Jokowi dan SBY, Dua Presiden Penjaja Citra

0
60

Nusantara.news, Jakarta – Pada Pilpres 2014 lalu, Joko Widodo (Jokowi) sukses melenggang ke istana salah satunya karena didukung oleh modal pencitraan yang kuat. Jokowi memang tidak memiliki karakter seperti presiden RI sebelumnya. Jokowi tahu persis dengan potongan fisiknya tidak memungkinkan dia jadi presiden seperti Bung Karno yang gagah, Soeharto yang menawan, atau SBY yang rupawan. Jokowi juga tak bisa meniru Habibie yang dimistifikasi sebagai jenius, atau Gus Dur dan Megawati yang berasal dari trah pendiri republik.

Potongan Jokowi yang ‘ndeso’, bukan elite,  tidak ningrat, tidak tampan, yang membuatnya berbeda secara estetik dari presiden sebelumnya. Namun hal itu justru dijadikannya daya pikat tersendiri untuk menguasai psikologi wong cilik yang kerap tersingkir dari perhatian elite. Jokowi memanfaatkan celah itu untuk mencoba mencitrakan diri sebagai pemimpin yang lahir dari rahim rakyat. Kemunculannya seolah membawa aspirasi dan mewakili mereka.

Citra ini kemudian dibalut dengan atribut yang tak pernah ada pada pilpres sebelumnya, guna membenamkan ingatan publik pada sosok Jokowi. Dengan kemeja kotak-kotak, ia memaknainya sebagai keragaman masyarakat yang akan dipimpinnya. Sementara, lengan yang digulung menggambarkan sikap pemimpin yang siap langsung turun bekerja. Ditambah, aksi blusukan dan gaya santainya makin menegaskan bahwa dirinya adalah antitesis dari citra formal dan serius yang melekat pada presiden SBY. Jualan citra Jokowi seperti itu ternyata ampuh.

Sebenarnya, politik pencitraan bukan yang pertama dilakukan Jokowi. Empat belas tahun yang lalu, adalah SBY yang meledakkan virus pencitraan hingga magnitude-nya merambah ke seantero nusantara. SBY mengeksplorasi sejumlah potensi dirinya untuk meraih empati dan simpati rakyat hingga sukses melenggang ke Istana dengan embel-embel presiden pertama produk pemilihan langsung (Pemilu 2004). SBY dicitrakan sebagai sosok politisi terzolimi oleh presiden berkuasa ketika itu, Megawati Soekarnoputri.

Tak cukup mengeksplorasi kesan terzolimi, disingkirkan, dipojokkan, dan memosisikannya seolah teraniaya. Momentum pengunduran dirinya dari kabinet Mega pun semakin mengapungkan namanya ke permukaan. Belum lagi potensi lahiriah yang dimiliki SBY seperti; bertubuh tegap, rupawan, rapi, serius, cerdas, berwibawa, dan terkesan tegas adalah modal besar. Itulah yang di-blow up maksimal demi melahirkan citra sebagai calon pemimpin ideal bagi Indonesia. Perlu diingat, pada momentum pemilihan langsung (pertama) citra diri kandidat memang sangat menentukan.

Namun ketika sosok dan citra SBY menemukan titik jenuh, muncul sosok antiesisnya: Jokowi. Ibarat trend, citra yang ditampilkan dan ditawarkan Jokowi amat digemari masyarakat, laris manis dalam kontestasi politik langsung. Sedangkan citra SBY pelan-pelan ditinggalkan dan beralih pada citra baru yang dijajakan Jokowi.

Jika dulu SBY menjelma menjadi simbol perlawanan yang lemah atas yang kuat (relasi kabinet Mega) maka Jokowi saat itu menyempurnakannya dengan mencitrakan dirinya sebagai teman dari mereka yang lemah. Hal ini tercermin dari aktifitas blusukan yang semakin massif dan luas saat Pilkada Gubernur DKI dan Pilpres RI 2014.

Jika SBY mengelaborasi potensi fisiknya untuk mencitrakan diri tegas, rapi-tertata, bijaksana, dan berwibawa, maka Jokowi juga melakukannya, bahkan jauh lebih sempurna. Postur kurus, wajah ndeso (kampungan), lugu/polos, dan berpenampilan sederhana, tak dinyana justru berhasil membuai masyarakat. Apalagi Jokowi mendapat sokongan pemberitaan dari media massa yang begitu besar sehingga ia disimbolkan sebagai calon pemimpin yang merakyat, sederhana, dan ‘gambaran’ dari wong cilik.

Pencitraan Jokowi Tak Laku di Pilpres 2019?

Bukan tidak mungkin, pada Pilpres 2019 mendatang, kesaktian pencitraan Jokowi akan habis. Barangkali juga akan muncul sosok yang menampilkan citra antitesis Jokowi yang mampu merebut hati rakyat. Sebagaimana Jokowi mencuri kemenangan dalam pilpres dengan menampilkan antesis dari citra SBY.

Gaya pencitraan SBY dan Jokowi merebut suara anak muda

Sama halnya terhadap SBY dulu, saat ini rakyat mulai jenuh dengan pencitraan dan sosok Jokowi yang ternyata tak cukup mampu mengangkat derajat rakyat kecil. Kecenderungan Jokowi yang dianggap pro-asing, cina, kaptialis, serta watak kepemimpinannya yang terkesan tidak cerdas, cengengesan, dan disetir orang kuat, membuat orang merindukan kembali calon pemimpin yang tegas, berwibawa, cerdas, elegan, dan benar-benar berpihak pada rakyat.

Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar, Ziyad Alfalahi menilai pencitraan yang dilakukan Capres Jokowi terlalu berlebihan. Hal ini rupanya membuat masyarakat jenuh dan bosan sehingga menyebabkan elektabiltas Jokowi stagnan bahkan menurun. “Pencitraan yang dilakukan Jokowi itu terlalu berlebihan, lama-lama masyarakat bosan,” kata Ziyad.

Sementara itu, politikus Gerindra, Andre Rosiade menilai strategi pencitraan yang dilakukan Jokowi tidak akan laku lagi Pilpres 2019. Terlebih, menurut Andre, saat ini pemerintahan Jokowi mulai tidak fokus memenuhi janji-janji kampanyenya di Pilpres 2014, terutama di bidang kesejahteraan ekonomi yang menjadi salah satu poin penting Nawacita. “Sudahlah ilmu 2014, tidak akan laku lagi untuk menghipnotis rakyat dengan cara ndeso,” kata Andre.

Sebenarnya, soal tesis dan antitesis, juga tampak pada kepemimpinan Bung Karno dan Pak Harto. Hanya saja, karena dulu tak dikenal pemilihan presiden langsung, maka pencitraan bukan modal yang paling ditonjolkan oleh presiden. Titik tekan perbedaan persiden tersebut lebih kepada watak kepemimpinan dan corak pembangunan.

Jika Soekarno dulu tampil digdaya dan meledak-meledak, maka Soeharto muncul dengan pembawaan sebaliknya: cenderung kalem dan menghindari konfrontasi langsung. Begitu pun soal corak pembangunan: Bung Karno mengedepankan pambangunan politik dan karakter bangsa, Pak Harto condong ke pembangunan ekonomi dan stabiltas keamanan.

Dari perspektif negatif, perbedaan Soeharto dari Soekarno bisa disebut antitesis. Sedangkan jika ditilik dari sisi positif, hal tersebut merupkan bentuk kesinambungan pembangunan bangsa, saling melengkapi dan menyempurnakan menuju kemajuan Indonesia.

Kembali ke konteks antitesis Jokowi, siapakah sosok yang bisa memenangkan suara rakyat di Pilpres 2019 nanti? Apakah capres Prabowo Subianto, Gatot Nurmantyo, atau yang lain? Bisa jadi.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here