Jokowi Tunda Perombakan Kabinet karena Beda Pendapat dengan JK

2
363

Nusantara.news, JAKARTA –  Kabar reshuffle kabinet yang berhembus kuat, sudah dijawab dengan tegas oleh Jokowi dengan mengatakan tidak ada resuffle atau perombakan kabinet dalam waktu dekat. Namun demikian pengamat politik dari Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Abdul Hamid memprediksi, perombakan kabinet akan tetap terjadi. “Hanya tertunda sedikit karena terjadi tarik menarik antar Jokowi dan Jusuf Kalla (JK) pasca kekalahan Basuki Tjahaya Purnama di Pilkada DKI Jakarta,” kata Abdul Hamid kepada Nusantara.news di Jakarta, Kamis (27/4)

Menurut Abdul Hamid, Jokowi dan Jusuf Kalla masing-masing menjagokan orang yang berbeda pada Pilkada DKI Jakarta yang berakhir dengan kekalahan pasangan Ahok-Djarot.

Jokowi mendukung pasangan Ahok – Djarot, sementara JK melalui adik iparnya Aksa Mahmud mendukung Anies – Sandi.

Lantaran itu, terjadi tarik ulur dua faksi di Istana. Jokowi menyatakan perlunya perombakan kabinet, sementara JK menilai tidak perlu, yang berakhir dengan penundaan.

Abdul Hamid memprediksi, perombakan kabinet akan tetap terjadi. Sebab, perombakan itu tidak hanya terkait pada isu beda pendapat antara Jokowi dan JK, tapi juga terkait dulangan suara Jokowi di Pilpres 2019 mendatang. “Saya sangat yakin, perombakan akan tetap terjadi. Kita lihat saja nanti,” jelas Hamid.

Alasannya, lanjut Hamid, hingga sekitar dua tahun sisa masa pemerintahan Jokowi-JK, masih banyak program yang dianggap tidak berhasil. Di antaranya, bidang pertanahan atau agraria, peningkatan ekonomi pedesaan, insfrastruktur dan program populis revolusi mental lainnya.

Jokowi, menurut Hamid, sekarang merasa terbebani oleh janji-janji itu tadi. Untuk bisa optimis pada Pilpres 2019, dia harus memenuhi tingginya ekspektasi mayarakat akan terjadinya perubahan dan meningkatnya kesejahteraan.

Sehingga, mau tidak mau, Jokowi harus mengambil sikap tegas merombak kabinet khususnya bidang tertentu demi mencapai target itu.

“Tapi, Jokowi harus cernat, jangan sampai perombakan jadi bumerang karena dalam kabinet juga ada ‘orang JK’. Dan, JK tidak boleh dipandang hanya memiliki Golkar tapi juga kekuatan Islam yang saat ini sudah menunjukkan kehebatannya. Kelompok Islam ini, lebih bisa menerima JK dibanding lainnya dan ini harus dihitung Jokowi untuk kepentingan 2019 nanti,” papar Hamid.

Oleh sebab itu, menurut Hamid, Jokowi akan memaksakan perombakan kabinet, minimal di kementerian bidang ekonomi, infrastruktur dan pertanahan/agrarian. “Sukses di bidang ini secara politis bisa mengkapitalisasi suara dukungan buat Jokowi di 2019 nanti. Sebab program lainnya sudah sulit diharapkan berhasil,” kata Hamid.

Program di kementerian tersebut langsung menyentuh masyarakat kelas menengah ke bawah yang jumlahnya mayoritas. Misalnya, program sertifikasi 5 juta hektar, yang sampai saat ini baru tercapai 2 juta hektar. Begitupun redistribusi lahan yang belum terlihat hasilnya.

Selain itu, infrastruktur yang juga banyak terkendala lahan dan dana. Sementara, soal upaya mencari tambahan dana melalui sejumlah program Kementerian Keuangan, seperti tax amnesty juga tak sesuai harapan.

“Saya yakin Jokowi akan melakukan reshuffle kabinet, sebab jika tidak, maka rakyat akan menagih janjinya, dan itu akan berdampak buruk pada perolehan suaranya di Pilpres 2019 nanti. Bukan hanya buruk bagi Jokowi, tapi juga buruk bagi PDI-Perjuangan,” pungkasnya. []

2 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here