Jokowi dan Sandi Berdagang Janji di Pasar

0
36

Nusantara.news, Jakarta – Semua politisi pasti bergerak ke sumber suara. Lalu di lokasi itu, ia mendedahkan masalah yang dihadapi bangsa, terlibat dialog, bahkan menjanjikan suatu penyelesaian. Besar harapan dengan aksinya itu, ia bisa meraih simpati sekaligus merebut suara rakyat di pemilihan. Salah satu lokasi sumber suara yang diatangi politisi saban musim pemilihan, entah Pilkada ataupun Pilpres, adalah pasar tradisional.

Selain tempat kosentrasi publik, pusat keramaian, berkampanye ataupun blusukan ke pasar merupakan cara paling hemat (pake hemat) bagi kandidat: tak perlu keluar banyak uang untuk penggalangan massa atau sewa tempat. Semua tersedia gratis di pasar, coba saja datang, dan orang-orang di pasar pun niscaya mengerubuti. Tak heran, baik kubu Jokowi-M’aruf Amin maupun Prabowo-Sandi dalam Pilpres kali ini, masih memandang pasar sebagai ‘lokasi basah’ untuk berkampanye sekaligus melancarkan gimmick politik demi kepentingan elektoral.

Sangat menarik menyimak langkah kedua pasangan calon (paslon) tersebut saat roadshow kampanye ke pasar-pasar tradisional. Dari kubu nomor 01, sepertinya Presiden Jokowi yang kebagian terus menyambangi pasar-pasar tradisional. Sementara di pasangan nomor urut 02, cawapres Sandiaga Uno yang terus keliling dari satu pasar ke pasar lain. Seperti sudah standar baku, setiap ke daerah pasti ke pasar. Menurut pengakuannya, ia sudah mengunjungi 200 pasar selama setahun terakhir ini.

Pasar tradisional memang merupakan simbol sekaligus simpul roda ekonomi akar rumput. Inilah tempat mayoritas rakyat di negeri ini berkerumun, bergosip, bertransaksi, dan mengayuh pencaharian hidup. Di sini juga urat nadi untuk mendeteksi sehat tidaknya denyut perekenomian nasional, dan berat tidaknya beban harga-harga bagi wong cilik. Di tempat ini, kinerja pemerintah di bidang ekonomi acapkali diukur.

Beberapa kali, Sandiaga membeberkan melonjaknya harga-harga kebutuhan pokok masyarakat di berbagai pasar tradisional untuk ‘menyudutkan’ kebijakan dan kemampuan pemerintah mengurusi ekonomi. Hampir tiap hari Jokowi memang diserang soal urusan perut. Jokowi pun tak tinggal diam, ia mulai sering  mengunjungi pasar tradisional. Dengan tegas, Jokowi membalas Sandiaga lewat pernyataan bahwa harga-harga kebutuhan pokok masyarakat normal dan terjangkau.

Contoh lain, salah satu klaim Sandiaga yang paling viral adalah soal bentuk tempe setipis kartu ATM. Klaim itu kemudian dibantah Jokowi saat blusukan ke Pasar Surya Kencana Bogor pada Selasa 30 Oktober lalu. Jokowi membeli sejumlah tempe dan meminta wartawan menyaksikan betapa ukuran tempe yang ia beli berukuran tebal. Ucapan Jokowi seolah membantah pernyataan Sandiaga. Begitupun saat Sandi bergaya ‘rambut petai’ dengan membeli petai, anehnya sekan tak mau kalah, Jokowi pun memborong petai dalam kunjungannya ke pasar. Sebuah aksi balas-berbalas yang tidak bermutu!

Direktur Eksekutif Populi Centre Usep S. Ahyar menilai, upaya blusukan yang dilakukan Sandiaga dan Jokowi ke pasar sebatas upaya simbolik. Tujuannya untuk menunjukkan ke publik keduanya memiliki perhatian pada kondisi perekonomian rakyat kecil. “Sandiaga tentu belajar dari kemenangan Jokowi di 2014 dan ingin menirunya. Tapi Jokowi juga enggak mau persepsi masyarakat bergeser menganggapnya semakin elitis,” kata Usep.

Selain itu, kata Usep, kedua orang tersebut sebenarnya sedang berupaya memengaruhi psikologi publik bahwa, mereka adalah pemimpin rakyat bukan milik elite-elite partai pengusungnya saja. “Cara yang terbaik untuk itu ya memang langsung menemui masyarakat. Karena untuk masyarakat Indonesia yang masih tradisional, pertemuan itu masih jadi hal penting,” ujarnya. Akan tetapi, Usep menilai seharusnya keduanya tak terlalu larut dan berhenti pada upaya simbolik ini saja. Melainkan harus melakukan langkah konkret.

Sebatas Simbolik dan Berdagang Janji

Blusukan para kontestan politik ke pasar tradisional ini memang tak ada yang salah sebagai ikhitar mengumpulkan pundi-pundi suara, juga ajang mengasah bakat drama mereka: mulai aksi makan di warung ala proletarian, membeli barang-barang dari pedagang pasar, hingga ‘menyemut’ bersama mereka agar terlihat merakyat. Semua serba simbolistik, penuh gimmick, berdagang janji-janji surga.

Namun, seperti biasa, dari blusukan mereka, dari dialog dengan para pedagang dan pembeli, lebih kental nuansa seremonialnya ketimbang sungguh-sungguh mengulas dan menawarkan solusi. Konsep yang ditawarkan untuk mengatasi lesunya roda ekonomi rakyat kecil di tengah serbuan mal-mal besar, menjamurnya jual-beli online, atau model pembangunan fisik pasar agar lebih menarik dan modern, nyaris absen di bibir para kandidat itu.

Mereka juga tak bicara soal bagaimana menggairahkan pasar tradisional agar diisi oleh industri-industri rumahan dan ekonomi lokal, bukan dibanjiri oleh produk-produk asing. Tengok saja di pasar Tanah Abang, kini hasil produksi tekstil lebih banyak didominasi dari asing (China).

Jokowi misalnya, dengan jabatannya saat ini sesungguhnya berada dalam garis pertaruhan yang penuh risiko. Masyarakat sudah tak bisa lagi disenangkan dengan upaya simbolik, tapi juga akan menilai kebijakan konkretnya. Sebab itu, ia perlu membuktikan sejauh mana kebijakan ekonomi Jokowi menguntungkan pelaku ekonomi tradisional, dari hulu ke hilir. Itu yang paling mempengaruhi pemilih saat ini bagi Jokowi.

Jika Jokowi gagal menunjukkan ke publik kebijakan yang berpihak pada pedagang maupun konsumen pasar tradisional, maka, citra simbolik yang telah dibangun belakangan tak akan banyak berpengaruh pada sisi elektoralnya.

Sedangkan Sandiaga, sebagai penantang, seharusnya mampu memberikan konsep tandingan yang jelas dan terukur, soal pengembangan perekonomian masyarakat bawah. Pernyataan dan klaim membela masyarakat kecil itu bisa dilakukan siapapun. Yang membedakan itu tawaran konsepnya. Ini yang harus dipikirkan Sandiaga.

Lebih dari itu, konsep yang dirancang Sandiaga harus memiliki kebaruan terobosan pemecahan masalah. Jika dia mengatakan daya beli menurun, apa tindakannya untuk meningkatkan? Soal kritiknya terhadap impor, lalu bagaimana memenuhi kebutuhan itu dari sumber dalam negeri? Narasi-narasi seperti ini belum pernah dijawab Sandi.

Blusukan Jokowi dan Sandi ke pasar, tak sekadar ribut soal petai dan tempe

Jika model kampanye kedua paslon terus saja seperti itu: lebih riuh hanya urusan tempe dan petai, sekadar aksi simbolik demi kepentingan elektoral, maka pasar tradsional selamanya jadi komoditas politik lima tahunan. Pasar tak akan bergeser nasibnya yang identik dengan kumuh, macet, becek, bau, pengap, dan lambat laun lenyap digusur pusat-pusat perbelanjaan modern dan pasar online. Revitasliasi pasar memang pernah dijanjikan baik oleh Jokowi saat kampanye Pilpres 2014 dan janji itu kini disuarakan juga oleh Sandiaga Uno, namun tak pernah tuntas dan jelas rincianya.

Rasanya sudah cukup menjadikan pasar sebatas latar untuk pencitraan dan aksi-aksi simblik bagi para kontestan politik. Saatnya membangun pasar sebagai kekuatan ekonomi rakyat, tempat produk-produk lokal berdaya saing tinggi, pusat dari kemandirian usaha masyarakat bawah. Karena itu, butuh keberpihakan dan narasi besar para kandidat capres-cawapres terhadap nasib pasar tradisional. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here