Jokowi Memecah Gerakan 212?

1
199

GERAKAN 212 adalah gerakan moral terbesar dalam sejarah negeri ini. Rangkaian aksi unjuk rasa mereka berlangsung damai, tanpa kericuhan anarkis. Padahal demonstrasi jutaan orang seperti itu sangat mudah diprovokasi.

Ada memang gerakan moral lain yang juga sama massifnya, seperti aksi-aksi rakyat di akhir masa Orde Lama yang dilakukan Angkatan 66, dan gerakan serupa di penghujung era Orde Baru yang dilakukan Angkatan 98. Namun, jika dispesifikasikan, Gerakan 212 jauh lebih besar.

Dari segi tujuan misalnya jelas sangat spesifik: Menuntut Basuki Tjahaja Purnama dihukum karena menistakan agama Islam. Sementara gerakan 1966 dan 1998 menyasar sebuah rezim pemerintahan. Periodesasi juga lebih pendek, hanya beberapa bulan saja. Berbeda dengan gerakan menjatuhkan Orde Lama dan Orde Baru yang terinkubasi cukup lama. Meski begitu, hingga kini wibawa Gerakan 212 masih terasa. Gerakan 1966 dan 1998 diikuti oleh rakyat secara meluas, yang dimotori mahasiswa, tanpa memandang agama. Sedangkan Gerakan 212 terbatas pada umat Islam saja –itupun masih ada kelompok umat Islam lain yang dikomandoi mendukung Basuki.

Kini setelah Basuki dipenjara, eksistensi gerakan ini tak langsung sirna. Mereka justru makin mengkristal dengan sejumlah aktivitas lain. Misalnya kegiatan ekonomi dan koperasi, dengan mendirikan toko-toko ritel berjaringan dengan bendera 212-Mart, Kita-Mart dan lain-lain

Karena sangat spesifik, solid, ideologis dan captive, maka gerakan ini “dipandang” orang. Ada yang memandang dengan rasa takut atau justru malah tertarik.

Lalu hari Minggu kemarin ada pertemuan antara sejumlah tokoh Persaudaraan Alumni 212 dengan Presiden Joko Widodo di Bogor. Acara itu sebenarnya diadakan secara rahasia, tapi entah mengapa tersiar juga beritanya. Tak pelak lagi, muncullah pro-kontra. Kelompok lain, yang menamakan diri Presidium Alumni 212, mengklaim bahwa yang bertemu Joko Widodo itu bukan bagian dari mereka.

Lepas dari friksi internal itu, Presidium Alumni 212 merasa kuat alasannya untuk bertemu dengan Presiden. Sebab, jika ulama mendatangi penguasa dalam rangka memberi koreksi, itu merupakan jihad yang besar. Ini sesuai hadits Nabi Muhammad yang diriwayatkan Abu Daud, bahwa “Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran di depan penguasa yang zalim”. Sama seperti Musa yang mendatangi Fir’aun.

Jika para tokoh itu (katakanlah) bermaksud jihad, Presiden Joko Widodo juga punya maksud sendiri. Menurut Presiden, semangat pertemuan ini adalah menjalin tali silaturahmi dengan para ulama, habib, kyai, ustaz dari seluruh Tanah Air, menjalin ukhuwah dalam rangka menjaga persaudaraan dan persatuan di antara kita.

Tapi, ada sisi keuntungan politis yang sangat bernilai bagi Joko Widodo. Sebab, gerakan ini berawal sebagai protes terhadap Basuki Tjahaja Purnama yang melakukan pelecehan Al Maidah, dan Jokowi dianggap bagian dari pendukung Ahok.

Artinya, jika stigma ini tidak segera dicairkan, pasti akan merugikan potensi elektabilitas Jokowi dalam Pemilu Presiden 2019 nanti.

Jika pemilu itu ibarat perang, maka strategi paling ampuh adalah memecah kekuatan lawan. Dengan stigma itu tadi, di atas kertas dukungan kelompok 212 pasti akan mengalir ke tokoh lain selain Jokowi. Karena dalam “klasemen” Pilpres ini baru ada Jokowi dan Prabowo, maka sangat mungkin sang jenderal itulah yang akan didukung Alumni 212. Apalagi beberapa tokoh dari koalisi Partai Gerindra dan PKS terlihat aktif dalam rangkaian aksi-aksi 212 itu. Oleh sebab itu, dari sisi strategi politik, pertemuan tersebut bisa dibaca sebagai upaya Jokowi memecah kekuatan Prabowo.

Terlepas dari itu, sebuah gerakan moral berskala besar yang menempatkannya dalam posisi “dipandang”, entah secara politis maupun ekonomis, pasti melahirkan dua konsekuensi yang sangat lumrah. Pertama, dari eksternal kelompok, akan lahir ambisi untuk mengkooptasi agar potensi yang dahsyat itu dapat diberdayakan untuk tujuan tertentu. Kedua, dari internal kelompok, akan terpancing pula keinginan melakukan kapitalisasi atas potensi itu.

Itulah yang terjadi dengan Angkatan 66 atau Angkatan 98. Keinginan kooptasi dari pemerintah diwujudkan dengan memberikan ‘gula-gula” manis yang memabukkan. Bentuknya beragam. Entah jabatan politik, atau imbalan lain. Dari sisi itulah dapat dipahami banyaknya eksponen gerakan itu yang duduk di eksekutif, legislatif atau sekadar menjadi komisaris di BUMN pada masa yang berbeda.

Dulu mereka bergandengan tangan  di jalanan dengan tuntutan yang sama. Setelah itu mereka harus bersaing, atau bahkan saling sikut, dengan bendera dan kepentingan yang berbeda.

Apakah mereka menjilat ludahnya sendiri? Terlalu hitam putih pertanyaan itu. Toh kehidupan senantiasa menyajikan diversifikasi pilihan: Meneruskan pilihan lama, atau mencoba pilihan baru. Para bekas aktivis itu memutuskan mencoba pilihan baru. Apakah pilihan itu untuk meningkatkan status hidup, atau untuk sesuatu yang idealistik, hanya mereka yang bisa menjawab.

Gerakan moral memang tidak memiliki batas-batas tujuan yang ketat. Tujuan mereka, secara normatif, adalah kemaslahatan. Sejauh bertujuan untuk kemaslahatan, gerakan moral bisa bertemu atau bekerjasama dengan siapa saja.

Berbeda dengan gerakan politik.Tujuannya jelas, agregasi kepentingan dan kekuasaan. Sehingga batas-batasnya baku dan kaku. Pertemuan gerakan politik hanya dilakukan dengan kawan seiring. Bertemu, apalagi bekerjasama dengan lawan, adalah pengkhianatan.

Apakah perbedaan pandangan antara kelompok berbeda dalam Gerakan 212 ini menyikapi pertemuan dengan Presiden Jokowi bisa disebut sebagai perpecahan? Tergantung bagaimana gerakan ini mendefinisikan dirinya. Jika 212 adalah gerakan politik, pertemuan dengan Jokowi jelas menimbulkan kecurigaan. Karena dalam aksi-aksi tempo hari, Jokowi mereka posisikan di kubu berlawanan. Bahwa pertemuan di Bogor itu diadakan secara rahasia, mungkin bukan perkara yang perlu dipandang dengan syak wasangka  –walaupun terkesan tak biasa, karena setiap pertemuan ulama dengan Istana selalu dijadikan berita.

Tapi, andaikata Gerakan 212 ini memang murni gerakan moral, tak ada yang salah dari pertemuan itu. Sebab, siapa nyana, ada kemaslahatan di akhir cerita.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here