Jokowi dan Prabowo Penonton di Pilgub Jabar?

0
166

Nusantara.news, Jakarta – Sudah dua calon yang  memiliki tiket maju dalam Pemilihan Gubernur Jawa Barat (Pilgub Jabar) yang digelar Juni 2018. Yakni, Dedy Mizwar (Demiz) dan Ridwan Kamil (Emil). Demiz diusung koalisi tiga partai yakni Demokrat (12 kursi), PKS (12 kursi ) dan PAN (4 kursi).

Sedang Ridwan Kamil didukung koalisi empat partai yakni, Nasdem (5 kursi), PPP (9 kursi), PKB (7 kursi) dan Golkar (17 kursi). Kini tinggal 3 partai yang belum menentukan sikap, yakni PDIP (20 kursi), Gerindra (11 kursi) dan Hanura (3 kursi).

PDIP memiliki cukup kursi mengusung calon sendiri, sementara dua partai lainya harus berkoalisi dengan salah satu koalisi yang ada.

PDIP sendiri dikabarkan akan memajukan mantan Kapolda Jabar Irjen. Pol (purn). Dr. Drs. H. Anton Charliyan, M.P.K.N.

Namun sampai saat ini baru dua nama yang sudah pasti, yakni Ridwan Kamil dan Demiz.

Mengapa PDIP yang merupakan representasi Jokowi, dan Gerindra sebagai representasi Prabowo belum berkiprah di Jawa Barat? Bukankah dapil Jabar sebagai dapil dengan daftar pemilih tetap (DPT) terbesar di Indonesia merupakan salah satu penentu kemenangan di Pilpres 2019 mendatang?

Perubahan Peta Politik Jabar

Semula, Pilgub Jabar diprediksi akan didominasi tiga poros, yakni Poros Teuku Umar (kediaman Megawati Soekarnoputri) dengan PDIP sebagai motor, Poros Hambalang (rumah kediaman Prabowo Subianto) dengan Gerindra sebagai motor, dan Poros Cikeas (kediaman Susilo bambang Yudhoyono) dengan Demokrat sebagai motor.

Poros Teuku Umar semula diprediksi menjadi poros dominan karena akan membentuk koalisi besar yakni perpanjangan dari seluruh partai yang berkoalisi dalam polemik presidential threshold sebesar 20 persen kursi di DPR atau 25 persen suara nasional, meliputi PDIP, Golkar, Nasdem, PPP, PKB, dan Hanura (total 51 kursi) di DPRD Jabar.

Poros Teuku Umar semula diprediksi akan bertarung sengit dengan Poros Hambalang yang merupakan koalisi 2 partai yang sudah dua kali memenangi Pilgub Jabar yakni koalisi Gerindra dan PKS (total 23 kursi) di DPRD Jabar.

Sementara, Poros Cikeas dianggap paling kecil karena hanya berkoalisi dengan PAN (total 16 kursi) di DPRD Jabar sehingga tidak cukup kursi mengusung satu pasang calon.

Peta yang terjadi sekarang sangat berbeda. Demokrat yang mengantikan posisi Gerindra menjadi poros kuat karena mengusung Demiz – Ahmad Syaikhu. Sedang Gerinda kemungkinan hanya menjadi penonton jika tidak berkoalisi dengan koalisi yang sudah ada. Sementara PDIP harus berjuang sendirian jika tidak berkoalisi dengan Gerindra dan PAN.

Dari segi calon juga terjadi perubahan. Awalnya, Emil diprediksi akan didukung oleh Poros Teuku Umar, sedangkan Demiz didukung oleh Poros Hambalang. Dedi Mulyadi yang nota bene adalah Ketua DPD Partai Golkar Jabar, semula diyakini akan diusung oleh Partai Golkar atau setidaknya mendapat tempat di Poros Teuku Umar.

Faktanya sekarang, Partai Golkar terlibat dalam koalisi dengan Nasdem, PPP dan PKB dan mengusung Ridwan Kamil. Dedi Mulyadi sama sekali tidak mendapat tempat dari partai Golkar,  karena calon wakil untuk Ridwan Kamil yang diusulkan Golkar adalah Daniel Mutaqien Syafiuddin.

Demikian juga Partai Demokrat, logikanya akan mengusung Dede Jusuf  yang merupakan kader kental Demokrat di Jabar dan pernah menjabat sebagai wakil gubernur. Tetapi untuk Pilgub 2018 mendatang, Demokrat justru mengusung Dedi Mizwar.

Perubahan lain terkait keberadaan Jokowi dan Prabowo yang diprediksi akan kembali bertarung di Pilpres 2019 mendatang.

Pilgub Jabar, selain diprediksi akan panas seperti Pilgub DKI Jakarta, juga karena diprediksi menjadi inti pertarungan ulang antara Jokowi dan Prabowo atau antara Poros Teuku Umar dengan Poros Hambalang pada Pilpres 2019.

Keduanya dinilai akan all-out merebut suara Jabar, mengingat jumlah suara yang signifikan dengan daftar pemilih tetap atau DPT mencapai 32.711.732 suara, terbesar dibanding DPT di propinsi lain.

Kemenangan di Jabar bahkan dinilai menjadi penentu, karena selisih perolehan suara antara Jokowi dan Prabowo -pada Pilpres 2014 sebesar 4.637.066 suara untuk kemenangan Prabowo-Hatta.

Pasangan Prabowo-Hatta memperoleh 14.167.381 atau 59,78 persen, sementara pasangan Jokowi-JK memperoleh 9.530.315 suara atau 40,22 persen.

Sementara selisih perolehan suara antara pasangan Jokowi-JK dan pasangan Prabowo-Hatta secara nasional sekitar 8.370.732 suara.

Jokowi-JK memperoleh 70.633.576 suara atau 53,15% sedangkan Prabowo-Hatta memperoleh 62.262.844 suara atau 46,85%.

Jumlah golput di Jabar pada Pilpres 2019 lalu mencapai 9.568.358 orang. Jumlah ini lebih besar ketimbang selisih perolehan suara antara pasangan Jokowi-JK dan prabowo-Hatta secara nasional.

Oleh sebab itu ruang pertarungan di Jawa Barat diperkirakan akan berlangsung sangat seru.

Memenangkan pertarungan di Jawa Barat akan menjadi poin besar untuk memenangkan Pilpres 2019.

Jika Prabowo berhasil meraup semua suara golput, maka Pilpres 2019 akan dimenangkan oleh Prabowo dengan asumsi kondisi perolehan suara di daerah lain tetap.

Bagi Jokowi masalahnya lebih sederhana, karena jika Jokowi berhasil meningkatkan perolehan suara di Jawa Barat pada Pilpres 2019, sehingga minimal sama dengan perolehan suara Prabowo-Hatta, atau perolehan suara Jokowi naik sekitar 2,3 juta suara, maka dengan asumsi perolehan suara di propinsi lain sama dan jumlah golput sama, maka, Jokowi praktis menang mutlak pada Pilpres 2019.

Sebab, jika perolehan Jokowi naik sekitar 2,3 juta suara saja di Jabar, maka praktis perolehan suara Prabowo turun 2,3 juta suara secara nasional, sehingga selisih perolehan suara keduanya mencapai sekitar 11,8 juta suara.

Persoalannya, PDIP sebagai representasi Jokowi dan Gerindra sebagai representasi Prabowo, sampai saat ini belum berkiprah di Pilgub Jabar. Keduanya masih belum menentukan sikap.

Apakah mungkin Jokowi dan Prabowo hanya menjadi penonton pada Pilgub Jabar yang digelar Juni 2018 mendatang? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here