Jurus KADIN Jawa Timur Berdayakan Pasar Tradisional

0
127

Nusantara.news, SurabayaSerbuan  mini market dan mall di kota Surabaya dicemaskan sejumlah kalangan akan menggerus keberadaan pasar tradisional.

Oleh karenanya, Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Surabaya, mendesak pemerintah setempat segera merevitalisasi pasar tradisional, dibuat lebih menarik, tidak becek, tidak terlalu berdesak-desakan, sehingga tidak ditinggalkan konsumennya.

“Kita (Kota Surabaya) kan sudah punya perda tentang keberadaan pasar ritel dengan syarat-syarat tertentu yang bisa kita isi dengan benahi tampilan toko-toko klontong atau pasar tradisional agar lebih baik,” kata Ketua Kadin Surabaya Jamhadi pada detikcom, Kamis (8/12/2016)

Ia menyarankan agar toko klontong atau di pasar tradisional untuk dilengkapi layar digital yang mencantumkan harga secara online. Upaya ini dinilainya, mampu melindungi konsumen dari permainan harga.

“Di Surabaya sudah bagus punya pasar sekitar 81 unit. Tinggal pasar tersebut dilengkapi dengan harga yang tertera di papan digital yang dipasang di depan pintu masuk yang selalu online, update serta inline dengan kepala daerah, Bank Indonesia serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan,” ujar Jamhadi.

Dengan adanya papan harga digital itu, kata Jamhadi, harga akan terkontrol dengan baik dan tidak terjadi disparity harga yang tinggi. Masyarakat diuntungkan dan memicu daya beli meningkat.

“Apalagi sudah ada Permendag 63/2016 tentang penerapan harga acuan pembelian di petani dan acuan penjualan di konsumen. Jika itu diterapkn bisa efektif dan produktif. Karena perbedaan harga terkontrol sehingga kesempatan kartelnya bisa lebih sempit,” tegas Jamhadi.

Papan harga digital ini diharapkan bisa menjadi sebuah keharusan dan bila perlu dipayungi dengan peraturan daerah yang mengikatnya.

“Jika perlu papan harga digital tersebut diperdakan. Sehingga tidak ragu menindak jika ada pelanggaran permainan harga antara pedagang dan pemasok,” tegasnya.

Ia juga mendesak kepala daerah di Jawa Timur untuk membuat UKM Mart di setiap kecamatan untuk menumbuhkan UKM yang selama ini kesulitan dalam pemasaran.

“Potensi UKM di Surabaya dan Jawa Timur mempunyai peluang untuk mengisi toko mart. Tapi kenyataannya belum dapat kesempatan,” imbuh dia.

Pihaknya juga mempunyai program bagi UKM agar standar SNI dan setara dengan produk impor yakni dengan program collective investment.

“Dengan begitu tidak ada alasan mereka impor dan setidaknya mengurangi impor,” pungkas Jamhadi.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here