Jual Beli Fosil Purba di Bojonegoro Terorganisir

0
376
Fosil gajah di Museum Geologi. Di pasar gelap, fosil purba bisa dihargai Rp 25 juta hingga seharga satu buah mobil.

Nusantara.news, Bojonegoro – Kabupaten Bojonegoro baru saja menerima sertifikat Geopark Nasional sebagai kawasan cagar alam geologi. Sesuai potensinya Geopark Bojonegoro memiliki hamparan minyak bumi. Di sini juga ditemukan fosil gigi hiu purba, tepatnya di Desa Jono, Kecamatan Temayang. Tidak hanya itu, ada juga temuan fosil binatang darat, antara lain Stegodon (gajah purba) berupa gading dan kepala, banteng dan kuda nil purba.

Sayangnya, temuan fosil bersejarah yang seharusnya dilindungi ini, justru disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk mengeruk keuntungan. Ya, maraknya aktivitas jual beli fosil dan benda kuno bersejarah di Kabupaten Bojonegoro, dianggap sudah sangat mencemaskan karena melibatkan suatu jaringan yang cukup luas. Aktivitas ini pun bisa mengancam kelestarian situs-situs bersejarah yang dilindungi.

Selama ini temuan fosil-fosil yang ada di Kabupaten Bojonegoro hampir ditemukan di semua wilayah. Mulai dari ujung Barat yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Ngawi, Blora, Jawa Tengah. Di sisir Selatan yang berbatasan dengan Nganjuk dan Madiun. Wilayah Timur yang berdekatan dengan Kabupaten Lamongan serta wilayah Utara berbatasan dengan Kabupaten Tuban.

Namun, sebagian besar temuan benda sejarah yang ada di Kabupaten Bojonegoro ini belum terorganisisr secara baik. Banyak temuan barang-barang bersejarah itu hilang. Bahkan terjual secara bebas.

Baca juga: Warisan Dunia, Bojonegoro Resmi Jadi Geopark Nasional

Tahun lalu Dewan Kepurbakalaan Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, berhasil mengamankan ribuan fosil purba hasil temuan sendiri juga masyarakat baik dalam bentuk utuh maupun fragmen. Untuk pengamanan, fosil purba temuan itu disimpan di beberapa tempat berbeda.

Fosil purba yang dikumpulkan tim Dewan Kepurbakalan ini jumlahnya mencapai ribuan, sebagian ada yang masih utuh. Fosil temuan itu menunjukkan bahwa Bojonegoro dulu tidak hanya daratan tapi juga lautan. Seperti gajah purba berupa gading dan kepala, banteng dan kuda nil purba. Sedangkan, sejumlah fosil binatang laut yang berhasil dikumpulkan, antara lain lobster, yuyu laut, juga paus purba.

Beberapa yang terselamatkan karena dikoleksi museum swasta yang dikelola komunitas Museum 13, di Desa Panjunan, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro.

“Fosil kepala gajah yang tersimpan di Museum 13 masih utuh. Kalau di tempat saya yang cukup bagus berupa gading gajah purba dengan panjang 60 sentimeter berdiameter 20 sentimeter,” kata Ketua Dewan Kepurbakalaan Bojonegoro Ali Syafa’at di Bojonegoro.

Fragmen fosil binatang purbakala di Bojonegoro. Fosil-fosil purba ini kerap menjadi sasaran para kolektor dalam negeri hingga luar negeri.

Fosil purba yang disimpan di empat lokasi itu merupakan fosil yang dikumpulkan personel Dewan Kepurbakalaan sejak 20 tahun lalu.

“Fosil yang kami kumpulkan ada yang berburu sendiri. Ada juga yang diperoleh dari masyarakat yang menemukan fosil. Atas temuan masyarakat, kami memberikan imbalan jasa uang kepada mereka yang menemukan fosil,” ujar Ali.

Dia mengatakan semua fosil di empat lokasi itu semuanya masuk dalam pendataan Museum Purbakala Sangiran, Sragen, Jawa Tengah dan Museum Trowulan Mojokerto, Jawa Timur.

“Semua fosil yang kami kumpulkan masuk data sehingga tidak mungkin bisa menjual seenaknya,” kata Ali menegaskan.

Namun demikian, ada juga warga yang memiliki kebiasaan mengumpulkan fosil binatang purba yang kemudian dijual kepada kolektor dari luar daerah. Seperti fosil gading gajah itu diperkirakan berumur 1,5 juta tahun hingga 700.000 tahun.

Penemuan itu bisa disejajarkan dengan fosil gading gajah purba yang banyak ditemukan di Situs Patiayam Kabupaten Kudus ataupun di Situs Sangiran Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. “Kalau dijual ke kolektor bisa mahal. Seperti gading gajah purba yang sekarang saya simpan pernah akan ditukar kendaraan mobil roda empat,” tuturnya.

Berburu Fosil Purba dan Harta-harta Kerajaan

Banyaknya fosil-fosil yang ditemukan warga tanpa sengaja di sawah dan tegalan, membuat was-was. Sebab fosil yang temuan tersebut awalnya hanya dibiarkan, dipakai buat trisik atau ganjal dinding rumah. Namun saat ada orang mau membayar fosil dengan harga tinggi, fosil-fosil bernilai ilmu pengetahuan itu pun berpindah tangan. Dari mulai kerang, kepala buaya, hingga gading gajah. Harganya cukup menggiurkan. Untuk satu gading gajah purba bisa laku Rp20 juta-Rp25 juta.

Di Bojonegoro, warga banyak menemukan fosil ketika menggali di pematang. Fosil-fosil itu kemudian diambili dari lokasi temuan, yang semula disingkirkan warga. Lalu warga disuruh mencari, terus dijual ke mereka para pemburu fosil.

Warih, warga Bojonegoro mengatakan, para pemburu fosil itu datang dari berbagai daerah. Mereka mengunjungi wilayah-wilayah yang ada temuan fosilnya. Mereka tidak hanya ke Bojonegoro tapi juga menyasar wilayah Sragen dan Solo. Benda-benda itu kabarnya diminati kolektor luar negeri.

“Dibanding yang kita koleksi, jauh lebih banyak yang terjual. Sekitar 2010-2015, masih sering terjadi. Jadi mereka datang, membayar warga untuk menggali. Mereka sudah tahu, langsung dibeli di lokasi,” terang Warih.

Selain fosil, para pemburu fosil purba juga menargetkan harta-harta terpendam lain. Maklum, di Bojonegoro dulu pernah ada kerajaan. Nah, temuan-temuan harta kerajaan inilah yang disasar mereka.

“Kadang ada warga yang menemukan harta kerajaan, seperti lesung kuno, koin kepeng Tiongkok, dan beberapa perhiasan emas. Dari mulai gelang, kalung, kelat bahu, hingga hiasan kepala,” imbuhnya.

Diungkapkan Warih, dulu banyak warga Bojonegoro yang belum sadar arti penting benda bersejarah. Dengan adanya pembeli, tidak pelak banyak warga yang kemudian ikut berburu emas dengan menjarah kuburan kuno. Mereka menyasar bagian gigi, leher, dan lengan kerangka yang ditemukan. Di bagian itulah biasa ditemukan perhiasan emas yang ikut terkubur bersama jasad.

Ada istilah di kalangan mereka, yaitu nambang, tetapi bukan di tanah terbuka, tepian sungai atau dalam perut bumi lazimnya menambang. Ini mencari emas di persawahan, saat musim penghujan, saat itu lebih mudah digali. Dari mereka ada yang berhasil dapat perhiasan emas kuno.

Koordinator Museum 13 (M13), Harry Nugroho mengatakan, saat ini penjualan fosil maupun temuan barang sejarah di Kabupaten Bojonegoro masih bebas berkeliaran. Pihaknya mengaku hanya bisa menyelamatkan sedikit dari jumlah temuan yang menyebar di Bojonegoro.

“Undang-undang cagar budaya sudah tidak terpakai. Biasanya dari para kolektor fosil itu sudah memasang orang untuk mencari fosil yang ada dan dibeli. Kalau koleksi di M13 ini paling banyak dari Kecamatan Padangan dan Desa Wotanngare, Kecamatan Kalitidu,” ujar Harry.

Beberapa sebaran temuan fosil di Bojonegoro, seperti di Kecamatan Padangan berada di Desa Ngeper, Tebon, Prangi, dan Desa Tinggang. Di kawasan tersebut banyak ditemukan fosil gajah jenis spesies stegodon, kuda laut, kerbau, banteng dan buaya. Di Kecamatan Tambakrejo di Desa Bakalan pernah ditemukan sapi purba, kerbau dan banyak pecahan gigi megalodon (gigi hiu), di daerah perbukitan. “Di Kecamatan Tambakrejo ini kawasannya hampir merata bisa ditemukan fosil,” jelasnya.

Fosil gajah purba yang disimpan di Museum 13.

Sedangkan di Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo merupakan masuk wilayah situs Matar. Di daerah Bojonegoro Timur, di Desa Kesongo, Kecamatan Kedungadem, pernah ditemukan fosil kepala gajah lengkap dengan gadingnya. Serta di Desa Alas Tua, Kecamatan Sukosewu, ditemukan pecahan rusuk paus, namun fosil tersebut dugaannya merupakan fosil migrasi.

Anggota Museum 13 merupakan kelompok orang yang peduli dengan sejarah terbentuknya Kabupaten bojonegoro. Mereka mengaku belajar sendiri mengenali wilayahnya dari peta struktur tanah dan peta geologi. “Kalau tanah lempung pasti sudah tidak ada. Minimal lapisan ketiga kalau ada,” ungkapnya.

Museum 13 saat ini menjadi ruang belajar dari para siswa. Bahkan, sebagian besar universitas dari luar Bojonegoro yang akan melakukan penelitian di Bojonegoro menggunakan rujukan Museum 13 sebagai datanya. Terakhir, kata Harry, dari UPN Yogyakarta dan ITB yang melakukan penelitian Geopark. “Sebagai sumber data mahasiswa yang melakukan penelitian skripsi juga ada,” terangnya.

“Museum kecil ini ke depan rencananya lebih dikhususkan untuk paleontologi. Hampir sama dengan Museum Sangiran,” tambahnya.

Yang menarik, dari banyak fosil-fosil yang ditemukan ditemukan itu mengindikasikan bahwa Bojonegoro pada zaman dahulu boleh jadi adalah lautan. “Pernah ditemukan fosil-fosil kerang di sekitar pegunungan di Temayang. Kerang, kita tahu, adalah binatang laut. Juga ada paus dan binatang laut lainnya,” ungkapnya.

Di antara fosil-fosil di Museum 13 adalah gajah purba yang ditemukan di sebuah sungai di Kecamatan Kalitidu. Ada juga fosil tanduk kerbau, ikan paus, perahu peninggalan kerajaan Majapahit, dan masih banyak lagi. Sekarang ini, dalam proses pencarian fosil, mereka banyak dibantu oleh kehadiran dan semangat anak-anak SDN Panjunan.

Hingga kini Museum 13 menjadi rujukan siapapun yang ingin mencari informasi tentang jejak-jejak arkeologis Bojonegoro masa lampau. Dia mengakui, sebenarnya melihat potensi temuan fosil yang ada di Bojonegoro bisa menyamai dengan museum Sangiran. Di Bojonegoro ada sebanyak 89 jenis spesies molusca. Sementara Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) sendiri ketika diberi laporan jika ada temuan fosil tidak pernah ditindaklanjuti. “Di Disbudpar apalagi tidak ada tim ahli,” pungkasnya.

Kepala Bidang Pelestarian dan Pengebmbangan Budaya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro, Suyanto menjelaskan, saat ini pihaknya telah mengamankan sebanyak 120 jenis fosil. Itu dikumpulkan sejak tahun 2014 lalu.

Ratusan fosil itu antara lain seperti fosil hewan, manusia dan tembikar atau perabotan rumah tangga yang dimiliki manusia pada ratusan tahun lalu. Beberapa fosil hewan yang ada di kantor Disbudpar seperti gajah, rusa, kepiting, kera serta masih banyak jenis fosil hewan lainnya. “Fosil yang kita temukan ini kemungkin hidup pada 500 tahunan yang lalu. Rata-rata fosil ini ditemukan di wilayah barat Bojonegoro (Kalitidu dan sekitarnya),” terangnya.

Kabid Pelestarian dan Pengembangan Budaya, Disbudpar Bojonegoro, Suyanto menunjukkan temuan fosil gajah yang berhasil diselamatkan.

Ceritanya, pada jaman dahulu di wilayah Kalitidu dan sekitarnya ada sebuah danau, juga sungai yang mengalir ke hilir yang saat ini menjadi Sungai Bengawan Solo. Diduga, pada masa itu hewan-hewan banyak berkumpul di sekitar danau itu untuk mencari makan juga meminum air. “Karena di sekitar Kalitidu itu banyak ditemukan fosil-fosil hewan, seperti buaya, gajah, rusa juga hewan lainnya,” terangnya.

Sementara di wilayah Kecamatan Margomulyo banyak ditemukan fosil manusia juga tembikar atau perabotan rumah tangga. “Ini menunjukan bahwa pada masa itu ada kehidupan di sekitar Margomulyo,” jelasnya.

Pasar Gelap Fosil Binatang Purba Masih Marak

Saat ini penggalian fosil purba memiliki keterbatasan waktu dan anggaran. Sementara di setiap penggalian hanya membuka satu kotak ekskavasi. Ketidakpedulian pemerintah terhadap temuan-temuan fosil purba ini, membuat banyak pihak kecewa. Sehingga temuan yang seharusnya dapat dilindungi tersebut, justru dibiayai pihak lain untuk kemudian diperjualbelikan.

Ketua Komunitas Banyungawan Bojanegara Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Nunung Dianawati, mengakui banyak kawasan di Kabupaten Bojonegoro kini telah menjadi pasar gelap transaksi jual beli fosil-fosil binatang purba.

“Pasar gelap jual-beli fosil purba di Bojonegoro sudah berlangsung lama, sejak beberapa tahun lalu, sebab di daerah kami banyak ditemukan fosil binatang purba,” sebutnya

Dia menjelaskan, lokasi yang biasa menjadi pasar gelap fosil purba di antaranya, di Prangi, Kecamatan Padangan, yang dulunya merupakan bekas daerah aliran sungai Sungai Bengawan Solo purba. Selain itu, lanjut dia, juga di Ndayakan, Kecamatan Kalitidu, yang juga biasa menjadi ajang jual-beli fosil binatang purba.

“Para pemburu fosil binatang purba mulai masyarakat biasa, sampai staf kantor kecamatan, bahkan penjualannya tidak hanya lokal, tapi juga sampai luar negeri,” tegasnya.

Dibandingkan upah dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro bagi warga yang memperoleh tiga kepala gajah purba di Kecamatan Kalitidu, dengan ganti rugi Rp 2 juta, tentu banyak warga memilih menjual langsung ke para kolektor fosil yang harganya bisa berlipat-lipat.

Upaya restorasi fosil binatang purba.

“Harga tertinggi fosil yaitu gading gajah purba berkisar Rp 25 juta, tapi kalau fosil binatang purba berupa fragmen harganya berkisar Rp 100.000 sampai Rp 2 juta per fragmen,” tuturnya.

Seorang warga Desa Sukorejo, Kecamatan Kota, Bojonegoro, Ali Syafaat, yang dimintai konfirmasi, mengaku memiliki sekitar 100 fragmen fosil binatang purba, mulai binatang darat sampai laut. “Saya memperoleh dari masyarakat sejak beberapa tahun lalu. Ya, pemiliknya saya beri uang sebagai tanda terima kasih,” ucapnya.

Ia membenarkan di daerahnya sudah lama menjadi pasar gelap jual beli fosil binatang purba. Banyak fosil temuan warga akhirnya dimiliki kolektor dan diperjualbelikan di pasar gelap. Dia tak membantah fosil-fosil itu jatuh ke tangan kolektor. Apalagi dia pernah terlibat dalam perdagangan fosil. “Biasanya pemburu fosil binatang purba yang dijual lagi ke luar negeri, warga dari Sangiran, Sragen, Jawa Tengah,” tandasnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here