiden tidak pada tempatnya, sekaligus menunjukkam minimnya citarasa para ‘pesolek’ di sekitar presiden.

Bandingkan dengan presiden sebelumnya. Tahun 1990 saat Mandela berkunjung ke Indonesia, Presiden Soeharto menghadiahinya beberapa baju batik. Itulah kali pertama Mandela mengenal batik dan setelah itu dia dengan bangga mengenakan batik dalam segala kesempatan. Tujuh tahun kemudian, dia berkunjung kembali ke Indonesia. Kali ini sebagai Presiden Afrika Selatan. Soeharto yang menunggu dibuat terkejut melihat Mandela mengenakan batik yang dulu dihadiahkan kepadanya.

Di satu sisi, dia bangga karena Mandela menyimpan baik-baik baju batik pemberiannya, dan memakainya ketika bertamu tujuh tahun kemudian. Tapi, di sisi lain, dia tak enak hati, Mandela memakai batik yang notabene produk budaya Indonesia, sementara dia justru berseragam “Barat”. Sejak “insiden diplomatik” itu, Pak Harto jadi sering berbaju batik. Ketika membuka KTT APEC di Bogor tahun 1994, Pak Harto “mewajibkan” semua kepala negara yang hadir mengenakan seragam batik. (baca: https://nusantara.news/dua-negarawan-brand-ambassador-batik-indonesia/).

Hal yang sama diperlihatkan oleh SBY. Tak pernah dalam satu acara resmi sekalipun, ia mengenakan pakaian santai. Bukan dia tak tahu mode, atau tak melek dengan perkembangan zaman. Ia menempatkan posisi presiden pada posisi yang sepantasnya. Soeharto, SBY, dan presiden sebelumnya menjadikan cara berpakaian serta merek yang digunakan sebagai satu cara merawat kewibawaan bernegara sekaligus penghormatan terhadap bentuk nasionalisme. Presiden tentu beda dengan para CEO perusahaan teknologi atau start up lain yang kerap berkantor menggunakan kaos oblong. Mereka pemilik/pendiri perusahaan swasta, tentu bebas memakai dan memaknai kostum yang dipakainya sesuai selera, ciri khas, dan value yang ingin ditanamkan di perusahaannya.

Kedua, penampilan “gaul” Jokowi bisa ditafsirkan sebagai trik ‘kampanye zaman now’. Secara politis, gaya Jokowi sangat kena dan menarik untuk generasi milenial karena bisa mewakili mereka yang lahir tahun 1980 sampai 2000. Generasi milenial tak bisa diangap enteng. Generasi yang sekarang berusia 17 – 37 tahun umumnya sangat akrab dengan komunikasi, media internet, dan teknologi digital. Jumlahnya yang mencapai sekitar 82 juta dari 250 juta penduduk Indonesia, menjadi sumber penting ekonomi dan politik. Di Pilpres 2019 nanti, suara anak muda milenial ini termasuk lumbung suara terbesar.

Ketiga, penampilan Jokowi dengan kostum merek asing (misalnya sepatu dan jaket) dalam beberapa aktivitas kenegaraannya, mengusik rasa kebangsaan.

Kontras dengan Jokowi, Jusuf Kalla (JK) saat menjadi Wapres SBY, mengatakan sepatu adalah lambang nasionalisme. Karena itu, kita harus menunjukkan nasionalisme melalui kecintaan terhadap sepatu lokal, dan memakainya. Mendukung industri sepatu nasional dengan memakai sepatu domestik adalah wujud nasionalisme nyata saat ini. Sepatu dengan merek JK buatan Cibaduyut kini telah dipakai secara nasional, dan sentra sepatu Cibaduyut yang terkenal hasil kreasi anak bangsa itu akhirnya semakin adiluhung reputasinya.

Saat menutup Musyawarah Nasional (Munas) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) tahun 2008, Wapres JK juga tiba-tiba meminta para pengusaha untuk membuka sepatunya. Dia ingin memastikan seberapa cinta dan konsisten para pengusaha pribumi itu dalam memakai produk dalam negerinya. Sebab menurutnya, banyak pengusaha dan tokoh publik yang berteriak nasionalisme ekonomi atau pakailah barang-barang karya bangsa sendiri, ternyata dalam praktiknya memuja dan menggunakan made in asing.

“Sepatu sekarang sudah menjadi lambang nasionalisme. Bahkan menjadi senjata yang hebat,” tutur JK ketika itu.

Kebiasaan JK ini berlanjut hingga mendampingi Jokowi di awal-awal kampanye pilpres 2014. Keduanya kompak menggunakan sepatu Cibaduyut dan pakaian “murah” buatan anak negeri untuk menegaskan pasangan capres-cawapres yang diusung PDIP ini pemimpin sederhana dan merakyat.

Jauh sebelumnya, perihal keberpihakan Jokowi pada produk lokal pernah diungkapkan Maruarar Sirait (Ketua DPP PDIP saat itu). Jokowi, menurut Maruarar, lebih mencintai produk dalam negeri, seperti memperjuangkan mobil nasional agar tidak kalah bersaing dengan negara lain. Jokowi juga lebih menyukai sepatu produksi Cibaduyut dan hobi kuliner masakan Indonesia dibanding buatan asing.

“Nasionalisme dan keberpihakan Jokowi terhadap produk lokal tak perlu diragukan,” kata Maruarar, Jumat, 13 September 2013 silam.

Namun, manakala Jokowi masih mengumbar pakaian atau atribut gaya hidup lainnya dari branded asing dan terkesan mewah, dengan sendirinya narasi tentang Jokowi ‘yang sederhana’, Jokowi ‘yang cinta produk lokal’ sirna sudah. Yang tersisa hanyalah pencitraan dan kontradiksi. Dan, nasionalisme berhenti di bibir saja. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here