Jokowi – Ma’ruf Amin Vs. Prabowo – Sandi, Ganti Presiden 2019 Terwujud

1
822
Foto: Antarafoto

Nusantara.news – Dengan dipastikannya pasangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo – Ma’ruf Amin versus Prabowo Subianto – Sandiaga Uno sudah bisa diprediksi terjadi pergantian presiden 2019 jika Pilpres berlangsung jujur dan terbuka. Ma’ruf Amin memang Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Rais ‘Aam Syuriah PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), tapi belum tentu membawa suara signifikan pada umat Islam, termasuk suara Nahdlatul Ulama (NU). Sementara, Sandiaga Uno sudah pasti mendulang suara bagi Prabowo Subianto (PS), karena akan menjadi magnet pemilih muda (17–35 tahun). Kita teringat pada tahun 2004 ketika Megawati Soekarnoputri berpasangan dengan KH. Hasyim Muzadi yang dianggap gabungan suara nasionalisme – relijius, dan NU nyatanya kalah telak dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) – Jusuf Kalla (JK). Namun begitu PS – Sandi jangan dulu “besar kepala” karena jika salah dalam memformat strategi kampanye semua potensi dan peluang yang ada akan menjadi bumerang.

Sengkarut pemilihan cawapres ala ‘dagang sapi’ partai politik pengusung PS berakhir dengan kejutan munculnya kuda hitam bernama Sandiaga Uno, yang saat ini menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta. Selain itu, jabatan sebagai tim sukses (timses) PS berkesempatan untuk berkomunikasi intensif dengan calon parpol pengusung. Tentunya buah dari hal itu Sandi tahu persis apa “kebutuhan deal” dari A sampai Z untuk dukungan parpol tersebut, termasuk kriteria cawapres dengan segala persyaratannya.

Dari segi “kendaraan”, PS butuh Partai Keadilan Sejahtera (PKS), karena menjadi sekutu ideologinya. Sandiaga Uno nama “kompromi” bagi Partai Amanat Nasional (PAN) dan PKS, tapi tidak untuk SBY (Partai Demokrat). Mengagetkan semua pihak, termasuk SBY karena nama Sandi tidak pernah disebut sebelumnya, justru yang sering digadang-gadang adalah Anies Baswedan. Politik itu seni atas segala kemungkinan (the art of possible in mission impossible).

Sandiaga Uno dalam kapasitasnya sebagai Wakil Ketua Partai Gerindra (sekaligus timses dan negosiator) mampu meyakinkan parpol pengusung bahwa dirinya adalah solusi dari sengkarut cawapres PS. PAN dan PKS menjadi “happy”, dan menguat dalam tiga hari ini di tengah publik. Hal ini menunjukkan kepiawaian Sandiaga Uno sebagai politisi, setelah sebagai anak muda (49 tahun) berhasil sebagai pengusaha, dan sejak 2017 sebagai birokrat yang dianggap berhasil.

Cawapres Mumpuni

Sandiaga Uno adalah representasi kalangan muda, karena dari usia belia berhasil secara personal, baik pendidikannya maupun bisnisnya. Karakternya mewakili generasi muda karena di tahun 2009 telah menempatkan dirinya sebagai orang terkaya No. 29 versi Majalah Forbes di saat usianya masih 40 tahun. HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) adalah organisasi yang mengerek dirinya, sehingga sering tampil sebagai pembicara publik untuk tema “entrepreneurship”. Pendidikannya mumpuni sebagai alumni The George Washington University, dan bisnisnya berhasil dengan bendera Saratoga dan Recapital. Kedekatannya dengan keluarga William Soerjadjaja (Edward dan Edwin) membesarkan namanya di kalangan bisnis, HIPMI, serta KADIN (Kamar Dagang dan Industri).

Menjadi anak muda sukses adalah trademark Sandiaga Uno sebagai bekal dirinya bertarung pada Pilpres 2019. Potensi suara anak muda adalah celah terbesar yakni 81,5 juta atau 45% dari jumlah DPT (Daftar Pemilih Tetap) sejumlah 196 juta orang. Magnitude suara anak muda dengan mudah digaet Sandi jika sudah berkampanye. Suara anak muda salah satu keunggulan komparatif Sandi dibanding cawapres lainnya, seperti Habib Salim Segaf Al-Jufri (PKS), maupun Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang oleh publik dipersepsikan sebagai “dikerek” orangtuanya. Sandi mandiri dan bukan karena keluarganya, dan dia membuktikan sukses tidak hanya dalam bisnis, tapi juga dalam bidang politik.

7 Keunggulan Komparatif Sandiaga Uno

ASPEK POTENSI PELUANG
Kekuatan logistik Sandi telah berhasil meyakinkan parpol pendukung soal logistik “aman”, khususnya untuk PAN dan PKS Secara logistik, amannya biaya Pilpres; biaya kampanye, saksi, dan lainnya membuat parpol menjadi solid, dan mesin parpol akan bekerja baik
Dukungan dunia usaha Kekuatan diri dan akseptabilitasnya pada dunia usaha akan mudah memperoleh dukungan karena biaya awal tersedia gabungan kekuatan Sandi dan PS memadai Dukungan finansial juga berpotensi suara dari karyawan jika pengusaha berpihak pada Sandi
Potensi suara muda Usia 16–35 tahun berjumlah 81 juta orang yang relatif “bebas dari beban masa lalu” menginginkan perubahan dan memahami era milenial Sandi menjadi magnet, jika dikemas khusus berpotensi meraih suara 50%-nya atau sekitar 40 juta orang
Dukungan pasar global (AS, Cina, dan Eropa) Dunia usaha (pengusaha dan karyawan) tentu akan mendukung Sandi sebagai figur cawapres yang didukung elite global Dukungan politik dan investasi asing di Indonesia
Bebas dari beban masa lalu Salah satu beban masa lalu adalah sandera-menyandera elite parpol, dan Sandi bebas dari hal tersebut, serta bersih secara ekonomi Memenuhi syarat integritas dalam variabel calon Presiden dan Wakil Presiden

 

Figur yang teknokratis dan akseptabel Konsentrasinya pada pembinaan UMKM menjawab tuntutan ekonomi pada Pasal 33 UUD 1945 dengan keberhasilan OKE OCE untuk menanggulangi kemiskinan dan ketimpangan sosial di Indonesia Kapasitas dan kapabilitasnya sebagai teknokrat mumpuni dan sangat menjawab kebutuhan terhadap problem ekonomi Indonesia.

Mempunyai akseptabilitas yang tinggi akan mendorong elektabilitas PS

Menjadi pelengkap dan antitesa Joko Widodo Kelemahan mendasar Joko Widodo adalah lemahnya leadership mengakibatkan krisis ekonomi yang melahirkan dan membesarkan gerakan #Ganti Presiden 2019 Prabowo strong leadership dan Sandi Sang Teknokratis.

Mereka adalah pasangan Sang Pembebas Indonesia dari kemiskinan, ketimpangan, dan ketertinggalan Indonesia

 

Secara logistik dalam kampanye pada era politik transaksional, dan secara faktual Sandi mampu meyakinkan tiga parpol pengusung, termasuk Prabowo Subianto dan rekan-rekan di Partai Gerindra.

Selain faktor magnet pemilih muda, ketersediaan logistik dan integritas, kapasitas dan kapabilitasnya dalam bidang ekonomi mampu menjawab persoalan ekonomi yang dihadapi Indonesia saat ini karena “pasar” diyakini menerima dengan senang hati kehadirannya di bursa kepemimpinan nasional. Selain bisnis adalah entitasnya, kemampuannya meyakinkan pasar, konon kehadirannya didukung oleh Washington DC, Beijing, maupun Moskow, karena Jakarta-Moskow sebagai sister city, dominan dari lobi Sandi.

Faktor kelima kehadiran Sandi tentu antitesa dari kelemahan Joko Widodo yang dinilai gagal dalam bidang ekonomi, dan PS antitesa dalam kelemahan kepemimpinan nasional karena tegas, berwibawa, dan berjiwa nasionalisme. Mereka dipastikan pasangan strong leaderships.

Positioning Politik Sandi

Bagi timses, mudah memoles citra untuk branding campaign Sandi, karena dia adalah figur yang bebas dari “beban” masa lalu. Sukses dirinya karena upaya dirinya sendiri, bukan ‘karbitan’ seperti yang lain, kapasitas dan kapabilitas mumpuni baik sebagai pengusaha maupun teknokrat, walaupun baru dua tahun ini ia menjadi Wakil Gubernur di DKI Jakarta. Program Oke Oce dan Rumah Tanpa DP (Down Payment) adalah buah tangan Sandi. Keberpihakannya pada UMKM (Usaha Menegah Kecil Mikro) juga modal dasar dirinya secara politis, untuk memperoleh simpati dari publik.

Muda sudah sukses, di usia saat ini dari segi karakter sudah matang (49 tahun), tapi tetap bergaya hidup “muda”, rajin berolah raga, gaul secara sosial, dan punya komunitas tapi sukses secara ekonomi. Sukses yang hanya bisa diraih segelintir orang, Sandi salah satunya. Dari segi karakter dia adalah idola anak muda bahkan setelah kampanye diyakini sebagai ikon kalangan anak muda di Indonesia.

Pemilih pemula (16–19 tahun) berkisar di angka 16 juta orang masih murni secara politik benak dan hatinya, posisi politiknya sebagai pemilih. Sandi paling potensial meraih suaranya. Usia muda seperti mahasiswa dan pemuda (20–21 tahun) sekitar 22 juta orang, sedangkan usia profesional muda (25–35 tahun) ada sekitar 43 juta orang, sehingga total anak muda yang potensial menjadi pemilih ada 81 juta orang atau sekitar 45% dari potensi pemilih di Pilpres 2019.

Keberadaannya di HIPMI dan KADIN bukan tidak mungkin juga potensial menggaet suara di segmen pemilih usia 40–50 tahun yang sebaya dengan dirinya.

Bebas dari beban masa lalu, dan sandera menyandera politik salah satu keunggulan Sandi, sehingga publik bisa berharap kepadanya perubahan ekonomi ke arah yang lebih baik.

Potensi Sandi Secara Angka

DPT 196 juta orang, dan asumsi suara sah 70% sehingga ada sekitar 137,2 juta yang diperebutkan pada Pilpres 2019, diyakini 60% akan memilih Prabowo–Sandi. Dengan hadirnya Sandi, kita tidak disuguhkan “menu basi” sehingga publik terobati karena Presidential Threshold 20% telah mengurangi akses publik untuk menentukan pilihannya. Sementara politik dagang sapi melahirkan nama-nama yang sebenarnya bukan yang diinginkan publik, dengan drama pemilihan nama yang “last minutes” masih berkembang H-1 sebelum batas akhir pendaftaran tidak patut karena tidak “mendidik” secara politis. Seolah rakyatnya hanya sebagai objek politik, bukan subjek politik, dipacari ketika kampanye, sementara menikahnya dengan oligarki setelah mereka berkuasa.

Lalu bagaimana tanggapan dari para taipan yang merupakan oligarki di Indonesia?

Secara objektif oligarki bagian dari pasar (bursa, valuta asing, komoditi) yang endorsement (mendukung), ditentukan secara politik oleh pelaku di pasar global. Amerika Serikat (AS) dan Cina, serta Eropa tentu turut andil dalam menentukan pilihan para taipan karena mereka adalah “komprador” dalam skema kapitalisme global. Kita menyebutnya paham neoliberalisme yang dikomandani Sri Mulyani Indrawati (SMI) pada Kabinet Joko Widodo. Jika Sandi hadir dan dipahami ada sinyal dari Washington DC, berarti AS tidak bermasalah, dan pelaku pasar akan merespon positif saham Saratoga miliknya langsung melejit.

Sementara negara Cina dan pengusaha China’s Overseas (Cina perantauan) yang gagal diyakinkan Joko Widodo selama 4 tahun ini karena negara Cina baru mempercayakan USD 9 miliar (untuk BUMN dan Kereta Api Cepat Jakarta–Bandung). Sementara China’s Overseas dengan gagalnya reklamasi dan proyek Meikarta agak trauma, kecuali proyek secara FDI (Foreign Direct Investment/Investasi Langsung Luar Negeri) berjalan. Hal itu membawa isu negatif Tenaga Kerja Asing (TKA) di level buruh yang ditentang oleh rakyat Indonesia. Joko Widodo bukan partner lagi bagi Cina. Joko Widodo juga cacat di mata AS untuk dua hal, yatu: 1. Kedekatannya dengan Cina; 2. Soal perpanjangan Kontrak Freeport Indonesia (FI).

Saat ini PS tertolong kasus Hak Azasi Manusia (HAM)-nya dengan AS karena faktor Sandi didukung penuh oleh Washington DC, dan sekaligus pukulan buat Joko Widodo dalam dukungan internasional.

Kehadiran Sandi mendampingi PS melahirkan simbiosis-mutualistis, dan saling melengkapi. PS yang terbatas logistiknya tertolong dengan kehadiran Sandi. PS yang tua dari segi usia sehingga dianggap kalah di segmen pemilih muda, ini tertutupi dengan kehadiran Sandi. PS yang bingung dengan persyaratan parpol pengusung menemukan solusi dengan kehadiran Sandi, yang pasti membesarkan suara Gerindra pada Pileg 2019.

Joko Widodo dipastikan akan “kejang-kejang” menghadapi Prabowo–Sandi, karena selain NU, sudah ada kampanye pencitraan agar suara muda diraihnya. Motor chopper dan jaket denim, bermain tinju dan memanah, serta aktif di sosial media adalah idiom strateginya meraih suara muda, walaupun secara fisik kesannya sangat dipaksakan.

Sementara, Sandi adalah solusi bagi PS dan menutupi semua kelemahannya, walau satu partai tetap simbiosis-mutualistis dalam konteks kontestasi mendulang suara di Pilpres 2019 ini.

Dipastikan, Gerakan #Ganti Presiden 2019 akan terwujud pada April 2019. Indonesia akan punya Presiden baru yang nasionalis dan teknokratis, mampu menjawab seluruh problem yang dihadapi bangsa Indonesia, sebagai pasangan strong leaderships. Prabowo dengan ketegasan dan sikap nasionalismenya, dan Sandi sang teknokrat; keduanya mampu menjadi “Sang Pembebas Indonesia” dari kemiskinan, ketimpangan sosial, dan ketertinggalan Indonesia. []

1 KOMENTAR

  1. Formula2 anyar agar terwujud, pasangan ini mesti bertatap muka langsung dg penulis…hingga berhasil, penulis terus berada didalam pasangan ini.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here