Jokowi Perlu Ungkap Lebih Spesifik Isi Pembicaraan dengan Wapres AS

0
203

Nusantara.news, Jakarta – Presiden Jokowi perlu ungkap lebih spesifik apa isi pembicaraan antara dirinya dengan Wakil Presiden Amerika Serikat Michael R. Pence yang berkunjung ke Indonesia, Kamis (20/42017). Pertama, karena kunjungan itu hanya beberapa jam setelah Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok dinyatakan kalah dalam Pilakda DKI Jakarta. Kedua, karena pada tanggal 19 April itu juga, beredar artikel bertajuk, “Investigasi Allan Nairn: Ahok Hanyalah Dalih untuk Makar” yang viral setelah dimuat di salah satu situs berita tidak terkenal di Indonesia. Apakah kedatangan Pence yang singkat terkait dengan kekalahan Ahok?

Hubungan Dagang  Bebas dan Adil

Ada beberapa kemungminan isu yang dibahas Jokowi dengan Pence. Salah  satunya adalah masalah semenanjung Korea panas, setelah Korea Utara meluncurkan misil balistik dalam rangka latihan beberapa pekan lalu. Peluncuran itu mengundang reaksi Amerika yang mengancam menyerang Korea Utara sebagaimana mereka menyerang Suriah. Masalah itu sangat panas karena Korea Utara tak gentar menghadapi ancaman Amerika.  Pyongyang bahkan balas mengancaman dengan mengatakan akan membombardir Korea Selatan sampai menjadi debu dan menenggelamkan Jepang.

Tetapi tidak ada keterangan sama sekali dari Istana bahwa Jokowi dan Pence membahas masalah Korea Utara itu.

Masalah Freeport? Luhut Binsar Panjaitan, mengatakan masalah Freeport ada dibicarakan, tetapi hanya sedikit. “Selebihnya, kedua pemimpin membicarakan masalah hubungan ekonomi kedua negara,” kata Luhut tanpa merinci secara lebih detil hubungan ekonomi yang dimaksud.

Michael Richard Pence juga tidak secara gamblang menyebutkan agenda kedatangannya ke Indonesia. Namun, dalam keterangan pers bersama dengan Presiden Jokowi, Pence menyampaikan komitmen Amerika Serikat untuk perluasan hubungan perdagangan dengan Pemerintah Indonesia.

“Di bawah pemerintahan Trump, Amerika berupaya mengembangkan perdagangan secara bebas dan adil demi pembukaan lapangan pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi bagi kedua belah pihak,” kata Pence.

Di bagian lain Pence berharap untuk kedepannya, berbagai hambatan perdagangan dari kedua negara segera diselesaikan, sehingga eksportir asal Amerika pun dapat masuk secara penuh ke pasar Indonesia, seperti halnya kemudahan eksportir Indonesia memasarkan produknya ke pasar Amerika.

Pernyataan Pence pada poin “perdagangan secara bebas dan adil” dan  “berbagai hambatan perdagangan dari kedua negara segera diselesaikan,” menjadi perhatian dalam hal ini.

Mengapa, karena dalam hal hubungan dagang tidak biasa diselipkan kata “bebas dan adil”. Kata yang biasa dipakai adalah “meningkatkan” hubungan dagang.

Demikian juga kata “berbagai hambatan perdagangan dari kedua negara segera diselesaikan,” tidak lagi perlu lagi diucapkan di era perdagangan bebas seperti sekarang ini.

Karena itu Presiden Jokowi perlu memberikan keterangan secara lebih rinci isi pembicarannya dengan Pence. Misalnya, apa yang dimaksud Pance dengan “perdagangan bebas dan adil”, dan apa yang dimaksud dengan “hambatan perdagangan” itu?  Apa atau dalam konteks apa Pance mengemukakan hal itu?

Tafsir pernyataan Pance memang lebih dekat bila dikaitkan dengan Tiongkok karena program tol laut Jokowi memang pula terkait dengan jalur sutra milik Tiongkok. Jokowi juga pernah mengatakan akan mematok kurs rupiah dengan mata uang Tiongkok, yuan.

Lebih dari itu, sejak Jokowi, berkembang isu-isu terkait dengan China atau Tiongkok. Artikel Allan Nairn juga terkait dengan Ahok yang diyakini banyak kalangan terkait dengan konglomerat China perantauan yang merupakan bagian dari Pemerintah Tiongkok.

Presiden Jokowi  dalam keterangan pers bersama dengan Pence mengatakan, “Komitmen Amerika untuk meningkatkan strategic partnership dengan Indonesia akan fokus pada bidang kerjasama investasi. Bulan depan akan ada tim yang membahas mengenai pengaturan perdagangan dan investasi berdasarkan prinsip-prinsip win-win solution.”

Pernyataan ini jelas, bahwa Pance memperoleh apa yang diinginkannya, bahwa Indonesia menerima dan akan menjadikan Amerika sebagai partner strategis.

Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana dengan Tiongkok yang selama ini juga dijadikan partner strategis? Pertanyaan lain, apakah penerimaan itu karena Jokowi merasa terancam sesuai isi artikel Allan Nairn.

Atau penerimaan itu merupakan bagian dari manuver Jokowi untuk memperoleh proteksi politik baru dan selanjutnya meninjau hubungannya dengan China perantauan setelah kekalahan Ahok secara telak di Pilkada DKI Jakarta? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here