Jokowi dan SBY Sepakat Dukung Khofifah?

0
186

Nusantara.news, Jawa Timur – Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mendaftar ke Partai Demokrat untuk maju menjadi calon gubernur di Pilgub Jawa Timur 2018. Hal ini membuat peta politik menjadi terang benderang. Tidak ada yang menyangka Khofifah memilih Partai Demokrat sebagai kendaraan pertamanya.

Padahal jauh hari sebelumnya Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Nasional Demokrat (Nasdem) dan Partai Golkar sudah menyatakan kesediaannya untuk mengusung Khofifah. Benarkah sudah ada deal politik antara Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Joko Widodo (Jokowi)?

Pengamat politik dari Universitas Airlangga Surabaya Dr Sukowidodo saat dimintai pendapatnya , Minggu (1/10/2017) mengatakan, majunya Khofifah di Pilkada Jatim 2018 melalui Demokrat pasti sudah diketahui Presiden Jokowi. Apalagi saat ini Khofifah masih menjabat pembantu presiden di Kementerian Sosial. Bukan tidak mungkin pilihan terhadap Partai (Demokrat) yang dijadikan kendaraan politik Khofifah diduga atas arahan orang nomor satu di Indonesia tersebut.

“Saya malah dengar kabar Jokowi merestui Khofifah maju Pilkada Jatim asal bukan lewat partai yang didirikan Prabowo Subianto (Partai Gerindra),” ujar Sukowidodo.

Menurut Sukowidodo, pilihan Khofifah ke Demokrat sekaligus indikasi dari beda pandangan antara Ketum DPP PDIP Megawati Soekarno Putri dan Jokowi. Pasalnya hingga detik ini PDIP belum berani menetapkan Jokowi sebagai capres yang akan diusung PDIP di Pilpres 2019.

“Hubungan makin baik antara Jokowi dan SBY itu bisa jadi sudah ada deal politik tertentu khususnya menyangkut Pilpres 2019 mendatang,” ujar Sukowidodo.

Memang bila digabung dengan Demokrat, Ketua PP Muslimat NU didukung oleh koalisi besar. Hal itu pernah disampaikan Khofifah bahwa dirinya menggelar komunikasi dengan empat petinggi partai secara intens. Di antaranya Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, Setya Novanto (Setnov) dari Golkar, Romahurmuzy (Romi) dari PPP, dan Oesman Sapta Odang dari Hanura. Seperti diketahui Golkar memiliki 11 kursi, NasDem 4 kursi, Hanura 2 kursi, PPP 5 kursi, dan Demokrat 13 kursi. Total ada 35 kursi. Maka, cukup bagi Khofifah untuk maju.

Baca juga: Tandingi Saifullah Yusuf, Koalisi Besar Ada di Belakang Khofifah?

Sebelumnya, DPP Partai Demokrat melalui surat nomor 23/INT/DPP.PD/IX/2017 menginstruksikan perpanjangan masa penjaringan calon kepala daerah (Cakada) 2018. Banyak pihak menganalisis hal itu untuk memberi kesempatan kepada Khofifah agar mendaftarkan diri.

Sekretaris DPD Partai Demokrat Renville Antonio menjelaskan, sesuai intruksi DPP, perpanjangan pendaftaran cagub dan cawagub tahap kedua ditutup pada Sabtu, (30/9/2017) malam.  “Ternyata di masa injury time, ada satu tokoh  yang mendaftar yaitu Mensos RI, Khofifah Indar Parawansa. Dia mengambil formulir pendaftaran sebagai Cagub Jatim,” beber Renville, Minggu (1/10/2017).

Dikatakan Renville, kedua perwakilan dari Khofifah telah mendatangi Kantor DPD Partai Demokrat di kawasan Kertajaya untuk pengambilan formulir yang bertepatan dengan waktu penutupan pendaftaran penjaringan bakal calon gubernur Pilgub Jatim 2018. Menurut Renville Khofifah tidak bisa mengambil sendiri karena agendanya sangat padat. Salah satunya bertemu keluarga besar Ponpes Sidogiri Pasuruan. “Utusan Khofifah dibekali surat kuasa resmi dari Khofifah Indar Parawansa. Tapi saya lupa nama lengkap utusan itu,” kilah Renville.

Ditanya apakah pendaftaran Khofifah ini sudah bisa dianggap sah? Renville menyatakan, belum bisa memberikan jawaban sah atau tidak. Sebab, sang calon tidak datang sendiri mengambil formulir.

Namun Partai Demokrat tidak mungkin menolak pendaftaran hingga batas akhir waktu yang sudah ditentukan. Untuk itu, DPD Partai Demokrat Jatim akan menyerahkan keputusan final kepada DPP  di Jakarta. “Diterima atau tidak, sesuai dengan hasil koordinasi dengan DPP, nanti semua dokumen yang belum diserahkan langsung diserahkan ke DPP serta semalam kami anggap sudah mendaftar,” jawab wakil Ketua Komisi C DPRD Jatim ini singkat.

Dengan resmi ikut mendaftarnya Khofifah, berarti sudah ada enam kandidat cagub dan cawagub yang mendaftar melalui Demokrat Jatim. Sebelum Khofifah ada nama Saifullah Yusuf, La Nyalla Mahmud Mattalitti, Nurwiyatno, Nurhayati Ali Assegaf, dan Kombes Pol Syafiin.

Suara Mayoritas Gerindra untuk La Nyalla

Langkah SBY berbanding terbalik dengan Gubernur Jatim Soekarwo. Mengingat Pakde Karwo, sapaan akrab Soekarwo, sebenarnya mendukung calon lain yang terlebih dahulu mendeklarasikan maju, yakni La Nyalla Mattalitti.

Sumber Nusantara.News menyebut, La Nyalla sudah menjadi teman akrab Soekarwo sebelum menjadi gubernur. Mereka sering runtang runtung (ke mana-mana selalu bersama). Bahkan saat Soekarwo mencalonkan gubernur, La Nyalla memberi support dengan melakukan deal-deal politik ke sejumlah partai maupun ormas saat itu. Dan kini kondisinya terbalik. Soekarwo sudah dua periode menjabat, sedang La Nyalla giliran maju. Tentu Soekarwo tidak mau berpaling begitu saja.

Soekarwo pasti akan mengerahkan mesin-mesin birokratnya yang dikuasainya untuk mendukung sahabat karibnya tersebut, bahkan meski Soekarwo harus pecah kongsi sekalipun dengan SBY, dia akan tetap mendukung La Nyalla.

“Kekuatan La Nyalla ada di mesin birokrat Soekarwo. Mungkin SBY sudah deal dengan Jokowi, tapi tidak berarti Soekarwo manut pada keputusan SBY. Bisa jadi dia akan berubah haluan mendukung Gerindra,” terang sumber yang enggan namanya disebutkan.

Apa deal politik SBY dan Jokowi? Isu yang berkembang di Jakarta, kata dia, SBY ingin memasukkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di jajaran kabinet. Majunya Khofifah membuat kursi Mensos kosong. Kursi ini nanti akan diisi oleh Imam Nahrowi yang sebelumnya menjabat Menpora. Sementara kursi Menpora akan diduduki AHY. “Tapi ini hanya spekulasi, benar atau tidaknya, hanya SBY dan Jokowi yang tahu,” imbuhnya.

Apalagi saat ini kekuatan La Nyalla semakin hari bertambah kuat. Sejumlah kader Gerindra di pusat bahkan mendesak Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto untuk mendukung La Nyalla Mattalitti. “Dulu dia diremehkan, sekarang tidak lagi. Gerindra sudah beri sinyal mengusung dia,” sebutnya.

Pria yang dekat dengan Hashim Djojohadikusumo, adik Prabowo Subianto ini menambahkan, di internal Gerindra hampir 90 persen pengurus dan kader mendukung La Nyalla Mattalitti. Sebaliknya, sebagian besar kader Gerindra di DPP mengancam akan mundur bila partai tidak mendukung langkah politik La Nyalla.

“Ada ancaman dari mereka (pengurus dan kader) untuk mundur, jika tidak pilih jagoannya di Pilgub Jatim (La Nyalla),” tambahnya.

Secara empiris, partai yang dibesut Prabowo Subianto itu tidak akan mengusung Khofifah maupun Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Sebab baik Gus Ipul dan Khofifah (siapapun yang menang) tidak punya komitmen memenangkan Prabowo pada Pilpres 2019.

Ya, Pilkada Jatim 2018 sangat kuat kaitannya dengan Pilpres 2019. Karena itu dalam memandang kontestasi Pilkada Jatim juga harus berbanding lurus dengan kepentingan politik nasional, mengingat Jatim merupakan barometer politik nasional.

Baca juga: Tradisi PDI-P Bisa Bikin Gus Ipul Menangis

Sehingga tidak menutup kemungkinan Gerindra akan menjatuhkan pilihan pada La Nyalla. Hanya itu kemungkinan terbaiknya. Jika Gerindra mendukung La Nyalla, maka akan ada 13 kursi. Berarti masih kurang 7 kursi. Namun itu bisa ditutupi dengan bergabungnya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang memiliki 6 kursi dan Partai Amanat Nasional (PAN) dengan 7 kursi. Total 26 kursi.

Sejauh ini mantan Ketua Umum PSSI tersebut merupakan satu-satunya calon gubernur yang berani mendeklarasikan diri untuk maju. Berbeda dengan Gus Ipul dan Khofifah yang terkesan malu-malu mau, meski mereka juga melakukan roadshow ke sejumlah daerah untuk meminta dukungan.

“Meski belum punya kendaraan politik, dia tetap mau maju dan serius. Dan dukungan pun pelan-pelan mengalir secara masif. Itu belum termasuk dukungan dari Soekarwo karena politik balas budi,” urai sumber.

Jika pada Hari H-nya nanti La Nyalla tetap tidak didukung partai, lanjut sumber, dia akan maju sebagai calon perseorangan. “Tapi kemungkinan ini (jalur independen) kecil. Sebab Gerindra dan PKS sudah menyatakan kesediaan mengusung La Nyalla. Dia tinggal menunggu dukungan dari PAN saja. Secara historis pada Pilpres 2014, ketiga partai ini memiliki kesamaan misi  mengusung calon presiden Prabowo-Hatta. Jadi tidak menutup kemungkinan pada Pilgub Jatim kali ini, tiga partai ini akan kembali berkoalisi. Diakui atau tidak, La Nyalla nantinya juga akan mengerahkan mesin-mesin politiknya. Dia kuat di ormas Pemuda Pancasila (PP) dan Kamar Dagang (Kadin),” terangnya.

Terpisah, La Nyalla menilai Partai Demokrat (PD) tidak memberi edukasi politik yang baik ke publik dengan mengubah-ubah jadwal pendaftaran cagub dan Cawagub Jatim.

“Ternyata harapan besar kita bersama untuk mewujudkan proses politik yang jujur, transparan, dan kredibel tidak sejalan dengan keputusan Partai Demokrat yang saya nilai masih jauh dari nilai-nilai komitmen berpolitik secara sehat,” kata La Nyalla dalam pernyataannya, Senin (2/10/2017).

Menurutnya, ada inkonsistensi atas komitmen waktu pendaftaran yang sudah disepakati bersama para calon. Padahal, komitmen itu disampaikan partai di forum resmi maupun pernyataan tertulis resmi yang juga telah diketahui secara luas oleh publik melalui media massa.

Dengan membuka kembali pendaftaran calon gubernur oleh Partai Demokrat yang sebenarnya sudah ditutup, kata La Nyalla ada indikasi kuat keputusan itu dilakukan untuk mengakomodasi salah seorang calon saja. “Yang juga patut disesalkan, perubahan jadwal ini tanpa pemberitahuan kepada calon yang sebelumnya sudah mendaftar secara sungguh-sungguh. Itu menyalahi fatsun politik yang seharusnya dipahami elite partai. Publik diberi suguhan manuver politik yang tidak elok,” serunya.

Bagi La Nyalla, proses politik ini bukan soal menang kalah atau kuat lemah. Tapi setidaknya proses yang ditunjukkan elite partai bisa berdemokrasi dengan cara beradab. Publik saat ini membutuhkan keteladanan dari elite dan institusi politik, bukan sebaliknya. Karena itu La Nyalla memutuskan untuk mundur dari pendaftaran pencalonan gubernur Jatim dari Partai Demokrat. “Dengan kesadaran penuh berlandaskan akal sehat dan tanggung jawab serta komitmen saya untuk masyarakat Jawa Timur, saya mundur dari pendaftaran pencalonan Gubernur Jawa Timur dari Partai Demokrat. Ini soal komitmen dan kredibilitas dari sebuah proses politik yang seharusnya transparan, akuntabel, dan amanah,” tegasnya.

Hampir setahun dia sudah bertekad untuk mengikuti proses politik terkait Pilgub Jatim dengan fair. Sebagai bukti, dia telah mengunjungi 38 kabupaten/kota dan bertemu puluhan ribu tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, akademisi, aktivis sosial, dan berbagai elemen masyarakat untuk menyerap aspirasi mereka.

Dari situlah La Nyalla mengetahui betapa masih cukup banyak problem rakyat yang menuntut kehadiran negara.m, sehingga tekadnya untuk mengabdi bagi Jatim kian kuat. “Tentu saya menyadari sepenuhnya bahwa saya harus menjalani sebuah proses politik, tapi bukan hanya proses politik yang sarat manuver tak elok. Saya ingin menjadi bagian dari proses edukasi bahwa politik tak selamanya buruk sebagaimana dipersepsikan mayoritas rakyat selama ini. Maka kemudian saya mendaftar di Partai Demokrat yang saya anggap punya komitmen untuk membangun politik dan berdemokrasi secara jujur, elegan, dan sportif. Tapi ternyata kini kita harapan proses politik yang baik itu berbalik 180 derajat,” tutupnya.

Gus Ipul Curhat ‘Dipalak’ Parpol

Dari kontestasi Pilgub Jatim yang semakin memanas ini, posisi Gus Ipul paling tidak. Sebab, sampai sekarang Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) belum memberi rekom. Pun Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tampaknya akan mengalihkan dukungan ke kadernya sendiri, yakni Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma).

Hal itu terungkap dari curhatan Gus Ipul ke salah satu pengurus Parpol. Dia merasa dikerjai oleh partai yang pernah didatangi untuk mendaftar sebagai bakal calon gubernur (Bacagub) Jatim. Belum adanya rekom yang turun, membuat Gus Ipul gerah. Apalagi dia mengaku sudah memberi mahar saat pendaftaran ke sejumlah parpol.

“Gus Ipul curhat kalau dirinya dikerjain oleh partai-partai saat mendaftar. Gus Ipul bilang harus membayar mahar. Di Golkar bayar Rp50 juta, PDIP Rp100 juta, Hanura Rp20 juta dan PPP Rp35 juta,” kata sumber pengurus Parpol yang tidak mau disebutkan namanya.

Saat ini Gus Ipul, menurut sumber,  merasa tidak percaya diri karena belum memegang rekom sama sekali dari Parpol-parpol tersebut.

Untuk diketahui, Gus Ipul telah mendaftar di lima partai yakni Demokrat, PDIP, Golkar, Hanura, dan PPP. Namun dari sekian partai tersebut yang tidak menarik mahar hanya Demokrat. Sementara lainnya mematok biaya.

Kekecewaan Gus Ipul sebenarnya sudah terlihat saat dia menghadiri pelatihan forum pengurus karang taruna Jatim di Gedung Taman Budaya Cak Durasim, Senin (25/9/2017) lalu. Di hadapan forum dia tampak gusar karena belum mengantongi rekom. Malahan sejumlah Parpol meminta dia untuk mendaftar lewat DPP.

Saat itu wakil gubernur Jawa Timur ini meminta parpol-parpol yang pernah didatanginya untuk konsisten dengan proses yang sudah dibuat dalam menjaring calon. “Parpol konsisten jangan sampai keputusan keluar dari proses yang sudah dibuat,” tegas Gus Ipul.

Sementara pengamat politik dari Universitas Trunojoyo, Mochtar W Oetomo kepada Nusantara.News menegaskan, seharusnya Gus Ipul paham dengan dinamika politik. Dalam mekanisme partai antara DPD dan DPP tidak linear, sehingga Gus Ipul jangan terlalu berharap. Kalaupun tidak mendapat rekom, dia harus menerima dengan legowo. “Sikap itu bisa berdampak pada penilaian bahwa Gus Ipul tidak siap,” tegas mantan dosen Unitomo tersebut.

Direktur Surabaya Survey Center (SSC) itu menilai jika rekom tidak jatuh ke Gus Ipul, maka menjadi salah satu dilema dalam Pilgub Jatim. Pasalnya dinamika seperti ini pernah dialami kandidat lain yang pernah maju dalam Pilkada. “Dibilang dilema ya dilema. Sebab DPD yang paling tahu peta dan kondisi daerah. Paling tahu masing-masing kelemahan dan kelebihan kandidat. Tetapi kewenangannya hanya memberi masukan, sementara keputusan ada di tangan DPP,” tutupnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here