Jokowi-Puan vs Prabowo-AHY, Siapa Menang?

3
788
Susilo Bambang Yudhoyono berbincang dengan Prabowo Subianto sebelum pertemuan tertutup di Puri Cikeas, Bogor, Kamis (27/7).

Nusantara.news, Jakarta – Pemilihan Presiden (Pilpres) masih sekitar dua tahun lagi, namun elit partai politik tampaknya sudah mulai membangun koalisi untuk mengusung pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres). Menariknya, ada dua poros yang sebelumnya disebut-sebut sulit menyatu kini saling mendekatkan diri, yakni poros Cikeas (Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY/Demokrat) dengan poros Hambalang (Prabowo Subianto/Gerindra).

Jika pendekatan keduanya menemui titik temu, kedua poros tersebut bisa jadi akan mengusung pasangan Prabowo dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Sebab, SBY besar kemungkinan tak akan maju lagi, walaupun dibolehkan menurut Undang-undang. SBY tentu akan berjuang keras mendorong putera mahkotanya AHY untuk disandingkan dengan Prabowo. Di poros ini nantinya akan menyatu empat partai yakni, Gerindra, Demokrat, PKS, dan PAN.

Sementara di sisi lain ada poros Teuku Umar (Megawati/PDI-P) yang kemungkinan akan mengusung Jokowi – Puan Maharani. Sama dengan SBY, Megawati yang juga mustahil akan mencalonkan diri, apalagi sudah dua kali kalah dari dua pilpres sebelumnya. Megawati tentu akan mempertahankan Jokowi sebagai “petugas partai” dengan menggandeng puteri mahkotanya, Puan Maharani.

Di poros ini. Selain PDI-P ada dua partai yang sejak awal sudah menyatakan sikap mendukung Jokowi sebagai capres 2019, yakni Golkar dan Nasdem. Ditambah Hanura, PPP, dan PKB.

Di kedua poros tersebut, masing-masing ada dua partai berbasis Islam. Di poros Hambalang-Cikeas ada PKS dan PAN yang representasi Islam modernis, sedangkan di poros Teuku Umar ada PKB dan PPP mewakili Islam tradisional.

Diketahui PAN berbasis massa Muhammadiyah dan PKS basis massanya multikompleks mulai dari Muhammadiyah, Persatuan Islam (Persis) dan muslim perkotaan lainnya. Sedangkan PPP dan PKB punya basis massa yang sama, yakni NU.

Dengan begitu, maka di kedua poros sama-sama mengandalkan kombinasi kekuatan Nasionalis – Islam. Sebab, Demokrat, Gerindra, Golkar, Nasdem, Hanura, dan PDI-P merupakan partai berbasis massa nasionalis.

Ghirah Pilkada DKI

Kalau melihat komposisi kedua poros tersebut, tampaknya tak jauh berbeda dengan pertarungan di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017 yang baru saja usai. Dimana, Demokrat, PKB, PPP versi Romi dan PAN mengusung duet AHY-Sylviana Murni, sedangkan PKS dan Gerindra mencalonkan Anies Baswedan – Sandiaga Uno serta PDIP, Golkar, Hanura, PPP versi Djan Faridz, dan Nasdem menjagokan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) – Djarot Syaiful Hidayat. Meskipun di putaran kedua PKB dan PPP secara bulat berbalik mendukung Ahok – Djarot, Karena AHY – Sylvi gugur di putaran pertama.

Di putaran kedua, Anies – Sandi yang hanya diusung PKS – Gerindra ternyata mampu menang mutlak. Kemenangan itu sebenarnya bukanlah murni dari kekuatan mesin politik kedua partai, melainkan dukungan dari sejumlah Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam, seperti Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Persaudaraan Muslim Indonesia (Parmusi), Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), Pemuda Muhammadiyah dan lainnya. Selain itu juga ada dukungan dari tokoh-tokoh Islam kharismatik seperti KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), Ustad Bachtiar Nasir, Habib Rizieq Shihab, Ustad Arifin Ilham dan yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa – Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI).

Soliditas ormas Islam dengan para tokohnya dilatarbelakangi oleh adanya kesamaan misi menolak Ahok untuk kembali memimpin Ibukota. Penolakan itu semakin kuat manakala dalam pidatonya di Pulau Seribu, Ahok mengusik Al-Quran dengan menyentil Surat Al-Maidah ayat 51. Sejak itu, kekuatan Umat Islam melalui sejumlah aksi menuntut Ahok diadili sebagai penista agama tak terbendung. Puncaknya pada tanggal 2-12-2917 atau dikenal dengan Aksi 212. Sekitar tujuh juta Umat Islam turun ke jalan dengan menggelar Shalat Jumat yang berpusat di Monumen Nasional (Monas), Jakarta.

Semangat atau ghirah warga Ibukota yang mayoritas Islam untuk menumbangkan Ahok di Pilkada DKI berujung pada kekalahan Ahok – Djarot.

Apakah ghirah umat Islam melawan partai pendukung Ahok saat Pilkada DKI akan ikut mempengaruhi hasil Pilpres 2019 nanti?

Jika perasaan “terluka” dari mayoritas Umat Islam masih tersisa, dan bisa dimanfaatkan secara cerdas oleh kubu Hambalang-Cikeas, maka tentu akan mempengaruhi hasil pilpres. Apalagi, komposisi partai yang ada di poros Teuku Umar sama persis saat Pilkada DKI. []

3 KOMENTAR

  1. tapi saya lebih resep dan seneng sama ibu puan, karna dia perempuan sendiri bagus itu, dari dlu kan gak ada wapres yang perempuan di indonesia

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here